• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Khotbah

Nyontek Massal (Kotbah Minggu, 19 Juni 2011)

 

Nyontek Massal


Namanya Aam. Lengkapnya Alifah Ahmad Maulana (13). Bersama keluarganya, dia sekarang mengungsi ke Gresik. Kejujurannya membuat gerah masyarakat di mana dia tinggal.
Kisah Aam yang dipaksa sang guru—dengan alasan balas budi kepada guru dan kasihan kepada teman sekelas—memberikan sontekan saat UN Sekolah Dasar sebenarnya telah menjadi edisi ”untuk kalangan sendiri”.
Pada hari kedua UN, guru pengawas yang merupakan guru dari sekolah lain telah memergoki praktik tersebut, dan sempat dilaporkan ke Dinas Pendidikan Kecamatan Tandes, tetapi kasus itu diredam (Sinar Harapan, 15/6).
Namun, Siami (32), yang berprofesi sebagai penjahit, tak rela anaknya dieksploitasi. Dia melaporkan hal tersebut kepada Dinas Pendidikan Surabaya. Kisah ”nyontek massal” pun terkuak luas.
Tindakannya berdampak besar. Tak hanya guru yang dikenai sanksi, Siami dan keluarganya pun terkena sanksi masyarakat. Mereka diusir dari rumahnya sendiri. Masyarakat marah terhadap Siami karena tak ingin anak-anak mereka dituduh mensontek sehingga berpotensi tidak lulus UN.
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pendidik, pejabat Dinas Pendidikan, juga masyarakat cenderung mengabaikan nilai kala berkait dengan kepentingannya.
Namun demikian, mengutip Kompas (15/6), Siami tidak menyesali tindakannya, bahkan tegar berujar, ”Selama saya benar, saya yakin Allah melindungi saya.

Sungguh Amat Baik

Apa yang terjadi di Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, memperlihatkan bahwa situasi dan kondisi manusia, yang diciptakan Allah dengan sungguh amat baik, semakin buruk.
Penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej 1:31). Semuanya baik—termasuk manusia. Dan semuanya itu tetap sungguh amat baik tatkala manusia menjalani hidupnya sebagai ciptaan Allah.
Dalam mazmurnya, Daud berseru: ”Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm 8:1). Daud mengakui Tuhan (Yahwe) sebagai Tu[h]an. Itu berarti, Daud, raja Israel, mengakui diri sebagai hamba.
Relasi Tu[h]an-hamba itu logis. Kala seseorang menyapa pihak lain sebagai ”Tuan”, dia menempatkan diri dalam posisi lebih rendah. Sewaktu menyebut Allah, Sang Pencipta, sebagai Tuhan, secara tidak langsung—dan merupakan keniscayaan—kita menganggap diri hamba.
Daud menegaskan bahwa pusat keagungan adalah Tuhan, bukan manusia. Allahlah pusat penyembahan manusia. Yang sering terjadi: bukan Allah yang disembah, melainkan manusia. Lebih sering lagi, diri sendirilah yang disembah.
Daud cukup punya alasan untuk itu. Dalam solilokuinya, dia menyatakan: ”Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm 8:4-5).
Dibanding dengan ciptaan lain, Allah menempatkan manusia pada kondisi yang cukup terhormat. Dia memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat. Hanya kepada manusialah Tuhan mengaruniakan hikmat.
Itulah yang membedakannya dari makhluk lain. Jika hewan mengandalkan naluri untuk mempertahankan hidupnya, manusia mengandalkan akal budi.

Panggilan Manusia

Dengan kata lain, hikmat Allah memampukan manusia untuk memenuhi panggilannya selaku ciptaan-Nya yang mulia. Hikmat itu pulalah yang memampukan manusia untuk memandang hidupnya melalui sudut pandang Allah. Itu hanya mungkin terjadi kala manusia bersekutu dengan Allah dan tunduk pada kehendak Allah.
Augustinus mengaku: ”Hati kami senantiasa gelisah sebelum mendapatkan ketenangan di dalam-Mu.”. Manusia diciptakan Allah untuk bersekutu dengan-Nya.
Persekutuan dengan Allah merupakan kodrat penciptaan. Manusia adalah makhluk rohani. Kerohanian merupakan hal lumrah dan manusiawi.
Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam diri manusia sendiri terdapat potensi mencipta. Mencipta apa? Tentunya bukan langit dan bumi, tetapi menjadikan dunia yang sungguh amat baik itu layak huni. Manusia dipanggil untuk memayu ayuning buwana ’menghiasi dunia’.

Ajarlah

Itulah sebabnya, setelah perintah baptisan ada perintah lain, yaitu ”ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28:20).
Gereja tak boleh melupakan hal ini. Dan ini jugalah masalah klasik Gereja: banyak orang yang merasa sudah cukup dengan sidi atau baptis dewasa. Mereka tidak merasa perlu belajar lagi.
Pembelajaran menjadi penting karena tak ada orang yang terlalu tua untuk belajar. Kata kunci kekristenan ialah pertumbuhan iman. Kita mengenal istilah ”anak Allah”. Dari bayi hingga lansia sama-sama dipanggil dengan istilah ”anak Allah”.
Dengan kata lain, semua orang percaya masih perlu belajar. Belajar tidak ada akhirnya. Gereja harus menjadi Gereja yang belajar. Apa yang diajarkan? Segala yang diperintahkan Yesus.
Berkait dengan itu, Paulus menegaskan: ”usahakanlah dirimu supaya sempurna.”(1Kor 13:11). Itu pulalah yang sedang diupayakan Siami.
Kalau setiap orang berlomba untuk menjadikan dirinya sempurna—hidup seturut nilai-nilai Allah—kisah terusirnya Siami sekeluarga yang berusaha hidup dalam kejujuran tidak akan terjadi lagi.
Akhirnya, selamat belajar!

Yoel M. Indrasmoro


16 Jun 2011 ,written by Nikimaserika
 

Di Hari Pentakosta (Naskah Sabda)

Di Hari Pentakosta

”Ah, kalau seluruh umat Tuhan menjadi nabi, oleh karena Tuhan memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!” (Bil 11:29). Demikianlah respons Musa ketika Yosua memberitahu bahwa Eldad dan Medad juga kepenuhan Roh Tuhan. Eldad dan Medad merupakan dua dari tujuh puluh pemimpin yang diberikan kuasa oleh Allah sendiri.
Sebelumnya, penulis mencatat: ”Lalu Tuhan turun di dalam awan dan berbicara kepada Musa. Tuhan mengambil sebagian dari kuasa yang telah diberikan-Nya kepada Musa dan memberikan-Nya kepada ketujuh puluh pemimpin itu. Ketika Roh Tuhan itu turun ke atas mereka, mulailah mereka berseru seperti nabi…” (Bil 11:25).

Kuasa adalah Karunia

Seorang fan Musa yang menyaksikan apa yang terjadi pada diri Eldad dan Medad—karena mereka absen sebelumnya—melaporkannya kepada Yosua. Yosua pun agaknya tak rela ada orang sehebat atasannya. Dia tak ingin atasanya mendapatkan saingan. Namun, tanggapan Musa sebaliknya.
Dari kisah tersebut jelaslah: Allah berdaulat. Dia yang telah mengaruniakan kuasa kepada Musa dalam kedaulatan-Nya, berdaulat pula mengambil sebagian kuasa itu dan membagikannya kepada orang lain.
Dan Musa tidak sakit hati. Dia tidak menganggap mereka saingan. Tampaknya, dia paham hakikat karunia. Karunia diberikan bersasarkan belas kasih semata. Tak ada andil Musa ketika Allah mengaruniakannya. Jika Tuhan mengambilnya kembali, Musa pun tak merasa kehilangan apa pun. Sekali lagi, kuasa kepemimpinan adalah karunia yang bisa diambil kapan saja!
Berkenaan dengan pencurahan Roh, pemazmur menyatakan: ”Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.” (Mzm. 104:29-30).

Karunia-karunia

Sekali lagi, tampaklah bahwa manusia bergantung mutlak kepada Allah. Manusia tak mungkin hidup tanpa Allah. Manusia tanpa Allah tak ubahnya zombi. Ketika Allah mengirim Roh-Nya, manusia dipanggil untuk membarui bumi. Itu jugalah yang ditekankan Paulus kepada jemaat di Korintus.
Persoalan jemaat di Korintus ialah warga dan pemimpin jemaat sibuk mempersoalkan karunia manakah yang terbaik. Karunia tak lagi menjadi berkat, malah kutuk. Karunia tak lagi digunakan untuk membangun persekutuan, tetapi malah membangun tembok-tembok perseteruan. Bisa dimaklumi, jika Paulus merasa perlu menyatakan dengan lugas: ”Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh.” (IKor 12:4).
Ketika warga dan pemimpin jemaat menonjolkan kehebatan masing-masing, Paulus menegaskan: ”Semuanya itu dikerjakan oleh Roh yang satu itu juga; masing-masing orang diberi karunia yang tersendiri menurut kemauan Roh itu sendiri.” (IKor 12:11).
Kelihatannya, Paulus sepakat dengan Musa bahwa karunia diberikan menurut kemauan Allah saja! Mempersoalkan lagi siapa mendapatkan karunia apa sungguh absurd! Dan tujuan Allah memberikan karunia-karunia itu ialah untuk memperbarui bumi dan bukan untuk menghancurkannya.
Jika warga dan pemimpin jemaat di Korintus memuji kehebatan diri sendiri, Musa malah senang jika makin banyak orang yang mendapatkan karunia seperti dirinya. Musa tidak ingin hebat sendirian. Dia sungguh senang, jika semakin banyak orang sehebat, bahkan lebih hebat dari dirinya. Dia berharap semua orang menjadi nabi Allah.

Mendamaisejahterakan Bumi

Harapan Musa itu terpenuhi dalam kisah Pentakosta (Kis. 2:1-21). Tak hanya kesebelas rasul, semua orang percaya (sekitar 120 orang) dipenuhi Roh Kudus. Catatan Lukas ”ketika tiba hari Pentakosta” menyatakan bahwa waktunya telah genap dalam rencana dan kedaulatan Allah sendiri.
Semuanya tanpa kecuali, yaitu rasul-rasul dan orang-orang percaya lainnya, laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Jadi, tak hanya Musa dan 70 Tua-tua! Di hari Pentakosta, semua orang percaya mendapat kuasa Roh Kudus. Mereka diberi kesanggupan untuk berbicara tentang magnalia Dei (perbuatan-perbuatan besar Allah) dan bersaksi mengenai Yesus Kristus. Yang paling penting, mereka tidak hanya membicarakan diri mereka sendiri!
Persoalan terbesar manusia ialah lebih suka membicarakan diri sendiri—entah kekuatan maupun kelemahan diri. Ujung-ujungnya: jika bukan pemujaan, ya pengasihanan diri. Dan itu tidak terjadi di Pentakosta. Mereka mempercakapkan karya Allah dalam diri Yesus Kristus.
Pada titik itu, mereka sedang menjadi saksi Kristus—membagikan damai sejahtera yang telah mereka rasakan—agar makin banyak pula orang merasakannya (Yoh. 20:21)! Ringkasnya: mendamaisejahterakan bumi!
Itu jugalah panggilan kita selaku orang percaya. Dan hanya mungkin, jika kita telah mengalami damai sejahtera. Itu dimulai dengan berdamai terhadap diri sendiri—menerima diri apa adanya. Kita akan mampu menerima kekuatan orang lain—tidak sirik—tatkala kita telah mampu menerima kekuatan diri sendiri. Kita akan mampu menerima kelemahan orang lain—tidak merendahkannya—tatkala kita telah mampu menerima kelemahan diri sendiri.
Itulah yang akan memampukan kita menjadi sesama bagi orang lain—yang sama-sama dikarunai Allah dengan beragam karunia!

Yoel M. Indrasmoro

10 Jun 2011 ,written by Nikimaserika
 

Perjamuan Tuhan (Khotbah Persiapan Perjamuan Kudus Juni 2011)

Perjamuan Tuhan


”Tuhan semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Dan di atas gunung ini Tuhan akan mengoyakkan kain perkabungan yang diselubungkan kepada segala suku bangsa dan tudung yang ditudungkan kepada segala bangsa-bangsa. Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab Tuhan telah mengatakannya.” (Yesaya 25:6-8)

Mari kita simak dengan cermat beberapa kata kerja yang dipakai di sini!
Pertama: menyediakan. Allah adalah Pribadi yang menyediakan. Dan ini selaras dengan kenyataan bahwa Allah adalah Tuhan semesta Allah. Artinya, Dialah yang menjadi penguasa semesta alam. Janganlah kita lupa bahwa Allah adalah Pencipta langit dan Bumi.
Penulis Kitab Kejadian pada awal kitabnya memperkenalkan Allah sebagai Pribadi yang menciptakan langit dan bumi. Votum dalam ibadah di gereja pun pun menyatakan hal yang sama: ”Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi.” Dan karena Dia adalah pencipta langit dan bumi, maka semesta alam adalah milik-Nya. Dan karena alam semesta adalah milik-Nya, maka tak sukar baginya menyediakan segala sesuatu.
Hanya pemiliklah yang sanggup, dan mungkin, menyediakan. Kalau bukan pemilik tetapi berani menyediakan, itu namanya penyerobotan Tegasnya, hanya pencuri dan perampoklah yang berani, atau mampu, menyediakan yang bukan miliknya. Dan ini sekali lagi merupakan suatu hal yang aneh.
Bicara soal perjamuan, memang tak beda dengan pesta. Semua serba terbaik. Perhatikan: suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya. Pokok yang hendak dikemukakan di sini ialah kemewahan dan kelimpahan. Arti dari kelimpahan di sini ialah setiap orang yang mengikuti perjamuan itu puas. Tidak ada yang kekurangan. Semua serbakebagian. Kebagian karena Allah sendirilah yang menyediakannya.
Kedua: bagi segala bangsa. Perjamuan tersebut dialamatkan untuk semua orang. Tak ada diskriminasi. Semua bangsa akan mendapatkan bagian yang sama. Allah menyiapkan perjamuan itu untuk segala bangsa karena semua orang, apa pun sukunya, adalah umat-Nya. Dalam pengertian bahwa semua orang adalah ciptaan Tuhan. Agak aneh rasanya, jika ciptaan Tuhan tidak mengakui diri sebagai umat Allah. Tetapi, sekali lagi, memang di sini masalahnya: maukah segala bangsa itu mengaku diri sebagai umat Allah?
Di sini kita menyaksikan sebuah paradoksal. Di satu sisi kasih Allah bersifat universal—untuk semua orang. Namun, di sisi lain, kasih itu ternyata bukan kasih buta. Kasih Allah adalah kasih yang menuntut respons dari manusia. Sekali lagi, semua orang diundang mengikuti perjamuan Tuhan. Tetapi tentunya, para undangan tersebut harus menanggapi undangan itu dengan sebaik-baiknya! Kalau tidak, ya aneh!
Ketiga: mengoyakkan. Tuhan adalah Pribadi yang mengoyakkan selubung perkabungan manusia. Di sini Allah diperkenalkan sebagai Allah yang menghapuskan penderitaan manusia. Kata koyak di sini mengingatkan saya pada peristiwa koyaknya tirai Bait Allah menjadi dua pada waktu Yesus mati disalib. Dan Allahlah yang mengoyakkannya. Allahlah yang menghapuskan penderitaan itu.
Mengapa saya menyinggung peristiwa penyaliban Kristus di sini? Pada awalnya penderitaan manusia memang terjadi tatkala manusia dengan kehendaknya sendiri merasa perlu menjauhi Allah. Penderitaan manusia pertama kali terjadi ketika manusia dengan kesadaran sendiri memutuskan persekutuannya dengan Tuhan. Dan itulah yang dikemukakan dengan jelas pada Kitab Kejadian.
Pada mulanya Allah menciptakan segala sesuatu dengan sungguh amat baik. Semua serbaharmonis. Penulis kitab Kejadian dengan jelas menjelaskan bagaimana manusia bekerja di Taman Eden itu dengan sungguh amat baik. Tetapi, tatkala manusia dengan sengaja memutuskan hubungan dengan Allah—dengan makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat—pada saat itu jugalah hubungan yang harmonis itu jadi berantakan.
Bukti-bukti ketakharmonisan itu dapat disebut di sini. Pertama, manusia takut bertemu dengan Allah. Perasaan takut manusia berawal di sini. Pertemuan dengan Allah tidak dipandang sebagai peristiwa yang menyenangkan, tetapi malah menakutkan. Manusia takut dihukum. Sekali lagi, manusia merasa salah.
Kedua, manusia tak lagi mampu bersikap harmonis terhadap sesamanya. Ingat: Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Saling menyalahkan. Saling mencari kambing hitam. Pencarian kambing hitam menjadi bukti bahwa hubungan manusia tak lagi baik dengan sesamanya. Tak lagi harmonis. Yang ada: saya benar, kamu salah; saya nomor satu, kamu nomor sekian; saya di atas, kamu di bawah.
Ketiga, manusia tak lagi mampu bersikap harmonis dengan dirinya sendiri. Baiklah kembali kita mengingat kisah manusia sebelum kejatuhan: manusia telanjang tetapi tidak merasa malu. Artinya di sini ialah bahwa manusia mampu bersikap telanjang, terbuka, dan mampu menerima diri apa adanya. Tetapi, sewaktu manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi malu. Dia tidak lagi mampu menerima baik kelemahan dan kekuatan dirinya dengan wajar. Manusia tidak mampu menerima kelemahan dirinya, dan merasa takut kalau kelemahannya itu diketahui oleh pihak lain. Sehingga dia merasa malu ketika menyadari keadaan dirinya yang telanjang.
Keempat, manusia dan bumi tak lagi bersahabat. Manusia harus berpeluh untuk mendapatkan makanannya. Dan bumi hanya mengeluarkan onak duri. Manusia tak lagi mengelola bumi, tetapi mengeksploitasi bumi. Sampai kini manusia dan bumi tak lagi bersahabat. Kalau kita masih buah sampah sembarangan, pada titik itulah kita masih belum bersahabat dengan bumi. Sebab, kita memandang bumi sebagai tempat sampah!
Dan Allah, melalui peristiwa penyaliban, telah menjadikan manusia sebagai sahabat. Allah telah memulihkan hubungan antara diri-Nya dan manusia. Dan karena itulah manusia yang hidup dalam penyelamatan Allah itu dapat kembali hidup harmonis dengan dirinya sendiri, manusia lain, alam. Hanya dengan beginilah penderitaan manusia akan hilang. Allah telah mengoyakkan kain perkabungan.
Keempat: meniadakan maut. Peristiwa salib menyatakan dengan jelas bahwa Allah telah meniadakan maut untuk selamanya; dan dengan itulah Allah menghapuskan air mata dari mata manusia. Itu jugalah kesaksian iman Paulus: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (I Kor. 15:54-55). Dan itu hanya mungkin terjadi dalam diri Yesus Kristus, yang menanggung dosa umat manusia.
Hari ini kita mengadakan persiapan Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus merupakan sarana pemeliharaan iman. Dalam Perjamuan Kudus kita mengingat dan diingatkan kembali bahwa penyelamatan Allah telah berlangsung dalam diri Yesus Kristus. Dan itulah yang diwartakan dalam pekabaran Injil. Inti Pekabaran Injil ialah mewartakan kembali kepada dunia bahwa penyelamatan telah telah terjadi dalam diri Yesus Kristus: Allah yang menjadi manusia.
Dalam diri Yesus Kristus kata salam, selamat, syalom, damai, sancti, sancai, bukan lagi utopia. Bukan lagi mimpi. Saya dan saudara dipanggil pula untuk hidup dalam penyelamatan Allah itu dan menyatakan penyelamatan Allah itu kepada orang lain. Sehingga semakin banyak orang yang merasakan damai sejahtera yang dari Allah itu.
Sehingga tergenapilah nubuat Yesaya: ”Di Bukit Sion, Tuhan Yang Mahakuasa akan menyiapkan perjamuan untuk semua bangsa di dunia. Ia menghidangkan makanan yang paling lezat dan anggur yang terpilih. Di atas bukit itu Ia akan menyingkapkan awan kesedihan yang menyelubungi bangsa-bangsa. Tuhan Yang Mahakuasa akan membinasakan maut untuk selama-lamanya! Ia akan menghapus air mata dari setiap wajah, dan menjauhkan kehinaan yang ditanggung umat-Nya di seluruh bumi. Tuhan sudah berbicara, dan hal itu pasti terjadi.” (BIMK).
Amin.

Yoel M. Indrasmoro


07 Jun 2011 ,written by Nikimaserika
 

BERTEKUN DENGAN SEHATI (Kotbah Minggu, 5 Juni 2011)

BERTEKUN DENGAN SEHATI


Bagaimanakah kondisi para murid sepeninggal Yesus, Sang Guru dari Nazaret, naik ke surga?
Kelanjutan dari kisah kenaikan Yesus ke surga memang berbeda dengan kisah kematian-Nya. Ketika Yesus ditangkap dan mati semua murid buyar. Mereka tidak berkumpul di suatu tempat. Ada yang pergi ke kubur, ada yang mencari ikan, bahkan ada yang pergi ke luar kota. Tak seorang murid pun menantikan kebangkitan Yesus. Agaknya, mereka lupa perkataan Yesus sebelum ditangkap. Kalau pun ada yang mengingat, ya para musuh-Nya. Merekalah yang meminta Pilatus untuk memerintahkan beberapa tentara untuk menjaga dan memeterai kubur itu.

Sesuai Perintah

Situasi dan kondisi hati para murid memang berbeda. Lukas mencatat: ”mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.” (Luk 24:52). Kedua belas rasul dan para murid lainnya tidak pergi ke mana-mana. Mereka tetap tinggal di Yerusalem. Tampaknya, mereka telah belajar dari pengalaman. Para rasul menanti-nanti. Mereka berusaha menaati perintah Yesus dengan setia. Pengalaman memang guru yang baik.
Menarik disimak catatan Lukas di sini: ”Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.” (Kis 1: 14). Lukas mencatat dengan jelas bahwa para murid semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama dengan beberapa perempuan.
Mereka semua. Tak terkecuali, tentu minus Yudas yang mati bunuh diri. Menarik pula disimak bagaimana Lukas merasa perlu memerinci satu demi satu para murid itu. Perhatikanlah: Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
C. van den Berg, dalam bukunya Sungguh Merekalah Umatku, menjelaskan bahwa sebetulnya sulit sekali membuat orang-orang yang begitu saling berbeda menjadi sehati. Di antaranya ada mantan nelayan (Petrus), mantan juragan kaum nelayan (Yohanes dan Yakobus), mantan pemungut cukai (Matius), juga tak ketinggalan kaum teroris (Simon orang Zelot)).
Satu-satunya hal yang tetap dapat mempersatukan mereka hanyalah perintah Tuhan, Firman-Nya. Mereka bersatu hati untuk tetap tinggal di Yerusalem sesuai perintah Yesus. Tanpa mereka sadari pula, sejatinya mereka tengah mewujudkan doa Tuhan Yesus sendiri: ”supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yoh 17:11).

Persekutuan Doa

Dan persekutuan sungguh-sungguh terwujud dalam doa bersama. Dan itulah yang dilakukan para murid dalam menanti janji Allah. Menanti memang bukan pekerjaan ringan, kadang menyebalkan. Para rasul agaknya memahami hal itu. Sehingga mereka tidak hanya bertopang dagu dalam menunggu. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama. Orang Kristen abad XXI agaknya perlu meneladani para rasul. Ketika menunggu sebaiknya kita berdoa ketimbang melamun.
Dengan taat mereka bertekun dalam doa. Tanpa henti mereka berseru kepada Tuhan dan memohon supaya Bapa memenuhi janji-Nya (Kis 1:4). Ketekunan dalam berdoa ini merupakan persiapan terbaik bagi perayaan Pentakosta. Itu jugalah sebabnya, sejak beberapa tahun lalu, GKJ Jakarta menyelenggarakan persekuan doa malam—sehari sejak Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga hingga sehari sebelum Pentakosta pada pukul 19.00.
Doa bersama itulah yang menyatukan mereka. Dan memang dalam doa persekutuan sungguh-sungguh terwujud nyata karena tak mungkin dua orang berseteru dapat bersekutu dalam doa. Bagaimanapun, pastilah dalam hati mereka terdapat perasaan yang tak enak. Sebab Allah mengetahui pikiran manusia. Aneh rasanya, jika kita menyembunyikan sesuatu dari Allah yang sungguh kita yakini memang mengenal diri kita apa adanya.
Tak hanya dalam suka, terlebih di dalam duka. Dan memang kita sama-sama tahu bahwa dalam sebuah persekutuan doa, kita sungguh-sungguh yakin dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kita tidak pernah sendirian—You ’ll never walk alone. Dan kenyataan itu—ketika kita menyaksikan ada sekelompok orang yang mendoakan kita—akan membuat kita sungguh-sungguh mampu menghadapi duka itu dengan lebih tabah.

Kehadiran Jasmani

Dalam bukunya Life Together, Bonhoeffer menyatakan: ”Kehadiran jasmani orang Kristen lainnya merupakan sumber sukacita dan kekuatan tak tertandingi bagi orang percaya. Dengan penuh kerinduan, rasul Paulus yang di penjara memanggil Timotius ’anaknya kekasih di dalam iman’, untuk datang kepadanya pada hari-hari terakhir hidupnya; ia ingin melihatnya lagi dan berada di dekatnya. Paulus belum melupakan air mata yang ditumpahkan Timotius saat terakhir mereka berpisah (2 Tim. 1:4). Mengingat jemaat di Tesalonika, Paulus berdoa ’siang malam . . . sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka’ (1 Tes. 3:10). Yohanes yang sudah lanjut umur mengetahui bahwa sukacitanya tidak akan penuh sampai ia dapat datang kepada umatnya sendiri dan berbicara berhadapan muka daripada menulis dengan tinta (2 Yoh. 12).”
Lagi pula, masih menurut Bonhoeffer, seorang Kristen memerlukan seorang Kristen lainnya yang mengucapkan Firman Tuhan kepadanya. Ia memerlukannya berulang kali, ketika ia menjadi tidak yakin dan semangatnya mundur, karena ia tidak dapat menolong dirinya sendiri tanpa mengingkari kebenaran. Ia memerlukan saudaranya sebagai pembawa dan proklamator firman keselamatan ilahi itu. Ia memerlukan saudaranya semata-mata karena Yesus Kristus. Kenyataan Kristus di hatinya sendiri lebih lemah dari Kristus dalam perkataan saudaranya; hatinya sendiri tidak yakin, hati saudaranya yakin.
Dan itu sungguh terlihat dalam nasihat Petrus kepada kepada para pengikut Kristus di Asia Kecil: ”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (I Ptr 5:7). Tentunya, surat itu tak hanya ditujukan kepada orang per orang, tetapi juga persekutuan.
Nasihat yang diberikan dengan tulus sungguh-sungguh akan membangun sebuah persekutuan. Jika gereja-gereja Tuhan bertahan dalam penganiayaan, saya meyakini semua itu terjadi karena nasihat-nasihat rasuli semacam ini.
Sehingga persekutuan umat Tuhan akhirnya dapat beria-ria bersama dengan pemazmur: ”Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya!” (Mzm 68:4).
Dan dalam persekutuan yang macam beginilah Roh Kudus hadir dan memperlengkapi kita semua!

Yoel M. Indrasmoro

04 Jun 2011 ,written by Nikimaserika
 

Perbuatan Baik Berbuah Perbuatan Baik (Kotbah Minggu, 8 Mei 2011)

Perbuatan Baik Berbuah Perbuatan Baik


Kisah Emaus tak ubahnya sebuah metamorfosis dalam diri dua orang murid yang berjalan menuju Emaus. Ada perubahan terutama berkait dengan pengenalan mereka terhadap orang asing yang menemui mereka dalam perjalanan ke Emaus.
Mulanya, Lukas mencatat: ”Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.” (Luk. 25:15-16).
Kita tidak pernah tahu—Lukas sendiri tidak merasa perlu menjelaskannya—mengapa kedua murid itu tidak mengenal Yesus. Meski, dalam perjalanan itu terjadi percakapan mengasyikkan, yang membuat hati mereka berkobar-kobar.
Perjalanannya sendiri relatif cukup jauh—11 kilometer. Jika naik Trans Jakarta, itulah jarak antara Pulo Gadung dan Dukuh Atas (koridor 4). Tentunya, mereka pun tidak sedang dalam perlombaan jalan sehat apa lagi jalan cepat. Kalau satu kilometer ditempuh dalam 5 menit. Maka perjalanan itu sendiri berlangsung selama 55 menit. Tetapi, itulah faktanya, kedua murid itu tidak mengenal Yesus.

Pada Waktu Memecah-mecahkan Roti

Menarik disimak, Lukas menutup kisah Emaus itu dengan catatan: ”Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.” (Luk. 24:35).
Mereka mengenal Sang Guru bukan ketika Dia berbicara penuh semangat, tetapi ketika Dia sedang memecah-mecahkan roti. Pada titik ini menggemalah peribahasa: ”Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Peribahasa itu bermakna bahwa seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatannya ini, baik maupun buruk, akan tetap dikenal meskipun dia telah meninggal.
Manusia dikenali bukan dari berapa banyak omongnya, tetapi apa yang diperbuatnya. Tak heran, dalam Kitab-kitab Injil, para penulis memang memperlihatkan dengan jelas apa yang dilakukan Yesus, yang berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya! Yang dicatat lebih banyak karya Yesus ketimbang perkataan-Nya.
Apa itu artinya bagi kita? Tak ada jalan lain, pengikut Kristus harus meneladani Sang Guru. Kata-kata tentu penting, tetapi apa artinya sekumpulan kata tanpa perbuatan. Itu sama halnya dengan tong kosong nyaring bunyinya.
Apa yang Harus Kami Perbuat?
Itulah yang ditegaskan Petrus dalam khotbahnya di Hari Pentakosta: ”Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kis. 2:36). Itulah kesimpulan Petrus setelah dia bicara panjang lebar siapa Yesus itu.
Menarik untuk diperhatikan, khotbah Petrus begitu runut, jelas, dan lugas, sehingga para pendengarnya langsung bertanya dengan tulus kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, ”Apa yang harus kami perbuat, Saudara-saudara?"
Ini salah satu contoh dari khotbah yang baik. Khotbah yang baik tak hanya memuaskan intelektual atau perasaan, melainkan menggerakkan para pendengarnya untuk berubah. Hati dan otak yang berkobar-kobar mendorong mulut untuk bertanya, ”Apa yang harus kami perbuat?
Petrus tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan tegas, dia menjawab, ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” (lih. Kis. 2:38-39).
Dan Lukas mencatat: ”Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.” (Kis. 2:41). Dan semuanya itu berawal dari penjelasan Petrus.
Mengapa? Karena Petrus sungguh mengalami kebangkitan Tuhan. Dia tidak hanya menyaksikan Yesus yang bangkit dengan mata kepala sendiri, tetapi dia juga merasakan bagaimana Yesus memulihkan dirinya.
Dia yang awalnya mungkin tak lagi dianggap para murid lagi, karena peristiwa penyangkalan di halaman rumah Imam Besar, akhirnya dipulihkan Yesus di tepi danau Galilea. Petrus sungguh-sunggu mengalami kebangkitan Tuhan. Sekali lagi, tak sekadar kebangkitan, tetapi Petrus sungguh-sungguh mengalami kebangkitan Tuhan dalam hidupnya.
Itulah sebabnya, Petrus sungguh-sungguh mampu menjadi saksi yang efektif, khotbahnya begitu menggerakkan hati orang, karena dia memang telah mengalami kebangkitan Tuhan dalam hidupnya.

Bagaimana akan Kubalas?

Itu jugalah kesaksian pemazmur. Perhatikan kembali Mazmur 116:1-4:
Aku mengasihi Tuhan,
sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku.
Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku,
maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya.
Tali-tali maut telah meliliti aku,
dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan.
Tetapi aku menyerukan nama Tuhan:
"Ya Tuhan, luputkanlah kiranya aku!"
Tampak jelas bagaimana pemazmur memperlihatkan bahwa Allah adalah pribadi yang berbuat. Perhatikan kata kerja yang digunakan: mendengarkan, menyendengkan. Semuanya aktif: mendengarkan dan menyendengkan.
Dan karena itulah, sungguh merupakan keniscayaan jika pemazmur mengambil sikap. Perhatikan Mazmur 116:12-14
Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan
segala kebajikan-Nya kepadaku?
Aku akan mengangkat piala keselamatan,
dan akan menyerukan nama Tuhan,
akan membayar nazarku kepada Tuhan
di depan seluruh umat-Nya.
Ada sebuah janji yang terucap dari mulut pemazmur, yang merupakan jawaban atas pertanyaannya sendiri—yang mengakui Allah sebagai pribadi yang menganugerahkan segala kebajikan kepadanya. Ya, bagaimanakah caranya membalas segala kebajikan Tuhan?
Dengan kata lain, ”Apa yang akan kuberikan kepada Tuhan untuk membalas kebaikan-Nya bagiku? Aku akan membawa persembahan anggur bagi Tuhan untuk bersyukur atas pertolongan-Nya. Aku akan memenuhi janjiku kepada-Nya di depan seluruh umat-Nya.” (BIMK). Menarik pula untuk diperhatikan bahwa perbuatan Allah mendorong pemazmur untuk berbuat pula. Perbuatan berbuah perbuatan—membawa persembahan dan memenuhi janji.
Membawa persembahan mungkin bukan terlalu soal bagi kita. Tetapi, bagaimana dengan janji-janji kita kepada Tuhan? Semua orang sepakat bahwa janji itu tak ubahnya utang sehingga harus dipenuhi. Hanya persoalannya ialah mungkin kita kadang ingkar janji. Dan sering kali lagi, kepada manusia yang selalu menuntut saja, dan pasti terlihat, kita kerap ingkar; apalagi dengan Allah yang memang tidak kasatmata?
Mari sekarang kita memeriksa diri! Berkait dengan dua hal ini—persembahan dan pemenuhan janji kepada Tuhan—bagaimanakah sikap dan perbuatan kita?

Hidup dalam Keagungan Tuhan

Dalam suratnya, Petrus menyatakan: ”Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” (1Ptr. 1:17). Yang dimaksud dengan ketakutan di sini ialah agar setiap orang percaya memuliakan Allah dalam hidupnya. Dalam BIMK tertera: ”Sebab itu selama kalian masih ada di dunia ini, hendaklah kalian mengagungkan Allah dalam hidupmu.”
Alasan Petrus satu saja: ”Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Ptr. 1:18-19).
Kristus mati agar kita Hidup. Sekali lagi, Petrus telah merasakan betapa mahalnya harga darah Kristus dalam hidupnya. Oleh karena itu, dia mendorong orang percaya bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hidup. (lih. 1Ptr. 1:22).
Perhatikan sekali lagi, perbuatan baik Allah seharusnya mendorong kita juga untuk melakukan hal yang baik. Perbuatan baik berbuah perbuatan baik pula. Karena itu, jangan berhenti untuk berbuat baik. Selama hidup kita, marilah kita mengagungkan Allah dalam hidup kita!

Yoel M. Indrasmoro

07 May 2011 ,written by Nikimaserika
 


Page 4 of 9