

.

| Jadwal Kebaktian Hari Minggu | ||
| GEDUNG GKJ JAKARTA | ||
| Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220 |
||
| JAM | KEBAKTIAN | RUANG |
| 06.30 | Kebaktian Anak | R. Anak. Lt. 2 |
| 06.30 | Kebaktian Remaja | R. Rapat-2 Lt. 2 |
| 06.30 | Ibadah Umum Bhs. Ind. | R. Ibadah |
| 09.00 | Ibadah Umum Bhs. Jawa | R. Ibadah |
| 17.00 | Ibadah Umum Bhs. Ind. | R. Ibadah |
Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia
1. Arti Kata “Persembahan”
Persembahan memiliki kata dasar sembah, yang berarti pernyataan hormat (menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia) atau suatu tata gerak penghormatan kepada Allah (menurut Kamus Liturgi Sederhana). Persembahan sendiri memiliki arti: hal, cara atau hasil kerja yang diberikan kepada Tuhan, dewa, raja, atau yang dihormati (menurut KUBI). Persembahan juga memiliki arti: ungkapan niat untuk berkorban (menurut KLS). Dari penjelasan arti kata tersebut maka, secara umum, kata “persembahan” mengandung makna sebuah ungkapan, niat untuk berkorban atau pernyataan hormat kepada Tuhan, raja atau yang dihormati melalui tata gerak, hal, cara atau hasil kerja.
2. Persembahan Dalam Gereja
Dalam lingkungan gereja, kata “persembahan” dipakai sebagai bentuk ungkapan dan pernyataan hormat kepada Allah. Persembahan diwujudkan melalui berbagai cara, sehingga muncul istilah: persembahan pujian, persembahan waktu, persembahan tenaga, persembahan materi/uang, dll. Semua itu adalah cara atau bentuk untuk mengungkapkan atau menyatakan rasa hormat kepada Allah, bukan untuk maksud yang lain, seperti kepuasan diri, menyalurkan bakat, mengisi waktu luang atau mencari pujian bagi diri sendiri.
Persembahan dalam gereja merupakan bentuk ungkapan dan pernyataan hormat umat/manusia kepada Allah. Umat menghormati Allah sebagai Pencipta dan Pemberi kehidupan. Umat menyadari bahwa dapat hidup, bekerja dan sehat hanya karena berkat dan kasih sayang Allah. Kesadaran tersebut membuat umat menghormati Allah, dalam arti mengucap syukur kepada Allah. Untuk itulah Paulus dalam Roma 12:1 mengatakan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Perkataan Paulus mengandung arti bahwa persembahan apa pun yang kita serahkan kepada Allah, itu merupakan ungkapan dan pernyataan hormat kepada Allah. Dengan demikian bukan waktu, tenaga, suara, materi/uang,dll yang sesungguhnya kita persembahkan tetapi tubuh kita melalui semua itu. Semua itu adalah cara atau bentuk penyampaian rasa hormat. Yesus juga berpesan dalam Matius 5:23-24 “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu.” Pesan ini menunjukkan bahwa ketika kita menyampaikan persembahan bukan hanya sesuatu yang hendak kita persembahkan, yang kita bawa tetapi kita membawa diri/tubuh kita, termasuk hati dan pikiran. Jika kita menghormati Allah berarti juga menghormati dan melakukan segala perintah-Nya.
3. Persembahan Bulanan
GKJ Jakarta memberikan kartu persembahan bulanan bagi setiap warga jemaat dewasa. Pertanyaan yang kadang muncul adalah: bagaimana dengan persembahan persepuluhan? Apakah GKJ Jakarta tidak menerapkan persembahan persepuluhan? Apakah persembahan bulanan sama maknanya dengan persembahan persepuluhan? Apakah persembahan bulanan jumlahnya harus 10% dari penghasilan bulanan?
Marilah kita perhatikan Ulangan 14:22-29. berdasarkan bacaan tersebut, yang dimaksud dengan persembahan persepuluhan adalah persembahan hasil panen dan jumlahnya sepersepuluh dari hasil panen tersebut. Hasil persembahan tersebut diperuntukkan khusus bagi bangsa/orang Lewi yang tidak mendapat bagian tanah pusaka sehingga tidak memiliki hasil panen untuk hidup. Selain itu, persembahan persepuluhan juga diperuntukkan bagi anak yatim piatu, orang asing dan para janda (Ul. 26:12).
Jumlah sepersepuluh tampaknya diambil oleh Musa sebagai angka yang sudah biasa dipakai untuk membayar pajak. Untuk itulah tidak mengherankan jika persembahan persepuluhan ini menimbulkan kesan seperti bentuk pajak penghasilan/panen. Perhatikan kata yang dipakai adalah “haruslah engkau benar-benar…” (Ul.14:22). Sekalipun menimbulkan kesan pajak penghasilan tetapi peruntukkannya jelas, yaitu sebagai saluran berkat kepada orang-orang yang tidak memiliki hasil panen, penghasilan lain ataupun orang yang menjadi sumber penghasilan (orangtua atau suami).
Bagaimana dengan persembahan persepuluhan pada masa kini? Jika kita mau menerapkannya, perlu membuat aturan, kesepakatan atau peruntukkan yang jelas. Apakah penerapannya tetap berdasarkan makna persepuluhan sebagaimana tertulis dalam Alkitab? Itu berarti:
- Persembahan tersebut dari hasil panen. Apa hasil panen kita masa kini, apalagi untuk jemaat di perkotaan? Masa kini sumber penghidupan bukan berasal dari hasil panen tetapi dari gaji yang pada umumnya diterima bulanan.
- Persembahan tersebut jumlahnya sepersepuluh. Angka tersebut juga sama dengan angka pembayaran pajak masa kini, maka dapat muncul kesan persembahan seperti pembayaran pajak.
- Persembahan tersebut peruntukkannya jelas, yaitu untuk bangsa/orang Lewi yang tidak mendapat tanah warisan, anak yatim piatu, orang asing dan janda. Masa sekarang ini, siapakah orang Lewi?
Untuk itulah GKJ Jakarta tidak lagi menerapkan persembahan persepuluhan karena konteksnya sudah berbeda dengan masa dulu. Pada umumnya masa kini orang berpenghasilan bukan dari hasil panen tetapi dari gaji dan bulanan maka diterapkanlah persembahan bulanan. Berarti persembahan bulanan bukan pengganti persembahan persepuluhan karena maknanya pun berbeda. Persembahan bulanan adalah suatu bentuk komitmen diri kepada Tuhan, sebagai bentuk ungkapan atau pernyataan hormat dan syukur. Kita bersyukur karena Tuhan memberikan kita pekerjaan yang memberikan penghasilan/gaji, yang memberi penghidupan. Mengenai jumlahnya, tidak ada aturan dari gereja karena maknanya adalah persembahan bukan pajak atau iuran. Persembahan bulanan bukanlah suatu kewajiban yang harus dipenuhi sehingga ada kesan berhutang jika belum membayar atau lega jika sudah melunasi. Persembahan bulanan adalah ungkapan atau pernyataan hormat dan syukur kepada Tuhan yang memelihara hidup kita melalui bentuk yang nyata, yaitu penghasilan bulanan.
Namanya “persembahan bulanan” karena kita mengamini berkat yang Tuhan berikan setiap bulan tersebut. Untuk itu penyampaiannya setiap bulan sebagaimana Tuhan berikan berkat-Nya setiap bulan. Bukan iuran wajib sehingga tidak ada istilah pembayaran dimuka atau pun pembayaran rapelan, sebab ini bukan pembayaran pajak, sebab tidak ada denda bagi yang terlambat atau pun rapelan. Apakah Tuhan memotong berkat-Nya jika kita terlambat membeyar atau merapelnya?
Lalu bagaimana dengan persembahan persepuluhan? Apakah tidak perlu atau tidak boleh? Tentu saja boleh, bagi warga jemaat yang ingin memberikan persembahan persepuluhan, silahkan saja. Tetapi itu berbeda dengan persembahan bulanan. Misalnya, jika ada warga jemaat yang dapat bonus dan ingin memberikan sepersepuluh dari nilai bonus itu, silahkan masukkan dalam amplop dan tuliskan “persembahan persepuluhan” dan masukkan dalam kotak persembahan.
Marilah kita nyatakan ungkapan atau pernyataan hormat dan syukur kita kepada Tuhan melalui “persembahan bulanan” karena Ia memberikan berkat-Nya kepada kita melalui penghasilan setiap bulan. “Hendaklah maisng-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor. 9:7).