• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Tim dan Komunitas

Parigi Camping Ground

 

Parigi Camping Ground

Untuk infomasi lebih detil silahkan klik link address dibawah ini:

http://www.parigicampingground.com/

06 Sep 2012 ,written by Siswanto S.N.
 

PENGENALAN POKOK-POKOK AJARAN (PPA) GKJ

PENGENALAN POKOK-POKOK AJARAN (PPA) GKJ

 

AJARAN GEREJA


Ajaran Gereja merupakan hal yang mutlak dalam sebuah gereja. Dengan adanya ajaran tersebut gereja mempunyai pedoman imaniah dalam menjalani kehidupannya sebagai gereja Allah. Hal ini menjadi penting, sebab tanpa pedoman imaniah itu gereja tidak akan pernah mengetahui jati dirinya dan apa yang harus dilakukannya di dalam dunia ini sebagai buah imannya. Tanpa memiliki dasar ajaran, gereja tidak saja akan menjadi bingung sendiri, tetapi akan membingungkan warganya. Ringkasnya, ajaran gereja merupakan kebutuhan gereja itu sendiri.
Tidak hanya kebutuhan bagi gereja secara organisasi, namun ajaran gereja merupakan kebutuhan mutlak bagi warganya. Tanpa ajaran yang jelas, warga jemaat akan bingung karena banyaknya ajaran yang ada di sekitar mereka. Tidak saja yang berasal dari agama dan kepercayaan lain, tetapi juga yang berasal dari gereja-gereja denominasi lain. Ajaran Gereja dapat menjadi pedoman atau rambu-rambu bagi warga jemaat dalam menghayati dan mengamalkan imannya di tengah masyarakat. Sekali lagi, agar tidak tersesat.
Namun demikian, Ajaran Gereja tidak dapat menggantikan Alkitab. Sebab, Alkitab merupakan satu-satunya pedoman hidup bagi gereja dan warganya. Namun demikian, Alkitab begitu luas dan kaya isinya, namun tersebar-sebar. Sehingga, orang tidak dapat mudah dan cepat menjawab jika kepadanya ditanyakan mengenai pokok imannya maupun tanggapannya sebagai Kristen terhadap suatu masalah dalam masyarakat. Ajaran gereja merupakan sistematisasi apa yang harus diimani oleh gereja dan warganya, dan bagaimana mereka mempraktikkan apa yang diimaninya itu. Dan semuanya itu berdasarkan Alkitab. Alkitablah satu-satunya dasar bagi Ajaran Gereja. Karena bersumber kepada Alkitab, Ajaran Gereja tidak dapat menggantikan Alkitab.
Lagipula, sebaik-baiknya Ajaran gereja, itu tetaplah merupakan tafsiran manusia terhadap Alkitab. Dan manusia bisa saja salah dalam memahami pesan Alkitab. Sehingga, Ajaran Gereja tidak bersifat kekal, mutlak, dan masih mungkin diubah. Oleh karena itu, di samping menghormati dan menaati Ajaran Gereja, kita perlu bersikap kritis dan terbuka untuk koreksi dan perubahan. Ajaran Gereja bukanlah teks-teks mati, yang tidak dapat diubah, tapi harus senantiasa dikaitkan dengan konteks. Kaitan dengan konteks di mana kita berada akan menjadikan Ajaran Gereja itu sungguh-sungguh dapat menjadi pedoman bagi warga jemaat dan gereja dalam menjalani tugasnya: menjadi garam yang mengasini dan terang yang menerangi dunia ini.

 

ALKITAB



Alkitab adalah firman Allah. Namun demikian,  Alkitab bukanlah suara Allah yang turun dari langit secara langsung. Tetapi, Alkitab merupakan tulisan manusia yang berisi kesaksian iman orang-orang percaya mengenai karya penyelamatan Allah atas manusia.
Penulis Alkitab adalah manusia, yang mempunyai latar belakang kehidupan berbeda, menulis dalam bahasa berbeda, dengan bentuk berbeda, bahkan kadangkala dengan alasan yang berbeda pula.
Pendahuluan Injil Lukas (Luk. 1:1-4) merupakan sebuah contoh menarik! Dalam pengantar Injilnya, Lukas bermaksud membagikan apa yang dia percayai kepada sobatnya: Teofilus. Lukas tidak hanya menceritakan pengalaman imannya, namun dia berinisiatif melakukan serangkaian penyelidikan yang amat seksama dan dari mulanya. Dan semua itu dilakukannya dengan satu tujuan: Teofilus mengetahui bahwa ajaran yang telah dia terima sungguh benar.  Di sini, tampak bahwa Alkitab merupakan tulisan manusia sendiri, atas prakarsanya sendiri, dan dirancangnya sendiri.
Jika semuanya itu tampak berpusat kepada manusia, apakah masih dapat disebut firman Allah? Memang semuanya terlihat berpusat pada manusia, tetapi yang tidak boleh dilupakan ialah semua penulis dan penyusun tulisan yang sekarang terdapat dalam Alkitab, adalah orang-orang yang berada dalam lingkup penyelamatan Allah dan dilibatkan Allah dalam penyelamatan serta selalu dalam penyertaan Roh Kudus yang adalah Allah sendiri. Orang-orang yang menulis dan menyusun tulisan-tulisan itu adalah orang percaya dan hidup dalam kepercayaannya itu. Penyertaan Roh Kudus terbukti dari kenyataan, meski dikarang oleh orang yang berbeda dalam banyak segi, namun tulisan-tulisan itu berbicara tentang hal yang sama, yakni karya penyelamatan Allah atas manusia. Bahkan, penerimaan dan pengakuan gereja terhadap 66 kitab yang terjadi begitu saja dalam perjalanan hidup gereja tanpa melalui suatu keputusan sidang gereja, dapat diyakini pula sebagai karya pimpinan Roh Kudus.
Melalui Alkitab, Allah berfirman kepada manusia mengenai karya penyelamatan Allah, bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak terhadap karya penyelamatan itu di tengah-tengah dunia dengan berbagai tantangannya. Karena Alkitab adalah firman Allah, maka hal terlogis yang harus kita lakukan ialah mendengarnya dengan sepenuh hati dan melaksanakannya dalam kehidupan kita sesehari

 

PENYELAMATAN ALLAH



Hakikat kekristenan, dan juga menjadi titik tolak penulisan PPA GKJ, ialah penyelamatan Allah. Penyelamatan Allah sendiri merupakan ungkapan iman yang mengandung tiga unsur utama, yaitu: (a) bahwa semua manusia, tanpa kecuali, berada dalam kondisi tidak selamat dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, (b) sehingga mutlak membutuhkan pertolongan pihak lain, (c) dan hanya Allahlah, satu-satunya pribadi, yang sanggup menyelamatkan manusia dalam ketidakberdayaannya itu.
Situasi dan kondisi manusia ini dapat dijelaskan, meski tidak sempurna, dengan seseorang, tidak bisa berenang, yang terjatuh ke dalam laut yang ganas. Tentunya, dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, kecuali ada orang lain yang mau menyelamatkannya.
Jika memang demikian, tindakan penyelamatan itu merupakan prakarsa Allah, berdasarkan kasih-Nya semata, dan dikerjakan oleh Allah sendiri. Manusia tidak berbuat apa-apa dalam tindakan penyelamatan Allah itu! Sekali lagi, semuanya itu memang hanya berdasarkan kasih Allah semata. Satu-satunya alasan tindakan penyelamatan Allah itu ialah karena Allah begitu mengasihi manusia, yang telah diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya.
Memang situasi dan kondisi tidak selamat itu, merupakan ulah manusia sendiri, yang ingin menjadi sama dengan Allah. Manusia telah memberontak dan hidup jauh dari Allah. Inilah dosa itu: putusnya hubungan dengan Allah. Hidup di luar persekutuan dengan Allah itulah yang dipahami sebagai hidup di dalam kondisi tidak selamat. Tinggal di luar persekutuan dengan Allah membuat  manusia semakin jauh dari Allah dan cenderung berbuat dosa, yang akhirnya membuatnya makin menjauhi Allah. Tidak ada satu manusia pun yang tidak berbuat dosa. Akibatnya, dengan segala kejahatannya itu, manusia sungguh-sungguh tidak mampu lagi menyelamatkan dirinya sendiri.
Namun, harapan selalu ada! Sebab, dalam kedaulatan-Nya yang sempurna Allah berprakarsa dan menyelamatkan manusia. Allahlah yang menjadi satu-satunya Penyelamat. Tujuan penyelamatan itu ialah memulihkan hubungan Allah dan manusia. Manusia diundang kembali untuk bersekutu dengan Allah. Inilah persekutuan sejati! Persekutuan awal yang dicita-citakan Allah sewaktu mencipta manusia.
Dan penyelamatan Allah tidak terjadi secara tiba-tiba. Allah tidak bertindak seperti seorang penyulap yang mengucapkan abrakadabra, kemudian manusia kembali murni hatinya sebab dosa mendadak hilang dari dirinya. Penyelamatan Allah tidak mengambil jalan pintas dan mudah ini. Bahkan prosesnya sangat lama dari segi waktu, dan luas dari segi ruang! Allah melibatkan diri-Nya dalam kehidupan manusia dan memanggil manusia untuk bersekutu dengan-Nya, mulai dari Nuh hingga para Rasul sebagaimana kita mengerti dari Alkitab. Tidak sekejap, ada proses yang panjang yang lazim disebut sejarah penyelamatan.
Sejarah penyelamatan Allah itu terlihat dalam tiga peristiwa yang sambung sinambung menjadi satu: bangsa Israel, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Dalam peristiwa terjadinya bangsa Israel, terlihat bagaimana Allah bertindak menyelamatkan Israel dari perbudakan Mesir. Dalam diri Yesus Kristus, Allah sendiri datang ke dunia, menjadi manusia, dan menyelenggarakan puncak penyelamatan itu dalam kematian-Nya di atas kayu salib. Dan Roh Kudus diberikan kepada hati manusia agar manusia dapat sungguh-sungguh memahami dan meyakini penyelamatan yang telah dikerjakan Yesus Kristus.
Dan penyelamatan Allah itu berlaku universal. Penyelamatan Allah tidak hanya untuk segilintir orang, tetapi untuk semua orang. Meskipun demikian, setiap orang harus menentukan sikapnya terhadap karya penyelamatan Allah itu, sehingga tidak dengan sendirinya semua orang diselamatkan. Orang harus sungguh-sungguh menerima dan meyakini bahwa penyelamatan Allah itu berlaku atas dirinya. Sikap demikian ini biasa disebut dengan percaya. Dan percaya itu bukan sekadar omongan di bibir saja, tetapi sungguh-sungguh nyata dalam hidup sehari-hari. Manusia harus menjalani hidupnya sebagai orang yang percaya kepada penyelamatan Allah itu. Sebagai orang yang telah diselamatkan Allah dan hidup dalam persekutuan dengan Allah, manusia harus bertindak sebagaimana mestinya. Sekali-kali, dia tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menjauhkan dirinya dari persekutuan dengan Allah itu. Dia harus sungguh-sungguh menampakkan hidup sebagai sekutu Allah! Dia harus mampu menjaga keselamatan yang telah diperolehnya itu, dan tidak sekali-kali bertindak sebagaimana Adam, yang dengan kesadarannya sendiri, telah menjauh dari Allah.

 

KETRITUNGGALAN ALLAH



Membicarakan ketritunggalan Allah memang bukan soal mudah. Bagaimanapun juga, kitalah mahkluk dan Allahlah khalik. Mungkinkah ciptaan memahami penciptanya secara tuntas dan jelas? Jawabnya, jelas tidak!
Apabila kita hendak berbicara Allah Tritunggal, hendaklah kita insaf bahwa kita sedang membicarakan Allah yang hidup. Allah bukanlah “sesuatu” yang dapat diselidiki dengan akal budi, sehingga kita dapat mengerti-Nya. Allah juga bukanlah persoalan atau pengertian, yang dapat kita tangkap dan kuasai. Sebaliknya, kitalah yang ditangkap dan dikuasai-Nya.
Jika kita membicarakan pokok ini, haruslah kita mendengarkan Alkitab, karena hanya melalui Alkitab kita dapat mengenal Allah. Memang di dalam Alkitab sendiri, rumusan baku trinitas Allah hanya terdapat dalam Matius 28:19. Namun dalam perjalanan hidupnya, gereja awal di kemudian hari merumuskan pemahamannya mengenai Allah, yang kemudian berkembang menjadi iman dan ajaran tentang ketritunggalan Allah. Allah itu: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Dengan rumusan ini gereja awal bermaksud memberikan penjelasan logis mengenai penyelamatan Allah kepada dunia masa itu, yang juga menjadi pegangan imaniah bagi orang-orang percaya dalam menjalani kehidupannya di dunia, serta bersaksi kepada dunia tentang penyelamatan Allah yang telah dialaminya dan tentang Allah yang menyelamatkan. Sekali lagi, rumusan ini merupakan alat kesaksian dan alat pemeliharaan iman.
Dalam sejarah gereja, nyatalah bahwa pemahaman gereja awal itu oleh pemikir-pemikir kristen dijelaskan dengan cara dan isi yang berbeda-beda. GKJ, melalui PPA-nya, mencoba mempertahankan latar belakang pengertian rumusan tersebut, yaitu cara Allah melaksanakan penyelamatan-Nya di dalam sejarah. Yaitu: (1) dalam hubungan dengan masa penyelamatan pertama, sebagaimana direkam di dalam Perjanjian Lama, Allah disebut dan disembah sebagai Allah Bapa, (2) dalam hubungan dengan masa penyelamatan kedua, sebagaimana direkam di dalam Perjanjian Baru, Allah disebut dan disembah sebagai Allah Anak, dan (3) dalam hubungan dengan masa penyelamatan ketiga, sebagaimana direkam di dalam Perjanjian Baru dan di dalam sejarah gereja hingga hari ini, Allah disebut dan disembah sebagai Allah Roh Kudus.
PPA GKJ menegaskan pula bahwa sebutan Bapa dan Anak itu bukanlah dalam hubungan biologis, melainkan menyatakan langkah-langkah Allah di dalam keseluruhan karya penyelamatan-Nya. Dan ketiga sebutan itu menunjuk kepada oknum yang sama, yaitu Allah.
PPA GKJ memang memberikan penalaran logis mengenai hubungan antara Yesus yang berdoa kepada Bapa dan pemberian Roh Kudus oleh Allah kepada para murid Yesus. Tapi, penjelasan macam begini sepertinya agak menggampangkan persoalan. Lalu, bagaimana kita menjelaskan perihal peristiwa baptisan? Atau, pada  peristiwa penyaliban Yesus Kristus menjerit kepada siapa, saat berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani!”
Belum lagi, banyak orang Kristen di luar GKJ yang telah merasa tertolong dengan rumus bantu mengenai Allah Tritunggal. Misalnya, mengenai ruang, yang harus mempunyai panjang, lebar, dan tinggi. Atau, matahari, yang memiliki panas, bulatan, dan cahayanya. Rumus bantu ini memang bukan rumus bukan pendekatan yang sempurna, namun dirasa lebih menolong saat berkomunikasi dengan orang beragama lain.
Bagaimanapun juga, PPA GKJ hanyalah pokok-pokok ajaran, yang tentunya tidak dimaksudkan untuk membahas persoalan Tritunggal secara tuntas. Dia hanyalah alat bantu, yang bisa kita jadikan sarana untuk lebih mengenal dan mengasihi Allah.

 

GEREJA

 

Arti

Gereja merupakan sebuah kehidupan bersama religius yang berpusat pada penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, gereja merupakan wadah dan saluran yang dibuat manusia untuk meyatakan sikap percaya mereka terhadap karya penyelamatan Allah itu. Namun, gereja sendiri bukanlah hasil karya manusia semata. Gereja dibentuk oleh orang-orang yang atas pertolongan Roh Kudus menerima penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus itu. Dari pengertian ini, gereja memiliki segi ilahi sebagai buah penyelamatan Allah. Allahlah pemilik dan penguasa gereja. Di lain pihak, gereja merupakan kehidupan bersama religius yang diselenggarakan oleh manusia sebagai jawab atas penyelamatan Allah. Inilah yang dimaksud dengan segi manusiawi gereja.

Fungsi

Gereja tidaklah sama persis dengan Kerajaan Allah. Namun sebagai buah dari penyelamatan Allah itu, gereja berada dalam lingkup Kerajaan Allah. Oleh karena itu, gereja haruslah merupakan perwujudan Kerajaan Allah di dunia. Dalam mewujudnyatakan Kerajaan Allah itu, gereja mempunyai tugas: (1) memberitakan penyelamatan Allah kepada orang yang belum mendengarnya, dan (2) memelihara keselamatan orang-orang yang telah diselamatkan. Inilah eka tugas gereja, yang memiliki dwi aspek: ekstern dan intern.
Yang dimaksud dengan pemberitaan tentang penyelamatan Allah kepada orang yang belum mendengarnya (ekstern) ialah memberi kesempatan kepada sebanyak mungkin orang untuk mendengar dan menjawab atas berita keselamatan Allah itu. Tidak ada pemaksaan sama sekali. Sebab, keinginan untuk menjawab penyelamatan Allah itu sungguh-sungguh berada dalam wewenang orang yang mendengarkan kabar penyelamatan Allah itu. Keinginan untuk memberitakan penyelamatan Allah ini dimotivasi oleh pemahaman bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan, dan sebagai orang yang telah diselamatkan Allah, orang-orang percaya diikutsertakan dalam karya penyelamatan Allah itu.
Namun, tidak cukup hanya pemberitaan ke luar.  Orang-orang yang telah menerima penyelamatan Allah itu pun harus diperhatikan pula, sehingga mampu mempertahankan keselamatan mereka mencapai penyempurnaannya. Tindakan ini dimotivasi oleh pemahaman: (1) Allah melibatkan orang percaya dalam karya pemeliharaan keselamatan orang percaya, (2) Allah tidak menghendaki seorang pun dari orang yang telah menerima keselamatan itu hilang, dan (3) setiap orang percaya turut bertanggung jawab terhadap keselamatan saudara seimannya.
Persekutuan (koinonia) dan pelayanan (diakonia) tidak dipahami sebagai tugas gereja. Sebab, baik persekutuan maupun pelayanan merupakan suatu keniscayaan (hakikat) gereja. Sebagai sebuah kehidupan bersama, keinginan untuk bersekutu serta sikap memperhatikan, mempedulikan, dan menolong sesama merupakan sebuah konsekuensi logis.

Kepelbagaian dan Keesaan

Jika penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus itu bersifat tunggal, mengapa ada begitu banyak gereja dengan bermacam alirannya? Dari pengertian mengenai gereja di atas, terlihat bahwa manusialah yang menyelenggarakan kehidupan bersama religius berdasarkan atas penyelamatan Allah itu. Dan kala menyinggung soal manusia, kita menyadari tidak ada manusia sempurna. Sedikitnya, ada tiga alasan yang melahirkan begitu banyak gereja, yakni: (1)  adanya pemahaman Alkitab yang berbeda karena penafsirannya berbeda, (2) keragaman tantangan-tantangan khas yang menimpa gereja pada waktu kelahiran serta pertumbuhannya, dan (3) sengketa dalam tubuh gereja.
Jelaslah, dengan adanya penafsiran yang berbeda terhadap Alkitab yang sama menjadikan corak ajaran pun berbeda pula. Tantangan yang berbeda, akan membuat gereja merumuskan pengakuan imannya sendiri dalam rangka menjawab tantangan tersebut. Tentunya, masing-masing gereja harus menjawab tantangan-tantangan itu secara khas pula (kontekstual), sehingga menjadikan begitu banyak gereja dengan pokok-pokok iman dan ajaran yang berbeda. Dan yang paling menyedihkan, tatkala sengketa melanda gereja, biasanya pihak yang terdesak, walau tidak selalu harus berarti salah, lebih suka mengambil jalan memisahkan diri.
Kalau sudah begini, keragaman gereja menjadi suatu hal yang wajar. Namun yang terpenting, janganlah keragaman tadi, yang telah menjadi warisan sejarah, menjadi alasan untuk menghakimi gereja lain. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa gerejanyalah yang paling benar. Bagaimanapun juga, keragaman gereja sekarang ini merupakan produk masa lalu. Apalagi, jika kita melihat bahwa orang-orang yang berada dalam gereja itu, meski mempunyai ajaran berbeda dengan kita, sungguh-sungguh menyatakan sikap percaya dan mau hidup di dalam karya penyelamatan Allah itu.
Oleh karena itu, sikap yang paling tepat ialah dengan rendah hati mengakui bahwa dalam setiap gereja terdapat manusia-manusia yang bisa salah, mengakui bahwa gereja dengan segala kesalahan manusianya merupakan buah penyelamatan Allah, mengakui ada kelemahan dan kebaikan dalam tiap-tiap gereja, dan berusaha menampakkan keesaan gereja sebagai buah penyelamatan Allah. Dalam hal ini, keesaan gereja perlu ditampilkan dengan cara saling belajar, saling menghormati, bekerja sama dalam menjalankan fungsinya, serta mengusahakan pengakuan bersama sebagai kesaksian terhadap dunia.
Keesaan gereja perlu ditampakkan, bukan dengan penyatuan lembaga,  tetapi sungguh-sungguh memahami bahwa gereja itu satu karena Allah, sang pemilik gereja-gereja, satu!

 

TATA KEHIDUPAN GEREJA

 

Tata Kehidupan Gereja

Kehidupan gereja mencakup tiga unsur dasar, yaitu: (1) menyatakan sikap percaya, (2) menghayati dan mengungkapkan hubungannya dengan Allah berdasarkan penyelamatan-Nya, dan (3) melaksanakan fungsinya di dalam karya penyelamatan Allah. Dalam praktiknya, ketiga unsur ini dituangkan dalam suatu tata kehidupan gereja, yang biasa disebut tata gereja. Dasar pembuatan tata gereja ialah Alkitab. Selain itu, tata gereja itu haruslah menjadi sarana yang memampukan gereja melaksanakan tiga unsur dasar tadi. Dan tata gereja dibuat oleh sidang Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa.
Sebagai suatu kehidupan bersama, gereja membutuhkan kepemimpinan. Kepemimpinan yang berlaku dalam gereja memiliki dua sisi, yakni: (1) sisi ilahi, artinya gereja, sebagai buah penyelamatan Allah, dipimpin Allah melalui karya Roh Kudus dengan Alkitab sebagai alat-Nya; dan (2) sisi manusiawi, artinya gereja di dalam kehidupannya dipimpin manusia, atas kehendak Allah dalam segala kebijaksanaan-Nya. Jadi, apa yang diperbuat manusia dalam kepemimpinan gereja harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah. Ini bukan hal gampang. Oleh karena itu, untuk menentukan apakah suatu kepemimpinan gerejawi dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah dipakai tiga tolok ukur berjenjang. Tolok ukur tertinggi ialah Alkitab, yang secara mutlak menentukan kebenaran tolok ukur lainnya; di bawah Alkitab ialah Ajaran Gereja yang dibuat berdasarkan Alkitab untuk menjadi pegangan bagi gereja dalam menjalani kehidupan dan fungsinya; dan yang terakhir ialah Peraturan Gereja yang dibuat berdasarkan Alkitab sesuai dengan rumusan Ajaran Gereja.
Memang banyak pola kepemimpinan yang bisa diambil Gereja dalam menjalankan fungsinya. Namun, gereja memahami bahwa setiap orang percaya adalah imam di hadapan Tuhan, sehingga bentuk yang dianggap paling tepat ialah dewan, yaitu kepemimpinan kolektif yang terdiri dari beberapa orang percaya yang mempunyai kedudukan sederajat. Dari sinilah lahir kepemimpinan Gereja yang jamak disebut Majelis Gereja. Majelis Gereja dipilih dari dan oleh anggota-anggota gereja tersebut. Setiap anggota gereja berhak menjadi anggota majelis dalam waktu tertentu. Sistem ini membuat sebanyak mungkin orang terlibat dalam kepemimpinan gereja.
Hakikat kepemimpinan gereja ialah pelayanan, sehingga orang-orang yang duduk dalam Majelis dipahami dan haruslah menjalankan tugasnya itu sebagai hamba-hamba Allah. Dan isi pelayanan itu ialah: memerintah dan mengatur yang kemudian melahirkan jabatan gerejawi Penatua; mengajar yang kemudian melahirkan jabatan gerejawi Pendeta; dan memelihara yang kemudian melahirkan jabatan gerejawi diaken.

Alat Imaniah

Sebagai suatu kehidupan bersama religius, gereja memiliki alat-alat imaniah. Memang banyak alat imaniah yang bisa dan memang dipakai oleh gereja, tapi yang tetap dan utama hanya dua: ibadah dan sakramen.

Ibadah

Ibadah jemaat merupakan cara orang percaya bersama-sama mengungkapkan dan menikmati hubungan dengan Allah berdasarkan penyelematan yang telah mereka alami dalam bentuk dramatis simbolis. Inti ibadah ialah pertemuan dialogis antara jemaat dan Allah, yang mencakup unsur dasar: sembah sujud, puji, pengakuan dosa, permohonan ampun, persembahan, dan pengakuan iman dari pihak jemaat; pengampunan, firman, serta berkat dari pihak Allah. Semua unsur ini sama pentingnya. Ibadah jemaat pada dirinya sendiri tidak mempunyai kekuatan magis yang mendatangkan berkat bagi orang-orang yang terlibat didalamnya. Ibadah hanya mendatangkan berkat jika keseluruhan unsur itu dilakukan dengan iman dan hati yang sungguh.
Khotbah dimengerti sebagai pemberitaan firman Allah. Sebab yang dikhotbahkan ialah firman Allah, dan Roh Kudus bekerja baik di dalam diri pengkhotbah maupun pendengarnya. Khotbah merupakan simbolisasi pemeliharaan Allah atas orang percaya melalui firman-Nya. Oleh karena itu, pelaksanaan khotbah  di dalam ibadah jemaat membawa serta tanggung jawab yang besar serta menuntut orang bersikap takut dan hormat.
Sedangkan persembahan ialah tindakan simbolis yang dilakukan orang percaya untuk menyatakan dan menghayati hubungannya dengan Allah. Persembahan merupakan ungkapan syukur atas pemeliharaan Allah di dalam diri manusia. Dengan memberi persembahan, kita menyadari bahwa semua yang kita persembahkan berasal dari Tuhan saja. Di samping itu, persembahan merupakan pernyataan sikap mempercayakan diri kepada Allah. Kisah terkenal tentang persembahan seorang janda miskin memperlihatkan bagaimana seseorang sungguh-sungguh mampu mempercayakan diri kepada Tuhan dengan memberikan semua yang ada padanya. Baiklah kita ingat pula bahwa kata dasar “persembahan” ialah sembah. Karenanya,  persembahan haruslah diaturkan dalam rasa takut dan hormat.

Sakramen

Sakramen merupakan sesuatu yang dikuduskan, dipersembahkan kepada Allah, dan berfungsi dalam pekerjaan penyelamatan Allah, khususnya aspek pemeliharaan iman. Seturut tradisi reformasi, GKJ memberlakukan dua sakramen, yakni: baptis dan perjamuan.
Sakramen baptis merupakan tindakan simbolis dramatis, dengan air sebagai unsur dasariahnya. Air merupakan lambang darah Kristus. Sakramen baptis menunjukkan: (a) pembasuhan dosa manusia oleh darah Kristus, (b) pengampunan dosa, (c) pembenaran atas manusia oleh Allah, manusia menjadi anak Allah, (d) kelahiran baru manusia dari hidup lamanya di bawah kuasa dosa ke dalam hidup baru yang dijalaninya di bawah kuasa Roh Kudus.
Setiap orang yang menerima penyelamatan Allah dapat dibaptis. Dalam hal ini Majelis gereja mempertimbangkan dan memutuskan kelayakan seseorang yang menyatakan sikap percayanya dan memohon untuk dibaptis. GKJ memberlakukan baptis dewasa bagi mereka yang berasal dari keluarga non-Kristen setelah mengikuti katekisasi. Sedangkan anak-anak keluarga Kristen wajib dibaptis, karena mereka juga mempunyai tempat di dalam perjanjian keselamatan bersama-sama dengan orang tua mereka.
Mengenai cara baptisan, janganlah terlalu dipersoalkan. Yang penting, sakramen baptis, dengan air sebagai unsur dasariahnya, dilaksanakan dengan khidmat, takut, dan hormat serta dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dengan demikian sakramen baptis merupakan peristiwa yang terjadi di dalam karya penyelamatan Allah.
Sedangkan perjamuan kudus merupakan tindakan simbolis dramatis dengan roti dan anggur sebagai unsur dasariahnya, sebagai lambang tubuh dan darah Kristus. Sebagai alat imaniah, sakramen perjamuan hendak menunjukkan: (a) penyaliban dan kematian Yesus merupakan dasar penyelamatan manusia, (b) orang-orang percaya adalah anggota keluarga Allah dengan cara makan bersama, (c) sakramen perjamuan mengacu kepada perjamuan yang sempurna di sorga, yaitu penyempurnaan keselamatan. Dengan sakramen perjamuan, orang-orang percaya semakin kuat dalam imannya, dan juga mengokohkan persekutuan di antara mereka.
Setiap orang yang sudah baptis dewasa, atau sudah mengaku percaya, dan tidak terkena siasat gereja berhak mengikuti perjamuan. Sebelum mengikuti sakramen perjamuan, setiap warga gereja seharusnya memutuskan sendiri apakah mereka akan mengambil bagian atau tidak dalam sakramen itu. Namun demikian, Majelis memiliki wewenang pula untuk mempertimbangkan dan memutuskan apakah seseorang boleh turut atau tidak dalam sakramen perjamuan. Sebelum mengambil bagian dalam sakramen perjamuan, warga jemaat perlu menguji dirinya: apakah dia sungguh-sungguh percaya kepada penyelamatan Allah, dan menggantungkan diri sepenuhnya dalam karya penyelamatan Allah itu, dan hidup di dalam karya penyelamatan Allah itu?
Baik Ibadah maupun sakramen merupakan alat imanah, yang akan memiliki makna jika dan hanya jika orang yang mengambil bagian di dalamnya sungguh-sungguh beriman dan menyikapinya dengan rasa takut dan hormat.

 

ORANG PERCAYA DAN KEHIDUPAN MANUSIA DI DUNIA

 

Sikap Terhadap Kehidupan di Dunia

Allah tidak menghendaki orang yang percaya kepada-Nya lari dari dunia. Dia bahkan memanggil mereka untuk menerima dan menjalani kehidupan di dunia dengan serius sebagai buah dari karya penyelamatan Allah yang telah mereka terima. Artinya, setiap orang percaya harus menjalani kehidupan di dunia dengan empat sikap dasar, yaitu: (1) menerima dan menjalani kehidupan di dunia sebagai gelanggang bagi Allah untuk melaksanakan karya penyelamatan-Nya, (2) menerima dan menjalani kehidupan di dunia ini sebagai gelanggang bagi orang percaya untuk mewujudkan keselamatannya di dalam kehidupan manusiawi yang lumrah, (3) menerima dan menjalani kehidupan di dunia ini sebagai gelanggang bagi orang percaya dan gereja untuk melaksanakan fungsinya di dalam karya penyelamatan Allah, dan (4) tidak menganggap kehidupan di dunia dalam dirinya merupakan sumber dosa, sebab sumber dosa adalah hati manusia, namun menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah gelanggang bagi manusia melakukan dosa dalam segala macam kejahatannya.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dituntut tanggung jawab atas kehidupannya karena memiliki kebebasan dan dilengkapi dengan akal budi. Secara asasi kehidupan orang percaya di dunia ini mengandung dua tanggung jawab, yaitu: tanggung jawab kepada alam dan sesama manusia.  Dan tanggung jawab itu diwujudkan dengan tabiat dan perilaku kehidupan yang baik dan benar. Intinya: kehidupan beretika
Berbicara mengenai hal ini, setiap orang dalam segala bangsa, budaya, dan tempat telah menjalani kehidupan beretika. Kehidupan beretika bersifat universal dengan tujuan yang bersifat universal pula, yakni mewujudkan suatu kehidupan yang lebih baik. Namun demikian, bagi orang percaya kehidupan beretika yang bersifat universal itu mendapat tambahan makna baru, yaitu kehidupan mereka haruslah menjadi cara untuk mempertanggungjawabkan kehidupan di dunia sebagai anak-anak Allah. Karenanya, kesalehan yang dijalaninya bukanlah bertujuan untuk mendapatkan keselamatan, tetapi karena sudah diselamatkan. Kesalehan merupakan buah keselamatan.
Meski demikian, pada dasarnya manusia tidak mampu melaksanakan kehidupan beretika itu dengan kekuatannya sendiri karena dia memiliki kelemahan-kelemahan manusiawi. Manusia memerlukan pertolongan Roh Kudus untuk mewujudkan kehidupan yang bertanggung jawab. Pada titik inilah manusia harus senantiasa bergantung dan berharap kepada Allah.

Hidup Beretika

Apakah kehidupan beretika itu?
Ø    Kehidupan beretika sesungguhnya merupakan cara bagi orang percaya untuk, dengan tingkah laku hidup yang baik, menyatakan terima kasihnya atas keselamatan yang telah diterimanya sebagai anugerah.
Ø    Kehidupan beretika adalah cara untuk, dengan tingkah laku yang baik, menjalani kehidupan di dunia sebagai anak Allah yang taat, yang senantiasa berusaha untuk hidup kudus.
Ø    Kehidupan beretika juga merupakan cara orang percaya untuk mewujudkan hidup baru.
Ø    Kehidupan beretika adalah cara bagi orang percaya untuk memuliakan Allah dalam segenap hidupnya.
Ø    Kehidupan beretika bagi orang percaya merupakan cara untuk, dengan tingkah laku yang baik, menaati pimpinan Roh Kudus.
Ø    Kehidupan beretika adalah cara untuk memelihara keselamatan, mewaspadai diri, dan menangkal segala cobaan agar sampai kepada penyempurnaan keselamatan.
Ø    Kehidupan beretika merupakan cara untuk dengan tingkah laku yang baik mengasihi sesama manusia dan menghormati martabatnya. Ini merupakan satu-satunya cara terkonkret untuk memuliakan Allah.
Ø    Kehidupan beretika merupakan cara yang membuat orang yang belum menerima keselamatan Allah itu menyaksikan karya penyelamatan Allah dalam diri orang-orang percaya sehingga mereka pun akhrinya terdorong untuk memuliakan Allah.
Dalam semuanya ini, kasih, penyangkalan diri, pengorbanan, serta kerendahanhatian merupakan jiwa dari kehidupan beretika. Setiap orang percaya haruslah menjalani kehidupan beretika. Ini sebuah keniscayaan. Jika orang-orang percaya secara sengaja tidak melaksanakan kehidupan beretika, agaknya kita perlu mempertanyakan kepercayaan orang tersebut. Dan dasar dari kehidupan beretikan adalah Alkitab melalui penafsiran dan pemikiran teologi praktis.

Sikap Terhadap Alam

Mengenai sikap terhadap alam, Pokok-pokok Ajaran (PPA) GKJ menegaskan bahwa secara asasi sikap orang percaya terhadap alam didasarkan pada hubungan manusia dengan alam sebagaimana diletakkan Allah dalam tata penciptaan. Manusia berada dalam alam, dan merupakan bagian dari alam. Manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Alam adalah “rumah kediaman” manusia bersama-sama dengan semua makhluk lain. Dan manusia memiliki kedudukan di atas alam, menguasai alam dan harus mengolah untuk menunjang kehidupannya (Kej. 1:26-31, Mzm. 8:4-9).
Kenyataan bahwa manusia memiliki kedudukan di atas alam memang tak dapat dipungkiri. Namun demikian, Kej. 1:26-31 sering ditafsirkan secara sempit. Istilah taklukanlah dan berkuasalah pada ayat 28 sering dipahami sebagai dominasi manusia terhadap alam. Seakan-akan melegitimasi eksploitasi alam demi keuntungan manusia. Sikap inilah yang tampak dalam aksi pembakaran hutan yang dilakukan banyak perusahaan dalam rangka pembukaan lahan. Pembukaan hutan dengan cara membakar memang lebih murah. Tapi hal ini membuat keseimbangan alam terganggu dan mengakibatkan bencana yang berkepanjangan bagi manusia itu sendiri. Paling tidak kebakaran hutan tersebut mengakibatkan kesehatan mata dan pernafasan manusia terganggu, bahkan dapat menyebabkan radang paru-paru. Belum lagi dengan kerugian materi akibat terhentinya aktivitas transportasi laut dan udara.
Oleh karena itu, PPA GKJ tidak hanya mengutip Kej. 1:26-31 tetapi juga mengutip Ams. 27:23-27. Manusia memang mempunyai kebebasan dan kewenangan untuk menguasai alam, namun serempak dengan itu manusia harus memelihara dan mempertahankan kelestariannya. Ams. 27:23-27 menyatakan bahwa manusia harus memelihara dan melestarikan rumput di ladang penggembalaan agar kelangsungan hidupnya terjamin. Jika manusia merusak rumput yang merupakan pakan kambing dombanya, maka manusia tidak akan dapat lagi merasakan protein hewani. Kelestarian alam ini pulalah yang harus selalu diusahakan manusia. Sebab kehancuran alam pada dasarnya merupakan kehancuran diri manusia sendiri.
PPA GKJ juga menyatakan bahwa manusia bukanlah pemilik alam. Manusia adalah mandataris Allah. Pokok ini menjadi penting sebab eksploitasi dan kerusakan alam sering kali diakibatkan oleh anggapan bahwa alam adalah milik manusia sehingga boleh diperlakukan sekehendak hatinya. Manusia sering lupa bahwa dia bukanlah pemilik alam, tetapi orang yang diberi kepercayaan untuk memelihara kehidupan. Manusia harus mempertanggungjawabkan semua yang diperbuatnya atas alam kepada Allah, Sang pemilik alam dan Sang pemberi mandat.
Sekali lagi, PPA GKJ menekankan perlunya kesadaran dalam diri setiap orang akan pentingnya hak generasi kemudian atas alam dan hak asasi semua makhluk atas alam sebagai rumah kediaman bersama. Alam tidak hanya diperuntukkan bagi generasi maka kini, namun juga untuk generasi mendatang. Tepatlah apa yang dikatakan iklan layanan masyarakat beberapa waktu lalu bahwa bumi bukanlah warisan tetapi pinjaman dari anak cucu kita. Bumi bukanlah warisan yang kita terima dari generasi lalu, tetapi merupakan pinjaman yang harus kita kembalikan kepada generasi nanti. Banyak orang yang tidak berpikir jauh ke masa depan, dan cuma memikirkan masa kini! Kampanye pelestarian alam mutlak perlu karena orang sering melupakan generasi kemudian. Jangan hanya berorientasi kepada keuntungan sesaat! Ini jugalah yang menjadi moto para agronomis, yaitu: produksi tinggi dan lestari!

Sikap Terhadap Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Teknik

Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) menyatakan bahwa sejak awal penciptaan manusia dikondisikan untuk menguasai, mengolah, dan menggunakan alam untuk menunjang kehidupannya, serta serempak dengan itu manusia harus memelihara alam agar terjaga kelestariannya. Untuk segala tugas ini manusia diperlengkapi Allah dengan seperangkat akal budi. Segala perlengkapan ini telah ada dalam diri manusia saat mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Segambar dan serupa dengan Allah berarti manusia mempunyai kemampuan berkreasi (mencipta) sebagaimana Allah. Dengan kemampuan inilah manusia dapat melaksanakan tugasnya selaku mandataris Allah di dunia ini.
Dengan pemahaman ini, tampaklah bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik merupakan hal yang wajar dan manusiawi dalam diri manusia. Bahkan ketiganya merupakan hal yang harus diciptakan, dikembangkan, dan digunakan untuk kepentingan manusia dan alam secara keseluruhan. Oleh karena itu, sesuai dengan hakikat manusia sejak awal penciptaan, PPA GKJ tidak sependapat dengan orang yang serta merta menolak ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik dengan alasan akan menjauhkan manusia dari Allah.
Hal itu memang bisa terjadi. Kemajuan teknologi bisa membuat manusia merasa dapat melakukan apa saja sehingga tidak lagi bergantung kepada Allah. Risiko ini akan selalu ada, sebab semua itu dilakukan manusia dalam kondisi dosa. Tetapi jangan sampai rasa takut berdosa membuat manusia menyingkirkan akal budi dan semua yang berbau ilmu pengetahuan. Baiklah kita ingat bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik pada dirinya sendiri merupakan sesuatu yang netral. Seperti halnya pisau, semuanya tergantung kepada pemakainya. Jika pemakainya berhati jahat, maka pisau tersebut dapat menjadi alat kejahatan, dan begitu pula sebaliknya.
Tak beda dengan nuklir. Dalam bidang pertanian telah dikembangkan berbagai macam benih unggul dengan menggunakan teknologi nuklir. Tentu saja hal ini lebih menguntungkan ketimbang teknologi pertanian tradisional. Namun, bencana akan mengancam di depan mata tatkala teknologi nuklir dikembangkan dalam persenjataan militer.
Yang harus diusahakan dalam diri orang percaya ialah wawasan mengenai akal budi dan sikap terhadap akal budi. Kita harus senantiasa sadar bahwa akal budi ialah pemberian Allah. Menolak akal budi berarti kita melecehkan Allah. Manusia harus menggunakan akal budi tersebut untuk kemuliaan Allah. Jangan sampai dalam menggunakan akal budinya, manusia terlepas dari norma-norma yang ditetapkan oleh Allah. Akal budi dimaksudkan Allah untuk memelihara dan bukan untuk menghancurkan kehidupan.
Dengan demikian tidak ada pertentangan antara iman dan akal budi. Yang membuat keduanya tampak bertentangan ialah manusia yang berada dalam kondisi dosa. Iman dimaksudkan untuk mengisi dimensi religius dalam diri manusia. Dimensi religius ini membuat kehidupan manusia bermartabat selaku gambar Allah. Sedangkan akal budi dimaksudkan untuk mengisi dimensi kultural dalam hidup manusia. Dimensi kultural ini membuat kehidupan manusia bermartabat selaku mandataris Allah. Keduanya saling mengisi dan melengkapi. Karena tanpa iman kehidupan manusia tiada berarah, tanpa akal budi kehidupan manusia merupakan kebodohan belaka.

Sikap Terhadap Sekularisme

Dalam percakapan mengenai sikap terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik, kita telah membicarakan bagaimana Allah memperlengkapi manusia dengan iman dan akal budi. Iman merupakan dimensi religius manusia. Iman memampukan manusia menghayati hubungannya dengan Allah. Iman jugalah yang memampukan manusia manusia hidup sebagai gambar Allah. Sedangkan akal budi merupakan dimensi kultural manusia. Akal budi memampukan manusia hidup sebagai mandataris Allah. Kedua hal ini membuat manusia sungguh-sungguh mencapai citranya, yakni sebagai gambar Allah dan sekaligus mandataris Allah.
Namun, adakalanya manusia dalam keadaan dosa tidak mampu memfungsikan kedua hal ini secara seimbang. Bagi sebagian orang, iman adalah segala-galanya sehingga meremehkan akal budi. Tapi banyak juga yang berpendapat sebaliknya, bahwa akal budi itulah yang terutama dalam kehidupan manusia. Tentu kita masih ingat kisah klasik Galilio Galilie yang mati di tangan gereja, karena dia menolak pemahaman geosentris yang dipegang gereja masa itu. Atau sebaliknya, kita tentu tak lupa dengan Hiroshima dan Nagasaki yang luluh lantak dalam sekejap akibat bom atom.
Ketidakmampuan manusia inilah yang akhirnya membuat manusia terjebak dalam bahaya sekularisme. Sekularisme adalah pandangan sekaligus sikap hidup yang merupakan ekses dari sekularisasi. Sesungguhnya, sekularisasi merupakan proses manusiawi yang wajar sepenuhnya. Namun menjadi tidak wajar saat manusia merasa dirinya sebagai penguasa atas alam. Dengan akal budi yang dimilikinya manusia menganggap dirinya dapat menggantikan posisi Allah sebagai penguasa mutlak dunia ini.
Sekularisme inilah yang akhirnya membuat manusia jauh dan terlepas dari Allah. Dalam sekularisme manusia menolak Allah sebagai realitas dan penguasa atas alam. Seringkali mereka memahami bahwa Allah itu ada, namun Allah tidak peduli dengan kehidupan manusia. Allah laksana seorang pembuat arloji otomatis, yang membiarkan jarum jam itu berputar sendiri hingga rusak. Sekularisme beranggapan bahwa Allah lepas tangan terhadap apa pun yang terjadi di dunia, sehingga mereka boleh melakukan apa saja.
Beriringan dengan sekularisme munculah pandangan sientisme. Sientisme adalah pandangan atau sikap hidup yang menempatkan pengetahuan di atas segala-galanya. Ilmu pengetahuan menjadi instansi tertinggi, yang lebih tinggi dari Allah. Sientisme meyakini bahwa apa yang benar itu hanyalah sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Tak heran jika penganut sientisme tidak mempercayai adanya Allah, karena Allah tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Padahal banyak hal yang sulit dibuktikan secara ilmiah. Misalnya, dari manakah asalnya nyawa manusia, dan ke manakah nyawa itu pergi sewaktu manusia meninggal dunia?
Seiring dengan paham sientisme, muncullah paham teknologisme. Paham ini mengandalkan teknologi sedemikian hingga menjadi satu-satunya dasar penentu masalah-masalah etis. Banyak orang beranggapan bahwa kedamaian di bumi ini hanya akan terjadi dengan memaksa pembuat kejahatan takluk di bawah todongan senjata. Tak heran jika pabrik-pabrik senjata hingga saat ini tetap membuat senjata yang semakin canggih dengan alasan untuk memberantas kejahatan.
Dalam bidang kesehatan hal ini pun sangat terasa. Di dalam tubuh seorang ibu yang mengandung, setelah diperiksa dengan cermat, ternyata terdapat virus rubella. Para dokter menyadari bahwa virus ini dapat mengakibatkan cacat pada bayinya. Anak tersebut akan lahir buta, tuli, dan pertumbuhan tubuhnya abnormal. Pilihan bagi sang ibu ialah menggugurkan kandungannya atau membiarkan kandungan tersebut dengan risiko anaknya akan lahir cacat. Memang bukan pilihan yang mudah. Hal ini merupakan contoh bagaimana teknologi dapat menjadi dasar, bahkan satu-satunya dasar, dalam menentukan putusan etis yang diambil manusia.
Sekali lagi sekularisasi merupakan proses yang tak terhindari dalam kehidupan manusia. Meskipun demikian, janganlah proses itu membawa manusia terjebak dalam sekularisme, sientisme, maupun teknologisme. Hal ini dapat dijaga dengan berpegang kepada ketiga hal ini, yaitu:
1.    Keyakinan bahwa kemampuan manusia menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik itu berasal dari Allah semata. Allah telah melengkapi manusia dengan akal budi sehingga manusia mampu menciptakan ketiga hal itu. Oleh karena itu, akal budi tidaklah dimaksudkan untuk menyangkal Allah sebagai realitas maupun penguasa atas alam.
2.    Ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik harus difungsikan dengan baik dan benar sebagai wujud pertanggungan jawab  kepada Allah. Hal ini hanya dapat terlaksana jika ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik membawa manusia untuk menguasai, mengolah, menggunakan, dan memelihara alam demi kesejahteraan manusia
3.    Betapa pun besarnya peranan ilmu pengetahuan, teknologi, dan teknik, janganlah menjadi instansi tertinggi yang menentukan kebenaran dalam kehidupan manusia. Juga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan sikap terhadap masalah-masalah etis. Justru etikalah yang harus mengoreksi dan menentukan apakah ketiga hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara etis atau tidak.
Menjadi bagian kita untuk senantiasa waspada terhadap dampak negatif dari sekularisasi dengan terus berpegang pada ketiga hal ini!


Sikap Terhadap Negara

Bagaimanakah seharusnya sikap orang percaya terhadap negara? Biasanya dengan cepat kita menjawab, orang Kristen harus taat kepada negara karena tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Tetapi, bagaimanakah jika negara sendiri bertindak sewenang-wenang? Lalu, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap kekuasaan, yang menurut Lord Acton, memang cenderung korup? Apakah gereja, baik secara individu maupun lembaga, dibenarkan melawan pemerintahan yang korup?
Hubungan gereja dan negara merupakan pokok yang senantiasa kontekstual dan relevan dibicarakan. Sebab orang Kristen merupakan warga gereja dan sekaligus juga warga negara. Tak heran, jika Pokok-Pokok Ajaran GKJ (PPA GKJ) membicarakan hal ini secara mendalam.
Dengan tegas PPA GKJ menyatakan bahwa orang percaya haruslah menjalani kehidupan negarawi dengan serius, sebagai panggilan selaku orang yang menerima dan menjalani kehidupan manusia di dunia. Orang percaya perlu memahami hakikat negara itu sebagai bentuk kehidupan bersama manusia, dengan cakupan paling luas dan kekuasaan paling besar. Dan dalam menjalani kehidupan bersama negarawi ini, orang percaya harus mendasarkan dirinya dengan tiga hal: (1) asas kebutuhan manusia, dengan pengertian bahwa negara merupakan merupakan sesuatu hal yang wajar dan sudah semestinya; (2) asas anti totaliterisme, dengan pengertian bahwa negara hanyalah salah satu dari banyak bentuk kehidupan bersama manusia, sehingga tidak berhak mencaplok bentuk-bentuk kehidupan bersama manusia yang lain; dan (3) asas keanekaan kehidupan, dengan pengertian bahwa negara harus menghormati kekayaan kehidupan manusia.
Orang percaya perlu juga memahami bahwa kehidupan negara berpusat pada pelaksanaan kekuasaan, sehingga rakyat yang menciptakan dan terlibat di dalamnya wajib menundukkan diri kepada pelaksanaan kekuasaan negara. Sebab suatu negara dapat diselenggarakan dengan baik apabila rakyat dalam negara tersebut mengakui kekuasaan negara dan tunduk kepadanya. Inilah yang lazim disebut asas kekuasaan negara. Jelas, rakyatlah yang telah menghibahkan kekuasaan kepada negara. Dan mengingat begitu besarnya kekuasaan negara, maka kekuasaan negara tidak dilimpahkan kepada pribadi, melainkan melembagakannya. Dalam hal ini, lembaga kekuasaan negara berfungsi: (1) memegang kekuasaan negara, (2) menentukan tujuan penggunaan kekuasaan tersebut, (3) menentukan siapa, dalam batas tertentu, memimpin penyelenggaraan negara.

Asas-Asas Alkitabiah Tentang Kehidupan Bernegara

Bagaimanapun juga, setiap pemegang kekuasaan negara, yang berada dalam kondisi dosa, terancam bahaya untuk menyalahgunakan wewenangnya. Sehingga pengawasan menjadi hal yang mutlak perlu. Dan sistem pengawasan itu harus tertuang di dalam hukum. Negara haruslah didasarkan atas hukum dan bukan atas kekuasaan atau pribadi manusia semata. Inilah yang disebut dengan asas negara hukum.
Harus juga diingat bahwa negara itu ada demi manusia dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan kekuasaan negara faktor manusia harus sungguh-sungguh diperhatikan. Jelasnya, tujuan negara ialah menciptakan kehidupan yang sejahtera bagi segenap manusia yang terlibat di dalamnya. Sehingga dalam menjalankan kekuasaannya, penyelenggara negara harus menciptakan kehidupan bersama yang bermartabat manusia. Penyelenggara negara harus menghormati martabat manusia. Dalam hal ini, penyelenggara negara bisa saja melakukan penyimpangan, sehingga perlu dibuat undang-undang mengenai hak asasi manusia. Hanya dengan cara inilah, baik rakyat maupun penyelenggara mempunyai pedoman yang sama untuk mengupayakan kehidupan yang bermartabat manusia tadi.

Sikap Terhadap Kekuasaan Negara

PPA GKJ menyatakan bahwa orang percaya harus memandang penguasa negara itu sebagai manusia yang diberi kesempatan oleh Allah untuk memegang kekuasaan negara. Karenanya, orang percaya tidak dibenarkan untuk asal saja melawan pemerintah. Mereka tidak boleh begitu saja melawan hukum, yang memang dibuat untuk ketertiban dan pada akhirnya berguna untuk masyarakat secara keseluruhan. Namun demikian, terbuka kemungkinan bagi manusia untuk melawan jikalau pemerintah tidak menjalankan fungsinya di dalam tata-reksa Allah. Orang percaya mempunyai alasan yang bertanggung jawab untuk melawan pemerintah jika dalam melaksanakan kekuasaan negara pemerintah tidak menjunjung kehidupan bersama yang bermartabat manusia. Ketika negara mulai menyeleweng dari fungsinya, pada saat itulah orang percaya harus bertindak.   
Mengenai sikap terhadap ideologi negara, PPA GKJ menegaskan bahwa ideologi negara pada dirinya sendiri dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar dan berguna. Setiap bangsa berhak menentukan dan memiliki ideal-ideal dasariahnya sendiri mengenai kehidupan negarawi. Oleh karena itu, orang percaya haruslah bersikap terbuka mengenai bentuk negara, sistem pemerintahan, dan ideologi, asal tidak bertentangan dengan cita-cita untuk menciptakan kehidupan bersama yang bermartabat manusia.
PPA GKJ juga dengan tegas menyatakan bahwa orang Kristen tidak boleh bersikap apolitis. Mereka harus terlibat aktif dengan berprinsip sebagai: (1) imam, orang percaya melayani kehidupan bersama negarawi di dalam solidaritas nasional, (2) raja, berpartisipasi di dalam menentukan kebijakan penyelenggaraan negara,  (3) nabi, berani mengingatkan, menegur, bahkan menentang segala hal yang merupakan penghinaan terhadap martabat manusia.
Namun demikian, gereja tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Sebab gereja mempunyai karakteristiknya sendiri sebagai kehidupan bersama religius. Gereja harus memedulikan kehidupan politik  tanpa mempunyai ambisi untuk memperoleh kekuasaan politik. Gereja tidak boleh buta politik, tetapi juga tidak boleh mengumpulkan, menggunakan, atau menunggangi kekuasaan politik.
Sehingga menjadi kewajiban gereja untuk: (1) mengikuti dan memahami perkembangan kehidupan politik, (2) menggembalakan warganya yang terlibat dalam politik praktis, sehingga mereka sungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyat yang telah mempercayakan suaranya, (3) menggembalakan warganya secara umum untuk menjadi warga negara yang baik, dan (4) bila perlu membuat dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik.
Berkaitan dengan hubungan antara negara dan agama, PPA GKJ menyatakan bahwa hubungan yang tepat di antara keduanya adalah pemisahan yang tegas angara negara dan agama. Inilah yang lazim disebut asas negara sekuler, yaitu: (1) negara tidak memasukkan agama ke dalam dirinya dan agama juga tiak mencaplok negara menjadi wilayah bawahannya, (2) tidak ada campur tangan negara terhadap agama, demikian pula sebaliknya, (3) hukum negara tidak dapat diangkat dari atau dibuat berdasarkan hukum agama, (4) tidak ada agama negara, (5) negara harus membantu rakyatnya dalam menjalankan kehidupan agamawinya.

Sikap Terhadap Agama-agama

Kenyataan bahwa Indonesia merupakan bangsa majemuk tak dapat kita pungkiri. Rakyat Indonesia terdiri atas beragam suku, bangsa, bahasa, dan juga penganut agama yang berbeda. Kemajemukan agama bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan berbangsa. Agaknya, inilah alasan mengapa PPA GKJ mempercakapkan bagaimanakah seharusnya sikap orang percaya terhadap agama-agama.
Sikap terhadap agama-agama bertolak dari pemahaman bahwa agama merupakan suatu gejala manusiawi universal. Dalam arti bahwa di mana pun, kapan pun, dan dalam budaya apa pun manusia selalu beragama. Dalam diri manusia ada semacam kesadaran religius untuk berhubungan dengan Allah. Kesadaran religius inilah yang mendorong manusia mengakui adanya kekuasaan yang lebih besar dari dirinya. Calvin menyebutnya sebagai benih keagamaan. Setiap manusia memilikinya, karena mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Benih keagamaan atau kesadaran religius inilah yang mendorong manusia menciptakan agama dan menjalani kehidupan beragama sebagai salah satu segi dari kehidupannya.
Meski telah jatuh ke dalam dosa, namun kesadaran religius ini tetap melekat erat dalam diri manusia. Kisah Kain dan Habel, yang memberikan persembahan kepada Tuhan, merupakan bukti bahwa kesadaran religius manusia tetap ada. Kesadaran religius mendorong manusia untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah. Manusia butuh saluran dan wadah untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah. Saluran dan wadah inilah yang lazim disebut agama.
Bahkan, dalam agama-agama suku, kita juga dapat menyaksikan bagaimana manusia begitu takut kepada sesuatu yang besar di luar dirinya -- misalnya: pohon-pohon besar atau batu besar -- dan mencoba membujuk roh-roh pohon tersebut dengan sesajen agar terhindar dari malapetaka.
Kejadian 4:26 mencatat “Lahirlah seorang anak-laki-laki bagi Set dan anak itu dinamai Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN”. Terlihat bahwa dalam kemanusiaannya, manusia senantiasa rindu untuk bersekutu dengan Tuhan. Manusia memanggil nama Allah karena tanpa persekutuan dengan Allah hidup dirasakannya sebagai sesuatu yang tidak lengkap dan tidak sempurna. Dalam hubungan dengan Allah, manusia merasakan kepenuhannya sebagai manusia. Inilah juga satu alasan mengapa manusia memilih agama bagi dirinya sendiri. Agama dapat juga diartikan sebagai usaha manusia untuk bersatu dengan Allah, agar mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan jiwa.
Dalam kaitan inilah PPA GKJ memahami bahwa agama memang sungguh-sungguh ciptaan manusia. Namun, hal itu tidak berarti bahwa Allah tidak campur tangan sama sekali dalam penciptaan agama tersebut. Kesadaran religius yang ada dalam diri manusia yang tidak musnah karena dosa, membuktikan bahwa Allah tidak lepas tangan.
Namun, apakah ini berarti semua agama dapat membawa manusia kepada Allah? Memang kesadaran religius manusia tidak musnah karena dosa, namun agama itu sendiri diciptakan manusia dalam kondisi dosa. Agama diciptakan dalam keadaan di mana manusia telah kehilangan persekutuan sejati dengan Allah. Manusia telah kehilangan arah (kiblat) yang benar untuk sampai kepada Allah. Tetapi, agama dapat menjadi “benih awal” bagi manusia untuk menoleh kepada Yesus Kristus. Dan hanya dengan percaya kepada Yesus, manusia sampai kepada Allah.
Contoh konkret dapat kita saksikan dalam “Kisah Orang Majus dari Timur”. Berdasarkan pengetahuan dan agama yang dianut, orang Majus tidak mempedulikan jarak, rintangan, dan bahaya, pergi ke Yerusalem untuk menyembah Yesus. Mereka memahami bahwa Yesus lebih berkuasa dari raja-raja di dunia Timur. Mereka menyatakan ketaklukkan mereka dengan sujud menyembah dan mempersembahkan mas, kemenyan, dan mur.
Agama sendiri tidak menyelamatkan. Keselamatan, dalam pengertian kembalinya manusia ke dalam hubungannya dengan Allah, hanya diperoleh di dalam penyelamatan yang dilakukan Allah terhadap manusia. Di sinilah keunikan agama Kristen. Sebab agama Kristen diciptakan dan disistematisasikan manusia menjadi suatu sistem kehidupan religius berdasarkan penyelamatan Allah atas manusia. Keselamatan dipahami bukan karena upaya dan cara manusia, tetapi semata-mata karya Allah sendiri. Tidak berdasarkan budi baik atau kesalehan manusia, namun sungguh-sungguh berdasarkan inisiatif Allah.
Karena itulah, bagi orang percaya agama Kristen adalah saluran dan wadah untuk menyatakan sikap bahwa ia telah menerima penyelamatan Allah, sekaligus saluran dan wadah untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah berdasarkan penyelamatan Allah itu.
Namun demikian, tidak berarti orang Kristen boleh bersikap arogan dan merendahkan penganut agama lain. Bahkan mereka harus mengakui dan menghormati hak hidup orang beragama lain. Karena hal beragama merupakan pilihan pribadi setiap manusia. Orang Kristen juga harus menyadari dan mengakui adanya sekelompok orang non-Kristen yang sungguh saleh dan taat terhadap ajaran agamanya. Mengkalim bahwa hanya orang Kristenlah yang dapat berbuat baik dan sungguh saleh merupakan hal yang tidak realistis. Kita dapat melihat bahwa dalam “Perumpamaan Orang Samaria”, Yesus memahami, menyadari, dan mengakui bahwa tidak semua orang Samaria buruk sifatnya. Tuhan Yesus mengakui adanya orang-orang Samaria yang hatinya lebih baik dari orang Lewi atau pun ahli Taurat.
Leslie Newbigin, dalam bukunya Injil di Masyarakat Majemuk, menegaskan bahwa hal iman merupakan hak pribadi setiap orang dan tidak boleh mendapatkan paksaan dari siapa pun juga. Kita tidak berhak memaksakan agar kebenaran agama yang kita anut juga harus berarti benar bagi penganut agama lain. Namun, hal itu tidak berarti kita dapat mengatakan bahwa semua agama itu sama saja. Atau, kita simpulkan bahwa agama-agama itu berbeda jalannya, tapi tujuannya sama.
Orang Kristen, tanpa sedikit pun mengurangi hormat kepada agama lain, dan tanpa sedikit pun mengurangi hak setiap orang untuk menentukan sendiri agamanya, harus memberitakan penyelamatan Allah kepada sesama manusia. Orang Kristen harus memberikan kesempatan kepada sesama untuk mendengar dan menjawab penyelamatan Allah. Sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk diselamatkan. Pemberitaan Injil adalah demi keselamatan manusia, bukan untuk meniadakan agama lain, dan berjalan di atas prinsip kebebasan dan bukan paksaan. Sebab, Injil memang untuk semua orang.

 

DASA TITAH



Dasa titah atau Sepuluh Hukum TUHAN, bagi orang percaya, merupakan pedoman dasar bersikap dan bertingkah laku dalam menjalani kehidupan di dunia. Hal ini didasarkan pada watak Sepuluh Hukum TUHAN itu sendiri, yang oleh Allah difungsikan sebagai pedoman dasar bagi Israel sebagai umat yang diciptakan-Nya dalam rangka penyelamatan-Nya atas manusia. Sehingga Gereja atau orang percaya, sebagai kelanjutan Israel, juga harus menjadikannya sebagai pedoman dasar bersikap dan bertingkah laku. Lagipula, tanpa pedoman normatif, orang percaya akan sulit menetapkan bagi dirinya mengenai apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan di dunia ini.
Dalam mukadimah Sepuluh Hukum TUHAN, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”, tampaklah bahwa TUHAN yang menitahkan Dasa Titah adalah DIA yang menyelamatkan Israel dari perbudakan . Di sini tampaklah hubungan khas itu, yakni hubungan antara tuan dan hamba. Israel, sebagai bangsa budak, dipulihkan keadaannya oleh TUHAN menjadi bangsa yang merdeka, di tanah mereka sendiri, dan menjadi umat kepunyaan TUHAN sendiri. Sepuluh Hukum Tuhan harus dimengerti sebagai tanda perjanjian antara TUHAN dan umat-Nya. Dan bagi TUHAN, Sepuluh Hukum menjadi tolok ukur untuk menilai kesetiaan umat Israel kepada-Nya.
Titah Pertama menyatakan bahwa TUHAN menuntut kesetiaan Israel. Tidak boleh ada allah bagi mereka, kecuali TUHAN yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir. Orang percaya juga tidak diperkenankan memiliki allah lain, kecuali Allah yang menyelamatkannya, juga tidak diperkenankan memiliki Tuhan lain kecuali Tuhan Yesus.
Titah Kedua menyatakan bahwa di dalam hubungan perjanjian, Israel berada dalam posisi sebagai penyembah TUHAN dan beribadah kepada-Nya. Dan dalam penyembahan itu, umat Israel dilarang menggunakan gambaran yang direka atau dikonsepnya sendiri dalam bentuk apa pun juga. TUHAN menghendaki Israel menyembah-Nya murni sebagai Allah. Tidak ada toleransi sedikit pun. Demikian pula dengan orang percaya, mereka harus menyembah dan beribadah kepada Allah murni sebagai Allah, tanpa menggunakan gambaran dalam bentuk apa pun juga.
Titah Ketiga menyatakan bahwa di dalam hubungan dengan TUHAN, Israel berada dalam posisi menyembah TUHAN, Allahnya, dan itu berarti harus bersikap hormat dan memuliakan Dia. Titah Ketiga menuntut Israel untuk menyebut nama TUHAN dalam suasana hati yang menyembah. Orang percaya juga dituntut untuk menyebut nama Allah dan nama Tuhan Yesus di dalam suasana sembah.
Titah Keempat menyatakan bahwa Tuhan menitahkan Israel menguduskan satu dari ketujuh hari yang dimilikinya, untuk secara khusus dipakai untuk menyembah TUHAN. Dan hari itu menjadi hari perhentian dari segala pekerjaan. Prinsip yang sama berlaku bagi orang percaya untuk menguduskan hari Minggu sebagai hari sembah.
Titah Kelima menyatakan bahwa setiap orang Israel dituntut untuk menghormati orang tua mereka. Bagi setiap orang, ayah dan ibu merupakan jalan yang dipakai Tuhan untuk kehadirannya di dunia sebagai manusia dalam rangka penciptaan. Oleh karena itu, menghormati ayah dan ibu adalah awal dan dasar untuk menghormati sesama di dalam kehidupan bersama. Penghormatan terhadap orang tua itu juga dihubungkan dengan berkat Tuhan kepada Israel di dalam rangka penyelamatan Israel. Bagi orang percaya juga berlaku prinsip yang sama. Mereka harus menghormati orang tua mereka berdasarkan kesadaran bahwa ayah dan ibu merupakan sesamanya, yang sekaligus di atas dirinya.
Titah Keenam melarang bangsa Israel untuk membunuh sesamanya. Membunuh adalah mengakhiri keberadaan seorang manusia, yang secara hakiki sederajat. Manusia diciptakan oleh Allah sekali untuk selamanya di dunia. Oleh karena itu, tidak seorang pun yang berhak meniadakan hidup sesamanya. Prinsip yang sama juga berlaku bagi orang percaya. Mereka tidak berhak meniadakan hidup sesamanya. Dalam perkembangannya, Tuhan Yesus mengartikan tindakan membunuh itu sebagai sikap dan perlakuan yang tidak menghormati martabat manusia.
Titah Ketujuh menuntut Israel, sebagai umat Tuhan, untuk menguduskan kehidupan seksual mereka. Setiap orang Israel haruslah memuliakan Allah di dalam kehidupan seksual mereka di dalam sebuah lembaga perkawinan. Demikian pulalah yang seharusnya dilakukan setiap orang percaya. Hidup di dalam lembaga perkawinan membuat mereka menjalani kehidupan manusia yang bermartabat manusia, sebagai gambar Allah.
Titah Kedelapan melarang orang Israel untuk mendapatkan sesuatu yang merupakan milik orang lain tanpa izin yang berhak. Di balik titah ini terdapat pengakuan terhadap hak untuk memiliki sesuatu. Manusia berhak memiliki dan menikmati hasil kerjanya di dalam dan untuk kehidupannya. Mencuri adalah tindakan yang membuat kehidupan si pelaku tidak lagi bermartabat gambar Allah sekaligus melawan hak sesamanya untuk memiliki dan menikmati hasil kerjanya. Prinsip yang sama juga berlaku bagi orang percaya.
Titah Kesembilan menuntut manusia berlaku jujur. Hanya dengan bersikap jujurlah, manusia dapat menjalani kehidupannya sebagai gambar Allah, sekaligus mendukung kehidupan bersama dengan manusia lainnya. Orang percaya, sebagai anak Allah, juga dituntut bersikap jujur terhadap sesamanya dalam kehidupan bersama.
Titah Kesepuluh melarang manusia untuk mengingini kepunyaan sesamanya dalam arti jahat. Semua tindakan dosawi bermula dari hati yang mengingini dalam arti yang jahat. Tuhan menitahkan orang Israel untuk mengendalikan hatinya agar mereka tidak terdorong jatuh ke dalam tindakan dosa. Melampiaskan semua yang diinginkan hati berarti menjadikan hati sebagai allah mereka dan merusak hubungan dengan sesama. Orang percaya juga dituntut untuk mengendalikan keinginan hati mereka.
Dasa Titah itu pun akhirnya diringkas Tuhan Yesus menjadi dua hukum yang lebih dikenal sebagai Hukum Kasih, yakni: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Mengasihi Tuhan merupakan jiwa dari mengasihi sesama. Melaksanakan hukum kedua merupakan jawaban atas kasih Allah yang telah mereka terima terlebih dulu dalam rangka penyelamatan. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia sama pentingnya bagi setiap orang percaya. Kedua hukum ini berkaitan erat satu sama lain. Tidak mungkin mengasihi Allah tanpa mengasihi sesama, begitu pula sebaliknya.
Bagi orang percaya mengasihi sesama seperti dirinya sendiri berarti mengasihi sesama dengan menempatkan sesama di dalam posisi dan harga yang sama di hadapan Allah sebagaimana dirinya sendiri. Bagi setiap orang percaya, kedua hukum ini merupakan hakikat dari seluruh Taurat dan kitab para nabi dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

PENGAKUAN IMAN RASULI


Meski telah menyusun pengakuan imannya, yang tertuang dalam Pokok-pokok Ajaran, GKJ tidak pernah ingin melepaskan Pengakuan Iman Rasuli yang selama ini telah menjadi salah satu pegangan utama. GKJ tetap mempertahankan Pengakuan Iman Rasuli yang dilandasi dua alasan: (1) Pengakuan Iman Rasuli merupakan pengakuan iman yang dilahirkan oleh Gereja awal, yang berisikan inti pengajaran rasul-rasul mengenai Allah dengan penyelamatan yang dikerjakan-Nya ke atas manusia, (2) Melalui Pengakuan Iman Rasuli yang dipegangnya itu, GKJ menjalani kehidupannya dengan menghayati dirinya berada di dalam satu garis sejarah penyelamatan Allah di segala abad dan tempat.
Penyusunan pengakuan iman yang tertuang dalam Pokok-pokok Ajaran merupakan cara GKJ untuk mengembangkan dan memperkaya serta menerapkan Pengakuan Iman Rasuli di dalam dunianya pada zamannya, dengan kondisinya khasnya. Namun demikian, GKJ tidak begitu saja mengembangkan Pengakuan Iman Rasuli sebebas-bebasnya. Alkitab merupakan norma tunggal, yang sekaligus juga sumber dalam menciptakan, mengembangkan, dan memperkaya ajaran gereja.
Pengakuan Iman Rasuli ialah pengakuan bahwa:
1.    Allah yang menyelamatkan manusia adalah Allah pencipta segala sesuatu.
2.    Allah melaksanakan keallahan-Nya pada umumnya dan penyelamatan-Nya pada khususnya dengan bekerja sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
3.    Penyelamatan Allah ke atas manusia berjalan di atas azas pengampunan. Pengampunan itu diberikan berdasarkan pelaksanaan hukuman Allah ke atas manusia karena dosanya. Dan pelaksanan hukuman itu dikerjakan oleh Allah sendiri melalui peristiwa Yesus Kristus, yang meliputi: (a) datang-Nya dalam kehidupan manusia melalui rahim Maria dengan bekerjanya Roh Kudus, (b) kesengsaraan-Nya di bawah pemerintahan Pontius Pilatus dan kematian-Nya melalui hukuman salib serta turun-Nya ke neraka, (c) kebangkitan-Nya serta kenaikan-Nya ke neraka.
4.    Yesus yang menyelamatkan manusia atau yang melaksanakan penyelamatan Allah itu akan datang kembali untuk melaksanakan penghakiman terakhir atas orang yang hidup dan yang mati, yang berarti pula berakhirnya kesempatan bagi manusia untuk diselamatkan.
5.    Penyelamatan Allah menghasilkan gereja, yang merupakan persekutuan orang-orang yang dikuduskan, berdasarkan pengampunan Allah berkat kematian Yesus di salib sebagai pelaksanan hukuman yang seharusnya dipikul oleh manusia, yang mencakup juga  sekalian orang percaya di segala abad dan tempat.
6.    Keselamatan yang diterima oleh mereka yang percaya selagi mereka hidup di dunia akan mencapai penyempurnaannya di dalam suatu hidup dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah, yang disebut hidup kekal, yang di dalamnya mereka memperoleh tubuh baru.
GKJ menggunakan Pengakuan Iman Rasuli itu dengan dua cara, yaitu: (1) memasukkannya dalam pengakuan imannya yang dituangkan dalam bangunan ajarannya ini dan (2) memberi tempat bagi Pengakuan Iman Rasuli di dalam liturgi ibadah sebagai suatu unsur yang diucapkan bersama-sama oleh seluruh peserta ibadah.
Pengakuan Iman Rasuli perlu diucapkan secara bersama-sama, agar dalam suasana ibadah warga jemaat mengalami: (1) penyegaran kembali apa yang mereka imani mengenai penyelamatan Allah, dan (2) menghayati persekutuan dengan gereja-gereja di sepanjang sejarah penyelamatan Allah.

 

DOA

 

Hakikat dan Maknanya

Sejatinya, doa merupakan suatu cara bagi orang beragama untuk mengungkapkan dan menghayati hubungannya dengan Allah. Dengan demikian, doa Kristen pada hakikatnya sama dengan doa di dalam agama-agama yang lain. Meskipun demikian, doa dalam setiap agama mempunyai keistimewaan, yang membedakannya dari doa dalam agama-agama lainnya. Dalam agama Kristen, doa merupakan cara untuk mengungkapkan dan menghayati hubungan dengan Allah berdasarkan dan di dalam rangka penyelamatan Allah yang dilaksanakan oleh Kristus Yesus. Inilah sebabnya mengapa doa Kristen dipanjatkan dalam nama Kristus Yesus.
Dengan cara demikian, doa Kristen bukanlah doa kepada Allah yang tidak dikenal, atau kepada Alllah yang merupakan konsep manusia sendiri dalam dosanya. Doa Kristen juga tidak didasarkan pada kesucian maupun kesalehan manusia, tetapi didasarkan kepada pemulihan hubungan dengan Allah yang telah dialami oleh orang percaya, di dalam penyelamatan Allah yang dilaksanakan oleh Kristus Yesus. Dan di dalam doa Kristen, orang percaya dibantu juga oleh Allah dengan bekerjanya Roh Kudus sebagai pengajar doa, bahkan Roh Kudus sendiri berdoa untuk orang percaya.
Pada hakikatnya, doa Kristen tidak berwatak egois. Meski dinaikkan secara pribadi, doa Kristen harus selalu mengingat sesama dalam doanya. Doa Kristen harus senantiasa mengandung unsur syafaat di dalamnya. Sesama di sini, tentunya bukan hanya sesama orang percaya, tetapi juga mencakup sesama manusia.
Doa Kristen bertujuan mewujudkan iman orang percaya. Sebagai perwujudan imannya, di dalam doa tersebut orang percaya: 1) menyatakan sembahnya kepada Allah dengan mengakui kemahakuasaan Allah untuk memuliakan-Nya, 2) menghayati penyertaan Allah di dalam hidupnya, 3) menyatakan syukur, dan 4) mengundang Allah turut campur di dalam kehidupannya. Bagaimanapun hebatnya manusia, manusia tetaplah berada di dalam kondisi dosa, sehingga dalam rangka penghayatan hubungannnya dengan Allah, orang percaya memohon Allah campur tanan di dalam kehidupannya.
Dengan tujuannya itu, ada tiga berkat utama yang dapat dinikmati orang percaya, yaitu: 1) hubungannya dengan Allah terpelihara, yang berarti terpelihara pula keselamatannya, 2) tegar dalam menjalani kehidupannya, 3) hubungannya dengan sesama terpelihara dengan baik. Namun demikian, doa Kristen itu sendiri tidak mempunyai kekuatan magis. Ketiga hal tersebut hanya diperoleh apabila orang melakukannya dengan sepenuh hati dan di atas iman yang benar.

Isi Utama

Doa dapat dilakukan kapan saja. Sekalipun demikian, akan sangat berfaedah jika orang percaya mendisiplin diri dengan berdoa pada waktu-waktu tertentu secara ajeg. Sebagai doa pribadi, Gereja tidak perlu menyediakan doa-doa yang sudah jadi. Untuk doa bersama, khususnya dalam ibadah-ibadah khusus, Gereja boleh memasukkan doa yang sudah jadi di dalam liturgi.
Doa Bapa Kami tidaklah dimaksudkan sebagai doa yang sudah jadi, yang harus selalu diucapkan oleh orang percaya. Doa Bapa Kami merupakan contoh, yang diberikan Tuhan Yesus mengenai isi utama doa, yang di dalamnya juga tersirat bagaimana orang percaya seharusnya berdoa.
Doa Bapa Kami terdiri atas dua bagian: memuliakan Allah dan memohon campur tangan Allah dalam 2 hal kebutuhan dasar manusia: jasmani dan rohani. Kebutuhan dasar fisik manusia berupa makanan, sedangkan kebutuhan rohani manusia berupa pengampunan dan pelepasan dari yang jahat.
Sedangkan unsur syafaat dalam Doa Bapa Kami terletak pada penyebutan Allah sebagai “Bapa kami”. Artinya, orang percaya datang kepada Allah dengan roh kebersamaan, dengan roh persekutuan sesama orang percaya. Kedua, unsur syafaat tersebut juga terlihat dalam keinginan untuk diampuni Allah dan mengampuni sesama. Dengan demikian, orang percaya menghampiri Allah dengan membawa kepentingan sesamanya manusia.
Dengan Doa Bapa Kami ini, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa doa bukanlah suatu kesalehan yang dipamerkan di depan manusia, tetapi merupakan suatu kesalehan untuk memuliakan Allah di dalam rangka penghayatan hubungan orang percaya dengan Allah. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa doa bukanlah rumusan yang bertuah, melainkan permohonan campur tangan Allah dalam kehidupan manusia. Jelaslah bahwa jawaban Allah tidak ditentukan oleh keinginan manusia, melainkan kebijaksanaan Allah di dalam kasih-Nya. Sehingga, kita seharusnya menyatakan apa yang sungguh-sungguh kita inginkan dan butuhkan, namun kita mempercayakan diri sepenuhnya kepada kebijaksanaan Allah di dalam kasih-Nya, yang pasti akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Sikap inilah yang kita nyatakan dengan kata “amin” untuk mengakhiri doa kita. “Amin” merupakan kata Ibrani, yang berarti: pasti! sungguh! benar!

 

KAPITA SELEKTA

 

Malaikat

Mengapa Alkitab sedikit sekali menyinggung tentang malaikat? Agaknya, inilah kalimat yang terlintas di benak orang Kristen saat berbicara atau membicarakan malaikat. Sehingga, kita pun akhirnya berpikir apakah malaikat itu memang ada? Kenyataannya memang demikian. Alkitab sedikit sekali menyinggung soal ciptaan Allah yang satu ini karena Alkitab memang diperuntukkan bagi  manusia. Alkitab ialah kitab bagi manusia dan bukan kitab untuk para malaikat. Tak heran, jika kita jarang menemui kisah tentang malaikat di sana. Namun, dari keterangan yang sedikit itu, marilah kita membahasnya agar kita memiliki pemahaman yang lebih baik.
Berkenaan dengan Malaikat, Soedarmo dalam bukunya Ikhtisar Dokmatika, menempatkan hal malaikat dalam bagian pertama mengenai pekerjaan Tuhan Allah. Alkitab memang tidak membicarakan dengan gamblang mengenai pokok ini, namun demikian malaikat memang sering disebut dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, dijelaskan bahwa Malaikat (Ibrani mal’akh, Yunani angelos) menurut etimologi dan pengertian adalah pesuruh Allah yang mengenal-Nya muka dengan muka, karena itu mempunyai kelebihan dari manusia. Malaikat merupakan ciptaan Allah, yang diciptakan dengan kehendak bebas pula dan karena itu bisa jatuh ke dalam dosa dan goda. Di dalam Alkitab terdapat beberapa acuan mengenai kejatuhan beberapa malaikat, di bawah pimpinan Setan (Ayb 4:18; Mat 25:41; 2 Ptr 2:4). Menurut Soedarmo, malaikat diciptakan Allah sebelum dunia ada (Ayb 38:4,7). Dan karena malaikat adalah ciptaan Allah, dan berarti pula hamba Allah, manusia dilarang menyembah malaikat (Why 19:10; 22:8,9).
Pekerjaan malaikat, menurut Soedarmo, ialah mengelilingi takhta Allah dan selalu menerima perintah Allah, lalu kadang-kadang diutus ke dunia supaya menyatakan kehendak Tuhan Allah dan menyampaikan titah-titahnya. Ringkasnya, jelas Soedarmo, pekerjaan malaikat ialah melayani Tuhan Allah. Mereka sujud di hadapan Allah dan selalu sedia untuk diutus. Berbakti kepada Tuhan Allah juga dengan jalan melayani manusia yang dipilih Tuhan Allah untuk keselamatan (Ibr. 1:14). Sebab itu para malaikat juga selalu memperhatikan keadaan manusia. Jika ada seorang berdosa yang bertobat para malaikat bersukacita (Luk 15:10). Para malaikat selalu menjaga manusia (Mzm 91:11).
Alkitab menceritakan malaikat dengan macam-macam nama, yang terbanyak disebut “roh”, tetapi juga sering disebut dengan nama-nama yang hanya untuk malaikat, yaitu:
1.    Kerub (Ibr 9:5), artinya penjaga, yang bertugas menjaga kemuliaan atau kesucian Tuhan Allah. Para Kerub sering digambarkan dengan sayap, menunjukkan bahwa Kerub itu cepat sekali jalannya.
2.    Serafim (Yes. 6:2), artinya menyala. Jadi yang memperlihatkan kemuliaan Tuhan Allah, seperti kemenyan yang menyala memuliakan Tuhan Allah. Serafim sering digambarkan menutupi mukanya dengan sayap.
3.    Ada dua malaikat yang disebut dalam Alkitab secara istimewa, yaitu Gabriel  (Luk. 1:26), yang berarti sentosa, seperti pahlawan yang sentosa; dan Mikhael (Why 12:7), yang menjadi penghulu bala tentara sorga, kelak pada zaman akhir nama Mikhael disebut (Dan 12:1).

Demonologi

Menarik untuk diperhatikan, berkaitan dengan demonologi, meski tidak menjadikannya suatu pokok bahasan tersendiri, baik Soedarmo maupun Harun Hadiwiyono menyinggung perihal Setan di dalam pokok bahasan mengenai dosa dalam buku dogmatikanya masing-masing.
Dalam Ikhtisar Dogmatika, Sodarmo menyatakan, mulanya dosa datang di antara malaikat. Setan aslinya adalah suatu malaikat yang tinggi. Di dalam jatuhnya, Setan menyeret malaikat-malaikat lain. Memang Alkitab tidak menjelaskan mengenai kejatuhan malaikat menjadi Iblis secara rinci, hanya beberapa nas menyatakan hal tersebut (Yoh. 8:44, Yud. 6, dan 2Ptr. 2:4).
Di lain pihak, Harun Hadiwiyono, dalam bukunya Iman Kristen, menyatakan bahwa adanya pendapat dosa berasal daripada Iblis dilatarbelakangi oleh dualisme, yang memandang adanya dua asas yang saling bertentangan, yakni terang dan gelap, baik dan jahat. Tuhan Allah dan Iblis dipandang sebagai dua kuasa yang saling bertentangan sejak awalnya. Hal ini bertentangan dengan ajaran Alkitab, yang mengajarkan bahwa segala yang dijadikan Allah pada mulanya adalah sungguh amat baik. 
Masih dalam buku yang sama, Harun dengan tegas menyatakan, pemahaman bahwa asal dosa adalah jatuhnya malaikat, yang kemudian menjadi Iblis, sebenarnya berdasarkan spekulasi atau khayalan, yang tidak berdasar, serta lebih membahayakan. Mengenai 2 Petrus 2:4 dan Yudas 6, Harun menjelaskan bahwa kedua ayat tersebut tidak memberikan keterangan tentang asal usul dosa. Hukuman-hukuman tadi hanya dipakai sebagai teladan. Alkitab memang tidak berusaha menerangkan mengenai asal atau sumber dosa. Alkitab tidak membimbing kita kepada pemecahan mengenai asal dosa, melainkan membimbing kita kepada pengakuan dosa.
Verkuyl, dalam buku Inti Iman Kristen, membahas agak panjang lebar mengenai Setan dalam pokok bahasan Yesus Kristus Tuhan atas Malaikat-Malaikat dan Sebagai Pemenang atas Kuasa-Kuasa Demonis. Verkuyl menyatakan bahwa di mana pun di dalam Alkitab kenyataan kuasa-kuasa jahat tidak disangkal, tetapi justru dikukuhkan. Semua pengarang dan redaktur buku-buku dalam Alkitab sependapat dengan keyakinan itu. Juga nabi-nabi, rasul-rasul, bahkan Yesus Kristus sendiri yakin akan hal itu. Yesus bukan hanya pendamai, Anak Domba yang menghapus dosa dunia, tetapi juga pemenang atas kuasa-kuasa jahat.
Verkuyl juga mencatat bahwa Alkitab menolak gagasan adanya dewa baik dan dewa jahat, dari mulanya. Mengenai asal usul demon-demon atau kuasa demonis, Verkuyl merujuk ayat-ayat di atas, yang menunjuk kepada kejatuhan mailakat-malaikat tertentu. Malaikat-malaikat itu tidak lagi menjadi setia terhadap asal usul mereka.
Di dalam Perjanjian Lama sosok-sosok demonis tidak lazim disebut. Kenyataan pengaruh-pengaruh demonis tidak disangkal, tetapi dengan keras dilarang memberikan persembahan-persembahan kepada demon-demon (Im 17:7), atau mengadakan atau memelihara hubungan dengan mereka. Suatu ilustrasi mengenai pelanggaran terhadap larangan itu kita temukan di dalam Mazmur 106. Pada Hari Raya Pendamaian salah seekor dari kedua kambing jantan korban penghapus dosa dilepaskan ke padang bersama-sama dengan Azazel, demon padang gurun yang najis (Im. 16:8,10,26). Rupanya, hal ini merupakan sisa dari persembahan korban kepada roh-roh jahat dan demon-demon, tapi maksudnya jelas, yaitu: dosa-dosa kita dan aspek-aspeknya yang demonis diusir, disingkirkan, dikirim ke padang gurun agar tidak pernah kembali lagi. Penyebutan hal demonis dan peranannya kita temukan juga dalam Ayub 1:6-12; 2:1-7; dan Zakharia 3:1, yang di dalamnya setan digambarkan sebagai pengadu di dalam perkara pengadilan antara Allah dan anak-anak Allah.
Menurut kesaksian Perjanjian Baru, di luar Allah dan manusia ada sederetan makhluk hidup yang tidak terlihat manusia, tetapi pengaruhnya dialami manusia. Di dalam Injil-Injil sinoptis banyak diceritakan mengenai demon-demon. Mereka taat kepada penghulu mereka, penghulu dunia, raja kegelapan. Mereka disebut dengan nama-nama seperti setan, roh-roh jahat, dan ular. Mereka mengenal Allah dan mereka mengetahui lebih dahulu bahwa Yesus adalah Kristus dan Allah yang hidup. Mereka suka membantu dan membujuk manusia dengan tujuan membinasakan manusia. Di dalam Injil Yohanes pada umumnya dibicarakan tentang setan (diabolos).
Pertanyaannya ialah apa artinya kisah-kisah mengenai demon di dalam Alkitab bagi kehidupan kita sekarang ini? Menurut Verkuyl, dalam dunia modern sekarang ini, tentunya kita tidak akan mengatakan bahwa demon-demon merupakan penyebab penyakit-penyakit tertentu. Tetapi, unsur-unsur demonis masih tetap ada. Ideologi-ideologi tertentu, tradisi-tradisi religius, sistem-sistem politik dalam bentuk gerakan massa dapat menyeret dan menghancurkan manusia. Inilah kerajaan kegelapan versi baru. Di dalam dunia modern ada beribu-ribu orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus, tetapi percaya kepada “yang demonis”, tidak percaya kepada kerajaan Allah, tetapi percaya kepada “kerajaan demon-demon”. Namun, berita Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa Yesus telah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33).


PPA GKJ/ Pdt. Yoel M. Indrasmoro         









19 Apr 2012 ,written by Nikimaserika
 

Pengurusan Pemakaman Baru

Prosedur Umum Pemakaman Jenazah Baru

  1. Ahli waris melaporkan kepada RT dan RW kemudian ke PUSKESMAS untuk mendapatkan keterangan pemeriksaan mayat (Model A)
  2. Surat keterangan model A dilaporkan ke kelurahan untuk mendapatkan Surat Keterangan Kematian
  3. Kalau sudah lengkap, ahli waris dapat memesan tempat ke TPU terdekat/yang diinginkan sesuai dengan ketentuan pemerintah
  4. Ahli waris dapat memilih petak, makam apabila tempat yang dikehendaki masih memungkinkan
  5. Setelah menyelesaikan administrasinya dan membayar restribusi sewa tanah makam, ahli waris mendapatkan surat IPTM (Izin Penggunaan Tanah Makam) yang berlaku selama 3 (tiga) tahun.
Read more... 28 Jul 2010 ,written by Aveleo
 

Sewa Tanah & Perpanjangan Ijin

Prosedur Sewa Tanah dan Perpanjangan Ijin

Sewa tanah untuk jangka waktu 3 tahun

(Berdasarkan Perda No.3 Thn 1999 Tentang Restribusi Daerah)

  1. Blok AA1 --> Rp 100.000
  2. Blok AA2 --> Rp.  80.000
  3. Blok A1   --> Rp.  60.000
  4. Blok A2   --> Rp.  40.000
  5. Blok A3   --> Rp.  20.000
  6. Blok A4   --> Rp.  10.000
  7. Blok A5   --> Rp.    6.000
  8. Blok A6   --> Rp.    4.000

 

Read more... 16 Jul 2010 ,written by Oe-oet Keren
 

Tentang Sumarah

Visi

Semua warga GKJ Jakarta menjadi pelaku pelayanan kasih Kristus untuk semua orang, terutama terhadap keluarga yang sedang mengalami duka, karena adanya keluarganya yang meninggal dunia

 

Misi

Dalam kuasa Roh Kudus kami terpanggil dan setia dalam upaya-upaya :

  1. Mewujudkan kasih Allah bagi semua manusia;
  2. Mendorong warga GKJ Jakarta untuk menjadi pelaku pelayan kasih Kristus
  3. Selalu meningkatkan mutu pelayanan.

 

Read more... 15 Jul 2010 ,written by Oe-oet Keren
 


Page 1 of 2