• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Khotbah

Hidup Berhiaskan Kekudusan (Kotbah Minggu, 3 Juni 2012)

Hidup Berhiaskan Kekudusan


”Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Perhatikanlah keterangan waktu yang dipakai oleh Yesaya bin Amos: ”dalam tahun matinya raja Uzia”. Catatan waktu ini menjadi bermanfaat jika kita hendak memahami konteks dari panggilan Yesaya ini.
Menurut catatan Israel: ”Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.” (2Taw 26:4-5). Kesimpulan penulis cukup menarik untuk diperhatikan: ”selama ia mencari Tuhan, Allah membuat segala usahanya berhasil.”
Dan memang itulah yang terjadi. Pada akhir hayat Uzia telah menjadi sombong. Penulis mencatat: ”Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan” (2Taw 26:16). Dalam BIMK tertera: ”Setelah Raja Uzia kuat, ia menjadi sombong, dan itu menyebabkan kehancurannya. Ia melanggar perintah TUHAN Allahnya karena memasuki Rumah TUHAN untuk membakar dupa di atas mezbah dupa.”
Kesombongan menyebabkan kehancuran Uzia. Dia melampui batas kewenangan. Dia tidak sekadar ingin menjadi raja, tetapi dia juga merasa  mampu menjadi imam. Ketika Imam Azarnya menegurnya, Uzia semakin marah. Ketika dia marah, kusta pun mulai muncul di dahinya. Dan raja pun akhirnya meninggal karena kusta.
Nama Uzia berarti Tuhan adalah kekuatanku. Dan itulah yang terjadi dalam awal pemerintahannya sebagai raja. Namun, ketika raja tergoda untuk menjalankan tugas imamat—melanggar ketetapan Tuhan—pada titik itulah dia menganggap diri lebih besar dari Tuhan. Dan Tuhan pun menghukumnya.
Kematian Uzia terasa mengenaskan. Kematiannya mengingatkan umat umat Allah betapa pentingnya hidup kudus di hadapan Tuhan. Itu pulalah yang diserukan makhluk surgawi: ” "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes 6:3). Wajarlah jika Yesaya berseru: ”Celakalah aku! aku binasa!” Yesaya menyadari keberadaannya—”Sebab  aku ini seorang yang najis bibir”.
Ungkapan ”najis bibir” bisa berarti dua hal: mengatakan hal yang tak patut atau diam ketika seharusnya mengatakan hal yang seharusnya. Biasanya kita lebih menekankan pada hal pertama dan melupakan hal kedua. Padahal, cara kerja mulut bukanlah otomatis. Semuanya tergantung pada pikiran dan hati kita. Dan Yesaya mengakui bahwa dirinya najis bibir.
Namun, itu tak berlangsung lama. Allah sendirilah yang membersihkan bibir Yesaya. Dan setelah pembersihan itu, tibalah saat pengutusan. Ketika Allah bertanya siapa yang mau menjadi utusan-Nya? Bibir Yesaya yang telah disucikan pun menjawab, ”Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8).
Kisah Yesaya, juga Nikodemus, mengingatkan kita akan pentingnya hidup kudus di hadapan Tuhan. Pemazmur mempunyai istilah unik: ”berhiaskan kekudusan” (Mzm 29:2). Itu berarti hidup kudus bukan sekadar ritual, tetapi berdasarkan hati yang sudah diberihkan oleh Tuhan. Itulah yang dinyatakan Yesus ketika bercakap dengan Nikodemus perihal dilahirkan kembali.
Setiap orang perlu dilahirkan kembali. Bahkan, orang yang tampak saleh pun, seperti halnya Nikodemus, perlu dilahirkan kembali. Bayangkan, apa kurangnya Nikodemus. Dia seorang pemimpin agama. Itu berarti secara aturan dia mau nggak mau harus melakukan apa yang baik, meski sekadar pencitraan. Tetapi, di sini memang persoalannya. Sebab kesalehan semu akan membuat manusia jatuh pada kesombongan pribadi.
Kelahiran kembali berarti dilahirkan oleh Roh Allah. Itulah yang menjadikan mereka sebagai anak-anak Allah. ”Dan anak Allah berarti dipimpin oleh Roh Allah” (Rm 8:14). Sehingga Paulus menekankan: ”Jadi, Saudara-saudara, kita adalah orang berutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm 8:12-13).
Hidup menurut Roh berarti menundukkan diri kita dibawah pimpinan Roh. Perhatikan kembali apa yang dilakukan Uzia! Dia sungguh tampak saleh ketika memasuki Bait Allah. Dia memang orang yang diberkati Tuhan. Tetapi, apa yang dilakukannya sungguh melawan ketetapan Tuhan. Dan dia tidak bersedia ditegur. Persoalan Uzia sejatinya adalah tidak mau ditegur. Orang bisa salah. Hanya persoalannya apakah dia mau ditegur ketika salah dan akhirnya bertobat?
Dan bersedia ditegur merupakan salah satu inti dari pertelaan dalam sakramen baptis. Orang yang dibaptis dewasa atau orang tua yang membaptiskan anak harus bersedia ditegur sebelum sakramen baptis dilaksanakan. Demikian juga para pejabat gerejawi harus bersedia ditegur baik sebelum peneguhan atau penahbisan dilaksanakan.
Mau ditegur merupakan modal dasar dalam hidup bermasyarakat. Bagaimana mungkin kita dapat menegur orang, jika diri kita sendiri tidak mau ditegur? Dan itulah hidup yang dipimpin oleh Roh Allah.
Amin.


Yoel M. Indrasmoro

02 Jun 2012 ,written by Nikimaserika
 

Buah Ketaatan (Kotbah Minggu, 6 Mei 2012)

Buah Ketaatan

”Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” (Kis. 8:30). Demikianlah sapaan Filipus kepada seorang asing yang sedang membaca kitab Yesaya. Orang asing itu bukan sembarang orang. Dia pejabat istana, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia.
Filipus agaknya heran menyaksikan seorang berkebangsaan non-Yahudi asyik membaca Kitab Yesaya. Itu bukan peristiwa biasa. Orang Israel belum tentu membaca Kitab Yesaya. Kalaupun membaca, mungkin secara berjemaah di sinagoge. Tetapi, bagaimana kalau sendirian?
Kenyataan itu kelihatannya membuat Filipus mengagumi orang tersebut. Kekaguman itulah yang membuat dia bertanya: ”Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?”


Kepedulian

Bertanya merupakan tindakan aktif. Pertanyaan itu juga menyiratkan kepedulian Filipus. Mungkin dia penasaran, apakah orang asing itu sungguh-sungguh memahami apa yang dibacanya.
Pada hemat Filipus, sia-sialah pengetahuan tanpa pemahaman. Pengetahuan seperti itu tak akan pernah berakar karena hanya konsumsi otak dan bukan hati. Yang akhirnya tinggal pengetahuan.
Filipus juga yakin, Kitab Yesaya bukan cuma pemuas akal. Sebagai saksi mata kisah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus, Filipus percaya bahwa nubuat Yesaya telah digenapi dalam diri Sang guru. Itu masalah iman. Dan iman berkait erat dengan akal dan budi manusia, yang maujud dalam sikap dan perbuatan.
Filipus tampaknya merasa sayang jika orang asing itu membaca kitab Yesaya sebagai syair indah belaka. Dia ingin orang asing itu menghayati apa yang diketahuinya. Dan akhirnya mempunyai iman.
Mengapa Filipus sampai kepada prinsip semacam ini? Di suatu masa, Filipus pernah ditemui orang-orang Yunani yang ingin bertemu dengan Yesus, namun Filipus tidak langsung menyampaikan keinginan mereka kepada Yesus. Kelihatannya, dia ragu apakah Yesus akan senang dan menerima orang-orang Yunani itu? Dalam kebingungan itu, Filipus menceritakan keinginan orang-orang Yunani itu kepada Andreas. Dan Andreaslah yang berinisiatif mempertemukan orang-orang Yunani itu dengan Sang Guru. Dan Yesus ternyata menerima orang-orang Yunani itu dengan tangan terbuka. (Lih. Yoh. 12:20-33).
Tampaknya, Filipus belajar dari pengalaman itu. Dia sadar bahwa pengikut Kristus seharusnya menjadi jembatan antara manusia dan Allah. Itulah yang dikehendaki Sang Guru semasa masih ada di dunia.
Belum lagi dengan kenyataan bahwa Yesus telah mati, bangkit dari kematian, dan naik ke surga. Dan Filipus adalah saksi kematian, kebangkitan, dan Kenaikan Yesus Kristus. Oleh karena itu, dia sungguh-sungguh ingin pejabat asing itu tak hanya mengetahui, tetapi juga memahami, dan akhirnya beriman kepada Yesus. Pada titik ini, sebagai saksi kisah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus, Filipus telah menjadi jembatan antara manusia dan Allah.
Itu jugalah panggilan Kristen. Setiap Kristen berkewajiban menolong orang tak hanya mengetahui, namun mendampinginya untuk lebih memahami, dan akhirnya mampu mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Sehingga pada akhirnya, semakin banyak orang yang sujud menyembah di hadapan Tuhan (Mzm. 22:28).
Tolok ukur pekabaran Injil bukanlah pada jumlah orang yang menjadi Kristen. Hal menjadi atau tidak menjadi Kristen menyangkut dua pribadi: Allah dan orang itu sendiri. Kewajiban utama seorang Kristen ialah mendampingi seseorang dari mengetahui sampai memahami. Titik.

Ketaatan

Caranya? Sebagaimana Filipus, kita perlu peka terhadap kehendak Tuhan. Kepekaan dimulai dari ketaatan.
Lukas mencatat: ”Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: ’Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.’ Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu Filipus bangkit dan berangkat.” (Kis. 8:26-27).
Filipus taat. Kata ”lalu” berarti: langsung, seketika itu juga, atau tidak menunggu waktu lebih lama lagi. Filipus taat, meski dia tahu bahwa jalan itu sunyi.
Banyak orang lebih menyukai jalan yang ramai. Kalau terjadi apa-apa, dia bisa berteriak minta tolong. Biasanya orang menghindari jalan yang sunyi karena takut keselamatannya terancam. Dan Filipus dengan sengaja melewati jalan yang sunyi itu.
Juga ketika Roh berkata, ”Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”; Filipus bergegas ke situ... (lih. Kis. 8:29-30). ”Bergegas ke situ” berarti secepatnya, tidak lamban. Filipus agaknya tak mempersoalkan latar belakang orang asing itu.
Bangsa Yahudi sangat memandang rendah orang tak bersunat. Kala seorang non-Yahudi memeluk agama Yahudi, biasanya dia menyunatkan dirinya. Orang Etiopia itu tak mungkin lagi disunat karena telah dikebiri. Namun, di mata Filipus orang Etiopia itu wajib disapa. Tindakan Filipus ini merupakan penerapan dari dari 1Yoh. 4:21: ”Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”
Gayung bersambut. Orang Etiopia itu mengeluh: ”Bagaimana aku dapat mengerti kalau tidak ada yang membimbing aku?” Dia butuh bimbingan. Dan Filipus memberikannya.

Tinggal di dalam Kristus

Mungkin, kita berkata dalam hati: ”Ah, Filipus enak! Tuhan berbicara langsung dengannya. Lalu, bagaimana dengan kita yang tidak mendengarkan suara Tuhan secara langsung? Bagaimana kita mau taat?”
Sejatinya, butuh kepekaan dalam mendengarkan suara Tuhan. Mungkin kita tak pernah langsung mendengar-Nya. Tuhan bisa berfirman melalui manusia lain, juga alam. Persoalannya: peka atau tidak? Dan satu-satunya syarat untuk peka terhadap kehendak Tuhan, menurut Injil Yohanes, adalah tinggal di dalam Kristus (Yoh. 15:1-8).
Pengalaman manusiawi membuktikan, kita hanya sungguh memahami seseorang jika kita mengenalnya. Bahkan, kita tahu bagaimana perasaan orang itu, apa yang diinginkannya, dari bahasa tubuhnya saja. Pengenalan akan membuat kita peka terhadap keinginannya. Pengenalan terjadi saat kita bergaul akrab dengannya.
Atau, kita bisa merangkai tanya:”Apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan sekarang ini? Mengapa saya berada di sini? Apa maksud Tuhan mengizinkan saya berada pada posisi ini?” Dengan kata lain, kita berupaya menjadikan kehendak Tuhan sebagai yang utama.
Hanya dengan cara begini kita akan berbuah. Artinya: hidup kita berbuah bagi orang lain. Sehingga mereka memahami kasih Kristus. Semuanya itu terjadi jika kita tetap tetap di dalam Kristus. Sebab di luar Dia, kita tak dapat berbuat apa-apa.
Selamat berbuah!

Yoel M. Indrasmoro

01 May 2012 ,written by Nikimaserika
 

Damai Sejahtera bagi Semua (Kotbah 22 April 2012)

Damai Sejahtera bagi Semua


”Damai sejahtera bagi kamu.” (Luk. 24:36b). Demikian sapaan Yesus yang bangkit kepada para murid-Nya. Dalam sapaan itu tampak jelas bahwa damai sejahtera bukanlah berasal dari para murid. Juga bukan timbul dengan sendirinya. Damai sejahtera berasal dari Yesus yang bangkit. Damai sejahtera bukanlah upaya para murid, tetapi pemberian Sang Guru.
Pada waktu itu keadaan para murid memang jauh dari rasa damai. Sang Guru mati. Mereka tak lagi punya harapan. Ketika Sang Guru masih hidup, mereka menjadi saksi bagaimana kehidupan, meski tak terlalu mudah, toh masih bisa diatasi: mulai dari rasa lapar, penyakit, tekanan ahli Taurat dan orang Farisi, hingga angin ribut. Semua teratasi. Tetapi, merekalah saksi bagaimana Sang Guru sekarat di kayu salib, tak mampu berbuat apa-apa!
Hati menjadi makin rusuh kala mendengar bahwa jazad Yesus tak ada di dalam kubur. Mereka tak paham dengan situasi yang terjadi. Dan timbulah rumor bahwa para murid Yesus telah mencuri mayat Yesus. Karena itulah, mereka sembunyi dan mengunci rumah-rumah mereka dari dalam.
Bisa dipahami jika mereka merasa bagai telur di ujung tanduk. Nasib serba tak pasti. Dan dalam ketidakpastian itu, Sang Guru datang dan menyapa, ”Damai sejahtera bagi kamu.”
Yesus memberikan damai sejahtera bagi murid-murid-Nya.  Itu bukanlah sekadar rasa, tetapi sungguh nyata. Itu juga bukan damai semu, namun berdasar logika sederhana. Bagaimanapun, Yesus telah bangkit dari maut. Kalau maut saja bisa dipatahkan Sang Guru, lalu mengapa pula mereka harus merasa gentar dan hidup dalam ketidakpastian?
Dan kebangkitan Yesus bukan halusinasi. Yesus sungguh hidup. Buktinya, Dia meminta ikan dan memakannya di depan mata mereka. (Kis 24:43). Dan kebangkitan Kristus  membuat hidup manusia sungguh berarti.
Bukankah banyak orang merasa tidak damai karena mereka merasakan ketidakpastian hidup? Hidup memang serba tak pasti. Tetapi, ada kepastian: Yesus bersama mereka. Yesus mendatangi mereka. Mereka tidak pernah sendirian karena Yesus hadir.
Lagi pula, Allah sendirilah yang menyatakannya. Yang bicara bukanlah manusia. Jika Allah yang menyatakannya dan memberikannya, lalu apa lagi yang membuat kita merasa resah? Sekali lagi, hidup memang serba tak pasti. Tetapi, yang tidak boleh dilupakan ialah bahwa para murid tidak sendirian.
Kesendirian merupakan persoalan besar manusia masa kini. Kita bisa saja bersama dengan orang lain, tetapi apakah orang itu merasakan kehadiran kita? Bersama, namun tak merasakan hadir. Kebersamaan mensyaratkan  pengakuan akan keberadaan orang lain. Dan modal terbesar pengakuan itu bukanlah pikiran, tetapi hati. Hati yang menerima keberadaan orang lain apa adanya.
Menurut Gabriel Marcel, mengutip Jotje Hanri Karuh, seseorang dikatakan ada apabila kehadirannya dalam sebuah kelompok atau kemunitas (keluarga, gereja, dsb) hanya sebatas fisik tanpa ada kepedulian. Ia ada tetapi dalam hatinya ia tidak mempunyai ikatan emosional dan cinta yang kuat dengan orang-orang di sekitarnya Sedangkan mereka yang disebut hadir adalah mereka yang memberikan hati, tenaga, dan pikirannya untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.
Itulah juga yang dilakukan oleh Yesus orang Nazaret! Dalam Diri-Nya, kita bisa menyaksikan bahwa Allah yang menjadi manusia itu peduli. Allah mengakui keberadaan kita satu per satu, dan menganggap kita anak-anak-Nya.
Dengan tegas penulis Surat Yohanes menyatakan: ”Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.” (I Yoh. 3:1). Dalam Alkitab BIMK dinyatakan: ”Lihatlah betapa Allah mengasihi kita, sehingga kita diakui sebagai anak-anak-Nya.”
Bayangkan, Saudara dan saya diakui sebagai anak-anak-Nya. Kita diakui sebagai anak-anaknya. Dan tak ada Bapa yang tidak menyayangi anaknya bukan? Sehingga kalimat Yesus—”Damai sejahtera bagi kamu.”—bukanlah mengada-ada. Sekali lagi, kita diakui sebagai anak-anak-Nya.
Pertanyaan selanjutnya: apakah yang hendak kita lakukan berkaitan dengan damai sejahtera yang kita terima itu?
Para murid, dalam hal ini Petrus dan Yohanes, berusaha membagikan damai sejahtera mereka kepada seorang yang lumpuh sejak lahirnya (Kis. 3:1-10). Kita tidak tahu sudah berapa lama si lumpuh terbaring di Gerbang Indah Bait Allah.
Tetapi, yang pasti: ada yang tidak indah di Gerbang Indah itu. Ironis: di Gerbang Indah, yang kabarnya nilainya jauh lebih mahal dari gerbang-gerbang yang terbuat dari emas sekalipun, ternyata ada sesuatu yang tidak indah. Orang-orang yang melihat dan mengagumi Gerbang Indah itu, matanya pastilah akan tertumbuk dengan si lumpuh yang teronggok di sana. Si lumpuh yang mungkin tak pernah berkesempatan menikmati keindahan Gerbang indah itu.
Bisa jadi, si lumpuh tidak pernah menikmati keindahan Gerbang Indah itu. Mungkin saja dia selalu bertanya-tanya dalam hati: mengapa dia berada dalam keadaan lumpuh. Bagaimanapun, kelumpuhan itu membuatnya dia amat bergantung kepada sesama. Dia tak dapat pergi ke mana dia mau. Jika ingin ke suatu tempat, dia harus meminta orang lain membawanya ke sana.
Kelumpuhan itu menyebabkannya tak bisa bekerja. Setiap hari ia bergolek dan memandang orang yang hendak beribadah di Bait Allah. Dia berharap sedekah. Ya, itulah yang dilakukannya. Si lumpuh berharap sedekah dari orang yang datang ke Bait Allah.
Hatinya lega, jika ada orang menatap iba, meski tidak memberi uang. Ia senang, jika orang tidak menganggapnya rendah. Tetapi, berapa banyak orang yang bersikap seperti itu? mungkin saja dia sering tersinggung ketika orang memandangnya dengan sorot mata jijik. Tak sedikit yang mencibir dan berkata, tentu dengan perlahan, kelumpuhannya merupakan kutukan Tuhan.
Ada yang tidak indah di Gerbang Indah itu. Entah sudah berapa lama si lumpuh terbaring di situ. Yang pasti, setiap orang yang datang ke Bait Allah akan melihatnya. Ada yang memberi sedekah, ada pula yang melihatnya sebagai sampah, yang merintangi jalan ke Bait Allah.
Jelaslah, di Gerbang Indah itu ada sosok yang tidak merasakan damai sejahtera. Dia tertekan oleh kelumpuhan itu. Petrus dan Yohanes melihatnya. Mereka tidak sekadar melihat, mereka merasa prihatin. Dan mereka ingin mengubah ketidakindahan itu.
Petrus hendak memberikan sesuatu  agar si lumpuh dapat menikmati keindahan Gerbang Indah itu. Sekaligus pula keindahan hidup. Petrus tak punya harta. Tetapi, dia memiliki sesuatu, yang diyakini lebih mahal dari apa pun. Jauh lebih mahal dari Gerbang Indah itu sendiri. Dia memiliki Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati (Kis 3:15-16).
Petrus ingin si lumpuh merasakan damai yang dia rasakan. Petrus ingin si lumpuh juga merasakan bahwa Allah juga mengasihi-Nya dan mengangkatnya juga menjadi anak Allah. Pada titik ini, Petrus tak hanya ada, tetapi sungguh hadir bagi si lumpuh.
Hasilnya: hanya ada keindahan di Gerbang Indah itu. Keindahan itu bukan melulu karena mukjizat terjadi di sana. Itu memang indah. Namun, keindahan sungguh terpancar manakala si lumpuh, yang telah berjalan itu, memuji dan memuliakan Allah.
Ada pujian kepada Allah di sana. Itulah keindahan sejati. Si lumpuh tidak memuji kedua penolongnya. Dia tahu, keduanya bukanlah sumber mukjizat. Mereka hanya alat yang dipakai Tuhan untuk memberikan keindahan dalam hidupnya. Mereka bukan sumber berkat, melainkan saluran berkat.
Allah telah memberi kelegaan kepadanya (Mzm 4:2), jauh melampui dari yang diharapkan. Dia hanya mengharapkan sedekah, namun Allah memberikan kemampuan berjalan. Allah memberikan sesuatu yang jauh lebih baik. Allah tahu keinginan hatinya yang paling dalam. Allah tak sekadar ada, tetapi sungguh hadir bagi dirinya.
Tiada lagi ketidakindahan di Gerbang Indah itu, yang bermula pada sikap dan tindakan Petrus dan Yohanes. Mereka tidak sekadar ada. Mereka hadir. Mereka prihatin. Mereka bertindak. Mereka yakin, damai sejahtera sebagai murid Kristus tak layak dinikmati sendirian. Mereka membagikannya. Itulah kunci keindahan.
Gerbang Indah merupakan simbol dunia. Allah telah menciptakan dunia ini sungguh indah. Tetapi, di sana-sini masih terlihat  ketidakindahan.
Yang tidak indah itu ialah tatkala orang terpaksa mengemis, melacur, menipu, dan mencuri untuk dapat merasakan sepiring nasi panas. Yang tidak indah itu ialah kala manusia dinilai bukan dari pribadinya, namun saat manusia diperhitungkan dari kekayaannya, pendidikannya, jabatannya, sukunya, dan agamanya.
Memang, masih banyak yang tidak indah di dunia yang indah ini. Ketidakindahan itulah yang membuat banyak orang tidak merasakan damai sejahtera!  Dan setiap anak-anak Allah dipanggil untuk bersaksi, tak hanya dengan kata, juga dengan karya, agar semakin banyak orang yang merasakan damai sejahtera dari Tuhan.
Pertanyaannya: maukah kita menjawab panggilan itu? Itu berarti tak sekadar ada, tetapi sungguh hadir bagi orang-orang di sekitar kita?

Yoel M. Indrasmoro

19 Apr 2012 ,written by Nikimaserika
 

Keluarga Melahirkan Pemimpin Sejati

Keluarga Melahirkan Pemimpin Sejati


Apa yang melintas dalam benak Saudara ketika mendengarkan kembali kalimat-kalimat tadi: ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Mat 23:2-3).
Kalimat pertama netral sifatnya, cenderung positif. Bisa jadi, para pendengar merasa kagum dengan kenyataan ini. Bagaimana tidak, Musa adalah tokoh panutan. Dialah pemimpin pertama  bangsa Israel. Dari segi kualitas memang sungguh teruji.

Musa

Pengalaman Musa luas dan mendalam. Dia pernah merasakan suka-duka, naik-turun, dan manis-getirnya kehidupan manusia secara dramatis. Penulis Kitab Keluaran mencatat: 40 tahun dia mengalami masa emas dalam kehidupan istana, 40 tahun berikutnya dia menjadi gembala kambing domba Yitro, dan akhirnya 40 tahun berikutnya menjadi pemimpin bangsa yang baru belajar merdeka.
Musa pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi terkenal dan dihormati banyak orang, serentak dengan itu dia juga pernah berpengalaman menjadi pelarian, buronan, yang dikejar-kejar karena pembunuhan yang dilakukannya.
Musa pernah merasakan nikmatnya didengar banyak orang kala menjadi cucu Firaun. Namun, dia juga pernah merasakan suatu masa di mana hanya ternaklah yang mendengar suaranya. Dia pernah mengalami pendidikan di universitas Mesir, tapi dia juga pernah merasakan kuliah di Universitas Terbuka, yang sungguh-sungguh terbuka, di padang gurun Midian. Musa merasakan pasang-surut kehidupan. Tak cuma kisah sukses, kegagalan pun mendapat tempat dalam diri Musa!
Namun, di tengah kesuksesan kepemimpinannya itu, dia gagal menjadi teladan kala tidak mematuhi perintah Allah. Ketidaktaatannya membuat dia hanya boleh melihat tanah perjanjian dari jauh. Dia tak boleh menginjakkan kaki di sana.
Tetapi, yang menarik, meski tahu bahwa dia tidak boleh menginjakkan kakinya di Kanaan, Musa tetap setia memimpin bangsa Israel hingga akhir. Dia tidak mutung di tengah jalan. Dia tetap menjalankan tugasnya menjadi pemimpin bangsa Israel, sekaligus mempersiapkan Yosua.
Mudah dipahami, mengapa orang Israel begitu menghormatinya. Dia memang teladan kepemimpinan sejati.

Teladan

Sehingga ketika Yesus mengatakan bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi telah menduduki kursi Musa, tentulah para pendengarnya menyadari betapa hebatnya orang-orang tersebut. Guru-guru agama dan orang-orang Farisi itu mendapatkan kekuasaan untuk menafsirkan hukum Musa.
Tetapi, Yesus melanjutkan, ”Sebab itu taati dan turutilah semuanya yang mereka perintahkan. Tetapi jangan melakukan apa yang mereka lakukan, sebab mereka tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan.” (Mat 23:3, BIMK)
Di satu sisi, Yesus mengajak para murid-Nya untuk menuruti dan melakukan apa yang diajarkan, tetapi Yesus melarang para murid-Nya untuk meneladani perbuatan-perbuatan mereka. Alasannya sederhana: mereka tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan.
Dengan kata lain, Yesus menekankan betapa pentingnya satunya kata dan perbuatan. Di mata Yesus, para ahli Taurat dan orang Farisi itu menduduki kursi Musa, namun tak bertindak seperti Musa. ”Mereka menuntut hal-hal yang sulit dan memberi peraturan-peraturan yang berat, tetapi sedikit pun mereka tidak menolong orang menjalankannya. Semua yang mereka lakukan hanyalah untuk dilihat orang saja.” (Mat 23:4-5).
Dan ini pulalah kritikan Allah, melalui Nabi Mikha, kepada para pemimpin Israel: mereka meramalkan yang baik kepada orang yang memberi uang, tetapi memusuhi dan meremehkan orang yang tidak memberi. Motivasi kepemimpinan mereka ialah uang.
Dan kepemimpinan macam begini bertolak belakang dengan gaya kepemimpinan Paulus. Kepada jemaat di Tesalonika, Paulus menulis: ”Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang...” (1Tes 2:11-12).
Mengapa Paulus berani berkata demikian? Pada hemat saya, Paulus adalah pribadi yang siap diaudit, baik oleh Allah maupun manusia. Dengan lugas Paulus berkata, ”Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan bercacatnya kami berlaku di antara kamu.”
Mengapa Paulus berani berkata demikian? Karena memang dia merasa yakin bahwa dia tidak bercacat! Dan Paulus berani menjadikan warga jemaat di Tesalonika, bahkan Allah sendiri, saksi. Bukankah Allah mahatahu?

Keluarga

Sejatinya, Indonesia membutuhkan para pemimpin kayak begini. Pemimpin yang tidak berorientasi uang dan kekuasaan. Melainkan, pemimpin yang berorientasi kepada orang yang dipimpin. Pemimpin yang berupaya agar orang yang dipimpinnya tidak berkata, ”Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang!” (Mzm 43:1-2)
Pemimpin seharusnya memberikan keadilan dan memperjuangkan kebutuhan orang yang dipimpinnya. Kalimat pemazmur tadi memperlihatkan dengan jelas bahwa para pemimpinnya tak lagi memperhatikan kebutuhannya, sehingga dia langsung datang kepada Allah. Padahal, pemimpin adalah hamba Allah!
Pemimpin seperti ini sungguh dapat menjadi jawaban atas persoalan Indonesia. Dan keluarga seharusnya menjadi tempat di mana pemimpin-pemimpin sejati dilahirkan. Keluarga harus menjadi tempat di mana anak-anak boleh belajar menjadi pemimpin. Keluarga harus menolong anak-anak untuk mampu menyatukan antara apa yang diajarkan dan apa yang dilakukan. Dan itulah modal besar seorang pemimpin.

Yoel M. Indrasmoro

01 Nov 2011 ,written by Nikimaserika
 

Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali (Kotbah Minggu, 11 September 2011)

Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali

 


Dalam Bapa Kami, bagaimanakah perasaan Saudara ketika sampai kalimat ”Dan ampunilah kami akan kesalahan kami….” Lega, terhibur, bahagia? Namun, bagaimana perasaan Saudara saat mengucapkan kalimat ”seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”? Jangan-jangan Saudara malah tidak mengucapkannya!
Pengampunan merupakan kebutuhan dasar manusia. Segera setelah memohon makanan, Yesus mengajak para murid memohon pengampunan Allah. Pengampunan merupakan hal utama dalam hidup. Tak cukup meminta rejeki, manusia butuh pengampunan akan kesalahan-kesalahannya—baik kepada Allah maupun sesama. Serentak dengan itu, pengikut Kristus diminta untuk mengampuni orang lain.
Mengampuni memang bukan persoalan gampang. Manusia lebih senang diampuni ketimbang mengampuni. Itu jugalah yang agaknya melatarbelakangi pertanyaan Simon kepada Yesus: ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21-35). Yesus pun menjawab, ”Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
Simon terpana. Bagi dia, angka 7 sudah terlalu banyak. Dan Yesus ternyata menuntut lebih banyak: 70 kali lipat dari yang diajukan Simon. Agar lebih jelas, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan.

Hamba yang jahat

Saya rasa kita sepakat, sikap hamba dalam perumpamaan itu rada kurang ajar dan keterlaluan. Raja pun agaknya tak habis pikir dan bingung dibuatnya. Perhatikan ucapan raja tersebut: Hai hamba yang jahat, seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”
Raja menyebut hambanya itu jahat. Mengapa raja menyebutnya jahat? Bukankah dia tidak melakukan kejahatan apa pun? Bukankah dia hanya menuntut haknya! Benar! Dia memang hanya menuntut haknya! Tetapi, di mata raja hamba itu jahat karena dia tak tahu diri, tak tahu diuntung, dan tak tahu balas budi! Sebab, dia hanya menuntut hak dan lupa bahwa semua kewajibannya terhadap raja telah dihapuskan!
Bayangkan, utang hamba itu kepada raja berjumlah sepuluh ribu talenta. Satu talenta setara dengan 6000 dinar dan satu dinar adalah upah harian pekerja harian kasar pada waktu itu. Jika upah harian pekerja kasar saat ini kita tetapkan Rp 50.000,-, maka utang hamba itu, jika dikonversikan dengan mata uang rupiah, sebesar 10.000 x 6.000 x Rp 50.000,-. Utang hamba itu kepada raja sebesar Rp 3 trilyun. Dan itu dihapuskan begitu saja! Namun demikian, hamba itu tetap menuntut utang temannya sebesar 100 dinar, yakni setara dengan Rp 5 juta. Perbandingannya tidak main-main: 600.000 kali lipat!
Di mata raja penghapusan utang itu bukanlah tanpa konsekuensi. Ada hal yang harus dilakukan hamba itu sebagai ucapan syukur atas penghapusan utangnya. Memang tak ada pesan agar hamba itu mengikuti jejak sang raja, namun di mata raja seharusnya tindakan itu merupakan suatu keniscayaaan. Tindakan yang sudah semestinya, tidak boleh tidak, dan lumrah. Tetapi, pertanyaan besarnya: mengapa hamba itu tidak bertindak demikian? Mengapa orang begitu sulit mengampuni?
Pertama, hamba tersebut tak pernah merasa diampuni! Orang yang tak pernah merasa menerima ampun mustahil bisa member ampun. Sebab, apa yang hendak dia beri jika dia tak pernah punya ampun. Orang yang tak pernah merasa menerima ampun, sekali lagi, mustahil mengampuni.
Kemungkinan besar hamba itu berpikir bahwa raja tidak akan menjadi miskin meski dia tidak membayar utangnya. Sehingga dia melihat tindakan raja itu sebagai hal yang sewajarnya! Penghapusan utang adalah hal yang wajar karena, sekali lagi, raja tidak akan miskin mendadak hanya karena dia tidak membayar utangnya.
Di sini soalnya, hamba itu melihat tindakan raja sebagai hal biasa. Sudah semestinya. Sudah seharusnya. Toh, raja tersebut kaya raya. Sekarang kitalah yang harus bertanya, “Apakah tindakan raja itu wajar saat dia menghapuskan utang hambanya?” Tentu tidak!
Tindakan raja itu tidak biasa, bahkan luar biasa. Mulanya: karena hamba itu tidak mampu melunasi utangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar utangnya; kemudian: karena hamba itu menyembah dia, dan berkata: sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi, maka tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan; dan akhirnya: raja membebaskannya dan menghapuskan utangnya.
Keluarbiasaan tindakan raja itu tampak tatkala raja menelan ludahnya sendiri. Di kerajaan mana pun berlaku paham sabda pandita ratu: perkataan raja harus terjadi. Perintah raja harus dilakukan. Aiblah jika raja sampai menarik ucapannya. Tetapi, yang kita lihat dalam kisah ini, perintah raja bisa ditarik kembali. Mulanya dia berkata: hukum; akhirnya dia berkata: bebas, tanpa syarat apa pun!
Persoalannya, sekali lagi, hamba itu tidak merasa menerima ampun. Dia menganggap tindakan raja itu memang sudah seharusnya begitu. Anggapan inilah yang membuatnya tidak menghargai apa yang telah dilakukan raja atas dirinya! Itulah yang menyebabkannya menuntut piutangnya yang memang tidak kecil juga: Rp 5 juta. Tetapi, apa artinya Rp 5 juta dibandingkan dengan Rp 3 trilyun!
Kedua, orang begitu sulit mengampuni karena mereka beranggapan bahwa utang harus dibayar. Ini prinsip dagang: untung dan rugi. Nggak ada orang yang mau dirugikan. Setidaknya, balik modallah!
Tak beda dengan prinsip Yahudi: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang belum puas jika belum membalas kejahatan orang lain. Bagaimanapun, pada suatu waktu dia pernah merasa sakit hati. Dan dia ingin orang lain, yang menyakiti hatinya, merasakan hal yang sama dengan dirinya. Sebelum itu, dia belum merasa puas. Di sini, yang diusahakan ialah kepuasan batin. Perasaan puas jika orang lain telah merasakan apa yang pernah dirasakannya. Dalam hati yang beginilah balas dendam menjadi prioritas utama.
Dalam dunia ekonomi utang memang harus dibayar. Lalu, bagaimana dengan kesalahan orang lain, yang kadang disengaja dan lebih sering tidak disengaja, terhadap kita? Yesus mengajak kita untuk siap mengampuni kesalahan orang lain itu. Alasannya sederhana: Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu (Mat. 18:35). Dengan kalimat lain, jika kita hendak hitung-hitungan dengan sesama kita, maka Allah pun siap mengadakan perhitungan dengan kita.
Atau, dengan kata lain, Yesus hendak mengajak kita senantiasa membandingkan kesalahan orang lain terhadap kita dengan kesalahan kita terhadap Allah. Mana yang lebih besar? Jika kesalahan kita terhadap Allah ternyata masih tetap lebih besar terhadap Allah ketimbang kesalahan orang lain terhadap kita, maka panggilan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita merupakan hal mutlak! Dalam panggilan untuk mengampuni ini, Yesus mengajak kita untuk tahu diri, tahu diuntung, dan tahu membalas budi.
Ketiga, hamba itu tidak mau menjadi saudara atas orang yang berutang kepadanya. Tindakan raja itu sesungguhnya membuat kedudukan antara raja dan hamba itu menjadi setara. Artinya, tak ada lagi utang di antara mereka. Nah, dengan tindakan hamba itu menjebloskan rekannya ke penjara sesungguhnya dia ingin menjadikan rekannya itu tetap berkedudukan lebih rendah dari dia.
Mengampuni berarti memulihkan hubungan antarmanusia. Mengampuni berarti tidak ada lagi orang yang berutang kepada kita. Mengampuni berarti setaralah kedudukan kita dengan orang tersebut yang pernah berbuat salah kepada kita. Mengampuni berarti mengasihi orang lain. Bukankah ini makna terdalam dari Kerajaan Surga ketika setiap orang mengasihi sesama seperti dia mengasihi dirinya sendiri?
Itu pulalah yang ditampakkan oleh Yusuf anak Yakub. Ketika Yakub meninggal, seluruh saudara Yusuf merasa ketakutan akan kemungkinan terjadinya balas dendam. Mereka mengakui semua tindakan jahat yang telah mereka lakukan. Dan mulailah mereka memohon belas kasihan Yusuf atas nama Yakub melalui perantaraan orang lain. Agaknya, mereka sendiri jeri berhadapan langsung dengan Yusuf.
Yusuf hanya menangis. Mungkin dia menangis karena saudara-saudaranya masih berpikir bahwa dia akan melancarkan balas dendam. Mungkin, juga Yusuf berpikir betapa beban kesalahan masa lampau itu masih melekat dalam diri saudara-saudaranya. Dan Yusuf pun berkata di hadapan saudara-saudaranya, ” Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”
Yusuf tidak membalas dendam karena dia melihat persoalan dari sudut pandang Allah. Dia tahu, tidak ada sesuatupun terjadi atas dirinya tanpa seizin Allah. Dan jika Allah mengizinkan hal yang buruk terjadi, itu semua untuk kebaikan umat-Nya. Yusuf percaya akan hal itu. Dan karena itulah dia mampu mengampuni saudara-saudaranya!
Bagaimana dengan Saudara?
yoel m. indrasmoro

01 Sep 2011 ,written by Nikimaserika
 


Page 2 of 9