• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Khotbah

Menggenapi Kehendak Allah (Kotbah Minggu, 23 Januari 2011)

Menggenapi Kehendak Allah


”Tetapi waktu Yesus mendengar bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.” (Mat. 4:12).
Mari kita fokuskan diri pada kata penghubung ini: ”tetapi”! ”Tetapi” merupakan kata penghubung dalam kalimat untuk menyatakan hal bertentangan atau tidak selaras. Jelas ada perubahan situasi, sehingga penulis merasa perlu menggunakannya.

Alasan Penyingkiran

Kalimatnya sederhana. Tanpa bantuan buku tafsir pun, kita bisa paham bahwa Yesus menyingkir setelah penangkapan Yohanes Pembaptis.
Lalu, mengapa Yesus menyingkir? Takutkah Dia? Mungkin ada yang beranggapan demikian, namun mudah ditangkal. Sebab, Yesus sadar, misi-Nya di dunia memang untuk mati. Dan Sang Guru dari Nazaret itu tidak takut mati.
Di Minggu-minggu Pra-Paska nanti, kita akan menyaksikan bahwa Yesus tak pernah buron. Dengan kesadaran sendiri, Yesus pergi ke Yerusalem untuk menderita, mati, dan bangkit di sana!
Namun, ada pula yang beranggapan bahwa tindakan itu merupakan strategi—mengalah untuk menang. Masak belum bekerja sudah ditangkap! Bodoh bukan? Anggapan ini mengandaikan bahwa Yesus pastilah cukup bijaksana untuk tidak bersikap sok jago. Yesus adalah Pribadi yang tidak mau cari penyakit!
Jika anggapan pertama, lebih melihat sisi kemanusiaan Yesus—meninjaunya dari sudut perasaan; maka anggapan kedua lebih melihat sisi keilahian Yesus—meninjaunya dari sudut akal budi.
Bagaimanakah seharusnya kita melihat Yesus? Sejak awal, Gereja Am mempercayai Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia. Artinya: Dia 100 persen Allah dan 100 persen manusia. Dialah Manusia Sejati sekaligus Allah Sejati! Karena itu, janganlah kita terfokus hanya pada satu ekstrem.

Menggenapi Firman

Sejatinya, alasan penyingkiran itu dijabarkan penulis dalam narasinya: ”Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya…” (Mat. 4:13-14).
Penulis tidak mengemukakan soal ketakutan atau kebijaksanaan Yesus. Lebih dari itu, yang hendak ditekankannya ialah keinginan Yesus untuk menggenapi Firman Allah. Penulis tidak menyoroti perasaan Yesus maupun pola pikir Yesus, tetapi menyatakan bahwa semua itu dilakukan demi menggenapi Firman Allah dalam hidup-Nya.
Sebagai Kristen, kita perlu meneladani Sang Guru. Dalam mengambil keputusan, janganlah kita hanya memakai perasaan saja atau akal budi saja. Yang perlu dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ialah Firman Allah. Dengan kata lain: Apakah yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan dalam hidup?
Jangan hanya bertumpu pada perasaan! Sebab perasaan sering berubah; kadang tergantung cuaca. Misalnya, saat cuaca cerah hati kita ikut cerah, tetapi saat mendung hati kita pun turut muram.
Jangan pula hanya bertumpu pada logika. Logika punya keterbatasan sendiri. Dan sungguh berbahaya jika akal budi malah membuat kita merasa lebih hebat dari Allah. Bagaimanapun, akal budi merupakan anugerah Allah.
Yang sungguh penting ialah apakah kehendak Allah dalam persoalan yang kita hadapi. Itu pulalah yang ditekankan pemazmur. Dia selalu berupaya untuk mencari wajah Allah dalam hidup-Nya (Mzm. 27:8). Mencari wajah Allah berarti mencari perkenanan Allah. Itu berarti menjadikan kehendak Allah sebagai yang utama dalam hidup. 

Berkat di Balik Ketaatan

Menarik disimak, ketika Yesus orang Nazaret itu menyingkir dari Nazaret—untuk mengabarkan Injil; di sekitar danau Galilea Dia bertemu dan memanggil murid-murid-Nya. Itu berarti ada berkat di balik ketaatan.
Sewaktu kita mendahulukan kehendak Allah, maka kita akan menemukan hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, yang secara rasio dapat dipertanggungjawabkan! Di Galilea itu, Yesus mendapatkan murid-murid-Nya.
Yang lebih menarik, para murid pertama itu ternyata juga ingin menjadikan kehendak Allah nyata dalam hidup mereka. Sepertinya mereka siap dengan panggilan Yesus. Matius mencatat, baik Simon dan Andreas maupun Yakobus dan Yohanes sama-sama: ”meninggalkan… mengikuti Dia.” (Mat. 4:20, 22).
Baik Yesus, para murid-Nya, maupun pemazmur berusaha untuk menggenapi kehendak Allah dalam diri. Mereka sadar bahwa Bapa di Surga memiliki kehendak dalam diri mereka. Ketika seseorang berikhtiar mengikuti kehendak Allah, tentulah Allah tak tinggal diam. Dia akan turun tangan merealisasikan kehendak-Nya dalam hidup umat-Nya.

Satunya Kata dan Tindak

Dan kehendak Allah yang utama ialah keselamatan manusia. Itu berarti setiap orang yang telah merasakan penyelamatan Allah itu dipanggil untuk bersaksi agar makin banyak orang merasakannya. Dan kesaksian hanya mungkin efektif dalam persekutuan yang rukun.
Tak heran jika Paulus menyatakan agar warga jemaat di Korintus: ”erat bersatu dan sehati sepikir.” (1Kor 1:10). Sebab, perseteruan jemaat hanya akan melemahkan Injil itu sendiri! Mungkinkah menyatakan pentingnya kasih, jika jemaat tak hidup dalam kasih?
Pekabaran Injil yang dilakukan Yesus sungguh efektif karena kata-kata-Nya tercermin dalam perbuatan. Dalam diri-Nya, Firman sungguh menjadi Daging!
Itu jugalah panggilan kita: satunya kata dan tindak!

Yoel M. Indrasmoro

 

21 Jan 2011 ,written by Nikimaserika
 

Sang Maha Tahu (Kotbah Minggu, 16 Januari 2011)

Sang Maha Tahu

(Yesaya 49:1-7; Mzm 40:1-11; 13-18; 1 Kor 1:1-9; Yoh. 1:29-42)


Dalam tahun gerejawi, Minggu ini merupakan Minggu Epifani ke-2. Epifani berarti penampakan wajah Allah. Dan berkaitan dengan Minggu Epifani kedua ini, saya hendak mengajak kita memerhatikan kata yang sering dipakai—”lihat”!
Salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia ialah kemampuan melihat. Mata merupakan panca indera yang penting. Bersyukurlah karena Allah memberikan kemampuan melihat kepada kita!

Melihat dan Bertindak

Namun, yang perlu kita syukuri ialah tak hanya kemampuan melihat, tetapi Allah juga memberikan kemampuan berefleksi— kemampuan merenung dari apa yang dilihatnya. Dengan kata lain, penglihatan itu tak sekadar berhenti pada kemampuan fisik. Ada kelanjutannya. Manusia yang melihat itu acap berpikir lebih jauh dari apa yang dilihatnya.
Bahasa Indonesia punya kata majemuk ”mata hati” (perasaan yang dalam); ”mata nurani” (hati nurani); rasa hati yang paling dalam. Tak hanya fisik, dari penglihatan yang sifatnya fisik itu manusia sering bergerak lebih jauh. Dia merefleksikan atau merenungkan apa yang dilihatnya.
Persoalannya sering di sini. Manusia kadang tak mampu melihat apa yang dilihatnya. Pada titik ini kita perlu belajar dari para penyandang tuna netra. Mata mereka tidak melihat, namun mereka memunyai mata hati. Dan sering kali mereka mampu melihat apa yang tidak mampu kita lihat.
Berkaitan dengan lihat-melihat ini, perhatikanlah bacaan-bacaan Alkitab hari ini!
Yohanes Pembaptis pertama kali memperkenalkan Yesus kepada para murid-Nya, ”Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (Yoh. 1:29). Tentu Yohanes, tidak hanya mengajak para murid-Nya untuk melihat, tetapi lebih jauh lagi melakukan sesuatu setelah melihat Anak Domba Allah itu. Tampaknya, Yohanes Pembaptis tidak hanya ingin para muridnya melihat, tetapi bertindak setelah kegiatan melihat itu.
Tetapi, tak ada yang dilakukan seorang murid pun. Baru pada keesokan harinya, ketika Yohanes bersama dengan dua orang muridnya. Yohanes kembali berseru: ”Lihatlah Anak domba Allah!” Dan kedua orang itu melakukan sesuatu.
Jika pada perkenalan pertama, tak ada satu pun yang bergerak. Pada perkenalan kedua ini, Penginjil Yohanes mencatat bahwa dua orang murid itu mengikuti Yesus dari jauh. Setelah menyampaikan maksud mereka, Yesus, Sang Anak Domba Allah, pun berkata, ”Marilah dan kamu akan melihatnya.”
Yohanes Pembaptis berkata kepada para muridnya, ”Lihatlah Anak Domba Allah.” Dan Yesus pun berkata kepada dua orang yang mengikutinya dari belakang, ”Marilah dan kamu akan melihatnya.” Perhatikan ada undangan di sini. Mereka diajak untuk melihat Yesus. Jelas di sini pula bahwa Yesus bersikap terbuka. Dia memperlihatkan diri-Nya apa adanya.

Melihat Lebih Dalam

Yesus, Allah yang menjadi manusia, ialah Pribadi yang terbuka. Tak ada yang ditutup-tutupinya. Dia tidak bersikap eksluksif. Dia bersikap terbuka terhadap siapa pun yang ingin mengenalnya. Dan Yohanes mencatat: ”Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.”
Menarik pula untuk diperhatikan, penglihatan fisik tidak berhenti sampai di situ. Dari penglihatan fisik, ternyata mereka melihat lebih dalam. Mereka menyaksikan bahwa Yesus memang pribadi yang terbuka. Dari keterbukaan itulah, mereka yakin bahwa Yesus bukan sembarang Pribadi. Dia adalah Mesias.
Perkenalan Andreas dengan Yesus tampaknya memberikan kesan yang sangat mendalam. Sehingga Andreas pun merasa perlu membagikan kabar baik yang dia rasakan kepada saudaranya: Simon. Andreas membawa Simon kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, ”Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).”
Perhatikan, ketika Yesus memandang Simon—tentu dengan menggunakan mata fisik—Sang Guru dari Nazaret itu memandang jauh ke depan. Dia tidak hanya melihat Simon yang sekarang, namun melihat Simon di masa depan. Yesus menggunakan ”akan”—sesuatu yang belum terjadi. Jelas di sini, Yesus, Allah yang menjadi manusia itu, melihat masa datang.
Bagaimanakah perasaan Simon ketika mendengar namanya disebut? Saya rasa dia bahagia karena merasa disapa dengan namanya. Para ahli psikologi menyatakan bahwa kata yang paling enak didengar oleh manusia ialah namanya sendiri. Kita senang kala mendengar nama kita disebut. Artinya, ada orang yang mengenal dan mau menyapa kita.
Jelas dalam penyapaan Yesus kepada Simon ada visi besar. Dan Simon diajak melihat visi itu bahwa dia akan menjadi pribadi setegar batu karang. Simon bermakna lalang; sedang kefas bermakna batu karang. Yesus mengajak Simon melihat potensi batu karang yang ada dalam dirinya. Tak hanya sekadar melihat potensi diri, Yesus mengajak Simon untuk menjadi batu karang.

Pribadi Mahatahu

Allah adalah pribadi yang mengenal manusia karena Dialah pencipta manusia! Perhatikan nubuat Yesaya: ”Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.” (Yes. 49:1).
Allah diperkenalkan Yesaya sebagai Pribadi Mahatahu. Dia mengenal manusia, lebih dari manusia itu sendiri. Dalam Alkitab BIMK dinyatakan: ”TUHAN memanggil aku sebelum aku dilahirkan, Ia memilih aku sejak dari kandungan.” Bahkan Yesaya menambahkan  Tuhan sebagai pribadi yang membentuk dirinya sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya! (Lih. Yes. 49:5).
Allah adalah pribadi yang mengenal kita, mengetahui pikiran kita, bahkan sebelum kita bicara. Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan. Tak ada jalan lain, kecuali hidup kudus. Dan itulah yang dinyatakan Paulus perihal warga jemaat di Korintus. Perhatikan: ”kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, (I Kor. 1:2).
Kudus di sini arti pertama dan terutama ialah khusus. Jemaat Korintus adalah orang-orang yang dikhususkan oleh Allah dan untuk Allah. Karena itu, hidup kudus dalam pengertian suci sejatinya merupakan keniscayaan. Jika tidak hidup suci malah aneh. Hidup kudus merupakan keniscayaan karena kita memang telah ”dibeli dan harganya telah lunas dibayar”
Dan alasan lain pula ialah karena ”Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus.” (I Kor. 1:5-7).
Bahkan, Daud bersaksi: ”Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memperhatikan aku.” (Mzm. 40:18). Daud memperkenalkan Allah bukan sebagai Pribadi yang melihat, tetapi Pribadi yang memperhatikan. Memperhatikan berarti fokus. Dan itu berarti menggunakan hati!
Sekali lagi, jika sudah begini, hidup kudus bukanlah hal yang luar biasa. Hidup kudus merupakan hal yang biasa-biasa saja karena kita telah ditebus Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Dan itu terjadi kala nama kita pertama kali disebut di gereja ini! Kapan? Kala kita menerima baptis anak, mengaku percaya, atau menerima baptis dewasa.
Ketika kita menerima baptis dewasa atau mengaku percaya. Itulah saat Tuhan memanggil kita, mengundang kita untuk menjadi miliknya, menjadi hamba-Nya. Kalau sudah begini, maka pantaslah kita mengikuti nasihat Paulus: tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. Itu berarti: ”Muliakanlah Allah dengan tubuh kita!”
Amin.


Yoel M. Indrasmoro

13 Jan 2011 ,written by Nikimaserika
 

Menjadi yang Diperkenan Allah (Kotbah 5 9 Januari 2011)

Menjadi yang Diperkenan Allah



Yohanes Pembaptis tercekat. Di hadapannya, Yesus berdiri dan mohon dibaptis. Putra Zakharia itu serta merta menolak. Dia tahu diri. Sehebat-hebatnya dia, Putra Yusuf—Yesus Orang Nazaret itu—jelas lebih hebat.
Dengan halus Yohanes menolak, ”Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat. 3:14). Yohanes merasa lebih tepat dibaptis ketimbang membaptis.

Yesus: Manusia Nirdosa
Yohanes Pembaptis memahami, tugasnya ialah membaptis orang yang bertobat. Baptisan itu merupakan tanda pertobatan; sekaligus tanda memulai hidup baru. Hal itu tentu tak berlaku bagi Yesus karena Dia manusia nirdosa. Baptisan itu malah bisa merendahkan martabat.
Menanggapi keberatan sepupunya itu, Yesus punya jawaban jitu: ”Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” (Mat. 3:15).
Demikianlah alasan Yesus. Karena alasan itulah, Dia meninggalkan Galilea menuju Sungai Yordan. Demi alasan itu pulalah putra Yusuf mohon baptisan kepada putra Zakharia. Tampaklah, menggenapkan seluruh kehendak Allah merupakan jalan hidup Yesus Kristus. Dan Yesus mengajak Yohanes untuk turut serta berjalan di jalan hidup itu.
Jalannya memang tak mudah. Hambatan dan rintangan kadang menghalang; juga onak duri tumbuh di depan. Yang terbesar—namun yang pertama harus diberantas—berasal dari dalam diri sendiri: keakuan manusia.
Keakuan manusia tak melulu soal kesombongan pribadi. Terkadang hanya perkara kepantasan. Yohanes Pembaptis tak merasa pantas membaptis Yesus. Tindakan itu tak sesuai kaidah masyarakat. Jika kita ada di sana, mungkin kita pun tak rela menyaksikan Yesus dibaptis.
Namun jika kita protes, putra Yusuf pun akan mengucapkan hal yang sama: ”Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”

Menggenapi Seluruh Kehendak Allah
Yang terutama dalam diri Yesus ialah menggenapi seluruh kehendak Allah. Bukan melakukan 99.99 persen, namun 100 persen kehendak Allah. Dan untuk itu Yesus tidak mundur, meski banyak orang terkaget-kaget dibuat-Nya karena, sekali lagi, baptisan itu merupakan tanda pertobatan. Yesus agaknya tidak mempedulikan apa kata orang. Yang penting bagi Dia ialah kehendak Allah digenapi dalam hidup-Nya.
Mendengar alasan Yesus itu, Yohanes pun tak punya jalan lain kecuali menuruti apa yang Yesus inginkan. Yohanes pun tak memiliki perbedaan paham berkait dengan kehendak Allah. Mereka berdua sepakat untuk melakukan kehendak Allah. Itulah bukti nyata hidup kehambaan mereka.
Setelah pembaptisan, Matius mencatat: ”pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat. 3:16:17). Tindakan Yesus diperkenan Allah.
Tampak jelas ada kaitan erat antara menggenapi seluruh kehendak Allah dengan pernyataan Allah itu. Dengan kata lain, Allah berkenan kepada setiap orang yang menggenapi seluruh kehendak Allah.

Hamba Tuhan
Pada titik itulah, Yesus telah menggenapi nubuat Yesaya dalam diri-Nya! Yesaya bernubuat: ”Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” (Yes. 42:1). Tentu, hukum yang dimaksud di sini adalah hukum Allah—kehendak Allah.
Menarik disimak, dalam menjalankan hukum Allah tersebut, hamba Tuhan itu tak akan berteriak atau berseru dengan nyaring, suaranya tak akan terdengar di jalan. Buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya, pelita yang kelap-kelip tak akan dipadamkannya. Dengan setia ia akan menyatakan kebenaran, tanpa bimbang atau putus asa, sampai keadilan ditegakkan di bumi. (Yes. 42:2-4, BIMK).
Kerendahan hati merupakan gaya hidupnya. Dia tidak merasa perlu berteriak mengabarkan kebenaran. Kebanyakan orang jika merasa diri benar akan berteriak lebih keras ketimbang orang lain. Sekali lagi, karena merasa diri benar.
Nah, ketimbang berteriak, Petrus bersaksi, Yesus yang menggenapi itu dengan ”berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis….” (Kis. 10:38). Perbuatan lebih dari sejuta kata.
Tak hanya itu, Yesus juga sabar terhadap kelemahan orang lain. Bicara soal kelemahan orang, Petrus merupakan sosok yang sungguh merasakan kesabaran hati Sang Guru. Meski pernah disangkal, Yesus tetap menerima Petrus apa adanya. Dan kesabaran berkait erat dengan kerendahan hati.
Berkait kerendahan hati, Paus Yohanes XXIII, mengajarkan doa yang sungguh baik: ”Yesus, hikmat kebijaksaan yang hidup, dekatkanlah kepalaku dengan hatiku!”
Secara harfiah, itu berarti sikap tubuh menunduk, bak padi yang makin berisi makin merunduk. Dan di hadapan Tuhan, tak ada yang bisa dilakukan setiap makhluk kecuali merunduk tanpa syarat. Bagaimanapun, Dialah Sang Pencipta.
Karena itulah Daud bermadah: ”Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan” (Mzm. 29:1-2).
Itulah yang diperkenan Allah!

Yoel M. Indrasmoro

07 Jan 2011 ,written by Nikimaserika
 

Menyatakan Kemurahan Allah (Khotbah Minggu, 2 Januari 2011)

Menyatakan Kemurahan Allah


Ketika seseorang bertanya kepada Dietrich Bonhoeffer, ”Siapakah Anda?”; Teolog Jerman yang mati pada tiang gantungan dalam pemerintahan Nazi menjawab, ”Saya adalah milik-Mu, ya Tuhan!”
Kita tentu mengamini jawaban macam begini. Namun, ini yang perlu sungguh-sungguh kita simak sekarang, apa artinya ungkapan ”milik Tuhan”?

Milik Allah
Di awal Mazmur 147, pemazmur menegaskan bahwa Israel adalah milik Allah. Allah diperkenalkan sebagai Pribadi yang membangun, mengumpulkan umat yang tercerai-berai, menyembuhkan orang-orang yang patah hati, menegakkan kembali orang yang tertindas.Allah diperkenalkan sebagai Pribadi yang peduli terhadap umat-Nya. Mengapa? Karena Israel adalah milik Allah!
Tak heran, jika pemazmur berseru kepada umat Israel: ”Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.” (Mzm. 147:12-14).
Sekali lagi, itu dilakukan Allah karena Israel adalah umat milik-Nya; umat kepunyaan-Nya. Bahkan, pemazmur menutup mazmurnya dengan pengakuan: ”Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal.” (Mzm. 147:20).
Itu jugalah yang dinubuatkan Yeremia bagi umat yang dalam pembuangan: ”Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka. Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yer. 31:13-14).
Perhatikan: ”Aku akan mengubah, Aku akan menghibur, Aku akan memuaskan, dan umat-ku akan menjadi kenyang.” Nubuat itu memang belum terjadi; digunakan ”akan” dalam kalimat tadi. Dan itulah pengharapan Israel di pembuangan. Mengapa? Sekali lagi, karena Israel adalah milik Allah!
Perhatikan ungkapan ”umat-Ku”! Jelas dari ungkapan ini bahwa Israel adalah milik Allah. Dan karena Israel adalah milik Allah, maka Allah akan melakukan apa saja demi kesejahteraan Israel.

Yesus: Puncak Pengharapan Israel
Dan harapan Israel itu terwujud dalam diri diri Yesus Kristus. Nubuat itu tergenapi sudah dalam diri Yesus Kristus—Allah yang menjadi manusia. Penginjil Yohanes bersaksi: ”Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia....” (Yoh. 1:16).
Nah, ”kita” yang dimaksud di sini adalah Israel Baru. Pada kenyataannya, Israel sebagai umat pilihan Allah memang tidak mampu mempertahankan identitas mereka sebagai umat pilihan.
Kisah Israel adalah kisah sebuah bangsa yang menganggap remeh pilihan Allah itu. Mereka melupakan hidup sebagai umat ”milik Allah”. Istilah ”milik Allah” itu sekadar label, tanpa tindakan nyata. Padahal, Israel dipanggil menjadi milik Allah agar menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Tak heran, Allah membuang mereka ke Babel.
Dalam pembuangan di Babel, sebagaimana nubuat Yeremia, mereka berharap dipulihkan. Kenyataannya memang demikian. Sejarah mencatat, umat Israel kembali ke Yerusalem. Namun, mereka tidak mampu mempertahankan identitas mereka sebagai umat pilihan—”milik Allah”.
Itu jugalah kesaksian Yohanes: ”Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yoh. 1:11-13).
Status ”milik Allah” itu akhirnya diberikan kepada orang-orang yang mau menerima-Nya. Orang-orang yang menerimanya itu disebut Israel Baru. Nah, kitalah—Saya dan Saudara—Israel Baru! Kita diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah—menjadi milik Allah. Dan sebagai ”milik Allah”, ”kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia....” (Yoh. 1:16).
Kehadiran Allah di dunia tidaklah sekadar memancarkan kemuliaan-Nya. Lebih dari itu, Allah merupakan Pribadi yang menganugerahkan kasih karunia demi kasih karunia.
Perhatikanlah kasih karunia demi kasih karunia. Itu berarti anugerah Allah itu tidak seperti air bah, tetapi laksana hujan rintik-rintik; sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, penganugerahan itu bersifat ajeg, tak terputus. Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Ia penuh kasih; tiada hentinya Ia memberkati kita.” (Yoh. 1:16).

Utuslah Aku
Itu jugalah yang dinyatakan oleh Paulus kepada jemaat di Efesus: ”Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” (Ef. 1:3).
Namun, semuanya itu bukan tanpa tujuan. Penganugerahan berkat itu bertujuan agar semakin banyak orang merasakan kasih karunia Allah melalui umat-Nya.
Hal itu senada dengan tema dwitahunan kita selaku gereja, yaitu: ”Utuslah Aku!”. Jika pada 2009-2010, tema dwitahunan GKJ Jakarta adalah ”Menjadi Saksi”, maka pada 2011-2012, GKJ Jakarta ingin mengembangkan diri sebagai gereja yang siap diutus. Dengan kata lain, kita tak hanya mengarahkan dan memikirkan diri sendiri, tetapi juga mengarahkan dan memikirkan orang lain.

Belajar dari Sejarah
Sebenarnya, Ibu dan Bapak GKJ Jakarta telah menggumuli tema ini di masa-masa lampau. Beberapa hal bisa dicatat di sini.
Pada 1949, GKJ Jakarta melibatkan diri dalam pekerjaan pekabaran Injil di Lampung dengan menjadi gereja pengutus Pdt. J. S. Hardjowasito. Berkait dengan itu, Majelis GKJJ membentuk Komisi Zending untuk Lampung, yang berkembang menjadi Zending Sumatera. Buahnya adalah Sinode GKSBS (Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan).
GKJJ menjadi gereja pengutus untuk pekabaran Injil melalui tulisan dan buku-buku. Tenaga ahli dalam bidang tersebut ialah Dr. J. Verkuyl, pendiri BPK Gunung Mulia, yang bekerja selama 10 Tahun (1952-1962). Selanjutnya, Verkuyl menjadi rektor STT Jakarta. Jadi, tak salah jika kita katakan bahwa GKJ Jakarta terlibat erat dalam pembentukan BPK Gunung Mulia.
GKJ Jakarta, melalui para pemimpin gerejanya, banyak terlibat dalam organisasi-organisasi gerejani yang lebih luas, mulai dari pendirian Taman Pustaka Kristen, Universitas Kristen Indonesia, PSKD, Harian Sinar Harapan, Yamuger, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan PGI.
Jika pada masa lalu banyak pemimpin Kristen (GKJ Jakarta ada di dalamnya) yang diakui berskala nasional, bukan karena saat itu kita mayoritas, tetapi karena kita punya kepedulian dan terlibat dalam kancah nasional.
GKJ Jakarta memahami bahwa tugas panggilannya bukan hanya ”mengurus warganya” tetapi juga melakukan ”kesaksian dan pelayanan secara modern” di kota besar Jakarta Raya dengan berbagai risikonya.  Karena itu—misalnya—lahirlah diakonia modern dalam bentuk Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala dan Yayasan Mitayani (1970-an).
Pertanyaannya: bagaimanakah sikap dan hubungan kita terhadap yayasan-yayasan ini? Atau, jangan-jangan karena telah mendirikan yayasan, kita menjadi tidak merasa perlu lagi peka dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Jadi, semuanya kita serahkan ke yayasan tersebut?

Menjadi Gereja untuk Orang Lain
Dari Sejarah kita bisa melihat hakikat GKJ Jakarta. Sejak awal GKJ Jakarta memandang keberadaan dirinya bukanlah untuk diri sendiri, tetapi untuk masyarakat yang lebih luas. Bagaimanapun, mengurus diri sendiri merupakan panggilan seumur hidup. Mana ada di antara kita yang tidak mengurus keperluan sehari-hari?
Sekali lagi, menjadi milik Allah berarti siap menjadi saluran berkat. Menjadi milik Allah berarti siap berkarya di mana pun Tuhan menempatkan kita. Sebab, di mana pun kita berada, frasa ”milik Allah” erat melekat dalam diri kita masing-masing.
Itu jugalah yang dinyatakan oleh Dietrich Bonhoeffer: ”Gereja baru menjadi gereja yang benar kalau dia hadir untuk orang lain. Untuk dapat melakukan hal itu, Gereja harus memberikan segala yang dia miliki kepada mereka yang berkekurangan.”
Bonhoeffer mengecam gereja yang hanya memperjuangkan keselamatan dirinya sendiri. Pada masa itu, gereja-gereja di Jerman malah mendukung apa yang dilakukan Nazi di bawah kepemimpinan Hitler. Dengan tegas dia menyatakan: ”Hanya mereka yang bersuara membela kaum Yahudi boleh menyanyikan lagu Gregorian.”
Itulah makna konkret ”milik Allah”! Apakah kita merasa sebagai milik Allah? Jika ya, buktikanlah dengan cara memperhatikan orang lain! Mengapa? Karena kita telah lebih dahulu diperhatikan oleh Allah.
Amin.

Yoel M. Indrasmoro


30 Dec 2010 ,written by Nikimaserika
 

Belajar dari Keluarga Kudus (Khotbah Minggu, 19 Desember 2010)

Belajar dari Keluarga Kudus


Kisah Natal versi Injil Matius dimulai dengan masalah. Demikianlah Penginjil Matius memulai kisahnya: ”Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” (Mat. 1:18).
Mulanya semua serbaindah. Yusuf dan Maria telah mengikatkan diri dalam ikatan pertunangan. Mereka berdua sedang menyiapkan bahtera keluarga mereka.


Masalah

Nah, di tengah suasana serbaindah itu, Maria mengandung sebelum mereka berdua hidup sebagai suami istri. Ini jelas merupakan masalah. Mereka belum hidup sebagai suami istri, tetapi Maria telah mengandung.
Jelas menjadi masalah karena Yusuf mengetahui dengan pasti bahwa mereka belum pernah bersetubuh. Nah, jika demikian siapakah sesungguhnya ayah Sang Bayi yang dikandung Maria? Lalu, apakah yang seharusnya dilakukan Yusuf?
Menghadapi masalah ini, Penginjil Matius mencatat: ”Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat. 1:19).
Yusuf, tungangan Maria, ternyata merupakan pribadi yang tak suka mencari kambing hitam. Dia juga tak ingin menang sendiri. Dia berupaya hidup berdamai orang lain, meski menyakitkan hatinya. Dia memilih sakit, ketimbang menyakiti orang yang dikasihinya.
Dengan ikhlas, Yusuf memutuskan pertunangannya dengan Maria secara diam-diam. Dia tidak mau ribut, juga tidak menyalahkan tunangannya. Dia berupaya untuk tidak melukai hati Maria.
Yusuf tidak merasa perlu membalas dendam. Dia juga tak ingin membuat sensasi dan mengharap belas kasihan orang. Agaknya, Yusuf telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Penginjil Matius mencatat bahwa hatinya tulus. Kenyataannya, dia memang mampu bersikap nothing to lose—siap kehilangan. Bahkan, mungkin kata orang, dia telah kehilangan harga diri.



Anak Daud

Menarik disimak, kepada pribadi demikianlah, malaikat Allah menyingkapkan visi Allah bahwa ”Anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus”. Visinya sendiri telah dirangcang-Nya sejak zaman Ahaz. Perhatikan nubuat Yesaya: ”Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes. 7:14).
Saya tidak tahu apakah Yusuf mengenal nubuat Yesaya ini. Tetapi, saya rasa nubuat Yesaya tak penting lagi karena malaikat Allah sendirilah yang menyingkapkan visi Allah kepada Yusuf. Dan visi itulah yang membuat Yusuf mengurungkan niatnya. Bahkan, dia makin mantap menjalankan tugas sebagai Bapak Hukum bagi Yesus.
Ya, ayah hukum bagi Yesus Kristus. Yusuf bukanlah ayah biologis, melainkan ayah hukum bagi Yesus. Ini menjadi pokok penting karena dalam karya-Nya Yesus akan disapa sebagai Anak Daud. Dan jangan pula kita lupa bahwa gelar Anak Daud bagi Yesus orang Nazaret hanya mungkin terjadi ketika Yusuf bersedia menjadi ayah hukum bagi Yesus.
Itu jugalah yang ditekankan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Paulus menegaskan bahwa secara jasmani Yesus adalah keturunan Daud. Dan sekali lagi itu terjadi karena Yusuf merupakan keturunan Daud. Pada titik ini jelaslah bahwa Yusuf menyumbang gelar Anak Daud dalam diri Yesus.
Sekali lagi, gelar Anak Daud itu menjadi pas disematkan kepada Yesus Kristus karena Yusuf, ayah hukum bagi Yesus, adalah keturunan Daud. Seandainya Yusuf tidak mau mengambil risiko itu—artinya tidak mau menjadi ayah hukum bagi Yesus—maka gelar Anak Daud bagi Yesus mungkin nggak pernah ada.



Masya Allah: Apa Kehendak Tuhan?

Agaknya, Yusuf memahami apa hakikat masalah sesungguhnya. Istilah ”masalah” berasal dari bahasa Arab—masya Allah—yang berarti apakah kehendak Tuhan. Dalam menghadapi masalah, Yusuf tidak tergoda untuk mengandalkan baik akalnya maupun perasaan, tetapi dia merasa perlu bertanya lebih jauh—di atas semuanya itu—apakah sesungguhnya kehendak Tuhan itu.
Nah, ketika Yusuf mendasarkan keputusannya kepada kehendak Tuhan, maka Tuhan menyatakan visi-Nya kepada Yusuf. Bayangkan, jika Yusuf bermental berangasan—tanpa pikir panjang langsung menceraikan Maria di depan umum!
Tentu, tak sedikit orang akan menganggapnya wajar dan berkata, ”Siapa sih orangnya yang senang dikhianati?”. Tetapi, tindakan itu pastilah melukai hati Maria. Dan Yusuf memang tak ingin melukai hati Maria!
Jika Yusuf bertindak gegabah, karena dia memang tidak tahu bahwa semuanya itu karena Roh Kudus, maka Maria dan Yusuf sudah kadung sakit hati. Bisa saja mereka berdamai, tetapi ya sudah terlanjut sakit hati.
Itu seumpama paku yang ditancapkan ke dalam kayu. Memang, paku itu bisa diambil dari kayu tersebut. Namun, paku itu pastilah meninggalkan lubang. Ya, hati-hatilah dalam bertindak. Pikirkan apakah itu kehendak Tuhan atau tidak. Setidaknya, apakah kita akan melukai orang lain atau tidak. Bagaimanapun, Allah pastilah tak ingin ada orang yang disakiti hatinya!
Mengapa Yusuf bersedia mengambil risiko? Salah satu jawabannya adalah karena Yusuf percaya kepada Allah. Dia memercayai Allah. Menarik untuk kita kaji ada hubungan erat antara percaya dan tindakan yang penuh dengan risiko. Dengan kata lain, kepercayaan membuat orang berani mengambil risiko.
Dan ketika kita berani mengambil risiko atas nama kehendak Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah tinggal diam. Lihatlah Yusuf dan Maria! Ketika Yusuf menjadikan kehendak Allah dalam hidupnya, Allah tidak tinggal diam.
Campur tangan Allah memampukan Yusuf untuk memenuhi panggilan hidup sebagai hamba Allah. Campur tangan Allah mengubah Yusufmenjadi baru seturut citra-Nya. Campur tangan Allah membuktikan bahwa nama-Nya sungguh Imanuel—Allah menyertai.
Tak hanya di masa lampau di Yudea. Juga kini dan di sini. Nama-Nya tetaplah Imanuel—Allah menyertai. Dia beserta Saudara dan saya kini dan selamanya.
Amin.

Yoel M. Indrasmoro


 

17 Dec 2010 ,written by Nikimaserika
 


Page 7 of 9