Khotbah

  • Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Artikel

Kepedulian

 

Kepedulian

Oleh : Pnt. Maryono

Ada dua narasi Alkitab tentang perilaku orang kaya terhadap sesamanya. Pertama Luk. 16:19 -31 yang melukiskan tingkah-laku orang kaya  dengan gaya hidup yang ditandai oleh suasana pesta pora dan kemewahan setiap hari. Sementara di pintu gerbang rumahnya duduk seorang pengemis yang sangat miskin dan kelaparan bernama Lazarus. Lazarus hanya makan dari sisa-sisa roti yang dibuang di lantai. sebagai alat pembersih tangan bagi para tamu setelah acara pesta selesai. Apa orang kaya itu tidak pernah melihat dan mengenal Lazarus ? Ia melihat dan mengenalnya, karena selalu duduk didepan rumahnya. Tetapi ia telah mengeraskan hatinya.  Pesan utama dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus ini, sebenarnya bukan menyalahkan seseorang sukses dan menjadi kaya. Sebab para bapa leluhur Israel juga merupakan orang-orang kaya seperti Abraham, Ishak dan Yakub.. Tetapi yang menjadi persoalan utama dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaannya; dan bagaimana pula seseorang memperlakukan sesamanya yang sedang menderita.

Kedua, Markus : 10:17-31,  ketika Yesus dalam hikmat-Nya memberikan ujian, yang memaksa pemuda kaya untuk memilih antara kekayaan dunia dan kekayaan sorgawi  “Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Markus 10: 21). ternyata pemuda itu gagal menghadapi kemelut ini, membalikkan punggungnya dari Sang Guru, dan pergi dengan sedih. Pemimpin muda yang kaya ini sudah mendekati kerajaan, tetapi gagal memasukinya, karena dia tidak  menempatkan Allah sebagai yang terutama, walupun harus menyerahkan harta benda yang mahal harganya. Pesan yang hendak disampaikan dalam ayat ini adalah: manusia diharapkan tidak diperhamba harta atau kekayaannya. Manusia seharusnya menghindarkan diri dari ketamakan dalam mencari harta dunia, tapi secara lebih serius harus lebih mementingkan pencarian harta sorgawi.


Firman Tuhan adalah pedang bermata dua. Saudaraku, mungkin ada orang Kristen yang mengaku “percaya” pada Yesus Kristus, menerima ajaranNya,  penyembahan dan pujian di gereja, budaya spiritual, kelimpahan berkat dan urapan. Tetapi saudaraku, begitu bicara wawasan hidup sesuai ajaran Yesus kristus  yang meletakkan semua isu duniawi di dalam konteks kekekalan, “juallah hartamu untuk orang miskin atau bantulah orang menderita” yakni perlakuan kasih kepada sesama sesuai ajaran Yesus ……ya, saudaraku, mereka mengacuhkannyam atau menolaknya. Pada saat ada bencana dimana-mana, kita melihat tayangannya, melihat penderitaanya, hati kita tersentuh. Cukupkah ? Tuhan berfirman : Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu : “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi” sedang yang diminta ada padamu “ (Amsal 2: 27-28).

Winston Churchill merumuskan ajaran tersebut dengan pernyataan : We make a living by what we get, but we make a life by what we give. Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan (kepada orang lain).

Tuhan memberkati

 

 

10 Nov 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Murid marah, Yesus marah !



Murid marah, Yesus marah !

Pnt. Maryono


Kalau baca judul ini, jangan marah, karena makna marah kita mungkin berbeda dengan murid-murid Yesus , apalagi dibandingkan dengan Yesus sendiri. Makna marah kita mungkin tanpa alasan.

Kata “marah” itu dapat dikutip dari Injil Markus :
10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah  yang empunya Kerajaan Allah 

Pertanyaan : Apakah bermakna sepadan kemarahan murid dan kemarahan Yesus.

Murid Yesus memarahi. Kata marah yang digunakan dalam bahasa Yunaninya , epitimao¯ censure or admonish; by implication forbid: - (straitly) charge, rebuke. Marah disebabkan adanya pelaggaran larangan. Larangan apa ?  anak-anak dibawa kepada Yesus. Mengapa dilarang ?  Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan: 1. Yeled, "usia bayi"; 2. Yonek, "usia menyusu";  3. Olel, "lebih tua lagi dari menyusu"; 4.Gemul, "usia disapih"; 5. Taph, "usia mulai berjalan"; 6.Ulem, "anak-anak"; 7. Na'ar, "mulai tumbuh remaja"; dan 8. Bahar, "usia remaja". ( Dean Farrar, The Life of Christ, Melbourne: Cassel and Company Limited, 1906), hlm. 39-40. Menurut literatur / sastera Yahudi abad pertengahan, Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruach (roh hikmat).  

Anak-anak dalam narasi ayat ini  pasti sudah dapat berjalan. Hal ini terungkap  dari ucapan Yesus : biarkan anak-anak itu datang.  Anak itu dindikasikan sudah bisa berjalan.  Frasa “membawa”  anak kecil” Dari bentuk kata kerja proseferon p??sefe???, to bring childs  to a person who can heal him. Arti dan tujuan teksnya   supaya anak-anak itu dijamah Yesus (ay 13). Apa yang diharapkan dari “jamahan” itu. Lewat jamahan Yesus banyak orang disembuhkan ( bdk. 1:41 ; 3:10 ; 5:27 dsb ). Namun, tidak ada informasi anak-anak itu dalam keadaan sakit. Oleh karena itu, tujuan anak-anak dijamah dapat ditafsirkan untuk menerima berkat yang dalam tradisi Yahudi sejajar dengan menerima ruach atau roh hikmat.

Lalu apa kepentingannya, murid-murid marah tentang pemberkatan itu? Pasti ada alsannya. Salah satu bila dikaitkan dengan tradisi Yahudi, umur anak-anak itu kemungkinan belum waktunya menerima Roh himat. Artinya, mereka dapat berjalan tetapi umurnya d antara Farrar dan Ulem. ( 3- 11  tahun) sehingga mereka belum berhak roh hikmat menurut tradisi Yahudi. Mereka belum memerlukan nishama (reasonable soul, "jiwa akali") melalui berkat Yesus. Dengan demikian murid-murid marah karena pelanggaran sebuah  ”larangan” - by implicatication forbid, menurut  tradisi manusia.  Kedua, anak-anak dianggap mengganggu ditengah-tengah pengajaran Yesus. Murid-murid merasa terganggu. Ya, disamping brisik, barangkali ketika guru mereka sedang mengajar.


Yesus marah melihat perbuatan murid-murid Nya (ay 14).  Kata kerja yang digunakan ag-an-ak-teh'-o ??a?a?t?se?G23 V-AAI-3S , Aorist Active Indicative, 3th person. Berdasarkan time and kind of actionnya  hal ini bermakna suatu hal yang telah terjadi dan selesai pada waktu itu. Artinya, kemarahan itu tidak berlanjut dan selesai pada saat itu. Kemarahan itu tidak bersifat permanen sehingga menjadi karakter “pemarah” . Kemarahan Yesus dalam Markus 10:14 juga diakibatkan oleh murid-murid yang tidak memperbolehkan anak – anak kecil  datang kepada-Nya. Dengan demikian, kita dapat berkesimpulan bahwa kemarahan  Yesus adalah kemarahan yang bersasaran tepat di mana kemarahan-Nya diarahkan kepada murid-murid yang marah kepada anak-anak yang dapat berakibat dosa. Kemarahan Yesus dalam konteks Ini justru mencegah terjadinya dosa bagi murid-murid-Nya. Ini adalah kemarahan yang kudus. Kemarahan Yesus itu tidak berlanjut, hanya sekejap sudah terungkap kata yang penuh kasih : “ Biarkan anak-anak itu datang”, yang bermakna mengundang,  tidak memaksa,   bukan  “biarkan mereka dibawa kemari “ yang konotasinya dapat memaksakan. Ada beberapa catatan Bernes tentang sebab kemarahan tersebut : Pertama, Yesus tidak keberatan menerima anak-anak, karena hal itu adalah bagian dari karya pelayanan-Nya untuk  memberkati anak-anak. Kedua  tindakan murid-murid melarang adalah tindakan yang  tidak diperintahkan oleh Yesus ( Albert Bernes note on the Bible, e-sword the sword of The Lord with an electronic edge.)

Apabila ditelaah uraian diatas, ada 2 perbedaan pandangan yang bertentangan antara murid dengan Yesus. Menurut Bruggen, para murid hendak membantu Dia, tetapi mereka sama sekali tidak mengerti (Jakob Van Bruggen, Markus Injil menurut Petrus, BPK Gunung Mulia, 2006, hal. 343 ).  Para murid mempunyai penilaian yang keliru : pertama, seorang anak tidak perlu menunggu dalam golongan dewasa menurut tradisi Yahudi untuk mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Bahkan, seharusnya seorang dewasa harus ditobatkan, dikembalikan seperti karakter seorang anak (bnd. Mat 18.3). Kedua,  menyambut atau menerima Kerajaan Allah adalah hasil dari karunia (ay 15), bukan soal prestasi atau jasa. Beberapa tafsir yang menekankan anak-anak menerima kerajaan Allah karena rendah hati, tulus, tidak mempunyai prasangka mungkin penafsiran ini kurang tepat.  Intinya anak-anak hanya  menerima, yang bermakna seperti hibah.  Mereka hanya mererima  sebuah anugerah Kerajaan Allah oleh karena mereka mau tergantung pada orang lain ( Tuhan), bukan hasil usaha mereka. 

Silahkan marah, kalau marah jangan lupa ingat cara marah Yesus. Dia hanya marah untuk perbuatan dosa. Kemarahan-Nya “tidak berkibat jatuh dalam dosa”, karena Yesus tanpa dosa. Ya, marah untuk perbuatan bukan orangnya. Bandingkan : Mazmur 4:5 : “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa…”, Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah,  janganlah kamu berbuat dosa…”. Kedua ayat ini dengan tegas memisahkan kemarahan dan dosa. Rupanya kemarahan tidak diidentikkan dengan dosa tetapi dilihat sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan dosa.



22 Oct 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Renungan MPHB

Renungan MPHB.

Keluarga dalam  Bait Allah

Oleh : Pnt. Maryono



Dalam Perjanjian Lama, kata “bait” diartikan Keluarga dapat berarti luas. Anggota suku yang digambarkan dalam bentuk kerucut dengan Bapak Leluhur sebagai pendirinya. Misyapakha diartikan “kaum”  merupakan bagian yang lebih kecil dibawah kerucut. Kekuatan hubungan diantara mereka ditentukan dari perasaan sedarah dan  kesatuan tempat tinggal dengan aturan adat dan hukumnya.  Allah adalah pendiri keluarga. Ia membentuknya pada waktu  menciptakan laki-laki dan perempuan dan memerintahkan mereka untuk beranak cucu (Kej 1 :27-28). Sebagai pendiri keluarga,  Allah mempunyai hak atas sebuah keluarga untuk tinggal didalam bait-Nya. 

Dalam Perjanjian Baru kata Yunani  “Patria” diartikan keluarga, tapi dalam Kis 3:25 kata Patria diterjemahkan bangsa.  Di kota-kota Yunani, peranan keluarga atau rumah tangga (Oikos) sangat menonjol dalam pendirian Gereja, seperti orang pertama non Yahudi  (gentile) yang masuk warga Gereja adalah seluruh keluarga Kornelius di Kaisarea, termasuk para pelayan rumah tangganya (Kis 10: 7 ; 24). Selanjutnya banyak contoh-contoh :  Keluarga Lidia (Kis 16:15, 31-34), keluarga Stevanus di korintus ( 1 Kor 16:150 , Keluarga Priskila dan Akwila di Efesus (1 Kor 16:19 , Rm 16:5 ) dan sebagainya. Kumpulan Keluarga-keluarga itu dipandang oleh Paulus sebagai jemaat, contohnya ketika Gayus yang memberi tumpangan kepada Paulus dan seluruh jemaat ( Rm 16:23). Jemaat-jemaat itu  telah digambarkan sebagai anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun rapi, tersusun menjadi bait Allah yang kudus. Mereka juga menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (Ef 2:19-21).

Pengenalan Allah dalam keluarga
Dalam Ulangan 6:5, perintah yang sekaligus sebagai tugas Allah yang diberikan kepada orang Israel intinya adalah : “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu “. Hal ini bermakna, keluarga dibentuk oleh Allah untuk mengasihi Allah. Allah yang harus disembah dan tidak ingin diduakan (ay. 13-15). Allah yang Mahakuasa dan berdaulat atas bangsa-bangsa (ay. 21-22). Allah yang aktif bertindak menyelamatkan umat-Nya  (ay. 21-23). Pengertian tentang Allah sebagamana perintah tersebut, seharus dipahami dan dilaksanakan oleh setiap keluarga dan anggotanya dengan setia ( ay 3).  

Dalam ayat berikutnya :“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkan kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu (ay 6-7). Perintah kepada siapa ?, perintah Allah kepada para orang tua Israel melalui Musa, juga perintah kepada kita semua selaku orang tua.  Perintah mengajarkan kepada anak-anak tidak hanya sebatas kata-kata atau ketaatan formal seperti ibadah minggu saja, tetapi seluruh situasi praktis dalam perilaku sehari-hari. Para orang tua yang benar benar mengasihi Allah serta menaati firman-Nya dalam hidup sehari-hari, barulah mampu mewariskan pengenalan akan Allah dan firman-Nya itu kepada anak cucu mereka. Keluarga-keluarga inilah yang diharapkan Paulus berkumpul dalam kesatuan jemaat yang kudus.

Rasul Paulus menyisakan pertanyaan kepada kita : Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah ? (1 Tim 3 :4-5)


 

28 Sep 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Ibadah kepada Tuhan ada harganya

Ibadah kepada Tuhan ada harganya.

Oleh : Pnt.Maryono


Dalam 2Samuel 24: 18- 24,  Pada saat Gad berkata kepada Daud : “Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat penggirikan Arauna, orang Yebus itu “. Terungkap kata “membayar harga” ketika Daud menjawab sebagai berikut : “Aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Daud diperintah Tuhan ketempat Penggirikan Arauna, orang Yebus. Yebus adalah salah satu suku bangsa Kanaan yang tinggal di daerah pegunungan disekitar Yerusalem. Penguasanya bernama Arauna  dibawah kuasa  Daud pada waktu itu (2 Sam 5:6-10). Dibawah kuasa dapat merujuk pemahaman bahwa penguasa dapat memaksa jajahannya untuk menyerahkan sesuatu. Ya, Daud dapat melakukan itu kepada Arauna. Tetapi Daud tidak memaksa Arauna. Tempat penggirikan Arauna untuk pendirian mezbah bagi Tuhan dibayar harganya oleh Daud. Demikian juga, cerita di I Tawarikh 21, Daud membayar harga untuk penggirikan Ornan. Berapa harga yang dibayar Daud ? Apakah Daud memberi Arauna lima puluh syikal perak untuk membeli tempat penggirikannya, seperti diceritakan dalam II Samuel 24:24, ataukah dengan enam ratus syikal emas, seperti dinyatakan dalam I Tawarikh 21:25? Beberapa penafsir menjelaskan selisih atau perbedaan tersebut terletak pada sikap dua penulis dari teks-teks itu. Daud barangkali membeli tempat pengirikan itu dengan harga lima puluh syikal, seperti dicatat Kitab Samuel; tetapi sesudah itu dia memutuskan bahwa Bait Allah akan dibangun di sana, karenanya dia membeli seluruh tanah perbukitan itu dengan harga enam ratus syikal, sebagaimana dikatakan penulis Tawarikh. Syikal dalam ensiklopedi Alkitab adalah ukuran berat.  50 Syikal setara dengan 500 gram, 600 sykal setara 6000 gram. Harga 6000 gram bila dirupiahkan saat ini dengan harga emas sekitar Rp 360.0000,--/gram =  6000 X Rp 360.000,- = Rp 2.160.000.000,--.
Dalam pesan ini, pokok masalahnya bukan nilai uang dan luas tanahnya. Daud dalam beribadah telah membayar harga untuk Tuhan. Berapa banyak diantara kita yang menyadari bahwa membangun Bait Allah adalah melaksanakan ibadah kepada Tuhan dengan harga yang perlu dibayar ?



 

22 Sep 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Penatalayanan Ibadah

PENATALAYAN  IBADAH

Oleh : Pdt. Neny Suprihartati, M.Th.



1.    Istilah-Istilah dan Pemahaman Etimologis Ibadah

Ada banyak istilah yang dipakai untuk menunjukkan kegiatan ibadah, antara lain:
-    Worship berasal dari kata weorthscipe (weorth (worthy) scipe (ship)) berarti hal yang layak dilakukan. Kata worship biasanya digunakan dalam kata Sunday Worship atau Ibadah Minggu.
-    Service berasal dari kata servitium, artinya pelayanan; suatu pekerjaan yang dilakukan untuk orang lain. Misalnya Morning Service untuk ibadah pagi.
-    Office dari kata officium (kesediaan melayani, kewajiban) digunakan untuk aktifitas beribadahan. Misalnya Daily Office atau Divine Office untuk ibadah harian.
-    Cult (kultus) mempunyai arti yang lebih sempit dari kata aslinya (Latin) colore, yang menyangkut relasi ketergantungan antara pemberi dan penerima. Misalnya seorang petani akan mendapat musibah jika tidak menyirami tanamannya.
-    Liturgi adalah kata yang paling umum dipakai. Kata ini dari bahasa Yunani leitourgia, berarti pelayanan atau kerja (ergon) bangsa, publik, masyarakat atau umat (laos). Kata laos dan ergon diambil dari kehidupan Yunani kuno, yang berarti membayar pajak dan melakukan bentik pengabdian atau membela negara dari ancaman. Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan (leitourgos) (Rm 15:16; 13:6). Dari pemahaman Paulus, liturgi berarti sikap beriman sehari-hari. Kata liturgi selanjutnya menjadi kata yang khas untuk menyebut ibadah Kristen, misalnya Liturgy of Word untuk pemberitaan firman.
-    Kebaktian adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah bakti, yaitu perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan kepada negara maupun Tuhan. Misalnya Kebaktian Natal.
-    Ibadah berasal dari bahasa Arab ebdu (hamba), sama dengan bahasa Ibrani abodah (ebed=hamba). Artinya perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait erat dengan kegiatan manusia terhadap Allah, yaitu pelayanan kepada Tuhan.


2.    Tata Ibadah atau Tata Liturgi

Warisan yang masih tersimpan dalam liturgi gereja hingga kini ialah liturgi sinaksis. Sinaksis adalah perkumpulan umat untuk membaca Kitab Suci, menyanyikan Mazmur (psalmodi), dan berdoa di sinagoge (synagoge). Ketiga unsur ini merupakan bagian utama Ibadah Kristen mula-mula. Tata liturgi sinaksis adalah:
•    Pembacaan Alkitab : Taurat, Nabi-nabi, Surat Rasuli, Injil
•    Menyanyikan Mazmur-muzmur dan pujian
•    Pembacaan Injil
•    Homilia, yaitu pengajaran dan penjelasan Kitab Suci
•    Berdoa (termasuk doa syafaat)

Dari unsur-unsur tersebut di atas, gereja-gereja mengembangkan tata ibadahnya sesuai dengan kebutuhan gereja setempat, contohnya tata ibadah Calvin di Strassburg (1545).

Tata Ibadah Calvin di Strassburg (1545)
-    Votum (Mzm 124:8)
-    Pengakuan dosa (umat berlutut)
-    Berita anugerah dan penghapusan dosa (absolusi)
-    Menyanyikan bagian pertama Dasa Firman
-    Doa (Collecta)
-    Menyanyikan bagian kedua Dasa Firman
-    Doa mohon pimpinan Roh Kudus
-    Pembacaan Alkitab dan khotbah
-    Doa syafaat dan Doa Bapa Kami
-    Menyanyikan Pengakuan Iman Rasuli
-    Doa sebelum Perjamuan Kudus
-    Penetapan Perjamuan Kudus (1 Kor 11:23-29)
-    Pemagaran meja (fencing of the table)
-    Pelayanan Perjamuan Kudus (umat menyanyikan Mazmur)
-    Doa pengucapan syukur
-    Menyanyikan “nyanyian Simeon” (Luk 2 : 29 – 32)
-    Berkat (Bil. 5:24 - 26)

3.    Penatalayanan & Pelaksanaan Ibadah

Ibadah dapat terlaksana dengan baik bahkan menjadi ibadah yang anggun dan menawan jika segala sesuatunya dipersiapkan dan diatur atau ditata pelayanannya dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ibadah adalah:

a.    Persiapan tata ibadah, pemimpin dan para petugas ibadah.
Tampaknya hal ini belum menjadi perhatian yang penting di kalangan gereja-gereja tertentu, khususnya gereja arus utama. Sedangkan gereja-gereja lain justru sangat menekankan pentingnya persiapan. Tata ibadah lengkap, baik dibuat oleh pemimpin maupun oleh tim ibadah gereja, sebaiknya telah siap menjadi bahan persiapan pemimpin dan para petugas. Pemimpin perlu menyiapkan bagian-bagian yang menjadi tugasnya dan melihat alur yang mengalir dalam tata ibadah tersebut. Para petugas mempersiapkan bagian yang harus dilaksanakan pada saat ibadah. Seorang lektor (pembaca Alkitab) telah mengetahui bacaan yang akan dibaca sehingga dapat membaca dengan baik untuk umat. Pemimpin doa sebaiknya telah mempersiapkan diri dengan doa yang akan dipanjatkannya. Pemimpin lagu dan pemain musik mempersiapkan diri bersama sehingga dapat menjadi pemandu lagu umat dalam ibadah. Bukan hanya bisa menyanyikan dan memainkan musik tetapi membawa umat menghayati lagu tersebut. Persiapan penataan ruangan dengan berbagai perlengkapan, simbol, kursi bahkan pengeras suara sangat mempengaruhi keanggunan jalannya ibadah. Bayangkan, apa yang terjadi jika sementara berdoa terdengar suara kursi besi berjatuhan!

b.    Penyambut umat
Penyambut umat atau penerima tamu merupakan unsur terpenting dalam menciptakan suasana hati umat. Umat yang datang dari rumah dengan hati gelisah, kesal atau sedih bisa menjadi tersenyum, tenang dan damai ketika mendapat sambutan hangat di depan pintu masuk gereja. Ia akan masuk dan mengikuti ibadah dengan senang dan suka cita. Sebaliknya, umat yang datang dari rumah dengan suka cita bisa menjadi kecewa, kesal bahkan marah karena disambut dengan dingin. Ia akan masuk dan mengikuti ibadah dengan marah dan tidak tenang, setiap unsur ibadah dikomentari secara negatif. Untuk itu, penyambut umat adalah orang yang ramah, suka bertegur sapa dan tidak harus mengenal semua orang. Penyambut umat bukan hanya memberikan tata ibadah atau warta gereja tetapi memberikan salam sejahtera, senyuman, dan tatapan penyambutan persekutuan.

c.    Pengaturan ruangan dan perlengkapannya
Ketika umat masuk dalam ruang ibadah, usahakan agar umat sudah merasakan suasana ibadah dan merasa nyaman berada dalam ruang ibadah. Simbol-simbol dalam ruangan ibadah sangat berpengaruh dalam menciptakan suasana ibadah. Simbol bukanlah hal yang dikatakan tetapi setiap umat dapat mengatakannya sendiri. Sehingga upayakan simbol yang mudah untuk dimengerti dan dikatakan oleh umat sendiri. Pengeras suara menjadi bagian yang penting dalam ibadah, khususnya bagi gereja yang memiliki ruang ibadah luas. Sehingga, umat tidak akan bermasalah untuk mendengar ketika ia duduk di bagian manapun dalam ruangan tersebut. Suara yang tidak terdengar dengan baik, akan membuat umat tidak mengikuti ibadah dengan baik.

d.    Kata-kata
Dalam ibadah, umat akan lebih banyak mendegar daripada berkata-kata. Untuk itu, “kata-kata” yang didengar oleh umat haruslah kata-kata yang jelas dan mudah diterima. Mulai dari pembaca warta gereja, sekalipun umat membaca warta gereja tetapi pembaca warta berkata -kata kepada umat melalui pembacaannya. Sehingga pembacaan harus jelas. Pembaca Alkitab (lektor) adalah orang yang membacakan untuk umat, bukan membaca untuk dirinya sendiri. Kata -kata yang diucapkan harus terdengar jelas dan tidak terkesan terburu-buru. Pembaca Alkitab perlu memikirkan umat yang sungguh-sungguh hanya mendengar, artinya mereka yang tidak membawa Alkitab. Pelayan firman atau pengkhotbah sangat diharapkan kata-katanya oleh umat. Pengkhotbah perlu memakai kata-kata yang dapat didengar dan dipahami oleh semua umat.

e.    Musik dan Nyanyian
Nyanyian dalam ibadah bukan hanya sekedar untuk dilagukan. Nyanyian ibadah merupakan ungkapan iman umat kepada Tuhan. Bagaimana umat dapat mengungkapkan imannya dalam nyanyian, sangat bergantung pada nyanyian yang disiapkan. Jika nyanyian itu merupakan nyanyian penyesalan tetapi isinya tidak tepat tentu membuat umat sulit menghayati. Nyanyian juga bergantung pada musik yang mengiringi. Musik dapat membawa umat menyanyikan dengan penuh penghayatan. Tetapi musik juga dapat menyiksa umat ketika menyanyi.

f.    Umat
Umat yang hadir dalam ibadah bukan hanya sekedar mengisi ruangan dan mengikuti ibadah. Tetapi umat juga sangat berperan dalam pelaksanaan ibadah. Umat perlu dikondisikan dapat mengikuti ibadah secara spontan dan mengalir. Umat secara spontan mengetahui kapan ia harus duduk, kapan harus berdiri tanpa diminta atau dipersilahkan. Umat tahu kapan memberikan respon dan kapan mendengarkan sepenuhnya.

g.    Penutup
Ibadah yang dari awal memberikan suasana suka cita dan damai dapat membawa kesan tidak baik diakhir ibadah jika penutup ibadah tidak berlangsung dengan baik. Untuk itu penutup perlu dilaksanakan dengan baik agar umat dapat pulang dengan membawa suka cita dan damai. Persiapkan nyanyian penutup yang memberikan semangat dan selalu diingat oleh umat ketika pulang. Berikan salam sejahtera dari pemimpin kepada umat dengan kesan yang indah untuk dibawa pulang.

17 Sep 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 


Page 8 of 8