• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Renungan

Politik Pencitraan (Renungan Minggu, 6 Februari 2011)

Politik Pencitraan


Dalam bukunya, Inspirasi Sabda Masa Biasa Tahun ABC,  Bernard Raho, SVD, mengisahkan tentang seorang hakim yang terkenal karena kejujurannya.  Ia senantiasa menolak sogokan dari orang-orang yang ingin dimenangkan perkaranya. Suatu hari, ia dituduh dengan berbagai macam hal yang tidak pernah dilakukannya. Namun, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan segala tuduhan itu.
Karena itu, orang pun bertanya kepadanya, ”Mengapa Anda tidak membalas tuduhan-tuduhan itu?” Sang Hakim menjawab, ”Di kampung saya hiduplah seorang janda dengan seekor anjingnya. Setiap kali melihat bulan memancarkan sinarnya, anjing itu keluar rumah dan mulai menggonggong.” Kemudian, ia mengalihkan pembicaraannya kepada hal-hal lain.
Merasa tak puas dengan jawaban Sang Hakim, orang itu bertanya lagi, ”Bagaimana dengan anjing dan bulan itu?” Dengan tenang hakim itu menjawab, ”Oh… bulan itu tetap bersinar, sekalipun anjing itu menggonggong sepanjang malam.”
Pesannya jelas, Bulan tetap bersinar sekalipun ada yang tidak suka dengan terang yang dipancarkannya. Sang Hakim dalam cerita tadi tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia ingin tetap bercahaya sekalipun ada orang yang tidak menyukainya.
Nah, persoalan umat Israel di masa Yesaya ialah bersinar saja tidak! Allah berfirman: ”Mereka menyembah Aku setiap hari, dan ingin mengetahui kehendak-Ku, seolah-olah mereka melakukan yang baik, dan setia kepada hukum-Ku. Mereka berkata bahwa mereka senang menyembah Aku dan menginginkan hukum-Ku yang adil." (Yes. 58:2, BIMK).
Mereka melakukan apa yang sekarang dikenal di negeri kita sebagai politik pencitraan. Kemasannya bagus dan tampak kudus; namun isinya buruk dan pasti tidak kudus. Aneh bukan, di hadapan Allah, Sang Mahatahu, mereka politik pencitraan?


Yoel M. Indrasmoro


05 Feb 2011 ,written by Nikimaserika
 

Menggenapi Kehendak Allah (Renungan Minggu, 23 Januari 2011)

Menggenapi Kehendak Allah


”Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.” (Mat. 4:12). Kalimatnya sederhana. Tanpa bantuan buku tafsir pun, kita bisa paham bahwa Yesus menyingkir setelah penangkapan Yohanes Pembaptis.
Mengapa Yesus menyingkir? Takutkah Dia? Atau, tindakan itu merupakan strategi—mengalah untuk menang?
Sejatinya, alasan penyingkiran itu dijabarkan penulis dalam narasinya: ”Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya…” (Mat. 4:13-14).
Penulis tidak mengemukakan soal ketakutan atau kebijaksanaan Yesus. Lebih dari itu, yang hendak ditekankannya ialah keinginan Yesus untuk menggenapi Firman Allah. Penulis tidak menyoroti perasaan Yesus maupun pola pikir Yesus, tetapi menyatakan bahwa semua itu dilakukan demi menggenapi Firman Allah dalam hidup-Nya.
Sebagai Kristen, kita perlu meneladani Sang Guru. Dalam mengambil keputusan, janganlah kita hanya memakai perasaan saja atau akal budi saja. Yang perlu dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ialah Firman Allah. Dengan kata lain: Apakah yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan dalam hidup?
Jangan hanya bertumpu pada perasaan! Sebab perasaan sering berubah; kadang tergantung cuaca. Misalnya, saat cuaca cerah hati kita ikut cerah, tetapi saat mendung hati kita pun turut muram.
Jangan pula hanya bertumpu pada logika. Logika punya keterbatasan sendiri. Dan sungguh berbahaya jika akal budi malah membuat kita merasa lebih hebat dari Allah.
Yang sungguh penting ialah apakah kehendak Allah dalam persoalan yang kita hadapi. Itu pulalah yang ditekankan pemazmur. Dia selalu berupaya untuk mencari wajah Allah dalam hidup-Nya (Mzm. 27:8). Mencari wajah Allah berarti mencari perkenanan Allah. Itu berarti menjadikan kehendak Allah sebagai yang utama dalam hidup. 

Yoel M. Indrasmoro

 

22 Jan 2011 ,written by Nikimaserika
 

Sejarah Agama Kristen


SEJARAH  AGAMA  KRISTEN

oleh : Pdt. Neny S. Rambitan,M.Th.



Sejarah Umum

Mengenai kapan mulai muncul agama Kristen mulai, ada beberapa pendapat yang berbeda: Pertama, mengatakan bahwa agama Kristen dimulai pada saat peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus), karena pada peristiwa tersebut Tuhan memberikan Roh-Nya kepada Para Rasul atau orang percaya lainnya, yang memberi kekuatan dan kemampuan kepada mereka untuk mengabarkan Injil. Kedua, menunjuk kepada penyebutan terhadap pengikut Kristus sebagai orang-orang Kristen di Antiokia (Kis. 15:7-21). Ketiga, ada yang menunjuk awal agama Kristen pada peristiwa Paskah/Kebangkitan Yesus, karena anggapan bahwa kebangkitan Yesus itu menjadi titik awal dari iman Kristen dan penyebarannya. Namun demikian, karena sumber pengajaran atau tokoh yang mengajarkan agama Kristen /Injil adalah Yesus Kristus, maka tentu awal sejarah agama Kristen dapat kita tunjuk pada waktu ketika Yesus masih hidup dan berkarya, atau bahkan dapat ditunjuk pada saat kelahiran Yesus. Dengan kata lain, sejarah agama Kristen sudah dimulai sejak Yesus ada di dunia
dan melakukan karya penyelamatan-Nya.

Yesus: Riwayat Hidup dan Karyanya




Gambar.1

Di dalam masa pelayanan Yesus, kita tahu bahwa Yesus merupakan Allah yang menjadi manusia dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia. Dengan tugas ini maka Yesus mulai mengajarkan kabar suka cita atau keselamatan itu, melalui khotbah-khotbah-Nya, juga melakui mujizat-mujizat dan melalui pemanggilan para murid atau pemuridan. Ketika Yesus berkarya kemudian dilanjutkan oleh murid-murid-Nya, sudah banyak orang yang menjadi pengikut Kristus. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagaimana yang dilakukan dalam agama Kristen, yaitu bersekutu (koinonia), memberitakan firman (marturia), melayani orang-orang (diakonia).


Keadaan dan Perkembangan Awal Umat Kristen


Gambar.2


Kehidupan umat Kristen pada abad ke-1 – ke-2, melanjutkan cara ketika bersama Yesus, yaitu mereka berkumpul lalu membicarakan firman Tuhan, menyampaikan puji-pujian dan makan bersama. Ibadah atau persekutuan ini, umumnya dilakukan di rumah-rumah atau di tempat-tempat yang tersembunyi, khususnya di ruang bawah tanah (goa), ketika terjadi penganiayaan atau penindasan terhadap orang Kristen (Kis 16:10; Rom 16:5, 15; 1 Kor 16:19). Belum ada gedung gereja. Gedung gereja pertama yang dipakai orang-orang Kristen baru berdiri di Edessa, di Syria tahun 200M. Pada awal sejarah gereja, umat Kristen yang ada terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa. Namun yang paling menonjol dan berperan utama adalah orang-orang Kristen Yahudi. Mereka terutama tinggal di Yerusalem. Karena mereka berlatar belakang Yahudi,
maka mereka masih beribadah di Bait Allah dan Synagoge, serta masih mempraktekkan ajaran Hukum Taurat secara ketat (Kis 2:46; 3:1). Mereka tidak bergaul dengan masyakarat non Yahudi atau yang disebut kafir (Kis 10). Pada masa awal itu di Yerusalem, orang-orang Kristen mengalami penghambatan, seperti difitnah, dianiaya bahkan dibunuh. Karena hal ini, mereka lalu melarikan diri dari Yerusalem dan pindah ke Samaria di bagian Utara daerah Palestina/Israel. Di sana mereka menyebarkan Injil dan banyak orang yang termasuk kafir kemudian menerima Injil (Kis 8:19-30; 10). Dengan demikian sudah terjadi penyebaran Injil ke luar daerah. Tersebarnya Injil di luar Yerusalem dan terhadap orang-orang bukan Yahudi menyebabkan masalah dalam lingkungan umat Kristen. Masalahnya adalah orang-orang Kristen Yahudi itu hendak memaksakan pelaksanaan Hukum Taurat atau tradisi Yahudi kepada orang-orang Kristen baru dari bangsa lain. Juga dalam hal-hal tertentu, mereka tidak mau bergaul dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi, misalnya di Anthiokia, Petrus tidak mau bersama dengan orang-orang Kristen itu (Kis 15:1-2, 7-21, Gal 2:11-14). Tetapi ketika di Yerusalem, Petrus
bersedia masuk ke rumah Kornelius yang bukan Yahudi. Di pihak lain, yaitu Paulus mengajarkan bahwa kita dapat bergaul dengan sesame orang Kristen yang bukan Yahudi karena mereka adalah saudara-saudara seiman. Mereka juga tidak harus mengikuti aturan atau adat Yahudi atau Taurat dan mereka dapat diselamatkan (Gal 5:6). Persoalan ini diselesaikan melalui sidang para pemimpin gereja sekitar tahun 48, jadi 18 tahun setelah Pentakosta (Kis 15). Di sini Paulus berhasil meyakinkan orang-orang Krsiten Yahudi bahwa orang-orang Kristen bukan Yahudi tidak harus melakukan Hukum Taurat untuk diselamatkan (Kis 15). Dalam perkembangan kemudian, Injil tersebar secara luas dan pada tahun 175 sudah banyak daerah yang menjadi Kristen termasuk bagian Eropa Barat, yaitu sebagian Perancis dan Roma dan sebagian daerah Asia
Kecil (Kis 18:24-25; Rom 16:20-24). Pusat pekabaran Injil adalah kota Anthiokia (bagian Samaria) (Kis 11:20). Tokoh utama dalam penyebaran Injil ini adalah Rasul Paulus. Di bagian Timur, yaitu daerah Syria dan Persia, penyebaran agama Kristen dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi. Pada tahun 179 Raja Edessa, salah satu kerajaan di daerah Timur itu masuk Kristen. Agama Kristen manjadi agama Negara dan kerajaan Edessa menjadi kerajaan Kristen yang pertama. (End, 24). Penyebaran Kristen juga mengarah ke Selatan, yaitu ke Mesir dan ke Arabia, khususnya Yaman. Pada tahun 150 sudah ada banyak orang Kristen di daerah tersebut. Pada tahun 180M, agama Kristen sudah tersebar di banyak tempat dengan daerah yang luas, yaitu di Eropa bagian Selatan, Perancis dan Itali sekarang, Arabia Selatan dan Persia. (End, 25)

Pergumulan Teologis


Di abad-abad pertama perkembangannya, agama Kristen mengalami pergumulan tentang pokok ajarannya, khususnya mengenai Yesus; siapakah Dia sebenarnya; apakah Tuhan atau manusia; Anak Allah atau anak manusia. Jadi persoalan ini menyangkut Kristologi. Bersamaan dengan masalah Kristologi ini, muncul juga masalah hubungan antara Allah, Yesus dan Roh Kudus, yang kemudian dikenal dengan masalah Trinitas. Soal-soal ini kemudian diselesaikan oleh umat atau pemimpin-pemimpin Kristen melalui perumusan pokok-pokok ajaran atau pengakuan iman, seperti Pengakuan Iman Rasuli (sekitar abad 2 M) dan melalui sidang-sidang atau konsili, seperti Konsili Nicea (325M) dan Konstantinopel (381M), yang menghasilkan rumusan pengakuan iman, yaitu Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel.

Penghambatan dan Penganiayaan


Sementara bergumul dengan masalah ajaran seperti tersebut di atas, orang Kristen mengalami penghambatan atau penganiayaan, baik dari rakyat maupun pemerintah. Penghambatan terutama terjadi karena orang-orang Kristen
memiliki kehidupan yang berbeda dengan masyarakat. Mereka menjadi eksklusif dengan tidak mengikuti kebiasaan masyarakat.  Misalnya mereka tidak mau menonton pertandingan antara binatang buas dengan manusia; tidak mau menonton drama-drama yang menunjukkan ketidak-sopanan; tidak masuk dan memberikan persembahan kepada dewa-dewa di kuil; dan tidak mengikuti upacara kenegaraan dan tidak menyembah dewa-dewa atau kaisar yang disembah oleh masyarakat. (End, 53). Karena itu, orang Krsiten dicurigai dan difitnah sebagai pelaku ajaan sesat. Misalnya mereka difitnah melakukan pembunuhan anak-anak kecil untuk dikorbankan kepada dewa mereka (karena ada ajaran tentang pengorbanan Anak manusia atau Anak Domba Allah, yaitu dalam diri Yesus); juga mereka difitnah membunuh manusia dan dagingnya dimakan dan darahnya diminum bersama dalam perjamuan (karena ada ajaran tentang makan roti dan minum anggur sebagai symbol tubuh dan darah Yesus yang dikorbankan untuk menebus dosa); juga mereka difitnah akan
memberontak di bawah pimpinan seorang raja yang akan datang dan menciptakan kerajaan baru (karena ada ajarang
tentang Yesus yang datang sebagai Raja dan membawa Kerajaan yang baru, yaitu Kerajaan Sorga). Dengan tuduhan dan fitnah itu, banyak orang Kristen dianiaya dan dibunuh, baik oleh rakyat maupun oleh pemerintah. (End…)
Kaisar pertama yang terkenal menganiaya umat Kristen adalah Kaisar Nero, yang pada tahun 64 menuduh orang-orang Krsiten yang membakar kota Roma, kemudian menganiaya orang-orang Kristen. Padahal dia sendiri yang membakar
kota itu. Diduga bahwa Rasul Petrus dibunuh pada masa penganiayaan ini. Tokoh-tokoh Kristen lain yang dibunuh pada masa penganiayan ini adalah Ignatius (Uskup Anthiokia di Syria), Policarpus (Uskup Smirna di Asia Kecil) dan Blandina (budak dari kota Lyon di Perancis). Penindasan yang dialami orang-orang Kristen, tidak membuat mereka meinggalkan agama Kristen. Bahkan penindasan itu membuat banyak orang bukan Kristen bersimpati dan kemudian menjadi Kristen. Dengan demikian umat Kristen semakin bertambah banyak. Pada akhir abad ke-2, umat Kristen mulai diberi kebebasan (End, 55). Mulai pada awal abad ke-3, penyebaran agama Kristen semakin luas melingkupi seluruh wilayah Romawi, Persia bahkan sebagian India. Namun penghambatan dimulai lagi secara intensif, yang dilakaukan oleh penguasa, yaitu Kaisar Desius (250 ) dan Kaisar Diocletianus (th 300). Di jaman Kaisar Desius, orang Kristen dihambat karena  mereka tidak mau mempersembahkan korban kepada para dewa, yang disembah oleh kaisar. Di sini mereka dituduh sebagai penghianat karena tidak mengikuti perintah kaisar. Setelah penghambatan kaisar Desius ini, umat Kristen mengalami perkembangan yang baik. Mereka diberikan kesempatan untuk menyebarkan agama Kristen dan di dalam perintahan ada menduduki jabatan-jabatan penting. Namun, di masa Kaisar Diocletianus, penganiayaan terhadap orang Kristen berlangsung lagi bahkan semakin dahsyat. Orang-orang Kristen dipecat dari pekerjaan dan jabatan mereka, gedung-gedung gereja dibakar, uskup-uskup dibunuh. Perubahan besar terjadi bagi umat Kristen ketika Kaisar Konstantinus Agung memerintah. Dia berpikir bahwa menganiaya orang Kristen bukan hal yanag baik bagi Negara. Justru ajaran tentang persaudaraan dan persatuan dalam agama Kristen penting bagi kesatuan dan kekuatan Negara. Oleh karena itu, ia bersimpati dan melindungi orang Kristen. Ia mengeluarkan keputusan Milano (th313), yang berisi: pertama, gereja diberikan kebebasan penuh untuk beraktivitas; kedua, milik gereja yang dirampas nergara dikembalikan, bahkan pemerintah memberikan fasiltas untuk membangun gedung-gedung gereja yang dirusak; hari Minggu dijadikan sebagai hari ibadah resmi. Kaisar ini kemudian masuk Kristen. Setelah itu agama Kristen menjadi agama Negara, khususnya ketika Kaisar Thoedosius (th 380) memerintah. Karena fasilitas ini, maka gereja menjadi sangat kaya dan semakin berkembang pesat dari segi jumlah dan daerah penyebarannya. Pada abad ke-5, penyebaran Kekristenan sudah meliputi daerah Asia Kecil, Eropa Barat, Palestina dan sekitarnya, Afrika Utara, termasuk Arabia Selatan, Persia dan sebagian India. 


Gambar.3


Pemisahan antara Gereja Timur dan Barat


Setelah perkembangan yang pesat itu, gereja menjadi lembaga yang resmi dan kuat, muncullah masalah-masalah menyangkut organisasi kepemimpinan dan ajaran. Karena hal itu,  maka terjadilah pemisahan antara gereja-gereja di Timur dan di Barat. Terjadilah yang disebut Gereja Orthodoks Timur, yang berpusat di Konstantinopel/Turki sekarang dan Gereja Katolik Roma, yang berpusat di Roma. Pemisahan ini terjadi sekitar tahun 600-an dan secara resmi dan nyata pada tahun 1200. Perbedaan antara kedua gereja itu adalah: Gereja Orthodoks Timur masih berpegang pada system Episkopal, yaitu kepemimpinan para uskup, dengan pemimpin (dalam fungsi koordinasi). Pada saat itu pemimpinnya adalah uskup atau Patriakh Konstantinopel. Posisi uskup ini hanya sebagai posisi kehormatan, dan tidak memiliki kekuasaan yang menentukan. Sedangkan Gereja Katolik Roma, kekuasaan tertinggi ada pada Sri Paus di Roma, yang memiliki kekuasaan yang menentukan di dalam kehidupan gereja dan Paus menjadi atasan bagi para uskup lain. Mengenai ajaran, GOT menekankan kehidupan yang kekal atau tentang kefanaan dan ketidak-fanaan. Sedangkan GKR menekankan bagaimana manusia menjadi benar atau soal dosa dan rahmat. Dalam kehidupan bermasyarakat, GOT menekankan sikap kasih dan kerendahan hati. sedangkan GKR menekankan tindakan/perbuatan. (End, 81-82).
Perkembangan GOT meluas dari daerah Asia Kecil ke arah Eropa Timur, yaitu sebagian wilayah Rusia. Namun, mulai abad ke-7, GOT mulai menghadapi penghambatan dan bahkan akhirnya harus tunduk di bawah kekuasaan Islam. Daerah-daerah yang dulunya memiliki jumlah orang Kristen yang banyak/mayoritas, lalu dikuasai deleh Islam dan bahkan menjadi daerah Islam. Itu terjadi di daerah Asia Kecil (Turkey sekarang) dan daerah-daerah Balkan (atau daerah bagian selatan bekas Uni Sovyet, seperti Khazakstan, Uzbekistan, dsb), serta sebagian daerah-daerah Eropah Timur. Sekarang ini, yang termasuk GOT adalah Gereja Orthodoks Yunani, Syria, dan Rusia. 
Di pihak lain, Gereja Katholik Roma berkembang pesat ke daerah Eropah Barat, seperti Italia, Spanyol, Portugis, Prancis,
Jerman, Belanda, Belgia, Inggris, dan negara-negara di Eropah Utara, yaitu Swedia, Denmark dan Finlandia. Sejak  abad ke-7 sampai abad ke-16, atau disebut sebagai abad pertengahan, Gereja Katholik Roma berkembang dengan sangat pesat. Agama Kristen menjadi agama resmi dan kekuasaan para uskup, khususnya Paus, di Roma menjadi sangat menentukan. Bahkan raja-raja pun tunduk pada kekuasaan Paus. Agama Kristen menjadi suatu lembaga yang sangat kuat, yang dengan kekuatan dan kekuasaan itu dapat memaksa rakyat untuk melaksanakan ajaran dan praktek yang diterapkan gereja, dan bahkan juga dapat memerintahkan raja-raja untuk mendukung dan melaksanakan kebijakan gereja.    


Muncullnya Gereja Protestan


Sejak perkembangannya GKR menjadi sangat kuat di Eropa. Paus memiliki kekuasaan yang luar biasa. Ajaran-ajaran gereja
dimutlakkan, termasuk ajaran tentang api penyucian dan penghapusan siksa. Ajaran tentang api penyucian adalah bahwa setelah orang mati dan sebelum orang masuk pengadilan Tuhan, ia harus melalui api penyucian. Jika ia berdosa maka ia akan terbakar, tetapi jika tidak maka dapat melewati api penyucian tersebut. GKR kemudian mengajarkan bahwa supaya dapat selamat dari api penyucian orang harus bertobat dan menyucikan diri. Buktinya adalah harus memiliki surat penghapusan siksa. Di dalam praktek, surat ini diperjual-belikan. Martin Luther sebagai seorang biarawan dan guru besar di univ. Wittenberg, bidang Kitab Suci, melihat hal ini sebagai sesuatu yang tidak benar. Untuk itu, pada tgl 31 Oktober 1517, ia menerbitkan 95 dalil, dalam bahasa Latin, yang menentang ajaran GKR yang tidak benar itu. Dia menempelkan 95 dalil tersebut di pintu gerbang gereja di Wittenberg, kemudian diterjemahkan oleh murid-muridnya dalam bahasa Jerman. Banyak orang membaca dalil tersebut dan menyetujui pendapat Luther. Hal ini menimbulkan protes terhadap GKR. Protes ini menjadi gerakan umum melawan GKR dan disebut sebagai gerakan Protestan. Gerakan ini menghasilkan bermunculannya gereja-gereja Protestan. Sedangkan Gereja Anglikan muncul di Inggris karena Raja Inggris tidak menginginkan kewibawaanya sebagai raja harus ditundukkan oleh kekuasaan Paus sebagai pemimpin agama Katolik.


Penyebaran Kekristenan

Dari Eropa, GKR menyebar ke berbagai tempat: Amerika Latin, Afrika, Inda dan Asia, khususnya sampai ke Indonesia. Demikian juga dengan gereja Protestan, disebarkan ke Amerika Utara, Afrika, Asia dan khusus Indonesia.


Gambar.4

Sejarah Kristen di Indonesia


Di Indonesia, GKR dibawa pertama oleh Portugis dan Spanyol, sedangkan Gereja Protestan oleh Belanda, Inggris, dan Jerman. Gereja-gereja yang berlatarbelakang Lutheran, seperti HKBP, GKPI, dll dibawa oleh Missionaris dari Jerman. Missionaris dari Inggris dan terutama Belanda menghasilkan gereja-gereja (Calvinis) seperti GPIB, GKI, GKJ, GMIM, Gereja Methodis, dsb. Gereja-gereja yang beraliran Pentakosta atau Kharismatik, datang kemudian ke Indonesia dari penginjil-penginjil atau gereja di Amerika.

18 Jan 2011 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Konsisten (Renungan Minggu, 16 Januari 2011)

Konsisten

 

”Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (Yoh. 1:29). Demikianlah Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada para muridnya. Tentu Yohanes, tidak hanya mengajak para muridnya untuk melihat, tetapi lebih jauh lagi melakukan sesuatu setelah melihat Anak Domba Allah itu. Tampaknya, Yohanes Pembaptis tidak hanya ingin para muridnya melihat, tetapi bertindak setelah kegiatan melihat itu.

Tetapi, tak ada yang dilakukan seorang murid pun. Keesokan harinya, ketika Yohanes bersama dengan dua orang muridnya. Yohanes kembali berseru: ”Lihatlah Anak domba Allah!” Dan kedua orang muridnya melakukan sesuatu.

Jika pada perkenalan pertama, tak ada satu pun yang bergerak. Pada perkenalan kedua ini, Penginjil Yohanes mencatat bahwa dua orang murid itu mengikuti Yesus dari jauh. Setelah menyampaikan maksud mereka, Yesus, Sang Anak Domba Allah, pun berkata, ”Marilah dan kamu akan melihatnya.”

Salah seorang murid itu, Andreas, karena terkesan dengan pribadi Yesus akhirnya membawa Simon, saudaranya, untuk bertemu dengan Yesus. Akhirnya, Simon pun menjadi murid Yesus.

Gereja masa kini perlu belajar dari Yohanes Pembaptis yang tetap konsisten memperkenalkan Yesus kepada para muridnya. Dia tidak bosan-bosannya memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah. Bayangkan, seandainya Yohanes Pembaptis hanya sekali memperkenalkan Yesus kepada para muridnya! Bisa jadi Yesus tidak pernah mendapatkan murid-murid terbaik!

Yoel M. Indrasmoro

15 Jan 2011 ,written by Nikimaserika
 

HAMBA TUHAN (Renungan Minggu, 9 Januari 2011)

HAMBA TUHAN


”Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” (Yes. 42:1). Demikianlah nubuat Yesaya tentang hamba Tuhan. Tentu, hukum yang dimaksud di sini adalah hukum Allah—kehendak Allah. Dan nubuat itu digenapi dalam diri Yesus orang Nazaret.
Menarik disimak, dalam menjalankan hukum Allah tersebut, hamba Tuhan itu tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring, suaranya tak akan terdengar di jalan. Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya, pelita yang kelap-kelip tak akan dipadamkannya. Dengan setia ia akan menyatakan kebenaran, tanpa bimbang atau putus asa, sampai keadilan ditegakkan di bumi. (Yes. 42:2-4, BIMK).
Kerendahan hati merupakan gaya hidupnya. Dia tidak merasa perlu berteriak mengabarkan kebenaran. Kebanyakan orang jika merasa diri benar akan berteriak lebih keras ketimbang orang lain. Sekali lagi, karena merasa diri benar.
Nah, ketimbang berteriak, Petrus bersaksi, Yesus yang menggenapi itu dengan ”berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis….” (Kis. 10:38). Perbuatan lebih dari sejuta kata.
Tak hanya itu, Yesus juga sabar terhadap kelemahan orang lain. Bicara soal kelemahan orang, Petrus merupakan sosok yang sungguh merasakan kesabaran hati Sang Guru. Meski pernah disangkal, Yesus tetap menerima Petrus apa adanya. Dan kesabaran berkait erat dengan kerendahan hati.
Berkait kerendahan hati, Paus Yohanes XXIII, mengajarkan doa yang sungguh baik: ”Yesus, hikmat kebijaksanaan yang hidup, dekatkanlah kepalaku dengan hatiku!”
Secara harfiah, itu berarti sikap tubuh menunduk, bak padi yang makin berisi makin merunduk. Dan di hadapan Tuhan, tak ada yang bisa dilakukan setiap makhluk kecuali merunduk tanpa syarat. Bagaimanapun, Dialah Sang Pencipta.
Karena itulah Daud bermadah: ”Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan” (Mzm. 29:1-2).
Itulah yang diperkenan Allah!

Yoel M. Indrasmoro

12 Jan 2011 ,written by Nikimaserika
 


Page 23 of 29