Khotbah

  • Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Murid marah, Yesus marah !



Murid marah, Yesus marah !

Pnt. Maryono


Kalau baca judul ini, jangan marah, karena makna marah kita mungkin berbeda dengan murid-murid Yesus , apalagi dibandingkan dengan Yesus sendiri. Makna marah kita mungkin tanpa alasan.

Kata “marah” itu dapat dikutip dari Injil Markus :
10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah  yang empunya Kerajaan Allah 

Pertanyaan : Apakah bermakna sepadan kemarahan murid dan kemarahan Yesus.

Murid Yesus memarahi. Kata marah yang digunakan dalam bahasa Yunaninya , epitimao¯ censure or admonish; by implication forbid: - (straitly) charge, rebuke. Marah disebabkan adanya pelaggaran larangan. Larangan apa ?  anak-anak dibawa kepada Yesus. Mengapa dilarang ?  Menurut hukum Yahudi, usia seorang anak digolongkan dalam 8 tahapan: 1. Yeled, "usia bayi"; 2. Yonek, "usia menyusu";  3. Olel, "lebih tua lagi dari menyusu"; 4.Gemul, "usia disapih"; 5. Taph, "usia mulai berjalan"; 6.Ulem, "anak-anak"; 7. Na'ar, "mulai tumbuh remaja"; dan 8. Bahar, "usia remaja". ( Dean Farrar, The Life of Christ, Melbourne: Cassel and Company Limited, 1906), hlm. 39-40. Menurut literatur / sastera Yahudi abad pertengahan, Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruach (roh hikmat).  

Anak-anak dalam narasi ayat ini  pasti sudah dapat berjalan. Hal ini terungkap  dari ucapan Yesus : biarkan anak-anak itu datang.  Anak itu dindikasikan sudah bisa berjalan.  Frasa “membawa”  anak kecil” Dari bentuk kata kerja proseferon p??sefe???, to bring childs  to a person who can heal him. Arti dan tujuan teksnya   supaya anak-anak itu dijamah Yesus (ay 13). Apa yang diharapkan dari “jamahan” itu. Lewat jamahan Yesus banyak orang disembuhkan ( bdk. 1:41 ; 3:10 ; 5:27 dsb ). Namun, tidak ada informasi anak-anak itu dalam keadaan sakit. Oleh karena itu, tujuan anak-anak dijamah dapat ditafsirkan untuk menerima berkat yang dalam tradisi Yahudi sejajar dengan menerima ruach atau roh hikmat.

Lalu apa kepentingannya, murid-murid marah tentang pemberkatan itu? Pasti ada alsannya. Salah satu bila dikaitkan dengan tradisi Yahudi, umur anak-anak itu kemungkinan belum waktunya menerima Roh himat. Artinya, mereka dapat berjalan tetapi umurnya d antara Farrar dan Ulem. ( 3- 11  tahun) sehingga mereka belum berhak roh hikmat menurut tradisi Yahudi. Mereka belum memerlukan nishama (reasonable soul, "jiwa akali") melalui berkat Yesus. Dengan demikian murid-murid marah karena pelanggaran sebuah  ”larangan” - by implicatication forbid, menurut  tradisi manusia.  Kedua, anak-anak dianggap mengganggu ditengah-tengah pengajaran Yesus. Murid-murid merasa terganggu. Ya, disamping brisik, barangkali ketika guru mereka sedang mengajar.


Yesus marah melihat perbuatan murid-murid Nya (ay 14).  Kata kerja yang digunakan ag-an-ak-teh'-o ??a?a?t?se?G23 V-AAI-3S , Aorist Active Indicative, 3th person. Berdasarkan time and kind of actionnya  hal ini bermakna suatu hal yang telah terjadi dan selesai pada waktu itu. Artinya, kemarahan itu tidak berlanjut dan selesai pada saat itu. Kemarahan itu tidak bersifat permanen sehingga menjadi karakter “pemarah” . Kemarahan Yesus dalam Markus 10:14 juga diakibatkan oleh murid-murid yang tidak memperbolehkan anak – anak kecil  datang kepada-Nya. Dengan demikian, kita dapat berkesimpulan bahwa kemarahan  Yesus adalah kemarahan yang bersasaran tepat di mana kemarahan-Nya diarahkan kepada murid-murid yang marah kepada anak-anak yang dapat berakibat dosa. Kemarahan Yesus dalam konteks Ini justru mencegah terjadinya dosa bagi murid-murid-Nya. Ini adalah kemarahan yang kudus. Kemarahan Yesus itu tidak berlanjut, hanya sekejap sudah terungkap kata yang penuh kasih : “ Biarkan anak-anak itu datang”, yang bermakna mengundang,  tidak memaksa,   bukan  “biarkan mereka dibawa kemari “ yang konotasinya dapat memaksakan. Ada beberapa catatan Bernes tentang sebab kemarahan tersebut : Pertama, Yesus tidak keberatan menerima anak-anak, karena hal itu adalah bagian dari karya pelayanan-Nya untuk  memberkati anak-anak. Kedua  tindakan murid-murid melarang adalah tindakan yang  tidak diperintahkan oleh Yesus ( Albert Bernes note on the Bible, e-sword the sword of The Lord with an electronic edge.)

Apabila ditelaah uraian diatas, ada 2 perbedaan pandangan yang bertentangan antara murid dengan Yesus. Menurut Bruggen, para murid hendak membantu Dia, tetapi mereka sama sekali tidak mengerti (Jakob Van Bruggen, Markus Injil menurut Petrus, BPK Gunung Mulia, 2006, hal. 343 ).  Para murid mempunyai penilaian yang keliru : pertama, seorang anak tidak perlu menunggu dalam golongan dewasa menurut tradisi Yahudi untuk mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Bahkan, seharusnya seorang dewasa harus ditobatkan, dikembalikan seperti karakter seorang anak (bnd. Mat 18.3). Kedua,  menyambut atau menerima Kerajaan Allah adalah hasil dari karunia (ay 15), bukan soal prestasi atau jasa. Beberapa tafsir yang menekankan anak-anak menerima kerajaan Allah karena rendah hati, tulus, tidak mempunyai prasangka mungkin penafsiran ini kurang tepat.  Intinya anak-anak hanya  menerima, yang bermakna seperti hibah.  Mereka hanya mererima  sebuah anugerah Kerajaan Allah oleh karena mereka mau tergantung pada orang lain ( Tuhan), bukan hasil usaha mereka. 

Silahkan marah, kalau marah jangan lupa ingat cara marah Yesus. Dia hanya marah untuk perbuatan dosa. Kemarahan-Nya “tidak berkibat jatuh dalam dosa”, karena Yesus tanpa dosa. Ya, marah untuk perbuatan bukan orangnya. Bandingkan : Mazmur 4:5 : “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa…”, Efesus 4:26 : “Apabila kamu menjadi marah,  janganlah kamu berbuat dosa…”. Kedua ayat ini dengan tegas memisahkan kemarahan dan dosa. Rupanya kemarahan tidak diidentikkan dengan dosa tetapi dilihat sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan dosa.



22 Oct 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Renungan MPHB

Renungan MPHB.

Keluarga dalam  Bait Allah

Oleh : Pnt. Maryono



Dalam Perjanjian Lama, kata “bait” diartikan Keluarga dapat berarti luas. Anggota suku yang digambarkan dalam bentuk kerucut dengan Bapak Leluhur sebagai pendirinya. Misyapakha diartikan “kaum”  merupakan bagian yang lebih kecil dibawah kerucut. Kekuatan hubungan diantara mereka ditentukan dari perasaan sedarah dan  kesatuan tempat tinggal dengan aturan adat dan hukumnya.  Allah adalah pendiri keluarga. Ia membentuknya pada waktu  menciptakan laki-laki dan perempuan dan memerintahkan mereka untuk beranak cucu (Kej 1 :27-28). Sebagai pendiri keluarga,  Allah mempunyai hak atas sebuah keluarga untuk tinggal didalam bait-Nya. 

Dalam Perjanjian Baru kata Yunani  “Patria” diartikan keluarga, tapi dalam Kis 3:25 kata Patria diterjemahkan bangsa.  Di kota-kota Yunani, peranan keluarga atau rumah tangga (Oikos) sangat menonjol dalam pendirian Gereja, seperti orang pertama non Yahudi  (gentile) yang masuk warga Gereja adalah seluruh keluarga Kornelius di Kaisarea, termasuk para pelayan rumah tangganya (Kis 10: 7 ; 24). Selanjutnya banyak contoh-contoh :  Keluarga Lidia (Kis 16:15, 31-34), keluarga Stevanus di korintus ( 1 Kor 16:150 , Keluarga Priskila dan Akwila di Efesus (1 Kor 16:19 , Rm 16:5 ) dan sebagainya. Kumpulan Keluarga-keluarga itu dipandang oleh Paulus sebagai jemaat, contohnya ketika Gayus yang memberi tumpangan kepada Paulus dan seluruh jemaat ( Rm 16:23). Jemaat-jemaat itu  telah digambarkan sebagai anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun rapi, tersusun menjadi bait Allah yang kudus. Mereka juga menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (Ef 2:19-21).

Pengenalan Allah dalam keluarga
Dalam Ulangan 6:5, perintah yang sekaligus sebagai tugas Allah yang diberikan kepada orang Israel intinya adalah : “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu “. Hal ini bermakna, keluarga dibentuk oleh Allah untuk mengasihi Allah. Allah yang harus disembah dan tidak ingin diduakan (ay. 13-15). Allah yang Mahakuasa dan berdaulat atas bangsa-bangsa (ay. 21-22). Allah yang aktif bertindak menyelamatkan umat-Nya  (ay. 21-23). Pengertian tentang Allah sebagamana perintah tersebut, seharus dipahami dan dilaksanakan oleh setiap keluarga dan anggotanya dengan setia ( ay 3).  

Dalam ayat berikutnya :“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkan kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu (ay 6-7). Perintah kepada siapa ?, perintah Allah kepada para orang tua Israel melalui Musa, juga perintah kepada kita semua selaku orang tua.  Perintah mengajarkan kepada anak-anak tidak hanya sebatas kata-kata atau ketaatan formal seperti ibadah minggu saja, tetapi seluruh situasi praktis dalam perilaku sehari-hari. Para orang tua yang benar benar mengasihi Allah serta menaati firman-Nya dalam hidup sehari-hari, barulah mampu mewariskan pengenalan akan Allah dan firman-Nya itu kepada anak cucu mereka. Keluarga-keluarga inilah yang diharapkan Paulus berkumpul dalam kesatuan jemaat yang kudus.

Rasul Paulus menyisakan pertanyaan kepada kita : Seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah ? (1 Tim 3 :4-5)


 

28 Sep 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Ibadah kepada Tuhan ada harganya

Ibadah kepada Tuhan ada harganya.

Oleh : Pnt.Maryono


Dalam 2Samuel 24: 18- 24,  Pada saat Gad berkata kepada Daud : “Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat penggirikan Arauna, orang Yebus itu “. Terungkap kata “membayar harga” ketika Daud menjawab sebagai berikut : “Aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Daud diperintah Tuhan ketempat Penggirikan Arauna, orang Yebus. Yebus adalah salah satu suku bangsa Kanaan yang tinggal di daerah pegunungan disekitar Yerusalem. Penguasanya bernama Arauna  dibawah kuasa  Daud pada waktu itu (2 Sam 5:6-10). Dibawah kuasa dapat merujuk pemahaman bahwa penguasa dapat memaksa jajahannya untuk menyerahkan sesuatu. Ya, Daud dapat melakukan itu kepada Arauna. Tetapi Daud tidak memaksa Arauna. Tempat penggirikan Arauna untuk pendirian mezbah bagi Tuhan dibayar harganya oleh Daud. Demikian juga, cerita di I Tawarikh 21, Daud membayar harga untuk penggirikan Ornan. Berapa harga yang dibayar Daud ? Apakah Daud memberi Arauna lima puluh syikal perak untuk membeli tempat penggirikannya, seperti diceritakan dalam II Samuel 24:24, ataukah dengan enam ratus syikal emas, seperti dinyatakan dalam I Tawarikh 21:25? Beberapa penafsir menjelaskan selisih atau perbedaan tersebut terletak pada sikap dua penulis dari teks-teks itu. Daud barangkali membeli tempat pengirikan itu dengan harga lima puluh syikal, seperti dicatat Kitab Samuel; tetapi sesudah itu dia memutuskan bahwa Bait Allah akan dibangun di sana, karenanya dia membeli seluruh tanah perbukitan itu dengan harga enam ratus syikal, sebagaimana dikatakan penulis Tawarikh. Syikal dalam ensiklopedi Alkitab adalah ukuran berat.  50 Syikal setara dengan 500 gram, 600 sykal setara 6000 gram. Harga 6000 gram bila dirupiahkan saat ini dengan harga emas sekitar Rp 360.0000,--/gram =  6000 X Rp 360.000,- = Rp 2.160.000.000,--.
Dalam pesan ini, pokok masalahnya bukan nilai uang dan luas tanahnya. Daud dalam beribadah telah membayar harga untuk Tuhan. Berapa banyak diantara kita yang menyadari bahwa membangun Bait Allah adalah melaksanakan ibadah kepada Tuhan dengan harga yang perlu dibayar ?



 

22 Sep 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Artikel Serial Singkat


Serial Singkat

KEBERADAAN ALLAH

Oleh : Pnt. Maryono

edisi : I
I

 



Tentang keberadaan Allah, tidak seorangpun yang pernah melihat Allah ( Yohanes 1 : 18a ), Allah itu Roh ( Yohanes 4:24) yang dapat dipahami tanpa tubuh dan wujud jasmaniah yang dapat dilihat indra manusia. Allah adalah Kudus : Kuduslah Ia ( Mazmur 3 :3). Kudus dari akar kata ibrani qadosy  berarti “terpisah” (dikhususkan). Pemahaman “terpisah ini dapat dimaknai keterpisahan Allah dari semesta alam ciptaanNya. Allah dinyatakan transenden karena terpisah dan tidak dikungkung dari dan oleh alam semesta ciptaanNya. Pribadi yang luar biasa, Pencipta dan Pengatur alam semesta : Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah : siapa yang menciptakan semua bintang itu ( Yesaya 40 : 26a). Ilmu pengetahuan apapun tidak akan dapat menjelaskan secara benar mengapa alam ini terjadi, bila pemahaman itu tidak atau  tanpa mengenal Allah. Rasul Paulus berkata : Karena didalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada disorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia ( Kolose  1 : 16 ).
Allah yang transenden tidak berarti jauh dari alam dan machluk ciptaanNya. Allah tidak masa bodoh terhadap ciptaanNya. Pernahkan anda merasakan sesuatu yang luar biasa dalam kehidupan anda yang biasanya dianggap “ Kebetulan” diluar rencana atau jangkauan pikiran saudara ? Tidak ada sesuatu yang bersifat “kebetulan” dalam kehidupan orang percaya. Itulah bukti bahwa Allah memikirkan anda sebelum anda berfikir untuk mengenal Nya. Dia telah mempunyai rencana sebelum anda merencanakan kehidupan anda. Allah berfirman : Aku bersemayam ditempat tinggi dan ditempat kudus, tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk (Yesaya 57:15). Dengan demikian, Allah adalah immanen artinya kehadiran dan kuasaNya senantiasa berlaku bagi ciptaanNya. Sifat Immanen , kehadiran dan kuasa Allah, dapat dirasakan bagi umatNya yang berakal dan berbudi antara lain dalam kebaikan, kasih, keadilan, dan kebijaksanaan Allah.
Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu ( Amsal 3 : 5-6 )


 


 

Serial Singkat

"HATI YANG MENENTUKAN PILIHAN HIDUP"

Telaahan oleh : Pnt. Maryono
edisi : I



Sebelum masuknya dosa, damai dan kesukaan memenuhi alam semesta, semuanya berjalan selaras dengan kehendak Allah. Sejak manusia diciptakan, Allah telah memberi kebebasan kemauan agar manusia memberikan pelayanan dengan sukarela kepada Allah. Tetapi manusia telah menyalah gunakan kebebasan ini sehingga keluar dari hadirat Allah.  Allah berfirman : Jangan kamu makan atau raba buah itu, nanti kamu mati ; Perempuan itu mengambil buahnya dan dimakannya, dan suaminyapun memakannya ..... Karena engkau memakan dari buah pohon yang Kuperinahkan kepadamu jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau ( Kejadian 3: 3, 6, 17)

Itulah “kebebasan” yang saya pahami secara moral dan psikologis yaitu menentukan pilihan yang tidak dipaksakan. Tuhan sungguh demokratis, tidak menekan atau memaksa manusia menuruti perintahNya, tapi manusia juga diingatkan sanksinya. Perintah itu jelas “Jangan kamu makan, nanti kamu mati”. Manusia diberikan kebebasan makan atau tidak makan dengan mengetahui sanksinya. Ternyata manusia tidak peduli terhadap perintah dan sanksi Tuhan, Manusia ingin memanjakan keinginan untuk diri sendiri. Itulah tanda pertentangan yang merusak keharmonisan hubungan antara manusia dan Allah. Manusia bisa berkilah, seperti Adam menyangkal : lagi pula bukan aku yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh kedalam dosa (1 Timotius 2 : 14). Mungkin Tuhan akan berkata : kamu telah kuberi kebebasan memutuskan, dan itu bukan tanggung jawabKU tetapi tanggung jawabmu atas segala resiko yang kamu hadapi. Oleh karena itu : Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata : Percobaan ini datang dari Allah “ . Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabia dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1 :13-15).
Siapakah yang mempengaruhi sikap kebebasan manusia itu ? Pusat perintah keinginan manusia  dari dalam disebut Lev atau levav (bahasa ibrani) yang diterjemahkan hati. Kecenderungan manusia untuk bersikap atau bertindak ditentukan oleh Hati, dan dari hati cenderung selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej  6:5). Hati adalah tempat berfikir (Mrk : 2:6,8) dan tempat perasaan ( Luk : 24 :32). Orang Ibrani berbicara tentang hakekat hati manusia dengan segala sifat, jasmani, intelektual, dan jiwa sebagai suatu kesatuan,  sehingga hati adalah sebuah sinergi antara jiwa, akal budi dan kekuatan. Oleh karena itu  Markus 7 : 21-22 : mengatakan : Dosa timbul dari hati dan pikiran ; sebab dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan , perzinahan, keserakahan, kejahatan , kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.  Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu (Yer:17:9)

Dengan memperhatikan arti rohani, maka hati  menjadi tujuan utama yang dibentuk Tuhan. Sehingga hukum Allah bukannya sesuatu yang ada diluar manusia, melainkan apa yang ditulis didalam hati. Tuhan menyelidiki hati, menguji batin untuk memberi balasan yang setimpal dengan tingkah laku dan perbuatannya ( Yer 17 : 10). Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan kita perlu selalu berdoa memohon kepada Allah untuk menyelidiki, mengenal dan menjadikan bersih hati kita.  Hati yang baru haruslah menjadikan tujuan bagi orang yang berdosa, karena sebagaimana janji Tuhan : orang yang suci hatinya akan melihat Allah, dan dapat memahami kasih Allah ( Mat :5 :8 ; Ef : 3 :17)


 

 

02 Aug 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Minggu biasa, 27 Juni 2010

MENGIKUT YESUS

”Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.” (Luk. 9:53). Demikianlah catatan Lukas perihal dengan perjalanan Yesus ke Yerusalem.
Di balik kisah penolakan itu, terkandung fakta bahwa orang-orang Samaria itu berkesempatan menerima Yesus. Guru dari Nazaret itu telah mengutus beberapa murid untuk mempersiapkan persinggahan bagi-Nya.
Jelas di sini, desa Samaria itu merupakan tempat yang penting di hati Yesus. Itu juga berarti Yesus membuka diri. Dia hadir untuk semua orang. Sang Guru dari Nazaret tidak bersikap membedakan. Dia menerima orang Samaria sebagaimana Dia menerima orang Yahudi.

Siap Ditolak
Rama Gianto menyatakan bahwa ungkapan ”mengarahkan pandangan” berarti ”berkeputusan atau bertekad”. Jadi, Lukas hendak menegaskan bahwa Yesus bertekad pergi ke Yerusalem untuk mati, bangkit, dan terangkat ke surga.
Menarik disimak, dalam Lukas 9:51 Yerusalem—terjemahan kita tidak terlalu membedakannya—dieja sebagai Ierousaleem. Ini merupakan cara Lukas membicarakan kota itu dalam hubungan dengan mereka yang menolak kedatangan Yesus.
Bila ditulis sebagai Hierosolyma, kota itu tampil sebagai tempat yang bersedia menerimanya. Di awal perjalanan ke Yerusalem, kota itu disebut Ierousaleem. Artinya, Yesus sedang ”menuju ke tempat ia ditolak orang-orangnya.”
Ironisnya, sebelum sampai di Yerusalem, Yesus ternyata sudah merasakan penolakan. Orang-orang di desa itu menolak Yesus dan rombongan-Nya. karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.
Tak mudah memahami alasan di balik penolakan itu. Namun, banyak penafsir menduga bahwa penduduk desa tersebut agaknya tak menyukai semua hal yang berbau Yerusalem.
Sungguh gampang dimaklumi. Pada masa itu orang Yahudi tidak mengakui keberadaan orang Samaria. Di mata orang Yahudi, orang Samaria merupakan kelompok manusia sesat. Itu jugalah yang menyebabkan orang Samaria tak lagi menghormati orang Yahudi.
Penolakan itu tentu saja membuat berang para murid. Di mata mereka orang Samaria itu tak tahu diri. Sudah bagus Yesus menganggap mereka berharga, lalu mengapa mereka meremehkan-Nya? Yakobus dan Yohanes lalu berkata, ”Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54). Namun, Yesus langsung menolaknya dan menegur mereka.
Yesus menegaskan orang yang mau mengabarkan kehadiranNya tidak boleh mengancamkan hukuman, apalagi mengutuk orang atas nama-Nya. Yesus mengundang semua orang. Tetapi Yesus sendiri tidak mau memaksakan kehendak-Nya atas orang-orang yang diundang tersebut. Yesus menghargai kehendak bebas mereka. Ketika ditolak, Yesus mengambil langkah logis. Dia pergi ke desa lain.
Gereja masa kini perlu belajar dari Sang Guru dalam hal ini. Gereja ada memang untuk dunia. Tetapi, ketika ada sekelompok orang yang menolak kehadiran gereja, menolak hal baik yang hendak dilakukan, gereja masa kini tak perlu marah, bahkan mengutuk. Langkah sederhana ialah pergilah ke tempat lain. Lain kali, baru kembali lagi ke tempat tersebut. Gereja harus siap ditolak!

Berubah Agar Lebih Banyak Berbuah
Sebagai sekelompok orang yang telah dimerdekakan Kristus, Gereja harus memberikan kesempatan besar bagi dunia di mana mereka tinggal untuk menerima atau tidak Kabar Baik dari Allah itu (Gal. 5:1). Namun, itu tidak berarti gereja diam, tak berbuat apa-apa. Tidak. Gereja harus menyatakan buah Roh, sebagai bukti bahwa mereka dipimpin oleh Roh!
Gereja dipanggil untuk berbuah! Jika hari ini—kala mensyukuri ke-68 tahun usia GKJ Jakarta—kita akan mencanangkan pembangunan Rumah Allah, tujuan utamanya ialah agar kita lebih banyak berbuah. Kita berubah secara fisik, tentu juga rohani, agar kita lebih banyak lagi berbuah!
Jadi, tujuan renovasi Rumah Allah bukanlah untuk megah-megahan, bukan pula agar kita lebih dianggap orang, bukan pula karena mumpung ada uang, tetapi karena kita ingin menghasilkan lebih banyak buah lagi. Agar semakin banyak orang merasakan kasih Allah.
Itu jugalah yang menjadi kerinduan pemazmur. Dalam renungannya pemazmur bersyair: ”Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (Mzm. 77:12-13).
Tak hanya mengingat, tetapi pemazmur juga hendak menyatakan perbuatan Tuhan kepada orang-orang di sekitarnya. Jika kita bersyukur kepada Tuhan, baiklah itu juga yang dilihat orang dari dalam diri kita. Kadang, orang bersyukur tetapi ujung-ujungnya bukan Tuhan yang dimuliakan, tetapi diri sendiri yang dimuliakan. Dan itu malah membuat orang muak!
Jika kita mengatakan kepada orang lain bahwa Tuhan itu baik kepada kita, lalu apa yang hendak kita lakukan selanjutnya. Sejatinya, orang-orang di sekitar kita menunggu-nunggu. Istilah anak muda zaman sekarang: ”So, what gitu loh!”

Standar Ketat
Sekali lagi berbuah! Itulah yang seharusnya menjadi ungkapan syukur kita! Dan berbuah merupakan bukti bahwa kita sungguh-sungguh murid Kristus. Dan kepada orang yang menganggap diri sebagai murid-Nya, Yesus menerapkan standar ketat.
Pertama, Yesus tidak menjanjikan jalan mudah. Ketika ada orang yang dengan bersemangat berkata, ”Saya mau mengikuti Bapak ke mana saja!”; Yesus menjawab, ”Serigala punya liang, dan burung punya sarang, tetapi Anak Manusia tidak punya tempat berbaring.” (Luk. 9:57-58). Artinya: jangan mengharapkan kenikmatan duniawi dalam mengikut Yesus. Jika itu yang menjadi tujuan utama, kita akan kecewa.
Kedua, sekaranglah waktunya! Jangan tunda! Jangan menunggu orang tua mati dahulu, baru mengikut Yesus. Undangan Yesus memang terbuka untuk semua orang, tetapi waktunya terbatas! Bukankah kita tidak pernah mengetahui kapan waktu kita di dunia. Ini masalah prioritas!
Ketiga, kalau ingin mengikut Yesus, ya fokus! Mengikut Yesus berarti Yesus di depan dan kita mengikuti-Nya dari belakang. Pandangan mata kita harus tertuju ke arah Dia. Jangan menoleh ke belakang! Sama dengan orang yang membajak, dia harus memfokuskan diri ke depan. Jangan pula terikat oleh hal-hal lain.
Itu jugalah yang dilakukan Elisa. Meski tiga kali Elia, sang guru, memintanya untuk pergi meninggalkan dia. Elia tetap fokus. Sebagai murid, dia tidak mau meninggalkan gurunya. Dia tetap mengikuti Elia ke manapun Elia pergi. Akhirnya, dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Itu semua merupakan upah kesetiaannya.
Setia merupakan panggilan orang percaya. Yang penting dalam diri orang percaya bukanlah bagaimana dia memulai hidup, tetapi bagaimana dia mengakhirinya. Setia berarti tetap mengikut Tuhan hingga akhir. Setia berarti sampai mati.
Yoel M. IndrasmoroM

01 Jul 2010 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 


Page 12 of 12