• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Khotbah

Dengarkan Dia (Kotbah Minggu, 6 Maret 2011)

Dengarkanlah Dia


”Enam hari kemudian.” Demikianlah keterangan waktu penulis Injil Matius—yang mengutip penulis Injil Markus—berkenaan kisah ”Pemuliaan Yesus di atas gunung” (Mat. 17:1-9).
Frasa ”enam hari kemudian” memperlihatkan kaitan antara kisah transfigurasi Yesus dan kisah sebelumnya. Menurut catatan Injil Matius—sekali lagi mengutip Markus—narasi sebelumnya mengisahkan bagaimana Yesus menceritakan penderitaan yang harus ditanggung-Nya.

Ketidakpahaman Para Murid

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di antara dua peristiwa itu. Mungkin saja tak ada yang penting untuk dicatat. Atau, bisa saja selama enam hari itu, Yesus mengajar para murid-Nya perihal penderitaan-Nya.
Namun, tak perlu kita menebak-nebak. Lebih baik, kita melihat kisah transfigurasi ini berdasarkan kisah sebelumnya.
Dalam kisah sebelumnya, para murid agaknya tak begitu memahami perkataan Yesus. Dia sudah menjadi tokoh terkenal karena mukjizat-mukjizat-Nya. Mungkinkah Dia mati disalib? Ini jelas tidak masuk akal. Bukankah Dia lebih berkuasa ketimbang semua orang?
Bisa jadi, di antara para murid ada yang merasa tak enak hatinya. Bagaimanapun, mereka telah menaruh harapan besar pada-Nya. Pengalaman mengikut Yesus selama ini bukanlah perkara biasa—mereka menjadi saksi hidup dari mukjizat hingga sikap hidup Yesus.
Sikap-Nya memang berbeda dari kebanyakan guru. Yesus menerima orang apa adanya. Baik pegawai tinggi kerajaan Romawi, pemungut cukai, pelacur, maupun anak-anak diterima Yesus sama baiknya. Tentunya, para murid merasa sayang, jika orang sebaik Yesus harus menderita.
Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa Petrus merasa perlu menegur Yesus. Sebagai balasannya, Yesus lebih keras lagi menegurnya, bahkan menyebutnya Iblis! Dalam konteks itu pulalah sebaiknya kita membaca kisah transfigurasi Yesus.

Transfigurasi Yesus

Dalam kisah transfigurasi, kita melihat bahwa Yesus merupakan subjek. Matius mencatat: ”Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.” (Mat. 17:1).
Dari segi tatabahasa, Yesus adalah subjek, ketiga murid-Nya adalah objek penderita. Yesuslah pemrakarsa. Dia bertindak penuh kuasa saat memilih ketiga orang itu. Kedaulatan ada di tangan-Nya.
Mereka bertiga dipilih! Dengan kata lain: mereka orang pilihan. Kriterianya? Tak seorang pun tahu. Ketiga murid itu pun agaknya juga tak tahu.
Jangan pula kita lupa, di kisah sebelumnya Yesus memarahi Petrus; bahkan menyebutnya Iblis! Meski demikian, Yesus ternyata masih mengajaknya. Dia punya kedaulatan penuh. Persoalannya: ketiga orang itu mau diajak atau tidak? Dan ketiga orang itu mau diajak.
Agaknya, kenyataan bahwa mereka orang pilihan membuat bersedia diajak. Aneh rasanya, jika mereka menolak ajakan Yesus. Masak ada murid yang berani menolak kehendak gurunya? Ini sama halnya dengan Musa yang patuh kepada perintah Allah ketika diperintahkan untuk mendaki Sinai (Kel. 24:13).
Kesediaan diajak itu berpengaruh besar. Di gunung itu mereka menyaksikan Yesus berubah rupa dan bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Para murid menyaksikan kemuliaan Yesus; sama seperti Musa menyaksikan kemuliaan Allah di Sinai (Kel. 24:18).

Metode Mengajar

Tampaknya, kisah transfigurasi itu merupakan salah satu metode pengajaran Sang Guru dari Nazaret. Jangan lupa catatan waktu: ”enam hari kemudian”!
Bisa jadi para murid bingung dengan jalan yang hendak ditempuh Yesus. Mungkin mereka bertanya-tanya: ”Bagaimana mungkin Yesus mati dibunuh? Mungkinkah orang membunuh-Nya? Mungkinkah orang menangkap-Nya, setan-setan saja takut kepada-Nya? Bukankah itu suatu kemustahilan?”
Memang suatu kemustahilan. Namun, baiklah kita ingat bahwa Yesus tidak pernah ditangkap. Yang benar: Dia menyerahkan diri-Nya. Dan kematian bukanlah akhir; kebangkitan membuktikan bahwa Dia sungguh Allah. Kisah transfigurasi merupakan salah satu metode Yesus untuk menyatakan bahwa Dia adalah Allah.
Kenyataan itu seharusnya tak membuat para murid gentar menghadapi salib. Jalan salib adalah jalan sengsara yang harus dilalui sang Guru. Hanya dengan jalan itulah keselamatan manusia menjadi nyata.

Jalan Salib

Sesungguhnya, tak hanya Yesus yang harus menempuh jalan itu. Para murid juga diminta menempuh jalan sengsara—rela menderita agar makin banyak orang merasakan kasih Allah.
Itulah yang terjadi: Yakobus mati dengan pedang pada zaman Herodes, Yohanes dibuang ke Patmos, dan Petrus disalib dengan kepala di bawah.
Apa lagi di atas gunung itu, mereka mendengar suara: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Itu pulalah yang diceritakan Petrus dalam suratnya (2Ptr. 1:17-21). Jalan hidup ketiganya memang berdasarkan kalimat tersebut—dengarkanlah Dia.  
Itu jugalah inti kisah transfigurasi Yesus. Transfigurasi tak hanya perubahan wajah. Lebih dari itu: para murid harus mendengarkan Yesus. Jika para murid mengakui Yesus sebagai Allah, pencipta langit dan bumi, maka mendengarkan Dia merupakan keniscayaan.
Ya, dengarkanlah Dia! Jangan mendengarkan saya, tetapi dengarkanlah Dia! Sebab, saya pun ingin mendengarkan Dia!

Yoel M. Indrasmoro


04 Mar 2011 ,written by Nikimaserika
 

Mamon vs Kekhawatiran (Kotbah Minggu, 27 Februari 2011)

Mamon vs Kekhawatiran


Janganlah khawatir! Demikianlah nasihat Yesus kepada para pendengar-Nya. Sebagian besar orang Kristen pasti setuju dengan pesan Sang Guru dari Nazaret ini. Dengan tegas mereka berkata, ”Kalau masih khawatir, itu artinya nggak punya iman. Kita ini orang Kristen. Punya Tuhan! Masak kita masih khawatir?”
Yang lainnya, meski setuju bahwa hidup manusia ada di tangan Tuhan, namun tak mudah bagi mereka mengaminkan pesan Yesus itu. Mereka menyatakan sembari mengeluh, ”Masak sih nggak boleh khawatir. Kita ini ’kan masih manusia” keluh mereka.

Allah atau Mamon

Lalu, sikap manakah yang tepat? Agaknya, banyak orang lupa bahwa khawatir itu sendiri merupakan salah satu rasa yang sering tiba-tiba datang tanpa permisi. Menurut guru saya, GMA Nainggolan, perasaan itu sesuatu yang di luar manusia. Dia menghampiri manusia. Dia tiba-tiba menyergap, yang membuat seseorang akhirnya takut. Jadi, khawatir sendiri merupakan hal alami. Tak ada bukan di antara kita yang pernah merencanakan sebuah kekhawatiran? Ah, besok saya mau khawatir!
Khawatir merupakan hal manusiawi, yang memang berasal dari luar diri kita. Jika khawatir berasal dari luar diri kita, tak pernah kita rencanakan, maka yang penting ialah bagaimana kita agar tidak dikuasai oleh kekhawatiran. Itu berarti kita harus mengendalikan perasaan khawatir itu!
Oleh karena itu, sebelum bicara soal hal kekhawatiran, Yesus mengingatkan para pendengar-Nya akan bahaya mamon. Mamon berasal dari bahasa Aram yang berarti harta benda. Yesus menegaskan: ”Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Dalam bukunya, Khotbah di Bukit, John Stott menyatakan ada saja orang yang tidak setuju dengan ucapan Yesus ini. Mereka menolak dihadapkan pada pemilihan yang begitu gamblang. Mereka akui bahwa itu hanyalah soal pengelolaan waktu belaka dan itu mereka buktikan dalam praktik. Mereka mengatakan bahwa mereka bisa mengabdi kepada Allah pada hari Minggu dan mengabdi pada mamon pada hari lainnya.
Namun itu bukanlah yang dimaksud Yesus. Di sini Yesus tidak bicara soal dua majikan. McNeile pernah berkata: ”Manusia memang bisa bekerja untuk dua majikan, tetapi tidak ada satu orang hamba yang memiliki dua tuan. Sebab kemilikan tunggal dan kesiapsiagaan selama 24 jam adalah tuntutan mutlak perhambaan.
Jadi setiap orang yang membagi kesetiaannya antara Allah dan mamon, pada dasarnya telah memberikan keseluruh kesetiaannya kepada mamon. Sebab kepada Allah, orang hanya dapat mengabdi dengan kesetiaan yang utuh, menyeluruh, dan mantap.
Sedikit contoh, jika kita bekerja di perusahaan jasa, maka sejatinya majikan kita itu banyak, yakni pelanggan kita. Tetapi, kita sama-sama tahu bahwa mereka memilih kita karena di mata mereka kita dapat dipercaya. Nah, persoalannya ialah apakah kita memang sungguh-sungguh dapat dipercaya.
Dan kalau sudah begini kita sungguh-sungguh tahu bahwa jika kita berfokus hanya kepada keuntungan belaka, dan mulai mengurangi kualitas, maka pelanggan kita berangsur-angsur akan pergi meninggalkan kita. Sejatinya, di tempat kerja pun pilihannya tetap apakah kita mengabdikan diri kepada Allah atau kepada mamon.

Jangan Khawatir

Dengan perkataan lain, jatuhnya pilihan kita secara asasi pada siapa kita mengabdi: Allah atau mamon, akan mempengaruhi sikap kita terhadap keduanya. Karena itu, demikian Yesus menasihati para pendengarnya, ”Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai.” (Mat. 6:25).
Sejatinya, Yesus tidak menganggap sepele ketiga kebutuhan primer tadi—makanan, pakaian, dan perumahan. Kenyataannya semua itu merupakan ciptaan Allah juga. Dan Ia berupaya memenuhinya. Bukankah sebelumnya Yesus mengajarkan para pendengar-Nya berdoa: ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Lalu apa yang Dia maksudkan di sini?
Pertama, Sang Guru dari Nazaret ingin memperlihatkan bahwa betapa mubazirnya jika seluruh perhatian kita disita oleh kesibukan mencari kepuasan badani. Yesus mencoba memperlihatkan bagaimana logika merupakan salah satu cara terbaik untuk mengendalikan rasa khawatir. Perhatikan kalimat-kalimat retoris yang dikemukakan-Nya:
”Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (Mat. 6:25-30).
Ya, bukankah hidup itu lebih penting dari makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian? Persoalannya sering kali memang di sini, kesehatan manusia modern lebih lebih diakibatkan bukan karena kekurangan makan, tetapi karena kebanyakan makan—terlebih makanan yang mengandung kolesterol. Ironis memang. Banyak orang sakit karena makan enak! Dan Yesus menekankan bahwa hidup itu lebih penting dari makanan.
Kedua, Yesus menekankan bahwa kita lebih berharga dari burung dan bunga bakung. Dan Yesus menekankan bahwa kita adalah anak-anak Bapa yang di surga. Hubungan kekeluargaan inilah yang seharusnya membuat perhatian anak-anak Allah tidak disibukkan oleh hal-hal tadi.
Ketiga, kekhawatiran tidak akan membuat umum kita lebih panjang, lebih pendek malah mungkin. Setidaknya, kekhawatiran akan membuat paras kita tampak lebih tua dari yang seharusnya. Khawatir akan membuat otot-otot wajah kita tegang; bedakan dengan kala kita tersenyum. Sehingga, Yesus menekakan, kalau memang umur kita tidak bertambah panjang, lalu mengapa harus khawatir?
Keempat, Yesus mengingatkan: ”Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Allah Bapa mengetahui apa yang kita perlukan. Di sini kita memang harus sungguh membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Allah memahami kebutuhan kita! Bukankah kita anak-anak-Nya?
Alasan Yesus sederhana, dan sangat logis, Bapa-Mu tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu! Dalam nubuat Yesaya, Allah digambarkan sebagai seorang Ibu. Perhatikan: ”Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yes. 49:15-16)
Namun, demikian itu tidak berarti bahwa kita tinggal duduk berpangku tangan saja. Saya selalu ingat puisi Arswendo: Tebarkanlah jalamu karena ikan tak melenggang ke dalam penggorengan. Memang burung tak kelaparan sampai mati. Tetapi burung perlu terbang ke tempat padi tumbuh sebab sejak semula padi tak dicipta tumbuh di ujung paruh.
Manusia memang harus bekerja dan mengusahakan semuanya itu. Dan Tuhan Yesus memang tidak melarang orang untuk merencanakan apa yang kita makan, minum, dan pakai, melainkan mengkhawatirkannya. Jadi bukan karena memikirkannya, tetapi menjadi susah akibat memikirkannya. Uskup Ryle pernah berkata: ”Persiapan bijaksana untuk hari esok adalah baik; yang salah ialah kekhawatiran yang meletihkan, merongrong, dan membuat kita tidak bahagia.”
Lagi pula, jangan sampai saking khawatirnya akan masa depan membuat kita melupakan keindahan hari ini. Jangan sampai, keceriaan hari ini menjadi sirna karena kita terlalu khawatir akan hari esok. 

Allah vs Berkat-berkat-Nya

Sehingga Yesus langsung menasihati: ”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat. 6:33-34).Persoalannya, manusia sering berkonsentrasi pada hal-hal yang akan ditambahkan itu. Manusia lebih berkonsentrasi kepada berkat Allah, malah melupakan Allah itu sendiri. Kan repot jadinya? Apa yang kita harapkan: Allah atau berkat-berkat Allah? Lebih menitikberatkan pada berkat Allah akan membuat kita dikuasai oleh berkat Allah itu dan akhirnya kita malah melupakan Allah! Ingatlah nasihat pertama Yesus pada awal khotbah ini: ”Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Allah tentu lebih utama dari berkat-berkatnya. Sehingga Martin Luther dengan tegas berkata, ”Ke neraka pun aku mau asal bersama Tuhan!” Ya, apa artinya berkat Allah, namun kita kehilangan Tuhan sendiri?
Lagi pula, apa artinya tempat tidur empuk, jika kita tidak bisa tidur nyenyak. Bagi saya, tidur nyenyak pun merupakan anugerah Allah. Apa artinya makanan enak, jika kita tidak bisa menikmatinya? Rasa nikmat, rasa syukur, semuanya itu adalah anugerah Allah. Allah lebih penting dari berkat-berkat Allah. Berkat-berkat Allah jika tidak kita kelola dengan baik malah bisa menguasai kita. Berkat-berkat Allah bersifat sementara, sedangkan Allah sendiri bersifat kekal.
Tak heran, pemazmur menasihati: ”Berharaplah kepada Tuhan hai Israel dari sekarang sampai selama-lamanya” (Mzm. 31:3).

Yoel M. Indrasmoro

27 Feb 2011 ,written by Nikimaserika
 

Kuduslah Kamu….(Kotbah Minggu, 20 Februari 2011)

Kuduslah Kamu….



”Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus”. Demikianlah Musa memulai uraian panjang lebarnya mengenai peraturan antarmanusia. Bisa disimpulkan: dasar ketaatan terhadap hukum bukanlah hukum itu sendiri, melainkan karena Allah itu kudus. Kekudusan Allah menjadi dasar manusia untuk menaati hukum.
Dasar ketaatan terhadap hukum bukanlah karena takut dihukum. Ketaatan itu merupakan konsekuensi logis dari umat yang telah diselamatkan dan dikuduskan Allah sendiri. Di sini kekudusan hidup umat Allah merupakan keniscayaan. Mereka telah dikuduskan! Umat Allah tidak bisa tidak harus kudus karena Tuhan, Allahnya, kudus.

Tuntutan Allah

Dengan kata lain, jika Tuhan itu kudus, masak umatnya kagak? Kalau umat tidak hidup kudus, layakkah mereka disebut umat Allah? Yang juga penting: jika umat tidak menjaga kekudusannya, apakah mereka dapat bersekutu Tuhan yang kudus?
Janganlah kita lupa akan keberadaan Israel! Semula mereka adalah budak di Mesir. Allah kemudian membebaskannya. Pada saat itulah mereka menjadi milik Allah.
Sebagai milik-Nya, Allah menuntut kekudusan. Ini bukanlah tuntutan yang mengada-ada. Tidak. Karena Allah ingin bersekutu dengan umat-Nya. Jika umat-Nya hidup cemar, maka persekutuan itu akan putus dengan sendirinya.
Allah yang kudus mustahil bersekutu dengan sesuatu yang cemar! Terang memang tidak bisa dipersatukan dengan gelap. Hukumnya memang demikian: terang akan menyirnakan kegelapan. Kegelapan akan hilang ketika terang muncul! Dan ketika manusia sengaja mencemarkan dirinya, maka persekutuan dengan Allah itu otomatis hancur!
Itulah yang terjadi di Taman Eden. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah itu tentulah bukan tanpa maksud. Tujuan utamanya ialah agar manusia dapat bersekutu dengan Allah. Persekutuan itu menjadi berantakan ketika manusia tidak mau lagi bersekutu dengan Allah. Dalam kebebasannya, manusia mengambil keputusan untuk menjadi sama dengan Allah. Pada titik itu putuslah hubungan antara manusia dengan Allah.
Tetapi, jangan pula kita lupa bahwa Allah membenci dosa, tetapi mengasihi manusia berdosa. Itulah yang dilakukan Allah! Allah membebaskan Israel. Pembebasan itu bukanlah tanpa konsekuensi. Allah menghendaki Israel tetap dalam persekutuan dengan diri-Nya sendiri. Agar persekutuan itu terjalin, Allah berkehendak agar manusia hidup kudus.
Pada titik ini, hidup kudus bukanlah pilihan. Sekali lagi, hidup kudus merupakan keniscayaan—mau nggak mau umat Allah memang harus kudus. Hidup kudus merupakan panggilan yang melekat dalam diri umat yang telah diselamatkan dan dikuduskan!

Akulah Tuhan, Allahmu

Perhatikan kembali Imamat 19:1-18! Kita bisa menyaksikan adanya refrein—suatu bagian yang diulang—”Akulah Tuhan, Allahmu”. Perhatikan bahwa huruf yang dipakai untuk Tuhan itu besar semua. Dalam bahasa aslinya, itu merupakan nama diri: Yahwe.
Orang Israel sendiri tak berani menyebut nama Yahwe. Kalau dalam membaca Alkitab mereka mendapatkan nama tersebut, maka mereka tidak akan mengucapkan Yahwe, melainkan Adonai, yang berarti Tuan! Jika para masyoret—penyalin kitab suci—menemukan nama Yahwe, mereka akan membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum menulis nama tersebut!
Jelaslah: ada sapaan Tuhan di sini! Sekali lagi bukan tanpa konsekuensi. Jika kita menyebut Dia Tuhan, maka secara tidak langsung kita mengakui kehambaan kita! Aneh, rasanya jika kita menyebut Dia Tuhan, tetapi kita sendiri tidak mematuhi perintah-Nya!
Allahmu berarti ada hubungan kepemilikan antara Allah dan umat-Nya. Seakan Yahwe mengingatkan—karena sering diulang—bahwa Dia adalah Allah dan umat adalah makhluk. Pada titik ini, Allah dan makhluk dihubungkan dengan peristiwa penciptaan. Yahwe sepertinya hendak mengingatkan umat bahwa Dialah yang menciptakan mereka!
Nah, pada titik ini pula kita bisa melihat bahwa dasar perintah ini berkaitan dengan kisah penciptaan. Kita juga menyaksikan, ketika manusia putus hubungan dengan Allah—tak mengakui diri sebagai makhluk yang diciptakan Allah—hubungan antarmanusia menjadi rusak. Adam menyalahkan Hawa! Tak hanya itu hubungan antara manusia dan makhluk lain pun ikut-ikutan rusak. Hawa menyalahkan ular. Juga hubungan dengan alam.
Perhatikan, putusnya hubungan antara Allah dan manusia, membuat manusia cenderung mencari kambing hitam. Yang paling ngeri, Iblislah yang sering jadi kambing hitam. Hebatnya, Iblis tidak menyalahkan siapa-siapa!
Oleh karena itu, pulihnya hubungan antarmanusia hanya akan terjadi jika dan hanya ketika hubungan antara Allah dan manusia pulih. Tak heran setelah prolog ”Kuduslah kamu, sebab, Aku, Tuhan, Allahmu kudus”, mengalirlah semua ketetapan dalam hubungan antarmanusia.

Tindakan Praktis

Beberapa tindakan praktis dapat kita uraikan di sini:
”Kalau kamu panen, janganlah memotong gandum yang tumbuh di pinggir-pinggir ladangmu, dan jangan kembali untuk mengumpulkan gandum yang tersisa sesudah panen. Jangan kembali ke kebun anggurmu untuk mengumpulkan buah-buah anggur yang tertinggal sesudah kamu memetiknya pertama kali. Juga buah-buahnya yang sudah jatuh jangan kamu ambil. Biarkan itu untuk orang miskin dan orang asing. Akulah Tuhan Allahmu.” (Im. 19:9-10).
Allah mengingatkan Israel untuk berbagi. Meski semua tanaman di ladang itu merupakan milik sendiri, namun Allah mengingatkan adanya hak orang miskin. Mereka tidak perlu mengambil semua miliknya karena Allah memberikan tanggung jawab terhadap orang-orang miskin.
”Jangan memeras sesamamu atau merampas barangnya. Upah seseorang yang bekerja padamu jangan kamu tahan, biar untuk satu malam saja.” (Im. 19:13). Allah juga mengingatkan Israel pada hak pekerja. Pekerja wajib mendapat upahnya pada waktunya. Tak ada alasan untuk menahan-nahannya.
”Jangan mengutuk orang tuli dan jangan menaruh batu sandungan di depan orang buta. Hendaklah kamu hormat dan takut kepada-Ku, sebab Aku Tuhan Allahmu.” (Im. 19:14). Bayangkanlah, Israel tidak boleh bertindak sewenang-wenang, bahkan ketika orang itu tidak melihat atau tidak mendengar apa yang kita perbuat.
Di dunia pengadilan, Allah menegaskan: ”Kamu harus jujur bila mengadili; jangan berpihak kepada orang miskin dan jangan takut kepada orang kaya.” (Im. 19:15). Inilah yang sering dikatakan orang sekarang pengadilan di luar pengadilan. Media sering menyorot dan berpihak. Allah menegaskan bahwa pengadilan harus bersifat jujur.
”Jangan dendam terhadap siapa pun. Bereskanlah perselisihanmu dengan siapa saja, supaya kamu tidak berdosa karena orang lain. *supaya ... lain atau supaya kamu tidak berdosa terhadap-Nya.* Jangan membalas dendam dan jangan membenci orang lain, tetapi cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Akulah Tuhan.” (Im. 19:17-18).

Nasihat Sang Guru

Dalam Perjanjian Baru, Yesus, Sang Guru dari Nazaret, juga mengemukakannya hal serupa, bahkan menerapkannya lebih jauh.
Agaknya, tindakan balas dendam terjadi karena orang tidak mampu berdamai dengan masa lalunya. Dia tidak mampu berdamai dengan tindakan-tindakan buruk yang pernah dialaminya. Sehingga ketika dia di atas, maka dia merasa perlu membalas orang-orang yang telah menyakiti hatinya.
Kalau sudah begini, saya senantiasa teringat dengan perkataan Desmontutu, prinsip mata ganti mata, dan gigi ganti gigi hanya akan membuat dunia penuh dengan orang buta dan ompong. Balas dendam hanya menjadikan dunia tidak enak didiami. Apa indahnya dunia kalau banyak orang buta dan ompong? Namun, yang lebih baik ialah tatkala orang yang pernah dibutakan matanya tidak membalas. Sehingga orang yang melek, yang pernah berbuat kejahatan, dapat menuntun dirinya dengan suka rela. Ini hanya dapat terjadi tatkala seseorang berdamai dengan masa lampaunya.
Orang begitu sulit mengampuni karena mereka beranggapan bahwa utang harus dibayar. Ini memang prinsip ekonomi. Inilah prinsip dagang: untung dan rugi. Nggak ada orang yang mau dirugikan. Setidaknya, balik modallah!
Tak beda dengan prinsip Yahudi: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Orang belum puas jika belum membalas kejahatan orang lain. Bagaimanapun, pada suatu waktu dia pernah merasa sakit hati. Dan dia ingin orang lain, yang menyakiti hatinya, merasakan hal yang sama dengan dirinya. Sebelum itu, dia belum merasa puas. Di sini, yang diusahakan ialah kepuasan batin. Perasaan puas jika orang lain telah merasakan apa yang pernah dirasakannya. Dalam hati yang beginilah balas dendam menjadi prioritas utama.
Fanny Crosby adalah satu dari banyak orang yang mampu mengampuni orang lain. Fanny Crosby lahir sebagai manusia normal. Saat usia balita seorang dokter salah memberi obat sehingga dia menjadi buta. Kebutaannya itu ternyata tidak menghambat Fanny Crosby menjadi seorang pencipta syair-syair lagu rohani. Ketika orang bertanya kepadanya apakah dia membenci dokter yang menyebabkan kebutaan matanya, Fanny pun menjawab, “Aku sudah lama memaafkannya!”
Mengapa bisa demikian? Agaknya, Fanny memahami bahwa apa yang terjadi pada dirinya bukanlah di luar sepengetahuan Allah. Dan Allah mengizinkan hal itu terjadi atas dirinya. Jikalau Allah mengizinkan kebutaan matanya, maka hal yang paling masuk akal ialah tidak lagi menyalahkan sang dokter. Bagaimanapun, sang dokter pastilah juga merasa bersalah. Tidak memaafkannya, hanya akan menjadikan sang dokter lebih merasa bersalah.
Dalam dunia ekonomi utang memang harus dibayar. Lalu, bagaimana dengan kesalahan orang lain, yang kadang disengaja dan lebih sering tidak disengaja, terhadap kita? Yesus mengajak kita untuk siap mengampuni kesalahan orang lain itu.
Bagaimanapun juga, sebagaimana kata Martin Luther King Jr.: ”Hukum kuno ’mata ganti mata’ mengakibatkan semua pihak buta. Juga tidak bermoral sebab tujuannya ialah mempermalukan pihak lawan dan bukan menumbuhkan pemahamannya; tujuannya membinasakan dan bukan mempertobatkan. Kekerasan tidak bermoral sebab lahir dari kebencian dan bukan dari kasih. Kekerasan menghancurkan komunitas dan menghambat persaudaraan. Kekerasan menciptakan monolog dan bukan dialog di tengah masyarakat. Kekerasan berakhir pada kekalahannya sendiri. Kekerasan hanya menciptakan kegetiran di dalam diri para korban yang selamat serta kebrutalan di dalam diri para pelaku perusakan.”
Dan alasan Sang Guru sungguh logis. ”Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian.” (Mat. 5:46). Logis, bukan? Ya, apa bedanya dengan orang yang tak mengenal Tuhan, jika kita mengasihi orang yang mengasihi kita? Alasan lainnya: ”Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat. 5:48). Allah menuntut kesempurnaan!
Lagi pula, Paulus pun menegaskan: ”Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” (I Kor. 3:16-17). Semua itu kita lakukan karena kita adalah Bait Allah—milik Allah!
Karena itu, marilah kita berdoa seperti pemazmur:

Perlihatkanlah kepadaku, ya Tuhan, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu,
aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.
Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu;
aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.
Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu,
sebab aku menyukainya.
Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu,
dan jangan kepada laba.
Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa,
hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!
Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu,
yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.
Lalukanlah celaku yang menggetarkan aku,
karena hukum-hukum-Mu adalah baik.
Sesungguhnya aku rindu kepada titah-titah-Mu,
hidupkanlah aku dengan keadilan-Mu!
(Mzm. 119:33-40)
Amin.

yoel m. indrasmoro

17 Feb 2011 ,written by Nikimaserika
 

Hidup Seturut Standar Allah (Kotbah Minggu, 13 Februari 2011)

Hidup Seturut Standar Allah

Minggu ini kita dikagetkan oleh dua peristiwa yang jarang terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru—yaitu tindak kekerasan di Cikeusik dan Temanggung. Jelas terlihat bahwa orang tak lagi menghiraukan hukum. Dan polisi tampak tak berdaya menyaksikan aksi kekerasan berlangsung di depan mata mereka!
Hukum memang makin melemah daya cengkramnya di masa reformasi ini. Juga di kalangan aparat hukum itu sendiri. Banyak contoh bisa dikemukakan. Tak heran, banyak orang mengucapkan dan mengamini adagium ini: hukum dibuat untuk dilanggar.

Standar Moral Yesus
Pada zaman Yesus sebaliknya. Di masa itu orang Yahudi, khususnya orang Farisi dan ahli Taurat, sangat getol dengan hukum. Namun, persoalan yang dikritik Yesus ialah mereka menjalani hukum sekadar legalitas formal. Mereka menaati hukum hanya dengan satu niat: agar jangan dihukum. Sehingga mereka merasa sudah nyaman apabila tidak melanggar hukum. Dan hanya sampai di situ.
Yesus berbeda. Bagi Dia, dasar segala keinginan untuk melaksanakan hukum Tuhan bukanlah karena perintah itu sendiri, tapi keinginan untuk mengasihi Allah. Jadi, dasar melakukan perintah itu bukan agar tidak dihukum, namun karena mereka memang mengasihi Allah.
Karena itu Yesus membenci segala hal yang berbau formalisme. Jika hanya berdasarkan formalisme, maka orang sudah merasa puas jika dia tidak melakukan pembunuhan.
Yesus menerobos lebih dalam. ”Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Mat 5:22).
Dalam BIMK tertera: ”Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu, barangsiapa marah *barangsiapa marah: beberapa naskah kuno: barangsiapa marah tanpa sebab.* kepada orang lain, akan diadili; dan barangsiapa memaki orang lain, akan diadili di hadapan Mahkamah Agama. Dan barangsiapa mengatakan kepada orang lain, 'Tolol,' patut dibuang ke dalam api neraka.
Mengapa? Karena semua tindakan tadi sejatinya merupakan penghinaan terhadap harkat dan martabat orang lain. Dan merendahkan harkat dan martabat orang lain sama halnya dengan menghina Sang Pencipta.
Selanjutnya, Yesus melangkah lebih jauh, ”Kalau salah seorang di antara kalian sedang mempersembahkan pemberiannya kepada Allah, lalu teringat bahwa ada orang yang sakit hati terhadapnya, hendaklah ia meninggalkan dahulu persembahannya itu di depan mezbah, lalu pergi berdamai dengan orang itu. Sesudah itu, dapatlah ia kembali dan mempersembahkan pemberiannya kepada Allah.” (Mat. 5:23-24, BIMK).
Menarik disimak, Yesus memakai standar moral yang lebih tinggi. Jelas pada titik ini, persoalannya besarnya ialah bukan pada diri sendiri, tetapi pada orang lain. Dengan kata lain, jika ada orang yang sakit hati karena kita, maka kita harus berdamai dengan orang tersebut.
Mungkin kita perlu bertanya, mengapa? Bukankah orang itu yang punya persoalan? Lalu, mengapa pula kita yang harus berdamai dengan dia? Lalu, bagaimana kita tahu bahwa orang itu sakit hati terhadap kita? Nggak gampang memang menjawab serangkaian pertanyaan tadi. Tetapi, jelas dibutuhkan kepekaan yang tinggi terhadap orang lain. Dan itu harus dilakukan segera. Jadi tidak boleh ditunda.
Juga Yesus memperluas dan memperdalam dosa seksual. Dalam pandangan Yesus dosa seksual itu juga mencakup pandangan dan khayalan yang berahi. Mengapa? Sebab, memandang orang lain dengan berahi pada dasarnya telah menjadikan orang yang kita pandang itu sebagai benda yang bisa dipermainkan sekehendak hati kita. Pada titik ini sejatinya telah terjadi penghinaan yang luar biasa terhadap ciptaan Allah.
Lagi pula, perbuatan-perbuatan onar biasanya didahului khayalan-khayalan onar. Dan menggeloranya imajinasi dimulai merupakan akibat dari mata yang tidak terkendali. Tak heran, jika Yesus langsung mengajarkan hal yang sering ditafsirkan secara harfiah.
Sebenarnya, menurut John Stott, yang dimaksud Yesus dengan pencungkilan mata, pemenggalan tangan dan anggota tubuh yang lain adalah jika mata menyebabkan kita berbuat dosa, janganlah lihat; jika tangan menyebabkan kita berbuat dosa, janganlah jamah; dan jika kaki menyebabkan kita berbuat dosa, janganlah pergi. Dengan kata lain, kita harus menolak membaca buku tertentu, melihat film tertentu, dan mengunjungi tempat-tempat yang membuat kita memerosokkan diri ke dalam lubang dosa.
Selanjutnya, Yesus berbicara soal kesetiaan terhadap perkawinan dan  kejujuran dalam ucapan. Pada bagian kesetiaan terhadap perkawinan, sejatinya Yesus hendak menekankan agar para pengikut-Nya sungguh-sungguh mampu mengasihi orang lain sebagaimana mereka mengasihi diri mereka sendiri. Yesus tidak ingin para pengikutnya menganggap pasangan hidupnya boleh diberlakukan semena-mena, tak ubahnya benda.
Sekali lagi menurut John Stott, jika perceraian terjadi akibat ketegaran hati manusia, maka sumpah adalah akibat dari ketidakjujuran manusia. Banyak orang bersumpah karena takut orang tidak percaya kepadanya. Sumpah biasanya timbul karena orang begitu sering berbohong. Karena itulah, Yesus mengajarkan hal sederhana: jika ya katakana ya, jika tidak katakan tidak. Dan lagi, kalau satu kata sudah cukup, mengapa pula harus memakai dua kata?

Berbahagia
Apakah maksud Yesus di balik semua pengajaran tersebut? Yesus menekankan bahwa standar moral yang diberikannya itu merupakan konsekuensi logis dari jalan yang mereka tempuh sebagai pengikut-Nya! Dan semuanya itu dilakukan bukan karena keterpaksaan, tetapi karena semua itu merupakan keniscayaan sebagai pengikut Kristus.
Dan orang yang mengikuti jalan Kristus seharusnya merasa berbahagia karena mereka dianggap layak berada di jalan tersebut. Tak heran, jika pemazmur menyatakan dengan terus terang:
Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela,
yang hidup menurut Taurat TUHAN.
Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya,
yang mencari Dia dengan segenap hati,
yang juga tidak melakukan kejahatan,
tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.                                           (Mzm. 119:1-3)
Mengapa? Mengapa orang yang hidupnya tidak bercela dan menurut Taurat Tuhan dikatakan disebut berbahagia? Sebab Tuhan adalah pencipta manusia. Dia tahu apa dan bagaimana seharusnya manusia hidup. Dan semuanya itu telah dijabarkan dalam Alktitab. Menjadi hal logis bagi manusia untuk hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi, karena Tuhan tahu apa yang terbaik buat manusia.
Dan itulah nasihat Musa kepada umat Israel: ”Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” (Ul. 30:19-20).
Jelas dari perintah Musa, umat melakukan perintah Allah bukan karena terpaksa, tetapi karena mereka mengasihi Allah. Mengapa? Sebab Allah sendiri telah mengangkat mereka sebagai umat-Nya. Sekali lagi, mengikuti kehendak Allah merupakan bukti nyata bahwa kita mengasihi-Nya.
Dan hanya dengan itulah, orang lain dapat melihat bahwa kita sungguh-sungguh bangunan Allah (1Kor. 3:9), yaitu ketika kita dapat hidup seturut dengan standar yang ditetapkan Allah sendiri dalam kasih-Nya!

Yoel M. Indrasmoro

10 Feb 2011 ,written by Nikimaserika
 

Allah Dimuliakan (Khotbah Minggu, 6 Februari 2011)

Allah Dimuliakan


Dalam bukunya, Inspirasi Sabda Masa Biasa Tahun ABC,  Bernard Raho, SVD, mengisahkan tentang seorang hakim yang terkenal karena kejujurannya.  Ia senantiasa menolak sogokan orang-orang yang ingin perkaranya dimenangkan oleh hakim tersebut.
Suatu hari, ia dituduh dengan berbagai macam hal yang tidak pernah dilakukannya. Berbagai gosip menimpa dirinya, namun, ia sama sekali tidak terpengaruh. Dia hanya diam. Dia bahkan tidak mencoba untuk melakukan klarifikasi.
Seseorang yang heran melihat sikap hakim tersebut pun bertanya kepadanya, ”Mengapa Bapak tidak menjawab semua tuduhan itu?” Sang Hakim menjawab, ”Di kampung saya hiduplah seorang janda dengan seekor anjingnya. Setiap kali melihat bulan memancarkan sinarnya, anjing itu keluar rumah dan mulai menggonggong.” Kemudian, ia mengalihkan pembicaraannya kepada hal-hal lain.
Merasa tak puas dengan jawabannya, orang itu bertanya lagi, ”Bagaimana dengan anjing dan bulan itu?” Dan hakim itu menjawab, ”Oh… bulan itu tetap bersinar, sekalipun anjing itu menggonggong sepanjang malam.
Pesannya jelas, bulan tetap bersinar sekalipun ada yang tak suka dengan terang yang dipancarkannya. Sang Hakim dalam cerita tadi tidak merasa perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tetap bercahaya sekalipun ada orang yang tidak menyukainya. Setiap perbuatan baik tidak boleh goyah sekalipun ada orang yang tidak menyukainya.

Kisah Israel

Nah, persoalan Israel di masa Yesaya ialah bersinar saja tidak! Yesaya menyatakan dengan tegas sikap Allah terhadap Israel:  ”Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: ’Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?’ Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.” (Yes. 58:2-4).
Ya, itulah persoalan Israel. Mereka melakukan apa yang sekarang dikenal di negeri kita sebagai politik pencitraan. Kemasannya bagus dan tampak kudus; namun isinya buruk dan pasti tidak kudus. Yesaya menyatakan bahwa umat Israel kontradiksi dalam dirinya sendiri.
Demikianlah penilaian Allah tentang Isarel: ”Mereka menyembah Aku setiap hari, dan ingin mengetahui kehendak-Ku, seolah-olah mereka melakukan yang baik, dan setia kepada hukum-Ku. Mereka berkata bahwa mereka senang menyembah Aku dan menginginkan hukum-Ku yang adil." (Yes. 58:2, BIMK)
Menarik untuk mencermati ungkapan ”seolah-olah”. Dalam KBBI ”seolah-olah” berarti ”selaku”; ”sepertinya”; atau ”seakan-akan”. Dan yang menilainya ialah Sang Mahatahu. Itulah anehnya umat Israel. Pasti mereka tahu bahwa Allah itu Mahatahu; ya di sini anehnya, mereka malah mengembangkan politik pencitraan.
Mengapa orang mengembangkan politik pencitraan? Jawabnya sederhana. Manusia sering kali menghargai apa yang terlihat. Mereka lebih mempedulikan apa yang dikatakan manusia yang kelihatan ketimbang Allah yang tidak kelihatan.
TUHAN berkata, "Sesungguhnya, sementara kamu berpuasa, kamu mencari keuntungan sendiri dan memeras orang-orang upahanmu. Sementara berpuasa, kamu berbantah dan berkelahi dan bertindak dengan kekerasan. Sangkamu cara kamu berpuasa menggerakkan Aku untuk mendengarkan doa-doamu? Apabila kamu berpuasa, kamu menyiksa dirimu; kamu menundukkan kepalamu seperti daun rumput. Kamu membentangkan kain karung dan menaburkan abu, dan berbaring di atasnya.” (Yes. 58:3-5, BIMK).
Agaknya sudah menjadi naluri manusia untuk menampilkan apa yang baik dan menyembunyikan apa yang buruk. Dan yang lebih bermasalah ialah ketika orang menampilkan apa yang baik untuk menutupi apa yang buruk.
Pada titik ini jelaslah, manusia tak lagi menghargai Allah yang tidak terlihat. Padahal Israel adalah umat Allah. Israel adalah hamba Tuhan.

Hakikat Hamba Tuhan

Dan hingga hari ini, banyak orang tidak sungguh-sungguh serius menjalani predikat diri sebagai hamba Tuhan. Sesungguhnya, hamba Tuhan bukanlah predikat kosong. Predikat hamba Tuhan mensyaratkan adanya seorang Tuan yang menetapkan seseorang sebagai hamba dari Tuan tersebut. Tuhan sendiri yang telah memilih kita sebagai hamba-Nya. Namun, apakah setiap orang sungguh-sungguh menjalani hidupnya sebagai hamba Tuhan? Sering, kita menyempitkan arti hamba Tuhan, dan hanya tertuju kepada para rohaniawan. Benarkah? Jawabnya, tentu tidak.
Hati-hati! Ketika kita menyebut seseorang sebagai Tuan, sesungguhnya kita telah menganggap (memanggil) diri kita sebagai hamba. Demikian pula, jika kita menyebut Allah sebagai Tuhan, maka kita sedang menyebut diri kita sendiri sebagai hamba Tuhan. Dan aneh bukan, jika kita menyebut Dia sebagai Tuhan, namun tak bertindak sebagai hamba?
Dunia gempar sewaktu Friedrich Nietzche berkata, “Tuhan sudah mati. Kami telah menguburkannya kemarin!” Orang Kristen pun ramai-ramai mengutuk dan mencap anak pendeta Jerman ini sebagai ateis. Hujatan itu ditanggapi Nietzche dengan tantangan, “Buktikanlah, jika Tuhan masih hidup! Apakah Tuhan sungguh-sungguh hidup dalam hidupmu?”
Nietzche punya alasan kuat saat mengucapkan kalimat kontroversial itu. Semasa hidupnya negeri Jerman telah mengalami kemajuan pesat di bidang kebudayaan dan teknologi. Kota-kota di Jerman dihiasi dengan monumen-monumen yang mengagungkan hasil-hasil baru dalam bidang persenjataan dan industri. Negara menjadi tanpa jiwa dan puas diri: kaya dalam milik, miskin secara batin.
Gereja penuh sesak, namun kejahatan makin menjadi. Menurut Nietzche, orang Kristenlah yang telah membunuh Tuhan. Dalam doanya, orang Kristen memohon, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Yang terjadi di kehidupan nyata, manusialah yang menjadi raja.
Karena itulah, Allah melalui Yesaya, mengingatkan: ”Inilah puasa yang Kukehendaki: Lepaskanlah belenggu penindasan dan beban ketidakadilan, dan bebaskanlah orang-orang yang tertindas.” (Yes. 58:6, BIMK).
Mengapa Israel diperintahkan untuk melepaskan belenggu penindasan, beban ketidakadilan, dan orang-orang yang tertindak? Jawabnya: hanya orang merdekalah yang mampu memerdekakan orang lain. Israel sebagai orang yang dimerdekakan Allah harus memerdekakan orang lain pula.
Secara khusus, Allah, sekali lagi melalui Yesaya, mengingatkan Israel untuk berbagi makanan, berbagi ruang, dan berbagi pakaian. (lih. Yes. 58:7, BIMK). Sejatinya, inilah kebutuhan primer manusia: sandang, pangan, papan. Intinya melepaskan manusia dari belenggu kemiskinan. Pertanyaannya? Mungkinkah kita melakukannya?

Insan Merdeka

Semasa hidup Ibu Teresa pernah mengunjungi keluarga Hindu miskin. Dalam kunjungannya penerima hadiah Nobel perdamaian itu membawa beras untuk membantu keluarga tersebut. Nyonya rumah menerimanya, membagi beras itu menjadi dua, lalu pergi ke luar rumah.
Ketika wanita itu kembali, Ibu Teresa bertanya ke mana dia pergi  “Ke rumah tetangga,” jawabnya, “mereka juga lapar.”
Ibu Teresa adalah sosok insan merdeka. Dia memperlihatkan jiwa merdeka kala meninggalkan negerinya dan pergi ke India sebagai misionaris. Dia juga menampakkan diri selaku pribadi merdeka saat meninggalkan pelayanan sebagai kepala sekolah dan membuka ladang pelayanan baru dalam kekumuhan masyarakat Kalkuta. Kisah tadi memperlihatkan kemerdekaan Ibu Teresa sewaktu memberikan beras kepada keluarga dina itu.
Memberi kepada orang lain merupakan tindakan insan merdeka. Dia tak lagi terikat dengan benda tersebut. Dia bersikap lepas-bebas terhadap barang yang dimiliki. Dia rela melepas agar orang lain bisa merasakan apa yang dinikmatinya.
Tindakan merdeka itu menular. Keluarga Hindu miskin itu ternyata tak mau menikmati beras sendirian. Mereka teringat kepada tetangga mereka yang juga lapar. Mereka berbagi agar orang lain bisa makan.
Keluarga Hindu miskin itu juga insan merdeka. Hati dan pikiran mereka tidak melekat pada beras. Mereka rela melepaskannya. Meski sadar, beberapa hari kemudian mereka mungkin tak lagi punya beras untuk dimakan. Agaknya, mereka tak terlalu hirau masa depan. Saat memiliki beras, mereka ingin tetangga sebelah juga merdeka dari lapar.
Kemerdekaan merupakan sikap hidup. Soalnya: apakah seseorang merdeka terhadap harta miliknya? Menjadi insan merdeka merupakan panggilan insani karena—mengutip sabda Sang Guru—”Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Kelekatan akan membuat seseorang tak lagi menjadi tuan, tetapi budak dari harta yang mereka miliki. Ketika harta hilang, jiwa turut melayang bersamanya. Kelekatan sejatinya menurunkan derajat kemanusiaan.
Paradoks: kala manusia merasa memiliki, pada titik itulah dia dikuasai oleh harta miliknya. Kelekatan pada apa pun hanyalah cerminan dari sikap ketergantungan. Dan semua ketergantungan merupakan wajah lain perbudakan.

Merasa Kaya

Tak perlu menunggu kaya untuk memberi. Dalam kemiskinan seseorang bisa memerdekakan orang lain. Jika nunggu kaya, mungkin kita takkan pernah memberi karena enggak pernah merasa kaya.
Kaya atau miskin sesungguhnya masalah perasaan. Ada orang kaya yang merasa miskin, sehingga tidak pernah memberi apa pun. Bagaimana mungkin memberi kalau dia merasa harus mendapatkan sesuatu dari orang lain?
Sebaliknya, hanya orang yang merasa kayalah yang mampu memberi. Mungkin dia miskin, namun merasa kaya. Perasaan itulah yang membuatnya mampu memberi.
Kala mengenang keluarga Hindu tersebut, Ibu Teresa bersaksi: ”Saya tidak terkejut dengan sikap wanita itu yang mau berbagi, melainkan saya terkejut karena wanita itu masih mau memahami tetangganya yang kelaparan.”
Mau memahami merupakan frasa kunci dalam memberi, yang berawal pada kepekaan nurani. Kepekaan terhadap sekitar memampukan keluarga Hindu itu memberikan sesuatu saat mereka memiliknya.
Soalnya: tak banyak orang yang peka terhadap situasi sekitar, apalagi memahaminya. Ketidakpedulian merupakan persoalan besar dalam diri manusia. Dan kemiskinan, dalam arti merasa diri miskin, kadang menjadi dalih.
Padahal, miskin berarti—mengutip nasihat Nyonya Ogawa kepada anaknya Aiko dalam cerita anak Aiko di Tokyo—tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain. Dengan kata lain, kita tidak miskin selama masih mempunyai sesuatu untuk dibagikan kepada orang lain.
Persoalan kemanusiaan Indonesia terbesar sekarang ini ialah lebih banyak orang yang merasa miskin ketimbang yang merasa kaya. Pelaku tindak korupsi kebanyakan bukan orang miskin, melainkan si kaya yang merasa miskin!
Apa tujuan semua ini? Yesus menegaskan: ”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat. 5:16). Tujuannya ialah bukan agar kita yang dipuji, tetapi agar Allah yang dipuji!
Ya, segala kemuliaan hanya bagi Allah!
Amin.

Yoel M. Indrasmoro



06 Feb 2011 ,written by Nikimaserika
 


Page 6 of 9