• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Menemukan Nilai yang Paling Berharga dalam Hidup

“Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya" (Mat. 13:52).

 

Supaya teguh melangkah dalam hidup, wajar kalau kita (seperti pemazmur, juga mungkin orang lain) perlu bebas dari kejahatan dan juga pemerasan. Karenanya, kita perlu memegang janji dan titah-titah-Nya serta belajar dan melakukan ketetapan-Nya (Maz. 119:133-135).  Dalam kesaksian kitab Raja-raja yang pertama, Allah memenuhi permohonan raja Salomo (sebagai yang takut akan Allah, Ams.1:7a, dan dalam kerendahan hati memohon 1 Raja 2. 3:6-8) akan pengetahuan, hikmat dan pengertian, “... maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, ...” (I Raja2. 3:12ab).   Salomo memohon kebijaksanaan untuk mendasari dan menghadirkan nilai kebenaran, keadilan dan kesejahteraan untuk kehidupan bangsanya dan bangsa lain yang lebih baik. Inilah sebagian pengalaman (dalam PL) yang menyaksikan karya Allah, dimana di dalamnya memuat harta lama, yaitu nilai-nilai surgawi melalui pengalaman hidup raja Salomo.

Dalam bacaan kitab Injil, Tuhan Yesus menggelar berbagai Perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Di dalamnya memuat dan mengajarkan serta menyatakan nilai tentang Kerajaan Allah. Seperti misalnya: mutiara, harta terpendam, sesuatu yang sangat berharga sekali, tetapi tidak mudah ditemukan, perlu pengorbanan dan perjuangan, membuang ketidakbaikan (Mat.13:44-48). Yang lain seperti: biji sesawi, kecil namun ketika tumbuh menghadirkan kenyamanan, ketenangan, pertolongan, keteduhan, kedamaian dan kesejahteraan serta kesukacitaan bagi ciptaan yang lain (Mat. 13:31-33).  Inilah Injil, Kerajaan Allah. Inilah yang Yesus ajarkan dan lakukan pada dan bagi banyak orang, semua manusia. Seperti ragi yang mengkhamirkan seluruh adonan, demikianlah kasih sukacita dan damai sejahtera bagi semua manusia, tidak pilih kasih (Mat.13:33).  Inilah nilai-nilai berharga yang Yesus sampaikan. Nilai tentang Injil dan Kerajaan Sorga. Dan inilah yang dimaksud Harta Baru.(Mat.13:52)

Meski demikian, Yesus tidak bermaksud mengabaikan atau meniadakan nilai-nilai lama (Mat. 5:17a). Oleh karenanya Tuhan Yesus mengatakan,  “... setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal (aslinya= yang menjadi murid) Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya”.   Dengan kata lain, setiap murid Tuhan Yesus (murid Kerajaan Allah) akan menerima dan mengeluarkan (menyatakan/ mewartakan/memberitakan) nilai-nilai Injil, tanda-tanda Kerajaan Allah ( sebagai harta yang baru atau lama) sesuai kebutuhan dan kepentingannya.

Contoh: Pakaian yang sudah robek dan usang itu dikeluarkan dari gudang istana raja untuk mengeluarkan Yeremia dari parigi/sumur (Yer. 38:10-13).  Berikut terkait dengan kehidupan GKJ Jakarta, kita dihadapkan masyarakat yang butuh roti dan ikan atau makanan/ sembako atau ekonomi. Namun juga terkait dengan keberagaman kita dituntut untuk menumbuhkembangkan sikap toleransi dalam perbedaan.

Sudahkah kita menemukan nilai yang berharga itu, sebagai harta (baru atau lama) ? Sejauh mana kita mengeleluarkan harta Kerajaan Allah dengan nilai-nilai baru ataupun lama untuk menjawab kebutuhan?  Mari bertumbuh, ... mari berjuang, ... mari mengeluarkannya. Tuhan memberkati. Amin

 

Pdt. Hosea Sudarna

29 Jul 2017 ,written by nikimaserika
 

Oma Juga Punya “CINTA” (Menjadi Sahabat Bagi Kaum Yang Lemah)

“ Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.  Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu...” (Mat. 11:25-26).

 

Ia seorang wanita, nama inisialnya EU. Wanita berdarah Manado ini usianya sudah diatas 70 tahun. Rekan-rekan relawan atau teman-teman (pengurus salah satu organisasi pelayanan masyarakat di Jakarta, di mana ia terlibat di dalamnya) biasa memanggil Oma. Ia tinggal paling jauh dari antara teman-teman sepelayanan, di Cikarang. Meskipun jarak jauh, kadang sakit gigi dan kaki, tidak melemahkan dan menyurutkan semangatnya untuk melayani. Suatu saat ia mendorong para pemuda yang terlibat dalam satu kegiatan untuk aktif dan semangat dalam wadah perkumpulan tersebut. Lalu salah satu pemuda bertanya, “Oma, ...oma kan sudah lama tinggal di Cikarang, bahkan kadang kakinya bengkak, pernah waktu itu giginya sakit, tapi tetap aktif dan gembira. Apa resepnya oma?” Oma itu langsung menjawab, “Ah, bapak-ibu dan oma-oma yang lain juga...” dan  bertanya , “Apa yang mendorong kamu mendaki gunung atau menyeberangi lautan ketika pacarmu di puncak gunung atau di sebrang lautan?” Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung menjawab, ”Em..., rindu!, Cinta! Mengasihi”. Sambil tersenyum Oma itu menyampaikan, “ Hem ..., Oma juga punya CINTA to, hahaha...”. Sambil menatapkan muka yang ceria dan memasang taplak meja dengan pemuda itu, ia melanjutkan, “ Nah kalau kita sudah sadar, Tuhan sudah kasih kita CINTA, ... Nah, sudah!... Mari kita menCINTAI yang lemah, yang kurang sehat, gizinya buruk; yang kurang paham untuk hidup dalam perbedaan, ber-Bhineka Tunggal Ika, kurang menghargai perbedaan dan lain-lain”.  Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengangkat jempolnya, pemuda itu mengatakan salut, “Oma hebat! ...”.

Percakapan Oma dan pemuda di atas, mengingatkan saya pada semangat beberapa pemuda GKJ Jakarta yang dengan sukacita menemani dan menolong anak-anak SD, SMP/SMA (adik-adiknya) belajar bahasa Inggris dan Matematika. Menjadi sahabat bagi yang lemah. Dua peristiwa di atas saya pikir pengalaman menarik dan baik. Kiranya menjadi inspirasi bagi kita untuk terus berjuang mengembangkan diri dalam menjadi sahabat bagi yang lemah, membangun persekutuan dan persaudaraan yang penuh cinta kasih.  Sebab itulah hidup dibawah Rahmat/ Anugerah-Nya. Hidup sebagai orang percaya karena telah mendapatkan CINTA-Nya, Kasih-Nya. Seperti halnya Paulus, yang ingat saat tubuhnya dalam dosa, dipenjara oleh kuasa maut. Dimana yang ia lakukan bukan yang ia sukai, bukan yang ia inginkan. Yang Ia lakukan justru yang Ia benci. Ia menghendaki yang baik, tapi bukan yang baik yang ia kerjakan (Rm. 7:15-19). Inilah kelemahannya, ia sadar akan dirinya, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

Namun Allah yang mengasihi mereka yang kecil, mau menjadi sahabat pada yang lemah dalam Yesus Kristus Tuhan (Mat. 11:25-27). Dan Yesus Kristus Tuhan berkenan menyatakan hal itu bagi Paulus yang waktu itu lemah, sehingga bebas beroleh selamat dan bersyukur, “ Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Rm. 7:25).

Itu sebabnya Paulus mengajak untuk hidup dibawah rahmat Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan Tuhan Yesus memanggil, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, ... Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”. Memikul salib memberitakan Injil. Memikul salib melakukan tugas/kewajiban menjadi sahabat bagi yang lemah.   Sudahkah? Mari kita teruskan. Tuhan memberkati dan menjanjikan kelegaan. Amin.

Pdt. Hosea Sudarna

08 Jul 2017 ,written by Nikimaserika
 

SETIA BERTAHAN SEBAGAI SAKSI IMAN

Bukan hanya di GKJ Jakarta terjadi situasi yang sulit untuk mencari calon anggota Majelis ketika ada anggota Majelis yang akan mengakhiri masa tugasnya, baik sebagai Penatua maupun sebagai Diaken. Tidak mudah untuk membujuk warga jemaat agar bersedia dicalonkan sebagai anggota Majelis. Memang belum jelas diketahui alasannya mengapa terjadi kesulitan tersebut atau lebih banyak yang menolak daripada yang bersedia untuk dicalonkan. Bahkan ada joke yang mengatakan: “Anggota Majelis yang sudah mengakhiri masa tugasnya akan mengadakan syukuran, sedangkan yang baru diteguhkan akan disyukurin”. Mungkinkah karena tugas menjadi anggota Majelis merupakan tugas yang harus siap mengalami berbagai tekanan? Sebagai anggota Majelis perlu mendengar setiap keluh kesah, persoalan, pergumulan juga kekecewaan bahkan protes dan komplain warga. Situasi seperti ini tidak menutup kemungkinan, anggota Majelis akan berkeluh kesah seperti Yeremia: “Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olok aku.” (Yer. 20:7).

Keluh kesah Yeremia seolah menyatakan bahwa sesungguhnya ia sangat ingin menolak panggilan Tuhan, tetapi ia tidak kuasa untuk menolak bujukan Tuhan. Hingga pada satu titik Yeremia mengeluh, ia menerima bujukan Tuhan, ia bersedia melakukan segala perintah Tuhan dan menyampaikan setiap perkataan Tuhan kepada bangsa Israel. Tetapi apa yang didapatkan oleh Yeremia? Bangsa Israel justru menertawakan, mengolok-olok dan mencemoohnya; ia harus terus berbicara bahkan berteriak untuk menyampaikan perkataan Tuhan. Tetapi bangsa Israel tetap saja menjadi bangsa yang bebal. Keluhan Yeremia seolah ingin menyatakan keinginannya untuk berhenti dari tugasnya karena sudah tidak tahan menghadapi bangsa Israel.

Masa tugas sebagai anggota Majelis adalah 3 tahun dan dapat melakukan tugas selama 2 periode. Ada yang mengatakan “tidak terasa sudah 3 tahun”. Tetapi ada juga yang sebaliknya mengatakan: “lama sekali rasanya 3 tahun dan cukup satu periode saja”. Itu tugas sebagai anggota Majelis. Bagaimana dengan tugas sebagai murid Yesus, apakah ada batasan masa tugasnya atau periodenya? Matius 10:24-39 merupakan rangkaian dari panggilan dan pengutusan Yesus kepada para murid untuk melanjutkan tugas Yesus di dunia. Yesus telah memberi kuasa kepada para murid untuk melakukan tugas tersebut. Tidak sedikit tantangan yang akan kita hadapi ketika melakukan perintah Tuhan. Mungkin kita akan menghadapi orang yang menertawakan, mengolok, mencemooh, menindas bahkan membunuh kita. Apa yang akan kita katakan kepada Tuhan? Mungkin saja kita juga berkeluh kesah seperti Yeremia dan tidak sanggup bertahan untuk terus melakukan tugas. Tetapi Yesus menguatkan kita untuk setia bertahan sebagai saksi iman dengan janji-Nya: “Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Mat. 10:31)

 

Pdt. Neny Suprihartati

24 Jun 2017 ,written by Nikimaserika
 

BERHARGA DALAM PANDANGAN ALLAH

Keluaran 19:2-8a menceritakan keadaan bangsa Israel setelah 3 bulan keluar dari Tanah Mesir, mereka sampai di kaki Gunung Sinai. Tuhan memerintahkan Musa naik ke gunung itu dan menunjukkan karya Tuhan dalam perjalanan yang telah dilalui dan memperlihatkan ke masa depan. Tuhan berfirman: “Jikalau Musa dan Israel sungguh-sungguh mendengarkan Firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian-Nya, maka Israel akan menjadi harta kesayangan Allah dan bangsa yang kudus.”  Firman itu disampaikan oleh Musa kepada tua-tua Israel, dan mereka menyanggupinya.

Peristiwa di Sinai itu menyadarkan bangsa Israel bahwa mereka adalah umat perjanjian dan bangsa pilihan Allah. Alangkah luar biasanya, bahwa di tengah kekayaan Allah, umat Israel menjadi harta kesayangan Allah, bangsa yang dikuduskan Allah. Dikuduskan artinya dikhususkan atau dipisahkan/disendirikan dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel dikuduskan agar hidupnya dipakai oleh Tuhan untuk melayani Allah dan saling melayani antara satu dengan yang lain serta untuk melakukan kehendak Allah di tengah dunia. Bangsa Israel dikuduskan bukan dalam arti diistimewakan karena bangsa yang memiliki kehebatan untuk disombongkan. Dikuduskan atau kekhususan sebagai umat kesayangan Allah tersebut sehubungan dengan tugas mereka, yaitu sebagai bangsa yang: pertama untuk melayani Tuhan, kedua untuk saling melayani, dan ketiga untuk melakukan pelayanan di tengah masyarakat.

Bacaan minggu ini dari Matius 9:35-10:8 merupakan pesan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, tentu juga kepada kita saat ini, agar hidup tetap teguh, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan, tetap setia kepada Tuhan serta hanya bergantung kepada-Nya saja, bukan kepada harta, manusia, jabatan atau kekuasaan. Tugas para murid dan kita juga adalah memberitakan bahwa Kerajaan Sorga, artinya pemerintahan Allah yang penuh kebenaran, keadilan, kasih  dan rahmat sudah dekat. Sebagai murid yang telah dibenarkan dan dikuduskan  hendaknya kita mewujudkan ciri-ciri Kerajaan, yaitu kebenaran, keadilan, kasih dan damai sejahtera. Kita telah diberi kuasa untuk menyembuhkan  yang sakit, membangkitkan yang mati, mentahirkan yang najis dan mengusir setan atau kuasa kegelapan, membagi damai sejahtera Tuhan bagi yang sedia menerimanya. Pemberian kuasa itu diberikan kepada orang pilihan yang dikuduskan bukan karena keistimewaan memiliki kelebihan, melainkan karena tugas yang harus dijalankan.

Allah menjadikan kita sebagai bangsa pilihan untuk menjalankan tugas yang telah dikuasakan kepada kita. Semua itu bukan karena kehebatan dan kemegahan kita, sehingga jangan menjadi sombong. Allah menjadikan kita sebagai bangsa pilihan karena kita berharga dalam pandangan Allah. Tugas kita adalah memelihara kepercayaan yang telah Allah berikan kepada kita, yaitu dengan melakukan tugas yang telah dibertikan kepada kita. Dengan demikian kita akan tetap berharga dalam pandangan Allah. Amin.

 

Pdt. Neny Suprihartati

17 Jun 2017 ,written by Nikimaserika
 

HARI RAYA TRI TUNGGAL MAHA KUDUS

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20a). Tidak jarang ayat ini disebut Amanat Agung, yaitu perintah terakhir dari Tuhan Yesus kepada para murid dan kepada kita semua yang juga adalah murid-Nya. Namun perintah tersebut dipahami tidak secara utuh, sehingga yang menjadi penting adalah berusaha untuk dapat membuat semua orang menjadi murid Yesus dan dibaptiskan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Padahal yang tidak kalah penting adalah justru kalimat selanjutnya, yaitu: “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Apa yang Yesus perintahkan kepada kita? Ia memerintahkan kepada kita untuk melakukan apa yang telah Ia lakukan, yaitu menghadirkan damai sejahtera.

Minggu, ini adalah Minggu Trinitas atau Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus. Kita diajak untuk mengimani peran Allah sebagai Pencipta, Penyelamat dan Penghibur atau Penolong. Semua peran Allah tersebut untuk menghadirkan damai sejahtera. Ketika bumi dan segala isinya belum diciptakan, Alkitab menuliskan bahwa pada mulanya keadaanya adalah kacau balau, tetapi Roh Allah melayang layang di atasnya, artinya mengatasi, menguasai alam semesta yang kacau balau menjadi baik. Allah menciptakan manusia menurut gambar Allah agar manusia juga dapat mengelola bumi sehingga mendatangkan damai sejahtera.

Kehidupan sebagai pengikut Kristus tidak dengan sendirinya hidup dalam damai sejahtera, sebab damai sejahtera harus kita hadirkan. Jemaat Korintus, sebagai jemaat pengikut Kristus, sedang mengalami kehidupan yang kacau balau. Mereka adalah jemaat yang kaya dengan berbagai karunia, tetapi kekayaan itu justru menjadi sebab mereka saling meninggikan diri dan merendahkan yang lain. Akibatnya Jemaat selalu dalam ketegangan, bahkan konflik antar kelompok. Untuk itulah Paulus menasehati mereka agar hidup sehati sepikir dan dalam damai sejahtera. Mereka harus bersedia saling memberi salam antara satu dengan yang lain. Mereka dapat sehati sepikir jikalau tiap-tiap orang menjadikan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Sehingga pikiran Kiristus menjadi pikirannya dan hati Kristus menjadi hatinya.

Trinitas atau Allah Tritunggal, yang berarti Allah kita satu dengan tiga peran sebagai Pencipta, Penyelamat dan Penolong, memperlihatkan kepada kita bahwa Allah memulai pekerjaan-Nya dengan penciptaan; tetapi tidak berhenti dengan membiarkan ciptaan-Nya karena sudah selesai menciptakan, melainkan terus melakukan pekerjaan dengan menyelamatkan ciptaan-Nya, ketika terjadi keadaan yang kacau balau. Bahkan Ia adalah Allah yang terus bekerja hingga saat ini sesuai dengan perkataan-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kini tugas kita adalah “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Bagaimana kita dapat mengajarkan setiap yang orang yang telah dibaptis untuk mendatangkan damai sejahtera? Mulailah dari kita sendiri. Sudahkah saya melakukan apa yang Yesus ajarkan, yaitu mendatangkan keadaan yang damai sejahtera dan bukan sebaliknya keadaan yang kacau balau. Amin

 

Pdt. Neny Suprihartati

10 Jun 2017 ,written by Nikimaserika
 


Page 5 of 33