• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

“Bersemangatlah karena Kristus Selalu Bersertamu”

“ Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"  Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke  Yerusalem. ” (Luk. 24:31-33a)

Bu Sri akhir-akhir ini rajin menemani Tim Pelayanan Perkunjungan gereja ke jemaat, ke rumah sakit, maupun pelayanan perkunjungan yang lainnya. Tanpa kenal lelah bu Sri senantiasa mendampingi Tim Pelayanan Perkunjungan. Selidik punya selidik, bu Sri melakukan perkunjungan sambil menawarkan produk asuransi tempat ia bekerja kepada jemaat tersebut. Bu Sri telah digerakkan oleh keinginannya untuk memasarkan produk asuransi tempat ia bekerja ketika ia mengunjungi jemaat di gerejanya.

Persekutuan ibu-ibu itu rajin mengadakan arisan simpan pinjam. Meskipun mereka telah dijauhkan oleh jarak dan bahkan kesibukan masing-masing, hal ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk hadir dalam arisan tersebut. Selidik punya selidik, mereka ternyata tidak hanya melakukan arisan saja. Mereka mengadakan arisan, tapi juga melakukan berbagai kegiatan: peribadahan secara rutin, belajar memimpin bergantian, mengadakan perkunjungan ke panti-panti asuhan dan lainnya, menolong anggota persekutuan yang membutuhkan bantuan, mendukung pencetakan dan penyebaran Alkitab bahasa daerah dan lain-lain. Perkumpulan atau persekutuan ini hingga kini masih memperlihatkan kegaitan mereka yang menarik.

Dalam kehidupan ini ada banyak dorongan yang membuat seseorang melakukan sesuatu. Empat dorongan yang paling umum adalah : a) dorongan memperoleh sesuatu, b) dorongan untuk memiliki banyak relasi, c) dorongan untuk maju, dan d) dorongan untuk bertahan hidup. Oleh karena kebaikan Tuhan, Pemazmur berkata, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN; akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya.” (Maz. 116:12-14).

Apa yang dilakukan oleh Pemazmur memperlihatkan bagaimana Tuhan menyertai dan menggerakkan untuk mengucap syukur, membalas kebaikan Tuhan, memelihara relasi dengan Tuhan dan seterusnya. Demikian juga dengan 2 murid Yesus yang disertainya dalam perjalanan ke Emaus. Setelah  Yesus memecah-mecahkan roti dan memberikannya - mereka nampaknya ingat dan sadar akan Yesus yang memberikan 5 roti dan 2 ikan kepada 5.000 orang. Lalu mereka dengan semangatnya segera kembali ke Yerusalem memberitakan perjumpaan dengan Yesus dan kebangkitannya, seperti yang disaksikan Lukas, “Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"  Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem” (Luk. 24:31-33a).

Juga, ketika Petrus memberitakan Injil tentang Yesus Kristus, dengan pimpinan Roh Kudus dan kuasa Kristus yang diberitakan mendorong dan menggerakkan 3.000 orang percaya dan menerima Tuhan Yesus dan dibaptis. Bagaiman pengalaman penyertaan Yesus Kristus dalam hidup saudara dan menggerakkan untuk melangkah maju? Akankah kuasa Kristus saudara sadari? Amin.

Pdt. Hosea Sudarna


29 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 

Iman, memberi Kekuatan dan Pengharapan

Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh. 20:29)

Rombongan pemikul salib itu berjalan bersama-sama. Salah seorang pemikul kayu salib itu (katakan X) tiba-tiba mulai merasakan keberatan. Ia berjalan terseok-seok. Ketika ia memperhatikan yang lainnya mereka juga mengalami hal yang sama. Tetapi  X kemudian memiliki pemikiran: “Wah, kalau saya potong sebagian kayu salib ini, tentu menjadi lebih ringan, toh yang memerintahkan untuk memikul ini tidak melihat.” Benar,  X memotong sebagian kayu salibnya  pada bagian bawah dengan gergaji, salib pun menjadi lebih ringan. Dengan bangganya X melanjutkan perjalanan melampaui orang-orang yang lainnya. Ketika X mulai merasa keberatan lagi, maka pengalaman pertama itu mendorongnya untuk melakukan lagi. X pun memotong lagi kayu salib itu untuk kedua kalinya, maka menjadi semakin ringan. X kembali melenggang melanjutkan memikul kayu salib, meninggalkan yang lainnya. Tak lama kemudian X menjumpai jurang di depannya, karena salibnya sudah dipotong, maka menjadi pendek dan tidak bisa menjadi jembatan yang menghubungkan tebing satu ke tebing yang lain. X terhenti di tepi jurang.

Tidak lama kemudian rombongan yang lainnya sampai di tempat yang sama, meskipun terhuyung-huyung tak berdaya mereka memasang salibnya masing-masing, melewati jurang tersebut dan melanjutkan perjalanan. Rombongan pemikul salib itu melewati jurang pembatas dan melanjutkan kehidupan barunya. Sementara X tertahan oleh jurang yang menganga akibat lebih percaya pada pemikirannya sendiri. Ia tertinggal akibat tindakannya yang didasarkan pada keyakinan akan pemikirannya tersebut.

Yohanes menyaksikan penampakkan Tuhan Yesus kepada para murid. Sapaan berkat, “Damai sejahtera bagi kamu! ...” (Yoh. 20:21) diteruskan dengan pengutusan. Dan, pengutusan itu juga disertai pemberian/hembusan, “terimalah Roh Kudus.(ay.22) Pengutusan yang disertai pemberian berkat.

Hidup orang percaya seperti perjalanan rombongan musafir yang memikul salib. Dan kepada para murid atau orang percaya Tuhan Yesus juga menyampaikan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, ... diampuni, ...” Karena kepercayaan para murid (kita) pada Tuhan Yesus, menjadikan kita beroleh pengampunan dan meneruskannya pada orang lain, dengannya dosa orang tersebut diampuni. Akan tetapi Tuhan Yesus juga menyampaikan, “... dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” maksudnya adalah ketika orang itu tidak mau percaya, berarti menolak pengampunan. Itu berarti ia lebih suka menahan dosa ketimbang percaya dan beroleh pengampunan, ya dosanya tetap ada. Maka Yohanes meneruskan kesaksiannya dengan mengangkat kisah Thomas yang tidak percaya, dan Yesus mengatakan, “... Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Artinya lebih berbahagia yang percaya tanpa melihat, dari pada mau percaya dengan bukti. Sikap Thomas memberi gambaran manusia (seperti orang-orang Yahudi, tidak mau mengubah cara pandangnya, tidak mau percaya), mengandalkan kekuatan dan pikiran sendiri (manusiawinya).

Bagaimana dengan kita? Biarlah dalam segala hal kita terus kelola iman percaya kita bak rombongan yang memikul salib. Dia menganugerahkan damai sejahtera dalam penyertaan Roh Kudus. Selamat melanjutkan karya dalam pengutusan-Nya. Tuhan memberkati. Amin

 

Pdt. Hosea Sudarna

22 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 

BANGKITLAH! BANGKIT BERSAMA KRISTUS MENYATAKAN KEMENANGAN

“ Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. “ (Mat.28:8)

 

WS adalah nama inisial seorang bapak, tinggal di sebuah desa bersama isteri dan 6 anaknya. Di awal tahun 1990-an, keluarga WS ini menjadi sorotan atau perhatian masyarakat/kalangan secara positif. Keberhasilan keluarga ini mengundang tanya, “apakah yang menjadi rahasia keberhasilan keluarga pak WS?”  Mereka keluarga besar, tinggal di desa, tetapi semua anak-anaknya sarjana. Bahkan ada yang telah menyelesaikan S2. Keberhasilan inilah yang menginspirasi dan menjadi daya tarik  orang untuk  belajar dari keluarga WS.  Setiap orang bertanya ke pak WS, ia selalu menjawab, “Waktu anak-anak masih SD dan SMP, setiap makan malam kami selalu mengusahakan bisa makan bersama-sama. Dan yang lebih penting dari itu, kami bisa ngobrol menemani mereka dan doa bersama. Itu yang kami lakukan hingga mereka tamat SMA. Setelah di Pergurunan Tinggi kami agak jarang. ”

Keluarga WS adalah keluarga Kristen. Dari jawaban yang disampaikan WS  memperlihatkan gambaran yang menarik. Sesegera mungkin WS bertindak/berbuat untuk memenangkan dirinya, anak-anaknya juga keluarganya. Dan kemudian menjadi daya tarik bagi orang lain atau lingkungan sekitar. Sikap dan tindakan  WS dan isterinya yang berusaha menjaga kebersamaan, harapan ke depan akan anak-anak dan keluarga yang lebih baik dengan, “... makan malam kami selalu mengusahakan bisa makan bersama-sama. ”dan mengedepankan, “ ... ngobrol menemani mereka dan doa bersama. ”  Seperti sikap Petrus yang segera pergi (bangkit) bersama utusan Kornelius untuk menemui Kornelius, setelah ia mengerti maksud Tuhan, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.  Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kis. 10:34-35).

Demikian juga ketika WS membawa keluarganya dengan mengedepankan pertemanan dengan anak-anaknya, dengan penuh percaya menyerahkan diri dan berdoa kepada Tuhan. Suatu sikap dan tindakan seperti Paulus, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.  Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” (Kol. 3:1-3). Sungguh satu gambaran yang menarik, bagaimana WS berjuang, segera bangkit bersama ister dan anak-anaknya, bersama Kristus yang bangkit. Yesus Kristus Tuhan yang mereka percaya dan hadirkan ditengah-tengah keluarga mereka. Apa yang mereka lakukan dan perjuangkan, bagaimana mereka berusaha menyambut dan melangkah memberlakukan firman-Nya, “ Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.“  Sebagaimana Yesus berkata kepada para perempuan itu: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." (Mat. 28:8,10).

Mari, seperti para murid perempuan dan juga keluarga WS, kita bangkit, pergi meninggalkan kekosongan dan sambil memberitakan kebangkitan-Nya, mencari yang di atas dan menyongsong Yesus di Galilea. Menyongsong Yesus yang bangkit dan menampakkan diri. Yesus yang nyata dan bangkit serta menmpakkan diri-Nya  dalam keluarga WS. Juga dalam keluarga saudara, dan biarlah itu juga terang dan menjadi daya tarik bagi orang lain.  Selamat Paskah, Tuhan memberkati. Amin

Pdt. Hosea Sudarna

15 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 

SERUAN BAGI TUHAN...? ATAU BAGI HANTU...?

Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" (ya. 9)

 

“Ya saya bersedia dengan segenap hati.”  Demikianlah jawaban mereka ketika dua insan yang akan diteguhkan dan diberkati perkawinannya itu ditanya, “Bagaimana jawab saudara?”,  berhubungan dengan tanggungjawab dan panggilan Tuhan pada orang yang menikah; begitu juga dengan mereka yang menyaksikan Iman Percayanya / Sidi, mereka yang menerima sakramen baptis, dan orang tua yang membabtiskan anaknya. Jawaban di atas mengungkapkan akan kesediaan yang bersangkutan untuk mengikuti / menuruti perintah-Nya, kehendak-Nya. Sebuah ungkapan yang menyatakan puji dan hormat hanya bagi Tuhan. Ungkapan di atas adalah Seruan dalam perjalanan hidupnya yang akan tetap setia mengikut-Nya. Mengikut Tuhan. Betulkah dalam hidup selanjutnya, selalu seruan bagi Tuhan yang disaksikan. Akankah ketika suami kena PHK, anak sedang dalam masalah, suami sedang sakit keras, ketika orang tua sudah tidak bisa apa-apa lagi dan keadaan yang serupa lainnya, kita tetap menyambut dan me”nyebut”-Nya dengan menjawab, “Ya dengan sepenuh hati.” Atau ?

 

Dalam tulisannya, Matius menyaksikan para murid dan begitu banyak orang yang menyambut dan mengikuti perjalanan Tuhan Yesus masuk Yerusalem. Mereka yang  telah mendengar, melihat dan bahkan mengalami karya Allah dalam Tuhan Yesus, berbagai mukjizat yang telah terjadi.  Mereka menyerukan penghormatan bagi Tuhan Yesus. Mereka mengelu-elukan-Nya : ” Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" (ya. 9)

 

Demikian mereka menyerukan penghormatan, Hosana (Ibrani, hosyiana.=beri keselamatan). bagi Anak Daud. Ini bukan Seruan permohonan,  tetapi suatu pujian bagi Yesus Sang Mesias. Sebagai keturunan Daud, Yesus adalah Juruselamat yang pernah dijanjikan kepada Raja Daud. Dengannya mereka mengungkapkan puji, “hosana di tempat yang mahatinggi!”Sorak Seruan ini searti dengan, “Pujian bagi Allah di sorga”. Mereka tidak menyebut Allah. Dalam kehidupan orang Yahudi mengucapkan kata Allah pantang, ini justru untuk menyatakan hormat mereka kepada Tuhan. Siapa yang melihat bahwa itu bukan ungkapan sepenuh hati ? Pertanyaannya, akankah kesetiaan dan ketetapan yang seperti itu terus bertahan (dalam keadaan apapun) ? Ketika tekanan dan Hassan bahkan iming-iming harta ditawarkan tetap meninggikan Allah di sorga? Tetap mengaku: “Inilah nabi Yesus dari Nasaret di Galelia”?  Atau...?.

 

Marilah kita terus berjuang dan berusaha mengungkapkan puji kemuliaan bagi-Nya bukan hanya dalam keadaan yang menyenangkan saja. Amin.

Pdt. Hosea Sudarna

08 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 

Kasih Tuhan Memberi Kehidupan

“ Maka menangislah Yesus.

Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!". (Yoh. 11:35-36)

Seorang bapa berinisial DP. Ia dikenal sosok yang ramah dan murah senyum. Bahkan di beberapa komunitas ia mendapat panggilan, “Si senyum Pepsodent”. Sadar dengan namanya, ia berusaha untuk menjadi “dirinya sendiri”. Ia senantiasa berusaha untuk mengawali dalam memberi atau berbagi. Ia senantiasa berusaha untuk memulai dalam menyatakan keteladanan dan pelayanan. Hal itu ia lakukan baik di lingkup keluarga, tempat berkarya, di lingkungan gereja dan di berbagai organisasi lain yang di dalamnya turut terlibat. Ketika sedang dalam keadaan sakit (didampingi anak angkatnya), seorang sahabat yang berkunjung menyampaikan bahwa, “Teman-teman sudah sangat kangen dan menanti spirit dan senyum bapak lho ...”. Sambil menjabat tangan pengunjung yang bertutur tadi, ia tertawa kecil sambil berpesan: “Dari Dia (sambil tangannya kiri menunjuk ke atas), saya sudah teruskan ke saudara-saudara ketika kuat dan sehat, sekarang .... lanjutkan! Hahahaha...”. Dengan ramahnya ia memberi dorongan sambil tertawa kecil namun mantap ia menatap sahabat yang berkunjung dengan tangan menepuk-nepuk pundak anak angkatnya itu.

Setelah agak lama dalam perawatan di rumah dan beberapa kali di rumah sakit, DP dipanggil pulang ke rumah Bapa di Sorga. Karena sudah seperti orang tua sendiri, anak angkat itu sedih dan sangat kehilangan. Dalam keadaan sok di sudut ruangan, sang ibu (isteri DP) mendekati dan memeluk sambil berkata, “Mari kita relakan bapak pelan-pelan. Bapak pergi untuk menerima kepenuhan hidup dari Bapa di soga.” Demikian si ibu menghibur dan menguatkan anak angkatnya itu.

Demikian warna kasih karunia Allah yang dianugerahkan dalam kehidupan  seorang DP atau “Si senyum pepsodent”. Lalu diteruskan pada keluarganya (termasuk sang misteri, walau dalam keadaan yang berat), sang isteri (berusaha menghibur dan memberikan semangat) menyata-teruskan kasih dan kemuliaan Allah itu pada anak angkatnya.  Kasih kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui DP (dalam hidup di tengah-tengah keluarga dan orang lain), hingga kemuliaan Allah dinyatakan dengan kepenuhan hidup, yaitu meninggalkan dunia fana ke kehidupan kekal.

Tetes air mata-Nya, pertanda masygul (haru) dan sedih hati Yesus (Yoh.11:33, 35). Namun juga di dalamnya menyaksikan kasih-Nya yang begitu besar kepada Lazarus (lih ay. 3, 5, 11,36).  Yang aneh tapi menarik adalah Yesus tidak segera menemui Lazarus ketika dalam keadaan sakit. Tuhan Yesus justru memperpanjang tinggal ditempat, “..., setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;”. (ay. 6).

Berbagai pertanyaan muncul. Benarkah Yesus mengasihi? Kenapa tidak segera menemui dan menyembuhkan Lazarus? Apakah Yesus takut akan lemparan batu di Yudea (alih. ay.8)? Tidak. Bukan takut, juga bukan tidak mau menyembuhkan. Tuhan Yesus yang diutus Allah Bapa itu sangat mengasihi. Justru karena kasih-Nya yang besar itu, Yohanes mau menyampaikan; Pertama, Ia memiliki kuasa yang besar. Kedua, Ia juga memiliki otoritas dan independensi, sehingga tidak bisa didesak atau ditekan oleh siapapun (termasuk orang yang begitu dikasihi seperti halnya Maria dan juga Marta, ay 3b). Dalam kisah pemanggilan Yeheskiel, bagaimana kuasa dan otoritas Allah atas bangsa Israel itu juga disaksikan. (Yeh. 37:1-14). Ketiga, Kasih dan kemuliaan Allah yang akan diberikan atau dinyatakan melalui Lazarus lebih dari sekedar kemuliaan ketika Yesus menyembuhkan. Yaitu kebangkitan, kehidupan untuk menuju pada kehidupan yang penuh. Kehidupan yang melampaui kematian jasmani.

Pelajaran berharga dari kesaksian tersebut adalah betapa pentingnya membawa pergumulan dan permasalahan kepada Tuhan. Lalu, dengan tetap percaya, menyerahkan sepenuhnya pada otoritas Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Sebesar dan seberat apapun masalahnya, biarlah kita tetap berkata : “Masalah,... kau boleh besar dan berat, tapi Tuhanku Yesus lebih besar dan berbobot darimu”. Dan biarlah Kasih serta kemuliaan-Nya memenuhkan kehidupan saudara. Selamat merayakan Minggu Pra Paskah, Tuhan memberkati.  Amin.

 

Pdt. Hosea Sudarna

 

01 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 


Page 7 of 33