

.

| Jadwal Kebaktian Hari Minggu | ||
| GEDUNG GKJ JAKARTA | ||
| Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220 |
||
| JAM | KEBAKTIAN | RUANG |
| 06.30 | Kebaktian Anak | R. Anak. Lt. 2 |
| 06.30 | Kebaktian Remaja | R. Rapat-2 Lt. 2 |
| 06.30 | Ibadah Umum Bhs. Ind. | R. Ibadah |
| 09.00 | Ibadah Umum Bhs. Jawa | R. Ibadah |
| 17.00 | Ibadah Umum Bhs. Ind. | R. Ibadah |
Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia
”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat. 18:20). Saya duga Saudara senang dan merasa terhibur dengan ayat ini. Saya duga ada juga yang menjadikannya sebagai ayat favorit.
Ayat ini memang menghibur. Mudah dimengerti, jika ayat ini menjadi ayat favorit kebanyakan orang Kristen. Apa lagi dengan bagian kalimat akhir ini: ”di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Siapa di antara kita yang tidak senang jika Yesus berada di tengah-tengah kita? Siapa di antara kita yang hadir di sini sekarang ini yang tidak berbahagia jika Yesus mau hadir bersama dengan kita? Sejatinya, kita harus sedih jika Yesus ternyata absen dalam ibadah ini.
Tetapi, baiklah kita insyaf bahwa kehadiran Yesus itu bukanlah sebab, melainkan akibat. Akibat dari bagian awal kalimat: ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,…”
Kalimatnya jelas. Tak perlu buku tafsiran untuk memahaminya dengan tepat. Jelas di sini: Yesus akan hadir saat dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya.
Berkumpul berarti bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Sendiri-sendiri bukan perkumpulan namanya; lebih tepat perseteruan. Berkumpul merupakan sesuatu yang baik. Dalam Alkitab pun ada nas yang menyatakan bahwa tidak baik jika manusia seorang diri saja. Dan karena itulah Allah menjadikan Hawa untuk menemani manusia pertama.
Ada juga nas yang mengatakan bahwa lebih baik berdua daripada sendiri karena jika seseorang jatuh, maka yang lainnya dapat menolongnya. Saya yakin kita tahu nas-nas tersebut. Ya, berkumpul merupakan hal yang baik. Dan perkumpulan itu menjadi sempurna jika kita berkumpul dalam nama-Ku—berkumpul dalam nama Yesus. Namun, frasa ”berkumpul dalam nama-Ku” sering kurang mendapat perhatian.
Lalu, apa artinya dalam nama Yesus? Kapan biasanya ungkapan ini dikemukakan? Dalam doa! Hanya persoalannya ialah tak sedikit orang yang menyempitkan arti ”dalam nama Yesus” hanya sebagai formulasi doa. Nggak afdal rasanya jika doa tidak diakhiri dengan kalimat”dalam nama Yesus”.
Tetapi, kita juga perlu bertanya apakah setiap doa yang diakhiri dengan kalimat dalam nama Tuhan Yesus, pasti merupakan doa yang baik? Baiklah kita dengan pasti menjawab: ”belum tentu!” Sebab ketika seseorang mengucapkan ”dalam nama Yesus”, dia harus insyaf bahwa doanya memang dalam nama Yesus. ”Dalam nama Yesus” bukanlah mantra; apa lagi jimat. Tetapi doa itu sendiri harus sungguh-sungguh dalam nama Yesus.
Dalam nama Yesus berarti seturut dengan kehendak Tuhan Yesus, dan bukan hanya menuruti kehendak kita saja. Lalu, apa artinya seturut dengan kehendak Tuhan Yesus? Itu berarti Kristuslah dasar dan pusat persekutuan. Persekutuan tidak berdasarkan atas kesamaan ideologi, warna kulit, tingkat sosial, tetapi Kristus. Itu berarti kehendak Kristuslah yang utama.
Salah satu tindakan nyata ”dalam nama-Ku” ialah berani menyatakan kesalahan orang. Yesus menasihatkan: ”Kalau saudaramu berdosa terhadapmu, pergilah kepadanya dan tunjukkanlah kesalahannya. Lakukanlah itu dengan diam-diam antara kalian berdua saja.” (Mat 18:15, BIMK).
Mengapa? Karena Yesus ingin semua orang selamat. Dan Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang berkumpul dalam nama-Nya bertanggung jawab atas keselamatan saudaranya.
Itu jugalah panggilan bagi Yehezkiel: ”Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku. Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! -- dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.” (Yeh 33:7-9).
Panggilan Yehezkiel adalah menjadi penjaga umat Israel. Kata ”penjaga” jugalah yang dipakai Kain setelah dia membunuh Habel adiknya. Perhatikan catatan penulis Kitab Kejadian: ”Firman TUHAN kepada Kain: ’Di mana Habel, adikmu itu?’ Jawabnya: ’Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?’”
Jelaslah dari awalnya, Allah berkehendak agar manusia saling menjaga keselamatan. Tak hanya fisik, tetapi juga rohani. Perhatikan pernyataan Allah kepada Yehezkiel: ”Jika Aku memberitahukan bahwa seorang penjahat akan mati, tetapi engkau tidak memperingatkan dia supaya ia mengubah kelakuannya sehingga ia selamat, maka ia akan mati masih sebagai seorang berdosa. Tetapi tanggung jawab atas kematiannya akan Kutuntut daripadamu. Jika engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak mau berhenti berbuat jahat, dia akan mati sebagai orang berdosa, tetapi engkau sendiri akan selamat.” (Yeh 33:8-9).
Kenyataannya, tak banyak orang yang berani karena takut tanggapan orang tersebut. Jika ada keberanian, kadang kita lebih suka membicarakannya tanpa ada orangnya atau membicarakannya blak-blakan di hadapan banyak orang ketika orangnya ada. Akhirnya kesalahannya itu menjadi konsumsi banyak orang.
Kalau mau menegur, pakailah cara yang ditetapkan Yesus sendiri. Kepada jemaat di Roma, Paulus menasihatkan: ”Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti tabiat yang bersifat daging untuk memuaskan keinginannya.” (Rm 13:14). Dalam BIMK tertera: ”Biarlah Tuhan Yesus Kristus yang menentukan apa yang kalian harus lakukan. Dan janganlah menuruti tabiat manusia yang berdosa untuk memuaskan hawa nafsu.”
Itu berarti jika hendak menegur orang mulailah dengan berdua saja. Baru setelah itu tiga orang. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihakimi dan kesalahan yang dilakukannya tidak menjadi konsumsi publik. Hanya dengan cara itulah kita akan mendapatkannya kembali.
Pertanyaannya: bagaimana jika orang yang kita tegur itu malah marah? Atau bagaimanakah sikap kita jika dia malah membenci kita? Kalau sudah begini, kita bisa menyatakan kepada orang tersebut bahwa kita hanyalah ingin hidup seperti pemazmur: ”Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” (Mzm 119:35).
Ya, memang cuma itu kok alasannya!
Amin.
Yoel M. Indrasmoro