• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

GKJ Jakarta

Sejarah Agama Kristen


SEJARAH  AGAMA  KRISTEN

oleh : Pdt. Neny S. Rambitan,M.Th.



Sejarah Umum

Mengenai kapan mulai muncul agama Kristen mulai, ada beberapa pendapat yang berbeda: Pertama, mengatakan bahwa agama Kristen dimulai pada saat peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus), karena pada peristiwa tersebut Tuhan memberikan Roh-Nya kepada Para Rasul atau orang percaya lainnya, yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk mengabarkan Injil. Kedua, menunjuk kepada penyebutan terhadap pengikut Kristus sebagai orang-orang Kristen di Antiokia (Kis. 15:7-21). Ketiga, ada yang menunjuk awal agama Kristen pada peristiwa Paskah/Kebangkitan Yesus, karena anggapan bahwa kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal dari iman Kristen dan penyebarannya. Namun demikian, karena sumber pengajaran atau tokoh yang mengajarkan agama Kristen /Injil adalah Yesus Kristus, maka tentu awal sejarah agama Kristen dapat kita tunjuk pada waktu ketika Yesus masih hidup dan berkarya, atau bahkan dapat ditunjuk pada saat kelahiran Yesus. Dengan kata lain, sejarah agama Kristen sudah dimulai sejak Yesus ada di dunia
dan melakukan karya penyelamatan-Nya.

Yesus: Riwayat Hidup dan Karyanya




Gambar.1

Di dalam masa pelayanan Yesus, kita tahu bahwa Yesus merupakan Allah yang menjadi manusia dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia. Dengan tugas ini maka Yesus mulai mengajarkan kabar suka cita atau keselamatan itu, melalui khotbah-khotbah-Nya, juga melakui mujizat-mujizat dan melalui pemanggilan para murid atau pemuridan. Ketika Yesus berkarya kemudian dilanjutkan oleh murid-murid-Nya, sudah banyak orang yang menjadi pengikut Kristus. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagaimana yang dilakukan dalam agama Kristen, yaitu bersekutu (koinonia), memberitakan firman (marturia), melayani orang-orang (diakonia).


Keadaan dan Perkembangan Awal Umat Kristen


Gambar.2


Kehidupan umat Kristen pada abad ke-1 – ke-2, melanjutkan cara ketika bersama Yesus, yaitu mereka berkumpul lalu membicarakan firman Tuhan, menyampaikan puji-pujian dan makan bersama. Ibadah atau persekutuan ini, umumnya dilakukan di rumah-rumah atau di tempat-tempat yang tersembunyi, khususnya di ruang bawah tanah (goa), ketika terjadi penganiayaan atau penindasan terhadap orang Kristen (Kis 16:10; Rom 16:5, 15; 1 Kor 16:19). Belum ada gedung gereja. Gedung gereja pertama yang dipakai orang-orang Kristen baru berdiri di Edessa, di Syria tahun 200M. Pada awal sejarah gereja, umat Kristen yang ada terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa. Namun yang paling menonjol dan berperan utama adalah orang-orang Kristen Yahudi. Mereka terutama tinggal di Yerusalem. Karena mereka berlatar belakang Yahudi,
maka mereka masih beribadah di Bait Allah dan Synagoge, serta masih mempraktekkan ajaran Hukum Taurat secara ketat (Kis 2:46; 3:1). Mereka tidak bergaul dengan masyakarat non Yahudi atau yang disebut kafir (Kis 10). Pada masa awal itu di Yerusalem, orang-orang Kristen mengalami penghambatan, seperti difitnah, dianiaya bahkan dibunuh. Karena hal ini, mereka lalu melarikan diri dari Yerusalem dan pindah ke Samaria di bagian Utara daerah Palestina/Israel. Di sana mereka menyebarkan Injil dan banyak orang yang termasuk kafir kemudian menerima Injil (Kis 8:19-30; 10). Dengan demikian sudah terjadi penyebaran Injil ke luar daerah. Tersebarnya Injil di luar Yerusalem dan terhadap orang-orang bukan Yahudi menyebabkan masalah dalam lingkungan umat Kristen. Masalahnya adalah orang-orang Kristen Yahudi itu hendak memaksakan pelaksanaan Hukum Taurat atau tradisi Yahudi kepada orang-orang Kristen baru dari bangsa lain. Juga dalam hal-hal tertentu, mereka tidak mau bergaul dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, misalnya di Anthiokia, Petrus tidak mau bersama dengan orang-orang Kristen itu (Kis 15:1-2, 7-21, Gal 2:11-14). Tetapi ketika di Yerusalem, Petrus
bersedia masuk ke rumah Kornelius yang bukan Yahudi. Di pihak lain, yaitu Paulus mengajarkan bahwa kita dapat bergaul dengan sesame orang Kristen yang bukan Yahudi karena mereka adalah saudara-saudara seiman. Mereka juga tidak harus mengikuti aturan atau adat Yahudi atau Taurat dan mereka dapat diselamatkan (Gal 5:6). Persoalan ini diselesaikan melalui sidang para pemimpin gereja sekitar tahun 48, jadi 18 tahun setelah Pentakosta (Kis 15). Di sini Paulus berhasil meyakinkan orang-orang Krsiten Yahudi bahwa orang-orang Kristen bukan Yahudi tidak harus melakukan Hukum Taurat untuk diselamatkan (Kis 15). Dalam perkembangan kemudian, Injil tersebar secara luas dan pada tahun 175 sudah banyak daerah yang menjadi Kristen termasuk bagian Eropa Barat, yaitu sebagian Perancis dan Roma dan sebagian daerah Asia
Kecil (Kis 18:24-25; Rom 16:20-24). Pusat pekabaran Injil adalah kota Anthiokia (bagian Samaria) (Kis 11:20). Tokoh utama dalam penyebaran Injil ini adalah Rasul Paulus. Di bagian Timur, yaitu daerah Syria dan Persia, penyebaran agama Kristen dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi. Pada tahun 179 Raja Edessa, salah satu kerajaan di daerah Timur itu masuk Kristen. Agama Kristen manjadi agama Negara dan kerajaan Edessa menjadi kerajaan Kristen yang pertama. (End, 24). Penyebaran Kristen juga mengarah ke Selatan, yaitu ke Mesir dan ke Arabia, khususnya Yaman. Pada tahun 150 sudah ada banyak orang Kristen di daerah tersebut. Pada tahun 180M, agama Kristen sudah tersebar di banyak tempat dengan daerah yang luas, yaitu di Eropa bagian Selatan, Perancis dan Itali sekarang, Arabia Selatan dan Persia. (End, 25)

Pergumulan Teologis


Di abad-abad pertama perkembangannya, agama Kristen mengalami pergumulan tentang pokok ajarannya, khususnya mengenai Yesus; siapakah Dia sebenarnya; apakah Tuhan atau manusia; Anak Allah atau anak manusia. Jadi persoalan ini menyangkut Kristologi. Bersamaan dengan masalah Kristologi ini, muncul juga masalah hubungan antara Allah, Yesus dan Roh Kudus, yang kemudian dikenal dengan masalah Trinitas. Soal-soal ini kemudian diselesaikan oleh umat atau pemimpin-pemimpin Kristen melalui perumusan pokok-pokok ajaran atau pengakuan iman, seperti Pengakuan Iman Rasuli (sekitar abad 2 M) dan melalui sidang-sidang atau konsili, seperti Konsili Nicea (325M) dan Konstantinopel (381M), yang menghasilkan rumusan pengakuan iman, yaitu Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.

Penghambatan dan Penganiayaan


Sementara bergumul dengan masalah ajaran seperti tersebut di atas, orang Kristen mengalami penghambatan atau penganiayaan, baik dari rakyat maupun pemerintah. Penghambatan terutama terjadi karena orang-orang Kristen
memiliki kehidupan yang berbeda dengan masyarakat. Mereka menjadi eksklusif dengan tidak mengikuti kebiasaan masyarakat.  Misalnya mereka tidak mau menonton pertandingan antara binatang buas dengan manusia; tidak mau menonton drama-drama yang menunjukkan ketidak-sopanan; tidak masuk dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa di kuil; dan tidak mengikuti upacara kenegaraan dan tidak menyembah dewa-dewa atau kaisar yang disembah oleh masyarakat. (End, 53). Karena itu, orang Krsiten dicurigai dan difitnah sebagai pelaku ajaan sesat. Misalnya mereka difitnah melakukan pembunuhan anak-anak kecil untuk dikorbankan kepada dewa mereka (karena ada ajaran tentang pengorbanan Anak manusia atau Anak Domba Allah, yaitu dalam diri Yesus); juga mereka difitnah membunuh manusia dan dagingnya dimakan dan darahnya diminum bersama dalam perjamuan (karena ada ajaran tentang makan roti dan minum anggur sebagai symbol tubuh dan darah Yesus yang dikorbankan untuk menebus dosa); juga mereka difitnah akan
memberontak di bawah pimpinan seorang raja yang akan datang dan menciptakan kerajaan baru (karena ada ajarang
tentang Yesus yang datang sebagai Raja dan membawa Kerajaan yang baru, yaitu Kerajaan Sorga). Dengan tuduhan dan fitnah itu, banyak orang Kristen dianiaya dan dibunuh, baik oleh rakyat maupun oleh pemerintah. (End…)
Kaisar pertama yang terkenal menganiaya umat Kristen adalah Kaisar Nero, yang pada tahun 64 menuduh orang-orang Krsiten yang membakar kota Roma, kemudian menganiaya orang-orang Kristen. Padahal dia sendiri yang membakar
kota itu. Diduga bahwa Rasul Petrus dibunuh pada masa penganiayaan ini. Tokoh-tokoh Kristen lain yang dibunuh pada masa penganiayan ini adalah Ignatius (Uskup Anthiokia di Syria), Policarpus (Uskup Smirna di Asia Kecil) dan Blandina (budak dari kota Lyon di Perancis). Penindasan yang dialami orang-orang Kristen, tidak membuat mereka meinggalkan agama Kristen. Bahkan penindasan itu membuat banyak orang bukan Kristen bersimpati dan kemudian menjadi Kristen. Dengan demikian umat Kristen semakin bertambah banyak. Pada akhir abad ke-2, umat Kristen mulai diberi kebebasan (End, 55). Mulai pada awal abad ke-3, penyebaran agama Kristen semakin luas melingkupi seluruh wilayah Romawi, Persia bahkan sebagian India. Namun penghambatan dimulai lagi secara intensif, yang dilakaukan oleh penguasa, yaitu Kaisar Desius (250 ) dan Kaisar Diocletianus (th 300). Di jaman Kaisar Desius, orang Kristen dihambat karena  mereka tidak mau mempersembahkan korban kepada para dewa, yang disembah oleh kaisar. Di sini mereka dituduh sebagai penghianat karena tidak mengikuti perintah kaisar. Setelah penghambatan kaisar Desius ini, umat Kristen mengalami perkembangan yang baik. Mereka diberikan kesempatan untuk menyebarkan agama Kristen dan di dalam perintahan ada menduduki jabatan-jabatan penting. Namun, di masa Kaisar Diocletianus, penganiayaan terhadap orang Kristen berlangsung lagi bahkan semakin dahsyat. Orang-orang Kristen dipecat dari pekerjaan dan jabatan mereka, gedung-gedung gereja dibakar, uskup-uskup dibunuh. Perubahan besar terjadi bagi umat Kristen ketika Kaisar Konstantinus Agung memerintah. Dia berpikir bahwa menganiaya orang Kristen bukan hal yanag baik bagi Negara. Justru ajaran tentang persaudaraan dan persatuan dalam agama Kristen penting bagi kesatuan dan kekuatan Negara. Oleh karena itu, ia bersimpati dan melindungi orang Kristen. Ia mengeluarkan keputusan Milano (th313), yang berisi: pertama, gereja diberikan kebebasan penuh untuk beraktivitas; kedua, milik gereja yang dirampas nergara dikembalikan, bahkan pemerintah memberikan fasiltas untuk membangun gedung-gedung gereja yang dirusak; hari Minggu dijadikan sebagai hari ibadah resmi. Kaisar ini kemudian masuk Kristen. Setelah itu agama Kristen menjadi agama Negara, khususnya ketika Kaisar Thoedosius (th 380) memerintah. Karena fasilitas ini, maka gereja menjadi sangat kaya dan semakin berkembang pesat dari segi jumlah dan daerah penyebarannya. Pada abad ke-5, penyebaran Kekristenan sudah meliputi daerah Asia Kecil, Eropa Barat, Palestina dan sekitarnya, Afrika Utara, termasuk Arabia Selatan, Persia dan sebagian India. 


Gambar.3


Pemisahan antara Gereja Timur dan Barat


Setelah perkembangan yang pesat itu, gereja menjadi lembaga yang resmi dan kuat, muncullah masalah-masalah menyangkut organisasi kepemimpinan dan ajaran. Karena hal itu,  maka terjadilah pemisahan antara gereja-gereja di Timur dan di Barat. Terjadilah yang disebut Gereja Orthodoks Timur, yang berpusat di Konstantinopel/Turki sekarang dan Gereja Katolik Roma, yang berpusat di Roma. Pemisahan ini terjadi sekitar tahun 600-an dan secara resmi dan nyata pada tahun 1200. Perbedaan antara kedua gereja itu adalah: Gereja Orthodoks Timur masih berpegang pada system Episkopal, yaitu kepemimpinan para uskup, dengan pemimpin (dalam fungsi koordinasi). Pada saat itu pemimpinnya adalah uskup atau Patriakh Konstantinopel. Posisi uskup ini hanya sebagai posisi kehormatan, dan tidak memiliki kekuasaan yang menentukan. Sedangkan Gereja Katolik Roma, kekuasaan tertinggi ada pada Sri Paus di Roma, yang memiliki kekuasaan yang menentukan di dalam kehidupan gereja dan Paus menjadi atasan bagi para uskup lain. Mengenai ajaran, GOT menekankan kehidupan yang kekal atau tentang kefanaan dan ketidak-fanaan. Sedangkan GKR menekankan bagaimana manusia menjadi benar atau soal dosa dan rahmat. Dalam kehidupan bermasyarakat, GOT menekankan sikap kasih dan kerendahan hati. sedangkan GKR menekankan tindakan/perbuatan. (End, 81-82).
Perkembangan GOT meluas dari daerah Asia Kecil ke arah Eropa Timur, yaitu sebagian wilayah Rusia. Namun, mulai abad ke-7, GOT mulai menghadapi penghambatan dan bahkan akhirnya harus tunduk di bawah kekuasaan Islam. Daerah-daerah yang dulunya memiliki jumlah orang Kristen yang banyak/mayoritas, lalu dikuasai deleh Islam dan bahkan menjadi daerah Islam. Itu terjadi di daerah Asia Kecil (Turkey sekarang) dan daerah-daerah Balkan (atau daerah bagian selatan bekas Uni Sovyet, seperti Khazakstan, Uzbekistan, dsb), serta sebagian daerah-daerah Eropah Timur. Sekarang ini, yang termasuk GOT adalah Gereja Orthodoks Yunani, Syria, dan Rusia. 
Di pihak lain, Gereja Katholik Roma berkembang pesat ke daerah Eropah Barat, seperti Italia, Spanyol, Portugis, Prancis,
Jerman, Belanda, Belgia, Inggris, dan negara-negara di Eropah Utara, yaitu Swedia, Denmark dan Finlandia. Sejak  abad ke-7 sampai abad ke-16, atau disebut sebagai abad pertengahan, Gereja Katholik Roma berkembang dengan sangat pesat. Agama Kristen menjadi agama resmi dan kekuasaan para uskup, khususnya Paus, di Roma menjadi sangat menentukan. Bahkan raja-raja pun tunduk pada kekuasaan Paus. Agama Kristen menjadi suatu lembaga yang sangat kuat, yang dengan kekuatan dan kekuasaan itu dapat memaksa rakyat untuk melaksanakan ajaran dan praktek yang diterapkan gereja, dan bahkan juga dapat memerintahkan raja-raja untuk mendukung dan melaksanakan kebijakan gereja.    


Muncullnya Gereja Protestan


Sejak perkembangannya GKR menjadi sangat kuat di Eropa. Paus memiliki kekuasaan yang luar biasa. Ajaran-ajaran gereja
dimutlakkan, termasuk ajaran tentang api penyucian dan penghapusan siksa. Ajaran tentang api penyucian adalah bahwa setelah orang mati dan sebelum orang masuk pengadilan Tuhan, ia harus melalui api penyucian. Jika ia berdosa maka ia akan terbakar, tetapi jika tidak maka dapat melewati api penyucian tersebut. GKR kemudian mengajarkan bahwa supaya dapat selamat dari api penyucian orang harus bertobat dan menyucikan diri. Buktinya adalah harus memiliki surat penghapusan siksa. Di dalam praktek, surat ini diperjual-belikan. Martin Luther sebagai seorang biarawan dan guru besar di univ. Wittenberg, bidang Kitab Suci, melihat hal ini sebagai sesuatu yang tidak benar. Untuk itu, pada tgl 31 Oktober 1517, ia menerbitkan 95 dalil, dalam bahasa Latin, yang menentang ajaran GKR yang tidak benar itu. Dia menempelkan 95 dalil tersebut di pintu gerbang gereja di Wittenberg, kemudian diterjemahkan oleh murid-muridnya dalam bahasa Jerman. Banyak orang membaca dalil tersebut dan menyetujui pendapat Luther. Hal ini menimbulkan protes terhadap GKR. Protes ini menjadi gerakan umum melawan GKR dan disebut sebagai gerakan Protestan. Gerakan ini menghasilkan bermunculannya gereja-gereja Protestan. Sedangkan Gereja Anglikan muncul di Inggris karena Raja Inggris tidak menginginkan kewibawaanya sebagai raja harus ditundukkan oleh kekuasaan Paus sebagai pemimpin agama Katolik.


Penyebaran Kekristenan

Dari Eropa, GKR menyebar ke berbagai tempat: Amerika Latin, Afrika, Inda dan Asia, khususnya sampai ke Indonesia. Demikian juga dengan gereja Protestan, disebarkan ke Amerika Utara, Afrika, Asia dan khusus Indonesia.


Gambar.4

Sejarah Kristen di Indonesia


Di Indonesia, GKR dibawa pertama oleh Portugis dan Spanyol, sedangkan Gereja Protestan oleh Belanda, Inggris, dan Jerman. Gereja-gereja yang berlatarbelakang Lutheran, seperti HKBP, GKPI, dll dibawa oleh Missionaris dari Jerman. Missionaris dari Inggris dan terutama Belanda menghasilkan gereja-gereja (Calvinis) seperti GPIB, GKI, GKJ, GMIM, Gereja Methodis, dsb. Gereja-gereja yang beraliran Pentakosta atau Kharismatik, datang kemudian ke Indonesia dari penginjil-penginjil atau gereja di Amerika.

, written by Pnt.Siswanto S.N. 18 Jan 2011
 

Ibadah Sejati

 

IBADAH SEJATI

Oleh : Maryono

 


Setiap merenungkan apakah ibadah yang saya lakukan berkenan kepada Allah, rasanya “miris”, bila dikaitkan dengan Roma 12 :1  , “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Ya, Frasa “Sebagai persembahan  yang hidup” setara pengorbanan terhadap persembahan hewan korban kepada Allah dalam Perjanjian Lama (PL), untuk pendamaian bagi dosa.  Kata “persembahan” yang dikaitkan Ibadah dimaknai secara Rohani sebagai pengganti korban tidak hanya materiil tetapi immateriil seperti ibadah, persekutuan, penghormatan dan pelayanan kepada Allah. Itu semua adalah ungkapan syukur atau penghormatan kepada Allah secara total  sebagai persembahan hidup ( bdk. 1 Petrus 2 : 5 ; Flp 3:3 dsb ). Hidup - zao  dzah'-o (bhs. Yunani) adalah   ekspresi yang  berarti mencurahkan, kekuatan tubuh dan jiwa secara aktif  untuk melayani Tuhan. Dalam PL persembahan hewan korban yang disajikan itu mati, tidak aktif . Hal ini tidak bisa disajikan lagi. Dalam posisi ini, persembahan hidup adalah  menampilkan diri secara aktif  semua energi hidup yang dimiliki yakni kehidupan, dengan seluruh energinya, intelektual, dan moral, serta kekuatan fisik yang sepenuhnya untuk ibadah dan pelayanan kepada Kristus sebagai Juru Selamat. Sebuah pengabdian yang dipersembahkan kepada-Nya secara sukarela, tulus, tidak ada hitungan dan kepentingan dari hari ke hari, sampai kematian  merenggutnya. Dengan kata lain, persembahan ini mulai ujung rambut sampai dengan ujung kaki termasuk “ hati “ semuanya Kudus - Ini berarti persembahan itu dalam keadaan baik, tanpa bercela atau cacat untuk persembahan korban kepada Allah. Orang-orang Yahudi secara tegas melarang untuk mempersembahkan apa yang timpang atau lumpuh, atau buta, atau apapun yang buruk ( Ul  15: 21; 17:1 ;  Im 1: 3,  10; Im 3: 1; Im 22: 20; Deu_17: 1; bdk. Mal_1: 8 ).
Jika persembahan tubuh yang kudus tanpa cacat,dan cela adalah persembahan yang layak dipersembahkan kepada Tuhan. Saya instrospeksi kepada diri sendiri, apakah hatiku culas, masih ada iri dengki, tidak dapat mengampuni, tidak pernah bersyukur setiap berkat yang Engkau berikan, masih ada ganjalan dengan saudara, tidak becus mengurus anak-anakku sebagai domba yang Engkau percayakan, dan aku memaksakan rencanaku karena kurang peka terhadap kehendak-Mu……………………… dan, dan, dan  masih banyak  lainya yang mendukakan Engkau. Maka sewajarnya harus minta ampun kepada Tuhan. Dalam kemurahan-Mu kami mohon, ampunilah kami Tuhan, ibadahku tidak berkenan kepadamu
Setelah merenungkan itu, timbul pertanyaan pada dirisendiri. Oh, ya berarti memang saya kurang mengerti dan memahami  makna ibadah sejati. Ya, hal itu menjadi “biang” ibadahku tidak berkenan kepada Tuhan. Pergumulan hidup yang selalu dihadapi tanpa ujung,  berdoa belum memperoleh jawaban, usaha selalu mengeluh, persembahan untuk Tuhan dipikir dulu, ibadah menjadi rutin tanpa kuasa dan makna.Ya, apakah itu semua bagian dari akibatnya ? Cukuplah, Tuhan. Aku mempunyai moral bukan robot, aku mempunyai komitmen untuk berubah. Tetapi kesadaran selaku manusia, harus memahami sebagaimana firman-Mu bahwa pengudusan adalah karya Roh-Mu. Tetapi, aku juga sadar. Roh itu berkerja melalui pengakuanku yang setia akan hukum kebenaran dan tanggapan orang percaya akan kasih karunia yang telah kami terima dari-Mu ( 1 Yoh 3:3). Ya, Yesus Tuhan kami, bila setiap pribadi mampu memaknai ibadah sejati dengan benar. pribadi-pribadi itu berkumpul dalam ibadah yang hidup dan kudus, ya betapa dahsyatnya. Engkau pasti merindukan, aku mengerti, mampukanlah kami.

, written by Pnt.Siswanto S.N. 04 Dec 2010
 

Kepedulian

 

Kepedulian

Oleh : Pnt. Maryono

Ada dua narasi Alkitab tentang perilaku orang kaya terhadap sesamanya. Pertama Luk. 16:19 -31 yang melukiskan tingkah-laku orang kaya  dengan gaya hidup yang ditandai oleh suasana pesta pora dan kemewahan setiap hari. Sementara di pintu gerbang rumahnya duduk seorang pengemis yang sangat miskin dan kelaparan bernama Lazarus. Lazarus hanya makan dari sisa-sisa roti yang dibuang di lantai. sebagai alat pembersih tangan bagi para tamu setelah acara pesta selesai. Apa orang kaya itu tidak pernah melihat dan mengenal Lazarus ? Ia melihat dan mengenalnya, karena selalu duduk didepan rumahnya. Tetapi ia telah mengeraskan hatinya.  Pesan utama dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus ini, sebenarnya bukan menyalahkan seseorang sukses dan menjadi kaya. Sebab para bapa leluhur Israel juga merupakan orang-orang kaya seperti Abraham, Ishak dan Yakub.. Tetapi yang menjadi persoalan utama dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaannya; dan bagaimana pula seseorang memperlakukan sesamanya yang sedang menderita.

Kedua, Markus : 10:17-31,  ketika Yesus dalam hikmat-Nya memberikan ujian, yang memaksa pemuda kaya untuk memilih antara kekayaan dunia dan kekayaan sorgawi  “Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Markus 10: 21). ternyata pemuda itu gagal menghadapi kemelut ini, membalikkan punggungnya dari Sang Guru, dan pergi dengan sedih. Pemimpin muda yang kaya ini sudah mendekati kerajaan, tetapi gagal memasukinya, karena dia tidak  menempatkan Allah sebagai yang terutama, walupun harus menyerahkan harta benda yang mahal harganya. Pesan yang hendak disampaikan dalam ayat ini adalah: manusia diharapkan tidak diperhamba harta atau kekayaannya. Manusia seharusnya menghindarkan diri dari ketamakan dalam mencari harta dunia, tapi secara lebih serius harus lebih mementingkan pencarian harta sorgawi.


Firman Tuhan adalah pedang bermata dua. Saudaraku, mungkin ada orang Kristen yang mengaku “percaya” pada Yesus Kristus, menerima ajaranNya,  penyembahan dan pujian di gereja, budaya spiritual, kelimpahan berkat dan urapan. Tetapi saudaraku, begitu bicara wawasan hidup sesuai ajaran Yesus kristus  yang meletakkan semua isu duniawi di dalam konteks kekekalan, “juallah hartamu untuk orang miskin atau bantulah orang menderita” yakni perlakuan kasih kepada sesama sesuai ajaran Yesus ……ya, saudaraku, mereka mengacuhkannyam atau menolaknya. Pada saat ada bencana dimana-mana, kita melihat tayangannya, melihat penderitaanya, hati kita tersentuh. Cukupkah ? Tuhan berfirman : Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu : “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi” sedang yang diminta ada padamu “ (Amsal 2: 27-28).

Winston Churchill merumuskan ajaran tersebut dengan pernyataan : We make a living by what we get, but we make a life by what we give. Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan (kepada orang lain).

Tuhan memberkati

 

 

, written by Pnt.Siswanto S.N. 10 Nov 2010
 

Murid marah, Yesus marah !



Murid marah, Yesus marah !

Pnt. Maryono


Kalau baca judul ini, jangan marah, karena makna marah kita mungkin berbeda dengan murid-murid Yesus , apalagi dibandingkan dengan Yesus sendiri. Makna marah kita mungkin tanpa alasan.

Kata “marah” itu dapat dikutip dari Injil Markus :
10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah  yang empunya Kerajaan Allah 

Pertanyaan : Apakah bermakna sepadan kemarahan murid dan kemarahan Yesus.

Murid Yesus memarahi. Kata marah yang digunakan dalam bahasa Yunaninya , epitimao¯ censure or admonish; by implication forbid: - (straitly) charge, rebuke. Marah disebabkan adanya pelaggaran larangan. Larangan apa ?  anak-anak dibawa kepada Yesus. Mengapa dilarang ?  Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan: 1. Yeled, "usia bayi"; 2. Yonek, "usia menyusu";  3. Olel, "lebih tua lagi dari menyusu"; 4.Gemul, "usia disapih"; 5. Taph, "usia mulai berjalan"; 6.Ulem, "anak-anak"; 7. Na'ar, "mulai tumbuh remaja"; dan 8. Bahar, "usia remaja". ( Dean Farrar, The Life of Christ, Melbourne: Cassel and Company Limited, 1906), hlm. 39-40. Menurut literatur / sastera Yahudi abad pertengahan, Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruach (roh hikmat).  

Anak-anak dalam narasi ayat ini  pasti sudah dapat berjalan. Hal ini terungkap  dari ucapan Yesus : biarkan anak-anak itu datang.  Anak itu dindikasikan sudah bisa berjalan.  Frasa “membawa”  anak kecil” Dari bentuk kata kerja proseferon p??sefe???, to bring childs  to a person who can heal him. Arti dan tujuan teksnya   supaya anak-anak itu dijamah Yesus (ay 13). Apa yang diharapkan dari “jamahan” itu. Lewat jamahan Yesus banyak orang disembuhkan ( bdk. 1:41 ; 3:10 ; 5:27 dsb ). Namun, tidak ada informasi anak-anak itu dalam keadaan sakit. Oleh karena itu, tujuan anak-anak dijamah dapat ditafsirkan untuk menerima berkat yang dalam tradisi Yahudi sejajar dengan menerima ruach atau roh hikmat.

Lalu apa kepentingannya, murid-murid marah tentang pemberkatan itu? Pasti ada alsannya. Salah satu bila dikaitkan dengan tradisi Yahudi, umur anak-anak itu kemungkinan belum waktunya menerima Roh himat. Artinya, mereka dapat berjalan tetapi umurnya d antara Farrar dan Ulem. ( 3- 11  tahun) sehingga mereka belum berhak roh hikmat menurut tradisi Yahudi. Mereka belum memerlukan nishama (reasonable soul, "jiwa akali") melalui berkat Yesus. Dengan demikian murid-murid marah karena pelanggaran sebuah  ”larangan” - by implicatication forbid, menurut  tradisi manusia.  Kedua, anak-anak dianggap mengganggu ditengah-tengah pengajaran Yesus. Murid-murid merasa terganggu. Ya, disamping brisik, barangkali ketika guru mereka sedang mengajar.


Yesus marah melihat perbuatan murid-murid Nya (ay 14).  Kata kerja yang digunakan ag-an-ak-teh'-o ??a?a?t?se?G23 V-AAI-3S , Aorist Active Indicative, 3th person. Berdasarkan time and kind of actionnya  hal ini bermakna suatu hal yang telah terjadi dan selesai pada waktu itu. Artinya, kemarahan itu tidak berlanjut dan selesai pada saat itu. Kemarahan itu tidak bersifat permanen sehingga menjadi karakter “pemarah” . Kemarahan Yesus dalam Markus 10:14 juga diakibatkan oleh murid-murid yang tidak memperbolehkan anak – anak kecil  datang kepada-Nya. Dengan demikian, kita dapat berkesimpulan bahwa kemarahan  Yesus adalah kemarahan yang bersasaran tepat di mana kemarahan-Nya diarahkan kepada murid-murid yang marah kepada anak-anak yang dapat berakibat dosa. Kemarahan Yesus dalam konteks Ini justru mencegah terjadinya dosa bagi murid-murid-Nya. Ini adalah kemarahan yang kudus. Kemarahan Yesus itu tidak berlanjut, hanya sekejap sudah terungkap kata yang penuh kasih : “ Biarkan anak-anak itu datang”, yang bermakna mengundang,  tidak memaksa,   bukan  “biarkan mereka dibawa kemari “ yang konotasinya dapat memaksakan. Ada beberapa catatan Bernes tentang sebab kemarahan tersebut : Pertama, Yesus tidak keberatan menerima anak-anak, karena hal itu adalah bagian dari karya pelayanan-Nya untuk  memberkati anak-anak. Kedua  tindakan murid-murid melarang adalah tindakan yang  tidak diperintahkan oleh Yesus ( Albert Bernes note on the Bible, e-sword the sword of The Lord with an electronic edge.)

Apabila ditelaah uraian diatas, ada 2 perbedaan pandangan yang bertentangan antara murid dengan Yesus. Menurut Bruggen, para murid hendak membantu Dia, tetapi mereka sama sekali tidak mengerti (Jakob Van Bruggen, Markus Injil menurut Petrus, BPK Gunung Mulia, 2006, hal. 343 ).  Para murid mempunyai penilaian yang keliru : pertama, seorang anak tidak perlu menunggu dalam golongan dewasa menurut tradisi Yahudi untuk mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Bahkan, seharusnya seorang dewasa harus ditobatkan, dikembalikan seperti karakter seorang anak (bnd. Mat 18.3). Kedua,  menyambut atau menerima Kerajaan Allah adalah hasil dari karunia (ay 15), bukan soal prestasi atau jasa. Beberapa tafsir yang menekankan anak-anak menerima kerajaan Allah karena rendah hati, tulus, tidak mempunyai prasangka mungkin penafsiran ini kurang tepat.  Intinya anak-anak hanya  menerima, yang bermakna seperti hibah.  Mereka hanya mererima  sebuah anugerah Kerajaan Allah oleh karena mereka mau tergantung pada orang lain ( Tuhan), bukan hasil usaha mereka. 

Silahkan marah, kalau marah jangan lupa ingat cara marah Yesus. Dia hanya marah untuk perbuatan dosa. Kemarahan-Nya “tidak berkibat jatuh dalam dosa”, karena Yesus tanpa dosa. Ya, marah untuk perbuatan bukan orangnya. Bandingkan : Mazmur 4:5 : “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa…”, Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah,  janganlah kamu berbuat dosa…”. Kedua ayat ini dengan tegas memisahkan kemarahan dan dosa. Rupanya kemarahan tidak diidentikkan dengan dosa tetapi dilihat sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan dosa.



, written by Pnt.Siswanto S.N. 22 Oct 2010
 

Renungan MPHB

Renungan MPHB.

Keluarga dalam  Bait Allah

Oleh : Pnt. Maryono



Dalam Perjanjian Lama, kata “bait” diartikan Keluarga dapat berarti luas. Anggota suku yang digambarkan dalam bentuk kerucut dengan Bapak Leluhur sebagai pendirinya. Misyapakha diartikan “kaum”  merupakan bagian yang lebih kecil dibawah kerucut. Kekuatan hubungan diantara mereka ditentukan dari perasaan sedarah dan  kesatuan tempat tinggal dengan aturan adat dan hukumnya.  Allah adalah pendiri keluarga. Ia membentuknya pada waktu  menciptakan laki-laki dan perempuan dan memerintahkan mereka untuk beranak cucu (Kej 1 :27-28). Sebagai pendiri keluarga,  Allah mempunyai hak atas sebuah keluarga untuk tinggal didalam bait-Nya. 

Dalam Perjanjian Baru kata Yunani  “Patria” diartikan keluarga, tapi dalam Kis 3:25 kata Patria diterjemahkan bangsa.  Di kota-kota Yunani, peranan keluarga atau rumah tangga (Oikos) sangat menonjol dalam pendirian Gereja, seperti orang pertama non Yahudi  (gentile) yang masuk warga Gereja adalah seluruh keluarga Kornelius di Kaisarea, termasuk para pelayan rumah tangganya (Kis 10: 7 ; 24). Selanjutnya banyak contoh-contoh :  Keluarga Lidia (Kis 16:15, 31-34), keluarga Stevanus di korintus ( 1 Kor 16:150 , Keluarga Priskila dan Akwila di Efesus (1 Kor 16:19 , Rm 16:5 ) dan sebagainya. Kumpulan Keluarga-keluarga itu dipandang oleh Paulus sebagai jemaat, contohnya ketika Gayus yang memberi tumpangan kepada Paulus dan seluruh jemaat ( Rm 16:23). Jemaat-jemaat itu  telah digambarkan sebagai anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun rapi, tersusun menjadi bait Allah yang kudus. Mereka juga menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (Ef 2:19-21).

Pengenalan Allah dalam keluarga
Dalam Ulangan 6:5, perintah yang sekaligus sebagai tugas Allah yang diberikan kepada orang Israel intinya adalah : “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu “. Hal ini bermakna, keluarga dibentuk oleh Allah untuk mengasihi Allah. Allah yang harus disembah dan tidak ingin diduakan (ay. 13-15). Allah yang Mahakuasa dan berdaulat atas bangsa-bangsa (ay. 21-22). Allah yang aktif bertindak menyelamatkan umat-Nya  (ay. 21-23). Pengertian tentang Allah sebagamana perintah tersebut, seharus dipahami dan dilaksanakan oleh setiap keluarga dan anggotanya dengan setia ( ay 3).  

Dalam ayat berikutnya :“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkan kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu (ay 6-7). Perintah kepada siapa ?, perintah Allah kepada para orang tua Israel melalui Musa, juga perintah kepada kita semua selaku orang tua.  Perintah mengajarkan kepada anak-anak tidak hanya sebatas kata-kata atau ketaatan formal seperti ibadah minggu saja, tetapi seluruh situasi praktis dalam perilaku sehari-hari. Para orang tua yang benar benar mengasihi Allah serta menaati firman-Nya dalam hidup sehari-hari, barulah mampu mewariskan pengenalan akan Allah dan firman-Nya itu kepada anak cucu mereka. Keluarga-keluarga inilah yang diharapkan Paulus berkumpul dalam kesatuan jemaat yang kudus.

Rasul Paulus menyisakan pertanyaan kepada kita : Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah ? (1 Tim 3 :4-5)


 

, written by Pnt.Siswanto S.N. 28 Sep 2010
 


Page 3 of 4