• Bacaan Alkitab
  • Latihan
  • Jadwal

 

 

BACAAN ALKITAB 
Tgl. 4-10 April 2011

 

Senin,  4 April   2011

Yeremia 16:10-21; Mazmur 89:19-52;
Roma 7:1-12; Yohanes 6:1-15
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"   (Roma 7:7)

Selasa, 5 April 2011

Yeremia 17:19-27; Mazmur 94:1-17;
Roma 7:13-25; Yohanes 6:16-27
Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."   (Yohanes 6:27)

Rabu,  6 April  2011

Yeremia 18:1-11; Mazmur 119:121-144;
Roma 8:1-11; Yohanes 6:28-40
Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. (Yoh. 6:37)

Kamis,  7 April 2011

Yeremia 22:13-23; Mazmur 73:1-12;
Roma 8:12-27; Yohanes 6:41-51
Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."(Yohanes 6:41)

Jumat,  8 April 2011

Yeremia 23:1-8; Mazmur 107:1-16;
Roma 8:28-39; Yohanes 6:52-59
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   (Yohanes 6:57)

Sabtu,  9 April 2011

Yeremia 23:9-15; Mazmur 33:6-22; 
Roma 9:1-18; Yohanes 6:60-71
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.   (Yohanes 6:63)

Minggu,  10  April  2011

Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130;
Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"(Yohanes 11:40

 

  1. Karawitan Sekar Pamuji, setiap hari Senin Pk. 19.00 WIB  di GKJ Jakarta
  2. Paduan Suara Perumnas Klender, setiap hari Senin Pk. 19.00-21.00 di RPK Kinanthi Perumnas Klender.
  3. Paduan Suara Haleluya,  setiap hari Selasa Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  4. Paduan Suara Adiyuswa, setiap hari Rabu Pk. 10.00 s.d. 11.30 WIB di GKJ Jakarta
  5. Paduan Suara Rama A, setiap hari Rabu pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  6. Paduan Suara Ibu Sara, setiap hari Kamis pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  7. Paduan Suara Hosana Cipinang Baru, setiap hari Jumat Pk. 19.00 WIB di GKJ Jakarta
  8. TMC, setiap hari Sabtu Pk. 18.00  WIB di GKJ Jakarta
  9. Paduan suara Nafiri, setiap hari Sabtu,    Pk. 18.30 dan Minggu, Pk. 10.00   WIB di GKJ Jakarta
  10. Olah Raga (Senam Jantung Sehat, Pencegahan Kropos Tulang) diselenggarakan hari Sabtu Pk. 07.00 WIB di GKJ Jakarta
  11. Paduan suara anak, latihan setiap hari Minggu Pk. 08.30  WIB di GKJ Jakarta
  12. Paduan Gitar Serafim latihan setiap hari Minggu Pk. 09.00 WIB di GKJ Jakarta
  13. Paduan Suara Kelp. Cipinang Muara, latihan setiap hari Senin Pk. 19.00 - 20.30 WIB di Rumah Bp. Suradi P., Jl. A Cip. Muara

 

.

Jadwal Kebaktian Hari Minggu
GEDUNG GKJ JAKARTA
Jl. Balai Pustaka Timur No. 1 Rawamangun, JAKARTA 13220
JAM KEBAKTIAN RUANG
06.30 Kebaktian Anak R. Anak. Lt. 2
06.30 Kebaktian Remaja R. Rapat-2 Lt. 2
06.30 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah
09.00 Ibadah Umum Bhs. Jawa R. Ibadah
17.00 Ibadah Umum Bhs. Ind. R. Ibadah

Jadwal Kebaktian:
KELOMPOK CCKS
Jl. Cempaka Baru VIII No. 12 Jakarta Pusat
SETIAP MINGGU ke-2 dan ke-4 Pukul 17.00,
Berbahasa Indonesia

...selengkapnya...

Khotbah

PEKAN DOA PENTAKOSTA UNTUK NKRI

Tema: Nyalakan Api Cinta Kasih-Mu

Setelah mengingat, merayakan dan merenungkan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, ada gereja-gereja yang melaksanakan Pekan Doa Pentakosta. GKJ Jakarta sudah sekian tahun melaksanakan ibadah Pekan Doa Pentakosta, sebagai rangkaian dari Masa Raya Paskah. Ibadah Pekan Doa Pentakosta, diadakan berdasarkan Kisah Para Rasul 1:12-14 “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus”. Kenaikan Yesus ke sorga berarti meninggalkan para murid di dunia untuk menghadapi kehidupan dunia yang tidak menerima mereka. Tentu ini menimbulkan keresahan bagi para murid dan para pengikut Yesus. Tetapi mereka percaya pada perkataan Yesus, ketika Ia akan naik ke sorga: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,...” (Kis. 1:8).  Untuk itulah setelah Yesus naik ke sorga, mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Mereka berdoa untuk memohon kiranya Roh Kudus, yang Yesus janjikan itu, turun atas mereka untuk memberikan kekuatan bagi mereka.

Gereja-gereja juga diajak untuk bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, memohon Roh Kudus turun memberikan kekuatan. Untuk tahun ini, GKJ Jakarta mengajak umat untuk bertekun dalam doa bersama-sama, secara khusus mendoakan keresahan yang sedang terjadi di negeri kita Indonesia. Pekan Doa Pentakosta, mengajak umat untuk berdoa bersama dengan memohon kiranya Roh Kudus memberikan kekuatan kepada kita semua agar dapat bertindak dengan bijak untuk menjaga kesatuan NKRI. Tema Pekan Doa Pentakosta adalah: “Nyalakan Api Cinta Kasih-Mu”,  merupakan bagian dari lagu Taize: “Datanglah, ya Roh Kudus, nyalakan api cinta kasih-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, datanglah, ya Roh Kudus”. Dengan tema ini, umat diajak untuk berdoa memohon agar cinta kasih Tuhan saja yang ada dalam diri umat untuk dapat bersikap dan bertindak menjaga kesatuan NKRI. Api cinta kasih Tuhan yang memampukan umat untuk tetap dapat bersikap dan bertindak dengan cinta kasih, bukan dengan kebencian, kemarahan dan balas dendam.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak. 5:16b). Perkataan inilah yang menguatkan orang-orang percaya untuk bertekun dalam doa bersama-sama. Doa dapat dilakukan dengan berbagai macam cara atau metode. Pekan Doa Pentakosta kali ini akan dilakukan dengan beberapa metode, yaitu: Lectio Divina, Zentangle, Doa Puisi, Kontemplasi, dan Labirin. Apakah arti dari istilah-istilah tersebut dan bagaimana berdoa dengan metode-metode tersebut, akan dijelaskan pada saat pelaksanaan Pekan Doa Pentakosta.

Ibadah Pekan Doa Pentakosta diadakan setiap hari (kecuali hari Minggu) setelah kenaikan Tuhan Yesus, yaitu tanggal 26, 27, 29, 30, 31 Mei dan 1, 2, 3 Juni 2017. Diadakan pagi hari, pukul 05.30-06.30 wib, dengan pertimbangan:

•Mengajak umat mengawali segala kegiatan disepanjang hari dengan berdoa.

•GKJ Jakarta sudah melaksanakan ibadah doa setiap hari Rabu pukul 05.30-06.00 wib.

•Umat memiliki banyak kegiatan di gereja pada malam hari.

 

Marilah kita bertekun dalam doa bersama-sama, dalam Pekan Doa Pentakosta, untuk memohon agar Roh Kudus datang untuk memberikan kita kemampuan bersikap dan bertindak menjaga kesatuan NKRI dengan semangat api cinta kasih Tuhan.

 

Ragam doa:

1.Tanggal 26 dan  27 Mei 2017

Doa Lectio Divina

R.Ibadah Anak, Lt.1

2.Tanggal 29 dan 30 Mei 2017

- Doa Zentangle

- Doa Puisi

R. Ibadah Pra Remaja, Lt.1

3.Tanggal 31 Mei dan 1 Juni 2017

Doa kontemplasi

R.Ibadah Pra Remaja, Lt.1

4.Tanggal 2 dan 3 Juni 2017

Doa Labirin

R.Ibadah Lt.2

 

Penjelasan Tentang Ragam Doa

a.Doa Lectio Divina

Lectio divina (bhs. Latin) dari kata “Lectio” dan “Divina”. Lectio berarti bacaan sedangkan Divina berarti Illahi. Jadi Lectio Divina berarti “Pembacaan Ilahi". Doa Lectio Divina adalah sebuah cara untuk berdoa dengan Kitab Suci (Alkitab) yang memanggil orang untuk mempelajari, menyelami, mendengarkan, dan akhirnya berdoa dari Pembacaan Sabda Tuhan. Umat diberikan bacaan Alkitab untuk dibaca berulang-ulang sehingga dapat mempelajari, menyelami dan mendengarkan Sabda Tuhan melalui bacaan Alkitab tersebut dan akhirnya berdoa.

 

b.Doa Zentangle

Zetangle adalah suatu teknik menggambar abstrak, menggunakan tinta hitam di atas kertas putih, yang cukup mudah dan bisa dipraktekkan oleh semua orang.

Zentangle adalah suatu ‘art therapy’ dimana seseorang bisa bermeditasi dan menenangkan diri dengan cara menggambar. Kita hanya perlu berkonsentrasi dan kemudian menggambarkan pola-pola tertentu, yang berulang-ulang, dengan membiarkan saja tangan menggambar garis apapun yang diinginkannya, tidak perlu memikirkan jadi apa nantinya. Zentangle adalah gambar yang kita buat dengan penuh konsentrasi dan perhatian, namun tanpa memikirkan bentuk akhir dari gambar tersebut. Manfaat dari doa zentangle ini adalah menenangkan diri dengan menggoreskan apa saja yang muncul dalam pikiran kita, mengenali kesalahan dan berdamai dengan kesalahan tersebut, menolong kita menikmati setiap moment dalam hidup, mengurangi stres, dan mengatasi kepanikan.

c.Doa Puisi

Doa puisi adalah tindakan menjalin relasi dengan Tuhan melalui karya sastra dari ungkapan pikiran dan perasaan seseorang. Doa ini dilakukan dengan menghayati dan merenungkan Sabda Tuhan, yang direfleksikan ke dalam diri pribadi pendoa. Selanjutnya pendoa dapat menyampaikan doanya dengan menuliskan dalam sebuah puisi.

d.Doa kontemplasi

Dari kata “contemplation” berarti memandang jauh ke depan demi mendapatkan arah dan kemungkinan tindakan lain (antisipasi) yang lebih bermakna. Doa kontemplasi adalah doa dengan menggunakan berbagai sarana atau media untuk membantu atau menolong pendoa untuk mendapatkan arah atau fokus pada doanya.

e.Doa Labirin

Labirin merupakan sebuah sistem jalur yang rumit, berliku-liku, tidak memiliki jalan buntu. Labirin bisa menjadi permainan di atas kertas, namun dapat juga dibuat dengan skala besar dengan menggunakan tanaman yang cukup besar untuk dilewati dapat juga dengan tembok atau pun pintu-pintu. Doa Labirin adalah doa meditasi yang dilakukan dengan berjalan menyusuri media labirin tersebut. Dengan berjalan dan berdoa dalam media Labirin, pendoa akan merenungkan dan mendengar Sabda Tuhan. Seperti 2 orang murid yang akhirnya menyadari berjumpa dengan Yesus setelah melakukan perjalanan bersama Yesus. (Luk. 23:13-35).

komibdh-gkjjkt/2017

20 May 2017 ,written by Kristanto Dwi Nugroho
 

DARI KAMIS PUTIH HINGGA PASKAH

Kamis Putih (Ibadah: Kamis, 13 April 2017; pukul 19.30 wib)
Kamis Putih (Maundy Thursday) merupakan ibadah yang dilaksanakan oleh gereja-gereja dalam rangka merayakan peristiwa Pembasuhan kaki dan Perjamuan Malam, yang dilaksanakan Yesus bersama murid-muridNya. Perayaan Pembasuhan kaki berdasarkan Yohanes 13:1–20 menjadi bentuk perenungan atas sikap, pikiran dan perasaan Yesus yang menyediakan diriNya untuk melayani. Sekalipun Ia adalah Tuhan dan Guru tetapi  bersedia membasuh kaki murid-muridNya. Dengan merayakan Pembasuhan kaki maka kita diingatkan dan diajak untuk bersedia melayani sesama.
Berdasarkan Yohanes 13:1-3 dan Lukas 22:7-23, pada hari Kamis malam atau malam Jumat itu, Yesus bersama murid-muridNya sedang melaksanakan perjamuan makan malam menjelang Perjamuan Paskah. Malam itu merupakan perjamuan makan malam terakhir bagi Yesus bersama-sama para murid-Nya. Untuk itulah peristiwa perjamuan malam itu disebut juga sebagai “Perjamuan Terakhir”. Malam itu, Yesus dan para murid bukan melaksanakan Perjamuan Paskah, sebab Paskah baru akan dirayakan pada hari Sabat atau hari Sabtu.
Dalam ibadah Kamis Putih dilaksanakan perjamuan tetapi bukan Perjamuan Paskah atau kita menyebut dengan Sakramen Perjamuan. Perjamuan yang kita lakukan adalah mengenang perjamuan malam atau perjamuan terakhir yang Yesus lakukan bersama para murid-Nya. Perjamuan malam yang dilaksanakan dalam suasana santai dan kekeluargaan, tetapi tiba-tiba menjadi tegang karena Yesus mengatakan tentang kematian-Nya yang hampir tiba. Untuk itulah kita juga melakukan perjamuan di malam Kamis Putih, dengan suasana kekeluargaan sehingga menjadikan suasana lebih akrab atau kita menyebutnya dengan Perjamuan Kasih. Makanan dan minuman yang dipakai, bukan roti dan anggur melainkan getuk dan wedang jahe. Perjamuan juga tidak diatur dan tidak dilaksanakan pada meja altar melainkan pada meja lain, yang mungkin lebih cocok untuk jamuan makan malam.
Dengan mengikuti ibadah Kamis Putih maka kita diajak untuk merenungkan makna pembasuhkan kaki sebagai bentuk pelayanan kepada sesama dan makna perjamuan malam/terakhir sebagai bentuk keakraban/kekeluargaan dalam persekutuan Kristus.
Waktu penderitaan dan kematian-Nya semakin dekat. Melalui ibadah ini kita diingatkan akan pesan-pesan Yesus yang terakhir kepada para murid dan pengikut-Nya, termasuk kita. Ia berpesan agar kita memiliki kesediaan untuk melayani sesama sekalipun harus menempatkan diri paling rendah, dengan membasuh kaki. Ia, yang adalah Guru, bersedia membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia juga berpesan agar kita selalu ingat bahwa Ia sangat mengasihi dan memberkati kita, dengan  cara melayani dan membagikan makanan pada saat perjamuan makan .
Jumat Agung (Ibadah: Jumat, 14 April 2017; pukul 08.00 wib)
Pada hari ini Gereja-gereja mengenang sengsara dan wafat Yesus di salib. Jumat Agung merupakan awal dari misteri paskah, yang hanya dipahami secara utuh mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah. Sehingga jika ingin memahami misteri Paskah maka umat bukan memilih mengikuti ibadah Kamis Putih atau Jumat Agung atau Paskah melainkan mengikuti dan merenungkan keseluruhannya secara utuh.
Pada hari Jumat Agung tidak ada perayaan Sakramen Perjamuan. Menurut sejarah dan pemahaman teologi, tidak ditemukan dasar yang kuat dan pasti untuk merayakan Sakramen Perjamuan pada hari ini. Jika perjamuan Paskah Yahudi yang dirayakan maka bukan pada hari ini, sebab hari ini bukan hari raya Paskah Yahudi. Jika perjamuan Malam Terakhir yang dirayakan maka itu bukan Sakramen Perjamuan dan juga bukan pada hari ini. Jika perjamuan untuk memperingati kematian Yesus maka perjamuan tersebut dasar teologinya bukan pada arti sakramen yang sesungguhnya. Sebab Sakramen Perjamuan adalah perayaan untuk mengenang kematian dan kebangkitan Yesus, bukan hanya kematian.
Dalam Alkitab (Mark 15:1) dikatakan bahwa pagi-pagi Ia dibawa ke hadapan Mahkamah Agama untuk diadili. Ibadah ini mengajak kita untuk menghayati dan merasakan saat Yesus diadili hingga disiksa. Mulai dari pagi-pagi benar, Ia diadili, dihujat, disiksa dan dirajam hingga jam Sembilan Ia mulai disalibkan. Waktu yang cukup panjang bagi Yesus mengalami penderitaan hingga disalib. Dalam ibadah ini, belum menghayati kematian Yesus, sehingga warna masih ungu.
Kematian Yesus (Ibadah: Jumat, 14 April 2017; pukul 14.30 wib)
Sebagaimana tertulis dalam Alkitab (Mark 15:33-39) bahwa Jam 12.00 kegelapan meliputi dan berlangsung hingga saat kematian-Nya jam 15.00. Ibadah ini dilaksanakan jam 14.30 wib. Menjelang saat kematian-Nya, agar kita diajak dapat merasakan bagaimana suasana dan cuaca pada pukul 15.00, terlebih di bukit Golgota yang gersang. Sejak pukul 09.00 hingga 15.00 Ia tergantung, kepanasan, kehausan, kehabisan cairan dan terlebih kehabisan darah. Inilah saat-saat sedih, pilu dan duka yang dalam bagi para murid, Maria (ibu Yesus) dan kita semua ketika mengingat akan kematian-Nya yang sangat memilukan.
Ibadah kematian Yesus dipenuhi dengan suasana duka. Ruang ibadah diatur untuk mendukung suasana duka tersebut sehingga tidak ada bunga dan hiasan lainya, yang telah disimpan sejak ibadah Kamis Putih. Lilinpun tidak menyala sebagai tanda kematian. Musik yang mengiringi nyanyian umat dimainkan dengan suasana yang teduh, tenang dan khidmat. Bahkan ada gereja-gereja yang tidak menggunakan musik pada saat mengenang kematian Yesus. Kain hitam tergantung di salib menjadi tanda perkabungan yang dalam atas kematian Yesus.
Sabtu Sunyi (Ibadah: Sabtu, 15 April 2015 pukul 06.00 wib)
Sejak Kamis malam hingga Jumat siang, mulai dari saat penangkapan hingga kematian-Nya, suasana dipenuhi dengan keramaian dan banyak peristiwa terjadi: Yudas yang berkhianat, Simon dari Kirene yang dipaksa memikul salib, Petrus yang menyangkal, Yohanes yang terus mendampingi Maria ibu Yesus, Maria yang tak henti-hentinya menangis, Pilatus yang mencuci tangan, Barabas yang merasa jadi pahlawan dan peristiwa-peristiwa lain yang tidak tercatat. Tetapi setelah Ia mati dan mayat-Nya dirawat oleh Yusuf dari Arimatea, suasana menjadi sepi dan sunyi. Murid-murid Yesus berkumpul dan mengunci pintu dalam rumah. Semua terdiam, semua kehilangan, semua sedih, semua kecewa, semua ketakutan, semua merenungkan apa yang telah mereka lakukan bersama dan terhadap Yesus. Ibadah Sabtu Sunyi mengajak kita untuk merenungkan bahwa dalam kehidupan kita, ada saat kita mengalami kehilangan, kesedihan, kekecewaan, dan ketakutan. Bahkan kita merasakan Yesus pun tidak lagi bersama kita. Padahal sesungguhnya Ia tidak pernah meninggalkan kita, seperti Ia katakan kepada para murid bahwa Ia akan bangkit pada hari yang ketiga. Tapi dalam rasa kehilangan, tidak ada yang mengingat perakataan itu.
Paskah
Paskah Subuh (Ibadah: Minggu, 16 April 2017 pukul 04.00 wib)
Hari ini adalah hari kebangkitan Yesus dari kematian-Nya. Hari ini merupakan puncak perayaan kesukacitaan yang dirayakan dengan pesta Perjamuan Tuhan. Dalam sejarah liturgi Kristen, Paskah adalah pesta yang paling besar dirayakan oleh orang-orang Kristen dan merupakan pusat dari seluruh Tahun Liturgi Gereja.
Dalam Alkitab ( Yoh 20:1) dikatakan bahwa pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, Maria Magdalena mendapati bahwa kubur Yesus telah terbuka dan ia mengira mayat-Nya dicuri orang. Ibadah Paskah subuh mengajak kita untuk menghayati bahwa Ia bangkit pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, untuk menyatakan bahwa kemenangan dan keselamatan dilakukan-Nya sebelum semua aktifitas dilakukan. Kita juga diajak untuk merasakan suasana pagi ketika hari masih gelap dan menjelang terang matahari terbit, sebagai simbol bahwa kegelapan kuasa dosa telah diganti oleh terang kebangkitan Yesus. Ibadah subuh biasanya dimulai dengan menyalakan api sebagai tanda kehidupan. Kemudian lilin Paskah dinyalakan dan dibawa ke ruang ibadah sebagai tanda Ia telah bangkit, hidup dan hadir dalam persekutuan kita. Kebangkitan juga ditandai dengan dilayankannya Sakramen Baptis. Jika tidak ada pelayanan Sakramen Baptis maka umat diingatkan melalui janji baptis.
Sukacita atas kemenangan dan kebangkitan Yesus dirayakan dengan pesta Sakramen Perjamuan. Untuk itu marilah kita merayakan Sakramen Perjamuan dengan suasana sukacita.
Paskah (Ibadah: Minggu, 16 April 2017 Pk. 06.30, 09.00 wib dan 17.00 wib)
Paskah pada jam ini mengajak kita untuk merenungan dan menghayati suasana  setelah matahari terbit, tidak lagi ketika hari masih gelap. Yesus telah bangkit dan kabar itu mulai disampaikan kepada para murid. Perenungan dalam ibadah ini adalah ajakan untuk kita ikut dalam menyebarkan berita sukacita tentang kemenangan dan kebangkitan Yesus, sebagaimana Maria Magdalena segera menyampaikan kabar tersebut kepada para murid. Berita sukacita tentang kebangkitan Yesus, tidak hanya untuk diri kita sendiri tetapi harus kita sebarkan.
Paskah dirayakan dengan pesta yang penuh sukacita. Ruang ibadah dipenuhi dengan bunga-bunga dan hiasan. Begitu juga musik yang mengiringi nyanyian jemaat, menunjukkan suasana yang suka cita. Ibadah ini diisi dengan doa,  puji-pujian dan pembacaan Alkitab yang mengisahkan karya Yesus dari kesengsaraan, kematian hingga kebangkitanNya. Puncak perayaan ini adalah dengan pesta Sakramen Perjamuan. Sakramen Perjamuan merupakan pesta kesukacitaan karena Ia yang mati telah bangkit dan hidup. Sakramen Perjamuan juga menjadi suka cita pengharapan umat untuk ikut dalam pesta Perjamuan Tuhan di sorga.
Di GKJ Jakarta setiap kali ibadah umum melaksanakan Sakramen Perjamuan, di ibadah anak, pra remaja dan remaja melaksanakan Perjamuan Kasih. Untuk ibadah Minggu, 16 April 2017 sebagai bentuk perayaan Paskah, maka GKJ Jakarta akan mengadakan “Pesta Perjamuan Bersama”. Sakramen Perjamuan dan Perjamuan Kasih akan diadakan bersama-sama dalam ibadah umum. Warga jemaat dewasa dan warga jemaat anak, maju secara bergantian untuk mengambil roti dan anggur juga makanan dan minuman Perjamuan Kasih.
Komibdh-gkjjkt/’17
08 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 

MINGGU PALMARUM

Minggu Palem/Palma (Ibadah: Minggu, 9 April 2017; pukul 06.30 wib & 09.00 wib)

Minggu Sengsara (Ibadah: Minggu, 9 April 2017; pukul 17.00 wib)

 

Minggu Palmarum atau biasa disebut dengan Minggu Palma atau Minggu Palem adalah Minggu mengakhiri Masa Pra Paskah atau hari Minggu sebelum Paskah, atau awal dari Tri Hari Suci. Disebut Minggu Palma, sebab ibadah dimulai dengan perarakan memakai daun Palem/Palma. Daun Palem dipakai untuk mengenang peristiwa Yesus masuk ke kota Yerusalem yang disambut dan dielu-elukan memakai daun palem. Yohanes 12:12-13 “Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru:…”

 

Ibadah Minggu Palma menampilkan dua unsur perayaan yang cukup kontras, yaitu : sukacita dan semarak penyambutan Yesus masuk ke kota Yerusalem; Lukas 19:37 “Ketika Ia dekat Yerusalem, di tempat di jalan menurun dari Bukit Zaitun, mulailah semua murid yang mengiringi Dia bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mujizat yang telah mereka lihat. ” ; dan perarakan Yesus memasuki Masa SengsaraNya. Untuk itu minggu ini, dalam dua kali ibadah, pagi dan sore memiliki dua makna yang berbeda. Ibadah pagi (dan siang) disebut sebagai Minggu Palma dan ibadah sore disebut dengan Minggu Sengsara. Lukas 19: 41 dst “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya…”.

 

Minggu Palma mengajak kita untuk merenungkan kembali makna seruan dan puji-pujian kita kepada Allah. Ketika Yesus berjalan menuju dan masuk kota Yerusalem, Ia disambut dengan seruan pujian. Tetapi ketika Ia berjalan menuju Bukit Golgota untuk disalib, Ia menerima seruan ejekan, hinaan dan cacian. Ketika kita sehat, sukses, dan bahagia maka kita akan menaikkan seruan pujian kepadaNya. Tetapi apakah kita tetap menaikkan seruan pujian ketika kita sakit, bangkrut, terkena bencana dan menderita? Ataukah seruan keluhan dan cacian?  Untuk itulah, tema minggu ini mengingatkan jika mengaku sebagai pengikut Kristus hendaknya tidak berwajah ganda.

 

Daun palem yang kita pakai untuk mengelu-elukan Yesus pada ibadah Minggu ini, tidak ditinggalkan begitu saja melainkan dibawa pulang. Daun palem tersebut diletakkan di tempat yang selalu terlihat sehingga kita juga selalu diingatkan apakah setiap saat kita tetap menyerukan pujian ataukah keluhan dan cacian kepada Yesus. Daun palem juga mengingatkan kita bahwa seharusnya kitalah yang tergantung di salib tetapi justru kita ikut menyalibkan Dia. Daun palem tersebut tetap ada hingga kering dan dapat dibawa kembali ke gereja sebelum hari Rabu Abu (Masa raya Paskah tahunh depan). Daun yang kering tersebut dibakar hingga menjadi abu dan kemudian abu tersebut yang dioleskan di dahi kita pada ibadah Rabu Abu. Pada ibadah sore kita tidak lagi melambai-lambaikan daun palem. Daun palem  tetap disediakan dan dibagikan kepada umat saat selesai ibadah untuk dibawa pulang.

 

08 Apr 2017 ,written by Nikimaserika
 

BACAAN ALKITAB 23-29 Mei 2016

Senin, 23 Mei 2016

Ulangan 4:9-14; Mazmur 97;

2 Korintus 1:1-11; Lukas 14:25-35

 

Selasa, 24 Mei 2016

Ulangan 4:15-24; Mazmur 30;

2 Korintus 1:12-22; Lukas 15:1-10

 

Rabu, 25 Mei 2016

Ulangan 4:25-31; Mazmur 4;

2 Korintus 1: 23-2:17; Lukas 15:1-2, 11-32

 

Kamis, 26 Mei 2016

Ulangan 4:32-40; Mazmur 27;

2 Korintus 3:1-18; Lukas 16:1-9

 

Jumat,  27 Mei 2016

Ulangan 5:1-12; Mazmur 139;

2 Korintus 4:1-12; Lukas 16:10-18

 

Sabtu, 28 Mei 2016

Ulangan 5:22-33; Mazmur 118;

2 Korintus 4:13-5:10; Lukas 16:19-31

 

Minggu, 29 Mei 2016

1 Raja-raja 8:22-23, 41-43;

Mazmur 96:1-9; Galatia 1:1-12; Lukas 7:1-10

19 May 2016 ,written by Nikimaserika