• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Khotbah

Pekabaran Injil (Kotbah Minggu, 1 Mei 2011)

Pekabaran Injil

(Kis. 2:14a, 22-32; Mzm. 16; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31)

”Kami telah melihat Tuhan!” (Yoh. 20:25). Demikianlah inti berita yang disampaikan para murid kepada Tomas. Mereka telah melihat Yesus yang bangkit. Kebangkitan itu bukan omong kosong.
Yesus yang bangkit berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”

Berbagi Damai Sejahtera

Menarik disimak, damai sejahtara yang diberikan berlanjut dengan pengutusan. Dengan kata lain, damai sejahtera itu harus ditularkan. Itulah yang mereka lakukan selanjutnya. Mereka berbagi damai sejahtera dengan Tomas.
Kita tak pernah tahu alasan ketidakhadiran Tomas. Itu tidak begitu penting. Yang terpenting: para murid tidak menyembunyikan kabar gembira itu. Dengan semangat mereka berkata: ”Kami telah melihat Tuhan!”
Agaknya, mereka sengaja menggunakan kata ganti ”kami”. Ungkapan ”Kami telah melihat Tuhan!” bukanlah pengakuan iman pribadi, melainkan pengakuan iman kelompok. Pada akhirnya, itu jugalah pengakuan iman gereja.
Namun, para murid tidak memaksa Tomas untuk percaya. Bagaimanapun, percaya merupakan hal pribadi dan tentunya tidak bisa dipaksakan. Pada titik ini, gereja masa kini perlu belajar dari para murid. Kita tak perlu marah atau tersinggung kalau ada orang yang tak memercayai kebangkitan Yesus Kristus.
Ketika Tomas dengan akalnya tidak bisa menerima kebangkitan Yesus, mereka tidak melecehkannya, juga tidak menyalahkannya. Mungkin mereka sedih. Tetapi, agaknya mereka sadar kalau mereka menganggap remeh Tomas, atau menganggapnya sesat, dia akan meninggalkan persekutuan.
Jika itu yang terjadi, mereka tidak akan pernah mendengar pengakuan iman Tomas: ”Ya, Tuhanku dan Allahku.” Pengakuan iman yang pendek ini pada masanya merupakan pengakuan iman di kalangan jemaat awal.
Bisa jadi, para murid menyadari bahwa pengakuan iman bukan urusan manusia semata. Tuhanlah yang memampukan manusia untuk percaya kepada-Nya. Berkait dengan Tomas, Yesuslah yang menemui Tomas. Bukan sebaliknya. Itu berarti Tuhan pulalah yang memampukan Tomas menjadi percaya.
Untunglah para murid tetap mengasihi Tomas, meski berbeda paham. Pemahaman berbeda memang harus dinyatakan, tetapi jangan menjadi alasan untuk bersikap membedakan.
Menjadi Saksi
Tak hanya kepada Tomas. Sejarah mencatat bagaimana para murid menularkan damai sejahtera itu kepada orang-orang di luar kelompok mereka. Mereka tidak ingin menikmati damai sejahtera itu sendirian. Pada titik ini, mereka sungguh-sungguh menjalankan perintah Yesus.
Itulah yang terjadi pada peristiwa Pentakosta. Petrus, yang telah menjadi saksi kebangkitan Tuhan itu, berkhotbah dengan maksud memberi penjelasan mengenai peristiwa Pentakosta.
Menarik untuk disimak, khotbah Petrus begitu runut, jelas, dan lugas. Dan tak lupa Petrus menegaskan: ”dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (Kis. 2:32). Petrus menegaskan bahwa dia adalah saksi. Jika Petrus begitu runut, jelas, dan lugas dalam berkhotbah, maka semua itu dikarenakan bahwa dia adalah saksi.
Mengapa? Karena Petrus sungguh mengalami kebangkitan Tuhan. Dia tidak hanya menyaksikan Yesus yang bangkit dengan mata kepala sendiri, tetapi dia juga merasakan bagaimana Yesus memulihkan dirinya.
Dia yang awalnya mungkin tak lagi dianggap para murid lagi, karena peristiwa penyangkalan di halaman rumah Imam Besar, akhirnya dipulihkan Yesus di tepi danau Galilea. Petrus sungguh-sunggu mengalami kebangkitan Tuhan. Sekali lagi, tak sekadar kebangkitan, tetapi Petrus sungguh-sungguh mengalami kebangkitan Tuhan dalam hidupnya.
Itulah sebabnya, Petrus sungguh-sungguh mampu menjadi saksi yang efektif, khotbahnya begitu menggerakkan hati orang, karena dia memang telah mengalami kebangkitan Tuhan dalam hidupnya.

Modal Pekabaran Injil

Menjadi saksi tak hanya dengan perjumpaan langsung. Menarik disimak bahwa Petrus menggunakan media surat dalam pemberitaan Injilnya. Dan itulah yang dilakukan Petrus dalam surat penggembalaannya! Dia melayankan Injil melalui media.
Pada titik ini, kita melihat bagaimana Petrus tetap melihat pentingnya pemeliharaan iman. Dalam suratnya, Petrus menyatakan: ”Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu—yang  jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api—sehingga sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (1Ptr. 1:6-7)
Dalam suratnya, Petrus mendorong warga jemaat untuk tetap setia dalam mengikuti Kristus. Bahkan, pencobaan-pencobaan yang ada harus dipahami sebagai sarana untuk membuktikan kemurnian iman. Pada kenyataannya, penderitaan bisa membawa manusia tak lagi setia kepada Tuhan. Tetapi, sekali lagi, Petrus mengingatkan bahwa penderitaan memang diizinkan Tuhan terjadi bukan untuk mencobai kita, tetapi untuk menguji iman kita.
Di sini perlulah dibedakan antara pencobaan dan pengujian. Pencobaan akan berhasil jika yang dicobai itu gagal; sedangkan pengujian akan berhasil jika yang diuji ternyata mampu menjalani ujian itu dengan sebaik-baiknya. Guru yang baik, pastilah sedih jika muridnya gagal dalam ujian. Tetapi, pencoba atau penggoda berharap orang yang dicobai atau digodai itu gagal dalam hidupnya.
Petrus mampu menyatakan semuanya itu karena dia memang sudah mengalaminya. Dia pernah gagal mengakui diri sebagai murid Kristus di halaman rumah imam besar. Dia pernah gagal, tetapi yang menarik pula Petrus belajar dari kegagalan tersebut. Petrus berbeda dengan Yudas. Yudas memang menyesal; tetapi agaknya dia tidak meyakini akan kesetiaan Tuhan. Sehingga dia mengambil jalan pintas—bunuh diri.Mengapa Yudas bunuh diri? Agaknya dia malu mengakui kesalahannya di depan guru dan para murid lainnya.
Petrus berbeda. Dia menyadari kesalahannya. Penyangkalannya memang bukan teladan yang baik. Tetapi, Petrus mampu bertahan untuk tetap bersama para murid lainnya. Bisa jadi, pada waktu itu banyak orang yang mulai meragukan kepemimpinannya. Tetapi, Petrus tetap bersama dengan para murid lainnya. Dan karena itulah dia tidak ingin orang lain melakukan kesalahan seperti dirinya.
Dan memang itu yang terjadi bukan? Orang yang pernah gagal mengakui diri sebagai murid Yesus, kini malah menjadi pemimpin jemaat. Dan karena itulah Petrus mampu mendorong warga jemaat untuk tetap setia dalam mengikut Yesus. Dalam surat Petrus ini kita juga melihat bahwa tetap bertahan dalam penderitaan juga merupakan modal utama dalam pekabaran Injil.
Bagaimana caranya bertahan dalam penderitaan? Kita bisa belajar dari Daud. Dalam mazmurnya, Daud mengakui: ”Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm. 16:8). Itulah satu-satunya cara agar tidak jatuh ke dalam percobaan: selalu mengingat Tuhan.
Itu berarti Tuhanlah yang menjadi pusat hidup seumur hidup kita!

Yoel M. Indrasmoro

30 Apr 2011 ,written by Nikimaserika
 

Keledai Di Minggu Palma (Khotbah Minggu-17 April 2011)

 

KELEDAI DI MINGGU PALMA

 

Bak pemimpin politik, Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang-orang, yang mendengar bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, berhamburan keluar. Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: ”Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9).Hosana merupakan aliterasi dari bahasa Ibrani yang berarti selamatkan kami. Dalam seruan itu tersirat harap: Yesus menyelamatkan Israel dari belenggu Roma. Dan tindakan penyelamatan itu diharapkan muncul dari Pribadi yang mengendarai keledai.

BELAJAR DARI KELEDAI
Marilah kita arahkan mata-hati kita pada keledai yang menjadi tunggangan Yesus orang Nazaret. Ketika mendengar kata ”keledai”, mungkin yang tergambar dalam benak kita ialah binatang lamban, lemah, bahkan bodoh. Gambaran yang tidak sepenuhnya salah. Dari segi kecepatan, Keledai (Equus asinus) memang tak bisa disamakan dengan kuda (Equus caballus), meski keduanya satu genus. Dalam mekanika dikenal istilah ”tenaga kuda” yang merupakan ukuran kemampuan mesin. Tak ada istilah ”tenaga keledai”. ”Pacuan kuda”—yang sering menjadi ajang judi— juga lebih lazim terdengar ketimbang ”pacuan keledai”. Keledai memang tak seagresip kuda. Jalannya lambat. Saking lambatnya terkesan malas. Tak punya inisiatif.
Ada peribahasa ”Seperti keledai.”Artinya: bodoh atau keras kepala. Ada lagi peribahasa ”Keledai hendak dijadikan kuda.” Artinya: orang bodoh hendak dipandang sebagai orang pandai. Dalam kedua peribahasa itu, keledai dipandang sebagai binatang bodoh. Tak heran, banyak orang tersinggung kala dijuluki: ”keledai”. Namun, jangan pula kita lupa, ada peribahasa baik tentang keledai: ”Keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.” Peribahasa itu berarti sebodoh-bodohnya keledai, binatang itu toh belajar dari pengalaman.
Kegagalan dijadikannya pelajaran agar tidak terulang lagi. Keledai belajar dari sejarah. Anehnya, manusia (Homo Sapiens ’manusia yang berpikir’) malah sering mengulangi kesalahan yang sama. Manusia agaknya perlu belajar dari keledai perihal memetik kearifan masa lampau. Hanya itukah? Tidak. Keledai merupakan binatang pekerja berat. Dia bukan pemalas. Jalannya memang lambat, tetapi semua tugas dituntaskannya. Keledai jelas mempunyai ketahanan kerja tinggi. Aton, bahasa Ibrani untuk keledai, mengacu pada daya tahannya. Dalam sehari keledai sanggup berjalan sejauh 30 kilometer. Meski lambat, keledai konsisten menjalani panggilannya. Dia tidak pernah mutung.

TUHAN MEMERLUKANNYA
Pada masa itu di Palestina, keledai bukanlah hewan yang dianggap hina, melainkan terhormat. Bila raja pergi berperang, ia akan mengendarai kuda. Jika raja datang dengan maksud damai, ia akan mengendarai keledai. Yesus masuk ke Yerusalem bukan untuk menaklukkannya secara politis, melainkan untuk menyerahkan diri-Nya. Dia datang bukan untuk berperang, melainkan menawarkan damai. Bukan paras garang, tetapi paras lemah lembutlah yang ditampilkan-Nya. Yesus datang dalam damai dan demi kedamaian. Dan keledai merupakan simbol perdamaian. Keledai menjadi wahana kedatangan Yesus ke Yerusalem. Meski tak dianggap oleh kebanyakan orang karena tak segagah kuda, lamban, dan terkesan bodoh, keledai dihargai Sang Guru dari Nazaret. Bahkan, kepada para murid yang diutus untuk menjemput keledai tersebut, Yesus berpesan, ”Tuhan memerlukannya.”
Tuhan memerlukannya! Yesus—Allah yang menjadi Manusia—tak sungkan untuk mengaku bahwa Dia membutuhkan pertolongan keledai muda itu. Yesus tidak menyembunyikan kenyataan tersebut, Dia berkata dengan terus terang. Dia sungguh-sungguh membutuhkan keterlibatan keledai dalam menggenapi misi-Nya: menjadi pendamai antara Allah dan manusia. Yesus memang membutuhkan peran serta keledai yang belum pernah ditunggangi orang. Kenyataan itu selaras pula dengan maksud kedatangan-Nya ke Yerusalem. Hewan yang akan digunakan untuk maksud suci haruslah hewan yang belum pernah dipakai untuk tujuan apa pun. Keledai muda itu secara tidak langsung diangkat menjadi rekan sekerja Yesus dalam menuntaskan misi-Nya: menjadi Juruselamat dunia.
Menjadi rekan sekerja Yesus dan menjadi simbol perdamaian merupakan tugas yang mesti dijalani keledai muda itu. Tak ada paksa memaksa di sini. Yesus tidak memaksa keledai tersebut untuk tunduk kepada-Nya. Sebaliknya, sang keledai pun kelihatannya pasrah bongkokan ’menerima tanpa syarat’ kala para murid menghamparkan pakaian mereka di atas punggungnya. Tak ada pemberontakan. Yang ada hanyalah kerelaan terlibat dalam karya Tuhan. Dia bersikap laksana hamba Tuhan: tak menolak kerja dan rindu menyenangkan hati Tuhannya.Bahkan, sang pemilik keledai itu pun, tak berkuasa untuk menolak permintaan Yesus. Lagi pula siapa yang bisa menolak Tuhan jika Dia memang memerlukannya? Di Minggu Palma ini kita kembali menyaksikan Allah yang menjadi Manusia itu memasuki Yerusalem. Kedatangan-Nya memang hendak menggenapkan janji Allah dalam diri-Nya. Dia datang ke Yerusalem memang untuk mati.

TUHAN MEMERLUKAN KITA?
Yang sungguh perlu kita pikirkan sekarang ini: Apakah Tuhan memerlukan kita? Jangan pikirkan perkara-perkara besar atau tugas-tugas besar! Keledai di Minggu Palma hanya mengerjakan bagiannya. Dia tidak mengubah diri menjadi kuda perang. Itu memang mustahil dilakukannya. Dia menjadi dirinya sendiri. Namun, ia menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ya, apakah Tuhan memerlukan kita? Untuk tugas apa? Mungkin untuk menjadi seorang eyang yang baik atau orang tua yang baik atau untuk menjadi aktifis yang baik atau anggota majelis yang baik atau menjadi karyawan yang baik atau menjadi majikan yang baik. Baik di sini berarti kita mampu mengerjakan semua yang Tuhan berikan kepada kita untuk ditanggungjawabi.
Sekali lagi, apakah Tuhan memerlukan kita? Jika Saudara sudah mendapatkan jawabannya, maukah Saudara memenuhi panggilan Tuhan itu?

Pdt. Ir. Yoel M. Indrasmoro, S.Th.

 

14 Apr 2011 ,written by Pnt.Siswanto S.N.
 

Di Sebuah Perigi (Kotbah Minggu, 27 Maret 2011)

Di Sebuah Perigi


Dua orang bertemu di sebuah perigi. Hanya berdua. Hari kira-kira pukul dua belas siang.
Keduanya tampak sedikit canggung. Terlalu banyak beda di antara mereka. Yang seorang: laki-laki Yahudi, masih muda, guru agama yang sedang naik daun, dengan standar moral tinggi tiada banding.
Yang lainnya: perempuan Samaria cantik, terkenal bukan saja karena kecantikannya, tetapi sudah lima kali kawin dan sekarang tinggal dengan laki-laki yang bukan suaminya.

Berilah Aku Minum

Laki-laki itu Yesus. Tampaknya, Dia tak tahan berada dalam kecanggungan itu. Mulut-Nya bergerak, memohon, ”Berilah Aku minum!” (Yoh. 4:7)
Perempuan itu terkejut bukan kepalang. Heran mendengar seorang Yahudi meminta sesuatu kepadanya. Ini peristiwa langka. Biasanya, orang Yahudi terlalu tinggi gengsinya untuk memohon sesuatu kepada orang Samaria. Sebagai bangsa pilihan dan murni, mereka menganggap Samaria sebagai bangsa campuran yang tak mengindahkan hukum Allah.
Tak hanya itu, mereka juga tak mau memakai cangkir atau mangkuk yang dipakai orang Samaria. Mereka takut tercemar. Di mata orang Yahudi, orang Samaria tak beda dengan penderita kusta. Bersentuhan dengan orang Samaria hanya akan membuat najis diri mereka.
Karena itu, permintaan Yesus membuat perempuan itu terperanjat. Dengan permintaan itu, jelaslah Yesus bersedia menggunakan alat timba perempuan Samaria itu.
Permintaan itu membuat itu merasa dihargai. Ini jarang terjadi. Biasanya, orang-orang, khususnya laki-laki dewasa, hanya meminta kecantikannya. Mereka hanya ingin bersetubuh dengannya. Tak lebih dari itu. Yesus tak meminta kecantikannya. Dia hanya minta minum.
Perempuan itu merasa tersanjung. Dia merasa dianggap memiliki sesuatu, yang darinya orang dapat menerima sesuatu yang baik. Dan sekali lagi, itu bukanlah kecantikannya.

Air Hidup

Selanjutnya, percakapan mengalir dengan cepat dan lancar. Percakapan itu melebur batas bangsa, kasta, dan moral. Percakapan yang bermuara pada persoalan besar manusia: air.
Air merupakan kebutuhan utama manusia setelah oksigen. Orang masih bisa hidup beberapa hari tanpa makanan, tetapi tidak tanpa air. Manusia tak mungkin hidup tanpa air. Bahkan, 95 persen otak manusia terdiri atas air. Air merupakan kebutuhan vital manusia. Tanpa air manusia tak mampu berbuat apa-apa, juga berpikir.
Itulah yang terjadi di Masa dan Meriba (Kel. 17:1-7; Mzm. 95:8). Ketiadaan air membuat orang Israel yang baru merdeka itu melupakan kemerdekaannya. Ketiadaan air membuat mereka ingin kembali ke Mesir. Ketiadaan air membuat manusia tak mampu mengontrol emosinya. Bahkan, ketiadaan air membuat manusia mempertanyakan keberadaan Tuhan. Ketiadaan air membuat mereka berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Ketiadaan air membuat iman mereka goyah.
Yesus, Allah yang menjadi manusia itu, mengerti sungguh akan keberadaan manusia tanpa air. Tetapi, Dia melangkah lebih jauh. Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu. Dia menegaskan bahwa air hidup yang ditawarkan-Nya tidak akan membuat manusia haus lagi. Akibatnya, giliran perempuan itu yang meminta sesuatu kepada Yesus, ”Berikanlah aku air itu!” (Yoh. 4:15)
Ada yang tersurat maupun tersirat dalam permohonan itu. Tersurat: perempuan itu tidak ingin datang ke perigi itu lagi. Sejatinya, dia merasa malu jika harus bertemu dengan para perempuan Samaria lainnya. Itulah sebabnya, dia mengambil ketika hari siang. Dia merasa tak merasa enak hatinya bertemu para perempuan yang kerap bergosip mengenai dirinya.
Tersirat: perempuan itu haus rohaninya. Lima kali perkawinannya kandas. Sekarang dia sendiri tak berani mengikat diri dengan pasangan kumpul kebonya. Dia takut kalau-kalau perkawinan itu pun gagal lagi.
Dengan kata lain, perempuan itu haus baik jasmani maupun rohani. Dan Yesus tahu itu. Karena itulah, bisa dimengerti mengapa Guru dari Nazaret itu menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria itu.
Air hidup itu adalah Dirinya sendiri. Dan di dalam Kristus, perempuan itu seperti bercermin. Yesus menyatakan keberadaan perempuan itu apa adanya. Di muka Yesus memang tak ada yang perlu disembunyikan. Yang terpenting adalah datang kepada Yesus sebagaimana adanya. Sebab oleh Dia kita telah diperdamaikan dengan Allah (Rm. 5:10).

Tak Perlu Topeng

Tak perlu topeng. Semua manusia telanjang di hadapan Tuhan. Menyembunyikan sesuatu di hadapan Tuhan hanya akan membuat kita semakin merasa tak layak. Menyembunyikan sesuatu di hadapan Tuhan hanya akan membuat kita tak merasa nyaman berhadapan dengan-Nya. Menyembunyikan sesuatu di hadapan Tuhan hanya akan membuat kita letih. Menyembunyikan sesuatu di hadapan Tuhan hanyalah tindakan sia-sia.
Jika kita punya kesalahan, akuilah semuanya itu di hadapan Tuhan. Dan Tuhan akan mengampuni kita. Yesus akan menerima kita apa adanya dan membenarkan kita.
Hanya ada dua macam orang kata Pascal: orang benar yang menganggap dirinya berdosa dan orang berdosa yang menganggap dirinya benar.
Orang macam apakah kita?


Yoel M. Indrasmoro

25 Mar 2011 ,written by Nikimaserika
 

Menjadi Berkat bagi Orang Lain (Kotbah Minggu, 20 Maret 2011)

Menjadi Berkat bagi Orang Lain


Mazmur 121 merupakan solilokui, dialog dengan diri sendiri. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. Dialog dengan diri sendiri atau merenung merupakan bukti bahwa manusia memiliki akal budi. Pada kenyataannya, memang hanya manusia yang mampu bertanya dan menjawab pertanyaan.
Dalam ziarahnya ke Yerusalem, pemazmur berujar, ”Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung....” Yerusalem dibangun di atas bukit sehingga dari situ orang bisa bebas melayangkan pandangannya. Tak hanya melayangkan pandang, pemazmur merasa perlu bertanya: Dari manakah datangnya pertolonganku?
Apa yang bisa kita pelajari dari solilokui ini? Jelas, pemazmur merasa butuh pertolongan. Pertanyaan ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa pemazmur sadar dia tidak mungkin hidup sendiri. Dia butuh pertolongan. Dan dia bertanya: Siapakah yang menjadi penolongnya?
Berbicara soal penolong, pemazmur jujur dalam hal ini. Sejak manusia lahir, dia butuh manusia lain. Tangisan pertama merupakan tanda bahwa dia butuh orang lain. Tangisan pertama merupakan bukti bahwa dia merasa tidak aman di dunia. Dan karena itulah, dia butuh pertolongan.
Manusia memang berbeda dengan anak ayam yang setelah keluar dari cangkang telur bisa langsung berjalan. Manusia butuh waktu setahun untuk berjalan. Dan dalam berjalan pun dia butuh pertolongan manusia lain untuk mengajarinya berjalan.
Dan pemazmur menyadari bahwa di atas semuanya itu Tuhanlah yang menjadi sumber pertolongannya. Dengan tegas pemazmur menjawab sendiri pertanyaannya dengan: ”Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Pemazmur mengaku hanya Tuhanlah sumber pertolongan hidupnya. Ini merupakan sebuah pengakuan iman.
Meski demikian, jika dirunut lebih jauh, pengakuan iman ini lahir dari alur pikir sederhana. Manusia butuh manusia lain. Dan manusia lain itu tidak hadir dengan sendirinya. Tuhanlah yang menciptakannya. Sehingga, pada dasarnya hidup manusia ditopang oleh Tuhan sendiri.

Kisah Abraham

Itu jugalah pengakuan iman gereja, juga Gereja Kristen Jawa Jakarta. Itu jugalah yang menjadi dasar ibadah hari ini. Ibadah ini dimulai dengan sebuah pengakuan yang diharapkan mewarnai seluruh ibadah ini. Dan dalam pengakuan itu memang tersirat kenyataan bahwa manusia memang butuh pertolongan. Dan penolongnya adalah Allah sendiri.
Pemazmur memahami bahwa Allahlah sumber keselamatan dalam hidupnya. Namun, keselamatan Allah itu tak hanya monopoli pemazmur. Mengapa? Karena keselamatan Allah memang tidak hanya untuk satu orang saja di muka bumi ini.
Perhatikanlah kisah Pemanggilan Abraham. Penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kej. 12:1-3).
Kisah pemanggilan Abraham bukanlah tanpa tujuan. Tujuan Allah ialah agar Abraham menjadi berkat. Menarik disimak, Abraham tak hanya menjadi saluran berkat, tetapi dia sendiri adalah berkat! Menjadi bahan renungan kita sekarang ini ialah apakah kita telah menjadi saluran berkat Allah bagi sekitar kita? Lebih jauh lagi, apakah kita telah menjadi berkat.
Nah, entah menjadi saluran berkat atau menjadi berkat, sejatinya penilaiannya bukanlah ditangan kita sendiri. Harus ada pribadi lain yang merasakannya. Di sini agaknya kita perlu bertanya dalam hati: apakah arti keberadaan kita bagi orang lain? Berkatkah? Atau, masalah?

Kisah Yesus

Dalam pertemuan Yesus dan Nikodemus, terlihat jelas bahwa Yesus adalah berkat bagi Nikodemus. Mengapa? Pertama, ketika Nikodemus datang pada waktu malam, Yesus tidak menolaknya. Kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan Yesus sebelum kedatangan orang Farisi itu. Yang pasti Yesus menjadikan Nikodemus sebagai prioritas utama-Nya malam itu.
Tampaknya, Yesus sungguh-sungguh tahu kebutuhan Sang Tamu. Sehingga ketika pemimpin agama Yahudi itu memuji-Nya, Yesus tidak terbuai oleh pujian itu, melainkan langsung ke pokok persoalan. Dia tidak ingin membuang-buang waktu. Agaknya, Sang Guru dari Nazaret memang hanya ingin mempercakapkan yang perlu-perlu saja. Tentunya, ini bukan karena waktu adalah uang. Bukan pula karena Dia tidak ingin berlama-lama dengan tamunya. Tetapi, Yesus agaknya ingin mempercakapkan yang terpenting dalam hidup—tanpa basa-basi.
Ya, tanpa basa-basi. Yesus langsung berkata, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3). Kalimat itu tentu saja membuat Nikodemus bingung dan cepat merespons: ”Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yoh. 3:4).
Lalu, mulailah Yesus berbicara banyak soal kelahiran kembali. Dilahirkan kembali berarti memercayai penyelamatan Allah dalam karya Anak Manusia. Dan apa yang dilakukan Anak Manusia itu seperti ular tembaga yang dibuat Musa. Orang yang melihat ular tembaga itu langsung sembuh.
Hanya melihat memang. Tetapi, sesungguhnya ini juga bukan hal mudah. Orang yang hanya mengandalkan rasio pastilah sukar mengarahkan pandangan ke ular tembaga itu. Memandang ular tembaga itu berarti percaya kepada Allah yang telah memerintahkan Musa membuat ular tembaga itu.
Yesus mengidentifikasikan dirinya dengan ular tembaga. Dan memandang ulat tembaga itu analog dengan memercayai kematian Yesus disalib sebagai tebusan sempurna, menggantikan manusia berdosa.
Guru dari Nazaret itu menyatakan bahwa semuanya itu berdasarkan kasih Allah semata. Semua memang karena cinta. Hanya dengan satu tujuan: orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal. Hidup sejati berarti menjadi anggota umat Allah. Allah adalah sumber hidup. Menjadi anggota umat Allah berarti melekat kepada sumber hidup. Itulah yang dimaksudkan-Nya mendapat hidup sejati.
Kelihatannya memang gampang: tinggal percaya. Tetapi, persoalan besarnya ialah apakah orang cukup rendah hati untuk percaya? Apakah orang cukup rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya berada dalam keadaan tidak selamat? Bagaimanapun, penyelamatan Allah itu hanya akan berfaedah ketika orang mengakui ketidakselamatannya. Penyelamatan Allah tidak akan berguna bagi pribadi-pribadi yang tidak merasa membutuhkannya.
Itulah arti Yesus bagi Nikodemus. Yesus menjadi berkat bagi Nikodemus. Dan sejarah mencatat bahwa iman Nikodemus pun bertumbuh. Bersama dengan Yusuf dari Arimatea, Nikodemus merawat jenasah Yesus orang Nazaret. Tentu, ada kaitan erat antara pertemuan malam itu dan kisah pemakaman Yesus.

Kisah Kita?

Sekali lagi, pertanyaannya adalah apakah kita menjadi berkat bagi orang lain? Mungkin tak mudah bagi kita menjawabnya, tetapi kita dipanggil pula untuk senantiasa meneladani Yesus orang Nazaret itu.
Caranya? Lihatlah Manusia Itu! Inilah tema Masa Raya Paskah 2011. Ya, lihatlah Yesus Orang Nazaret itu! Tentu tak sekadar melihat, tetapi juga mencontoh dari apa yang kita lihat. Kenyataan bahwa Yesus juga manusia sama seperti kita berarti meneladani Yesus bukanlah suatu kemustahilan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
1.    Terimalah orang apa adanya. Perhatikan bagaimana Yesus menerima Nikodemus apa adanya. Yesus menerima Nikodemus. Yesus tidak mempermalukan Nikodemus, yakni dengan tidak mau menemuinya.
2.    Namun demikian, Yesus sungguh terus terang dan blak-blakan. Apa yang dianggap benar itulah yang dinyatakan-Nya. Mengapa Nikodemus tidak tersinggung? Kemungkinan besar karena Nikodemus menyadari bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah kebenaran. Kita tentu tahu kemarahan seseorang karena ingin mempermalukan kita atau kemarahan seseorang karena dia menyayangi kita!
3.    Yesus memberikan yang terbaik bagi Nikodemus. Dia tahu kebutuhan terdalam dari Nikodemus—keselamatan. Karena itulah, Yesus berupaya memenuhinya.
Dan itu hanya dapat kita lakukan jika kita hidup dalam anugerah keselamatanNya. Persoalannya: apakah kita percaya dan hidup dalam anugerah-Nya?
Selamat menjadi berkat bagi orang lain!

Yoel M. Indrasmoro

18 Mar 2011 ,written by Nikimaserika
 

Adam, Yesus, dan Kita (Kotbah Minggu, 13 Maret 2011)

Adam, Yesus, dan Kita

(Kej. 2:15-17, 3:1-7; Mat. 4:1-11; Roma 5:12-19, Mzm. 32)

Kisah dalam kitab Kejadian adalah kisah umat manusia. Penulis kitab mencatat: ”TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Perhatikanlah dengan cermat! Catatan ini pun sesungguhnya merupakan kisah hidup semua manusia. Tuhanlah pemrakarsa! Dialah yang mengambil inisiatif pertama. Pada kalimat tersebut tampaklah bahwa manusia tak berbuat apa-apa. Allahlah subjeknya. Allah yang mengambil dan menempatkan manusia di taman itu.

Tujuan Penciptaan

Allah adalah pribadi yang berdaulat. Tidak ada proposal yang diberikan kepada Allah agar Dia menempatkan manusia di taman Eden. Tak ada usulan! Sekali lagi, ini merupakan kisah semua orang? Adakah di antara kita yang pernah memberikan proposal kepada Allah agar dilahirkan dalam keluarga tertentu, dengan warna kulit tertentu. Ada? Tentu, tidak! Manusia sebagaimana Adam, manusia pertama, tak bisa menentukan apa-apa. Allah memililiki kedaulatan mutlak dalam hal ini.
Namun demikian, sebagaimana manusia pertama, Allah menjadikan manusia bukan tanpa tujuan. Adam ditempatkan dalam taman Eden bukan untuk menjadi penganggur. Adam ditempatkan di Eden bukan untuk bertopang dagu. Adam ditempatkan di Eden bukan untuk menjadi penguasa. Allah menempatkan Adam di Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden. Artinya, Allah menjadikan Adam sebagai pengusaha dan pemelihara!
Istilah pengusaha dan pemelihara perlu digarisbawahi di sini karena manusia bukanlah pemilik bumi. Dia diciptakan bukan untuk menjadi pemilik, bukan pula untuk menguasai, tetapi untuk mengusahakan dan memelihara bumi. Mengapa? Hanya dengan cara itulah kehidupan manusia dapat berlangsung baik.
Dan di atas semuanya itu, tujuan Allah menjadikan manusia sebagai pengusaha dan pemelihara ialah agar manusia itu hidup. Tujuan Allah bukanlah kematian manusia, tetapi kehidupan manusia Dan hidup itu berarti bersekutu dengan Allah, Sang Sumber Hidup.
Oleh karena itu, kita perlu melihat dengan cermat firman Allah ini: ”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:16-17).
Baiklah kita melihat bahwa pelarangan itu bukanlah timbul dari kesewenang-wenangan Allah. Bukan pula muncul karena Allah takut disaingi. Bukan. Bukan itu maksud Allah. Tetapi, agar manusia hidup.
Tak beda dengan aturan pemakaian sabuk keselamatan. Aturan itu bukan dimaksudkan untuk memuaskan ego pihak kepolisian; juga bukan dimaksudkan untuk menyenangkan pabrik mobil. Tetapi, sesuai namanya, dimaksudkan untuk mempertahankan hidup manusia. Dan dalam hal ini: bodohlah orang yang tetap ngeyel tak menggunakan sabuk keselamatan, meskipun ada di mobilnya?
Jadi, sekali lagi, janganlah terpancang pada kalimat: ”janganlah kaumakan buahnya”, namun baiklah kita memerhatikan kalimat selanjutnya: ”sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”.
Persoalannya: manusia kadang lebih suka berfokus pada larangan Allah dan melupakan tujuan di balik larangan itu. Bukankah itu pula yang kerap kita rasakan saat masih kanak-kanak. Misalnya: saat orang tua melarang kita memegang pisau, kita kadang memahami larangan ini sebagai tindakan orang tua yang suka mengatur dan melupakan apa maksud di balik aturan itu.
Allah menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Allah menciptakan manusia supaya manusia hidup dalam persekutuan dengan Allah. Dan itu hanya dapat terjadi ketika manusia mengusahakan dan memelihara taman itu.

Kisah Adam

Nah, persoalan muncul tatkala manusia ingin naik pangkat; saat manusia ingin melawan kodrat. Kodrat sebagai pengusaha dan pemelihara tak lagi cukup baginya. Dia ingin menjadi penguasa. Dosa terjadi ketika manusia menjadi penguasa.
Hakikat dosa ialah pemberontakan kepada Allah! Manusia tak lagi menaati Allah. Pemberontakan inilah yang akhirnya membuat manusia merasa sah-sah saja menguasai orang lain, juga alam. Akibat dosa ialah putusnya hubungan antara manusia dan Allah; antara manusia dan dirinya sendiri; antara manusia dan sesama; dan antara manusia dan alam.
Dan yang lebih sering ialah tatkala manusia bukannya mengusahakan dan memelihara manusia, tetapi malah menguasai dan menindas manusia demi kepentingannya sendiri. Mengusahakan manusia bisa diartikan sebagai mengelola manusia agar potensi kemanusiaannya muncul dan berkembang. Ujung-ujungnya untuk kebaikan manusia itu sendiri. Tetapi, menguasai manusia berarti sebaliknya, yakni meredam potensi kemanusiaannya. Dengan kata lain membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.
Itu terlihat jelas ketika manusia pertama ternyata tidak mau mengakui kesalahannya dan melemparkannya kepada orang lain. Dia lebih suka mencari kambing hitam ketimbang mengakui kesalahannya sendiri. Sesungguhnya inilah sisi negatif penguasa. Mereka lebih suka melemparkan kesalahan kepada orang lain ketimbang mengakui kesalahannya.
Inilah kisah Adam. Adam yang tak lagi menaati Allah. Paulus menegaskan: ”Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.” (Rm. 5:14).

Kisah Yesus

Dan kisah Adam merupakan kisah seluruh umat manusia. Manusia tak luput dari cobaan. Yesus pun demikian. Dan tiga cobaan itu sejatinya mengarah pada satu titik: cobaan menjadi penguasa. Mari kita telaah satu demi satu!
Cobaan pertama: keinginan untuk menguasai alam. Inti cobaan ini ialah pemuasan keinginan manusia untuk bebas dari hukum-hukum alam. Ada proses alamiah dalam seketul roti. Membuat roti dari batu hanyalah keinginan untuk lepas dari hukum alam dan menguasai alam.
Hukum alam yang saya maksud di sini ialah roti tidak datang secara tiba-tiba. Ujug-ujug. Tidak. Ada proses di sana. Bahan dasar roti adalah gandum. Kita tahu gandum pun tidak datang dengan sendirinya. Ada proses mulai dari tanam hingga panen. Ini pun butuh waktu yang tidak pendek. Dan bulir-bulir gandum itu perlu digiling, diolah, diberi ragi, dan setelah berapa lama barulah menjadi adonan roti. Sudah siap dimakan? Tentu belum. Adonan itu harus dimasak, entah dibakar, entah digoreng, entah dikukus. Setelah melewati semua itu, barulah muncul roti siap saji.
Tetapi, menarik untuk dicermati, Yesus tidak merasa perlu membebaskan diri dari hukum alam. Yesus tidak merasa perlu melanggar hukum alam. Terlebih jika semua itu hanya untuk memuaskan ego. Memang pernah, Guru dari Nazaret itu membuat mukjizat penggandaan roti sewaktu memberi makan 5.000 dan 4.000 orang. Tetapi, mukjizat itu tidak dilakukan setiap hari. Dan itu pun untuk kepentingan orang lain, dan bukan memuaskan ego-Nya sendiri.
Dengan kata lain, Yesus masih menghargai hukum alam. Allah yang menjadi manusia itu ternyata membiarkan diri-Nya terikat oleh hukum alam. Dia tidak merasa perlu bebas dari hukum alam. Mengapa?
Pertama, Yesus sungguh-sungguh memahami panggilan-Nya selaku manusia sejati. Manusia sejati tentulah terikat oleh hukum alam. Yesus merasa perlu mengikatkan diri pada hukum alam. Dia menghargai proses.
Kedua, Yesus tidak ingin memuaskan ego-Nya. Dia lapar. Tetapi, Yesus tidak ingin menghilangkan rasa lapar itu dengan melanggar panggilan-Nya sebagai manusia sejati.
Ketiga, Yesus pastilah menghargai para pengusaha roti. Bisa bangkrut mereka semua jika Yesus menggunakan kemampuan-Nya itu saat Dia lapar. Lebih parah lagi, jika Yesus merasa perlu menggunakan mukjizat-Nya memberi makan bagi orang sekota setiap hari. Jika jalan ini yang diambil, Yesus berarti mematikan usaha para pengusaha roti.
Lagi pula, kata Yesus: ”Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat. 4:4). Yesus mengingatkan bahwa manusia adalah manusia. Dia adalah ciptaan Allah. Dan sebagai ciptaan Allah, manusia tak perlu melawan kodrat alam, demi kepuasan ego semata. Manusia harus tunduk pada proses. Dan bicara soal manusia, manusia tak hanya terdiri atas daging semata, tetapi juga roh. Manusia memang tak hidup tanpa roti, tetapi manusia tak cukup hidup hanya dengan roti. Sebagai ciptaan Allah, manusia butuh Firman Allah.
Bagaimana dengan kita? Lebih sukakah kita mencari jalan pintas guna memperoleh apa yang kita inginkan? Lebih sukakah kita hidup dalam pola hidup instan demi kepuasan ego kita? Sungguh-sungguhkah kita membutuhkan Firman Allah?
Cobaan kedua: keinginan untuk menguasai kehendak Allah. Allah memang berjanji bahwa dia akan memelihara hidup anak-anak-Nya. Tetapi, menuntut janji Allah sejatinya hanyalah mencoba untuk mengatur Allah. Allah tidak lagi dilihat sebagai Pribadi yang berdaulat. Namun, Dia dipahami sebagai Pribadi yang harus menepati janji-Nya demi kepuasan ego manusia.
Jawaban Yesus pun sederhana: ”Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:7). Memang, Tuhan pernah berjanji, tetapi mengapa kita merasa perlu menuntut janji tersebut demi kepuasan ego kita? Bukankah Yesus tidak dalam kondisi terjepit? Bukankah itu artinya mempermainkan Allah? Dan yang penting pula ialah jangan ragukan kemahakuasaan Allah. Dia Mahakuasa. Dia mampu melakukan segala sesuatu asal Dia mau.
Cobaan ketiga: keinginan berkuasa tanpa batas; menjadi tuan atas segala tuan. Bahkan merasa lebih hebat dari Tuhan sendiri. Semuanya berpusat pada diri sendiri.
Perhatikan kata-kata Iblis: ”Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: ’Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.’ ” (Mat. 4:8-9).
Inilah kuasa tanpa batas. Inilah godaan untuk menjadi tuan atas segala sesuatu. Bahkan merasa lebih hebat dari Tuhan sendiri. Semuanya berpusat pada diri sendiri.
Inilah puncak dosa: pemberontakan manusia terhadap Allah; bahkan merasa lebih hebat dari Allah. Pada titik ini jelas bahwa manusia tak merasa perlu butuh Allah. Manusia merasa otonom. Manusia merasa bisa lebih hebat dari Allah. Dan sampai titik ini, persoalan terbesar manusia ialah tidak memerlukan penyelamatan Allah.
Lagi-lagi, jawaban Yesus sederhana: ”Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus mengingatkan bahwa segala sesuatu di luar Allah adalah ciptaan Allah. Dan sebagai ciptaan Allah, semua makhluk harus berbakti kepada Allah saja.
Di titik ini kita perlu bertanya: Apakah manusia otonom? Apakah manusia bisa hidup tanpa campur tangan Allah? Apakah manusia bisa hidup hanya dengan berpusatkan kepada dirinya sendiri, kebenaran dirinya sendiri, hikmat dirinya sendiri?
Jawabnya tidak! Manusia tanpa Allah hanya berbuahkan kekacauan. Manusia tanpa Allah hanya berbuahkan anarki. Manusia tanpa Allah hanya akan menjadi serigala terhadap sesamanya. Kalaupun dia baik terhadap manusia lain, kebaikan itu lebih berdasarkan kepada akal budi dan bukan keinginan mengasihi.
Terhadap semua cobaan yang dilancarkan Iblis kepada-Nya, Sang Guru dari Nazaret selalu menggunakan formula ”Ada tertulis”. Yesus berbeda dengan Adam. Yesus lebih menaati Bapa-Nya ketimbang apa pun.

Kisah Kita

Tema Masa Raya Paskah ”Lihatlah Manusia Itu” mengajak kita untuk meneladani Yesus orang Nazaret—yang lebih memilih menaati Bapa-Nya ketimbang menggugu diri-Nya sendiri.
Memang itu bukan perkara gampang. Sebab kita sering jatuh ke dalam dosa. Nah, ketika kita jatuh marilah kita belajar dari Daud yang mengakui dosanya di hadapan Tuhan (Mzm. 32:5). Dosa bukan untuk disembunyikan, tetapi harus diakui. Penyembunyian dosa malah akan membuat kita membuat dosa yang baru.
Dan ketika kita telah menerima anugerah pengampunan dosa, baiklah kita belajar hidup sebagaimana Yesus orang Nazaret itu hidup! Sehingga kisah Yesus juga menjadi kisah kita!
Amin.

Yoel M. Indrasmoro

11 Mar 2011 ,written by Nikimaserika
 


Page 5 of 9